
Waktu makan malam tiba, setelah membersihkan diri, aku dan Cleve berjalan menuju aula makan. Cleve terus saja berbicara di perjalanan, aku tidak menghiraukan semua kata-katanya karena sepertinya efek perkataan Ian masih bertebaran di pikiranku sehingga tak ada semangat yang aku rasakan.
Di tengah lorong tiba-tiba Ian muncul, dia menatapku dan aku sungguh tidak ingin melihatnya untuk sekarang ini. Aku berjalan seolah-olah tidak melihatnya. Cleve yang berjalan di sampingku menyapa Ian dengan sikap ramah namun Ian tidak menghiraukannya. Setelah melewatinya aku masih dapat merasakan kalau tatapan Ian masih terarah padaku.
“Aku minta maaf,” seru Ian membuat Cleve yang berada di sampingku berhenti melangkah. “Tolong maafkan aku.”
“Kau tidak bisu tapi kau berbicara pada siapa?” Tanya Cleve menoleh ke arah Ian.
“Bee, maafkan kata-kataku tadi,” ucap an sekali lagi. Kali ini dia berjalan ke arahku. “Kau dengar aku kan, Bee?” Ian menarik lenganku.
“Aku akan menjadi seorang pembunuh jadi jangan sentuh aku jika kau tidak ingin aku bunuh. Pasti kau juga tidak ingin berbicara dengan seorang pembunuh lagi kan?” Tatapku marah pada Ian. Diapun segera menarik tangannya dari lenganku.
“Tunggu dulu ada apa ini?” tanya Cleve dengan wajah di penuhi kebingungan. “Jadi kau bisa bicara? Lalu apa yang kau katakan pada Bee hingga dia terlihat sangat marah padamu?”
“A—aku hanya ke—”
“Sudah Cleve ayo kita pergi dan jangan hiraukan dia,” seruku memotong perkataan Ian dan menarik lengan Cleve.
“Tidak bisa seperti ini!” Bentak Cleve menarik lengannya dari tanganku. “Siapa namamu? Apa kau menyebut Bee dengan sebutan pembunuh?”
“Bu—bukan seperti itu, sebenarnya aku hanya—”
Aku berlari meninggalkan Cleve dan Ian karena aku benar-benar marah. Aku tidak memikirkan apa yang akan dikatakan Ian pada Cleve.
Jika mendengar perkataannya yang bilang aku adalah pembunuh, sepertinya hatiku tertusuk pisau. Aku tidak ingin membenci Ian, namun semua perkataannya saat di sungai sungguh menusuk hatiku.
“Bee, jangan seperti itu padanya,” ujar Cleve yang baru saja tiba di aula untuk makan malam.
Clave segera duduk di sebelah kiriku sedangkan saat ini Marchi duduk di hadapanku.
“Dia sudah minta maaf padamu, jadi kau harus memaafkannya.”
“Cleve, kau tidak tahu apa-apa,” ucapku sambil mengacak-acak makanan di piringku dengan sendok. Saat ini aku sedang tidak napsu makan. “Dia memanggil kita pembunuh.”
“Aku tahu, Ian sudah cerita padaku,” ujar Cleve. “Bee, dengarkan aku,” Cleve memegang bahu kiriku, akupun menatapnya. “Menurutku dia berkata seperti itu karena kesal, dan lagi kita memang akan menjadi pembunuh. Jadi apa salahnya?”
__ADS_1
Aku hanya menatap Cleve dari sudut mataku dan memikirkan perkataannya tersebut.
Ketika hari dipenuhi kegelapan aku masih belum juga bisa tidur. Semua anak sudah tidur termasuk Cleve.
Aku berjalan keluar kamar sambil membawa pedang yang ditinggalkan Ibu padaku untuk latihan. Aku berjalan dengan langkah yang hampir tidak terdengar, keluar dari pintu gerbang yang tingginya sekitar lima meter namun pintu gerbang tersebut hampir tidak pernah terkunci. Mungkin agar para budak mudah untuk masuk ke perguruan.
