DEAPECTRUM

DEAPECTRUM
010. KEHILANGAN JATNERA


__ADS_3

Pria itu bersiap-siap mengayunkan pedangnya untuk memotong tangan wanita itu namun dengan tangan kirinya wanita itu melemparkan belati ke dada pria tersebut. Dua pria lainnya menyerang si wanita dengan pedang yang di bawa mereka namun kelincahan dan kecepatan wanita itu dapat menghindar dan menyerang balik tanpa ampun. Akhirnya wanita itu dapat menumbangkan ketiga pria raksasa.


Aku benar-benar tercengang melihatnya. Wanita itu benar-benar hebat. Tubuhnya kecil namun dapat mengalahkan tiga pria yang menyerangnya sekaligus secara bersamaan. Dari mana dia belajar semua itu? Apakah aku juga bisa sehebat dia? Andai saja aku dapat berkelahi sepertinya pasti aku tidak perlu takut lagi pada para penjahat.


“Bagaimana? Kalian masih mau ke Pulau Poegriye?” Seru wanita itu dengan napas terengah-engah pada ketiga pria yang sudah berlumuran darah. “Tenang saja aku tidak akan membunuh kalian. Aku pasti senang jika kalian bisa datang ke rumah kami.”


Tiba-tiba pria yang tangannya terpotong mengambil pedang dengan tangan kirinya dan mencoba bangun untuk menyerang wanita itu dari belakang. Aku mengambil pistolku dan berlari keluar semak-semak lalu menembaknya. Tembakan ku tepat sasaran. Pria itu terjatuh karena terkena tembakanku tepat di kepalanya. Wanita itu berbalik dan melihat padaku.


“Tembakan yang bagus.” Senyumnya padaku. “Cepat kalian pergi sekarang juga sebelum aku berubah pikiran dan ingin membunuh kalian sekarang juga.”


“Tunggu!” Teriakku. Wanita itu menatapku dengan tanya. “Aku ingin bertanya sesuatu. Dimana peti yang kalian ambil di sebuah gubuk tadi pagi?” Aku menatap para penjahat yang mencoba bangun sambil menahan sakitnya. “Kalian dengar aku?”


“Sudah di ambil oleh seorang anak perempuan.” Jawab salah seorang.


“Apa maksudnya?” Tanyaku lagi.


“Kami kembali lagi ke gubuk itu dan menemukan seorang anak disana, lalu kami menangkapnya tapi ketika kami tertidur pulas di perjalanan anak itu kabur membawa petinya.”

__ADS_1


“Anak perempuan? Bagaimana ciri-ciri anak itu?” Pertanyaanku di acuhkan mereka yang langsung bangun dan berlari meninggalkan kami. Mereka juga membawa teman mereka yang aku tembak.


Anak perempuan? Apa Jatnera? Penjahat itu bilang mereka kembali lagi ke gubuk dan ada anak perempuan disana. Berarti anak perempuan itu adalah Jatnera. Aku bodoh sekali, seharusnya aku tidak meninggalkan Jatnera, bahkan aku tidak berpikir kalau kawanan penjahat itu akan kembali lagi.


Tanpa pikir panjang aku berlari menuju gubuk tempat tinggal kami. Semoga saja Jatnera sudah ada di gubuk. Semoga dia baik-baik saja sekarang. Ya semoga dia adalah anak perempuan yang berhasil mengambil peti itu.


Matahari sudah mulai turun dan membuat jalanan kembali terlihat. Aku masih berlari pulang ke gubuk dengan cemas. Ketika sampai pintu gubuk terbuka, itu membuatku memperlambat langkah. Aku berjalan perlahan sambil berdoa semoga saja Jatnera ada di dalam dan dia baik-baik saja bersama peti milik Isbell. Namun kenyataan begitu pahit. Tak ada siapa pun di dalam gubuk.


Aku menangis dan menyesal telah meninggalkan Jatnera. Seharusnya aku tidak pergi untuk mencari peti itu.


Kemana dia sekarang? Apa dia tersesat? Tidak mungkin kalau dia tersesat