Berjalan menuju tempat yang akan menjadi tempat latihanku bersama Ibu di belakang perguruan yang tidak jauh dari dapur. Aku ingin berlatih sebentar selama dua atau tiga jam sambil menunggu rasa kantuk menyerangku.
Aku mengeluarkan pedang dari sarungnya dan mengambil ancang-ancang untuk mulai berlatih. Bergerak mengayunkan pedang seperti yang di ajarkan Gumi padaku.
Pedang itu memiliki panjang sekitar satu meter. Tubuhku yang kecil sudah terbiasa memegang benda panjang itu. Aku juga sudah terbiasa dengan berat pedang tersebut.
Aku jadi teringat ketika aku berlatih agar mampu membawa pedang, aku harus mengangkat pedang selama berjam-jam dan itu sangat menyiksa diriku.
“Kenapa belum tidur?” Tiba-tiba terdengar suara seseorang, aku menjulurkan pedangku ke arah orang itu dan melihat Ian berdiri di depan pedang yang mengarah padanya.
Aku menurunkan pedangku dan berhenti berlatih, memasukan kembali ke dalam sarungnya.
Aku dan Ian duduk di sebuah kursi yang terbuat dari kayu di dekat dapur. Sebenarnya aku masih tidak ingin bicara dengannya akan tetapi apa yang di katakan Cleve ada benarnya juga.
Aku hanya menundukan wajahku dan melihat tanah yang terlihat berwarna emas karena sinar bulan.
“Bee, maafkan aku—”
“Tidak perlu minta maaf,” selaku. “Aku pernah membunuh orang, aku memang seorang pembunuh.”
“Be—benarkah?” Tanya Ian. “Sebenarnya, aku juga pernah membunuh.”
Aku menoleh setelah mendengar pernyataannya karena rasa kejut yang ku rasakan.
“Jangan bohong,” ujarku.
“Aku tidak bohong,” kali ini Ian memandang langit. “Dua tahun yang lalu wabah penyakit menyerang para budak disini. Agar tidak menularkan budak yang lainnya nyonya Margaux menyuruh kami untuk menembak siapapun yang terkena penyakit itu.” Ian berhenti berbicara.
“Maksudmu nyonya Margaux itu... Ibu?” Tanyaku memastikan dan Ian mengangguk.
__ADS_1
“Dia memberikan setiap keluarga budak sebuah pistol agar membunuh anggota keluarga yang terkena wabah itu hari itu juga. Dia akan mengadakan inspeksi keesokan harinya dan akan menghabisi semua keluarga jika kami tidak membunuh anggota keluarga yang terserang wabah,” ujar Ian masih tidak mengalihkan pandangannya dari langit malam. “Ayahku tidak dapat melakukannya, dia tidak sanggup menarik pelatuknya, karena itu aku yang melakukannya. Aku membunuh ibuku sendiri.”
Aku sangat terkejut mendengar ceritanya. Aku tidak percaya di usianya yang baru tujuh tahun harus mengalami hal seperti itu. Menarik pelatuk untuk membunuh ibunya sendiri pasti sangat sulit, tetapi dia melakukannya karena jika tidak, dirinya bersama ayahnya akan di bunuh juga. “Karena itu kau membenci semua orang di perguruan ini?” Tanyaku.
“Sebenarnya sejak itu aku kehilangan keinginan untuk bicara, hingga kemarin saat aku berbicara denganmu, itu pertama kalinya aku bicara lagi,” lanjut Ian. “Melihatmu yang datang ke tempat ini membuatku begitu sangat membencimu hingga ingin sekali aku berteriak agar kau pergi dari perguruan, tetapi aku tahu kalau aku salah karena aku tidak tahu apa-apa tentangmu. Tapi setelah kau dan temanmu membelaku waktu itu aku tahu kalau kalian adalah anak-anak yang baik. Aku ingin berteman denganmu karena itu aku berbicara denganmu untuk pertama kalinya.”
“Benarkah?” Tanyaku menatapnya. “Jadi sekarang kau berbicara lagi? Lihat bahkan kau terus berbicara.”
“Bee, kira-kira apa yang di lakukan anak-anak seperti kita di negara bebas?” Tanya Ian menatapku.
Matanya terlihat memerah, aku tahu kalau saat ini Ian menahan air mata.
“Aku tidak tahu, tapi mereka adalah anak-anak yang beruntung, tidak seperti kita,” jawabku.
“Apa manusia bisa terlahir kembali? Jika bisa aku tidak ingin terlahir di tempat ini lagi. Hidup di sini seperti neraka. Aku ingin kehidupan yang lebih baik. Aku ingin mempunyai masa depan yang aku sendiri yang menentukannya.”
Hidup di sini seperti neraka. Kalimat yang di ucapkan Ian sungguh tepat. Setiap hari harus memikirkan cara agar tetap bertahan hidup.
Begitupun hidup di perguruan Gyeld Enn Chourius ini. Semula aku berasumsi kalau hidup di tempat ini akan menyenangkan. Setiap hari tidak perlu takut kehabisan makanan namun lebih dari itu, aku harus berjuang mengalami latihan-latihan yang menyakitkan.
Hari ini kami diminta untuk ke sebuah ruangan yang terdapat sebuah kursi dengan kabel-kabel yang terlilit di kursi-kursi tersebut.
Melihat kehadiran tim medis aku dapat mengira kalau latihan kali ini sama berbahayanya seperti meminum racun.
Wendy hanya menyuruh kami duduk di tiap-tiap kursi dan tidak bertanya apapun. Semua kabel di lekatkan pada diri kami dan kami di minta untuk menekan tombol hijau yang ada di kursi kami jika kami tidak kuat.
Tidak lama kemudian seperti di serang seribu semut aku merasakan tubuhku kesakitan seperti tersengat listrik. Benar, ini adalah listrik. Kami di setrum saat ini dan kursi ini adalah kursi listrik.
“Tenangkan diri kalian dan cobalah agar tidak merasakan rasa sakit kalian!” Seru Wendy. “Saat ini baru 10 volt listrik yang dialirkan pada kalian, dan aku akan menambahnya setiap menit jadi jika kalian tidak kuat tekan saja tombol hijau agar aku memutuskan aliran listrik ke kursi kalian,” lanjut Wendy memperhatikan kami satu per satu dari tempatnya. “Latihan ini agar kalian memiliki kekebalan dari sengatan listrik dan dengan aliran listrik ini semua organ tubuh kalian akan terpacu untuk bekerja lebih maksimal. Karena itu latihan ini akan dilakukan setiap tiga bulan. Kalian yang mampu menahan hingga volt tertinggi sampai tingkat sepuluh akan mendapatkan hadiah, tapi ingat jangan memaksakan diri karena kalian bisa mati.”
Aku menekan tombol hijau ketika mencapai 110 volt. Aku merasa tidak kuat bahkan anak perempuan lainnya menekan tombol hijau sebelum mencapai 100 volt. Marchi berhenti di 60 volt dan Tiffany di 100 volt. Sedangkan saat ini hanya ada dua anak yang bertahan yaitu Cleve dan anak perempuan berkulit hitam bernama Ninon.
Wendy menyuruh mereka agar berteriak karena dengan berteriak akan mengurangi rasa sakit. Aku tidak tega melihat Cleve begitu kesakitan tetapi dia tetap tidak ingin menekan tombol hijau. Akhirnya Ninon menyerah di 140 volt sedangkan Cleve menekan tombol hijau di 150 volt, karena sudah tidak ada siapapun yang menjadi pesaingnya.
“Aku akan mendapatkan hadiah itu,” bisik Cleve dengan senyum padaku ketika aku memapahnya ke klinik karena Cleve terlihat begitu lemah.
__ADS_1
...@cacing_al.aska...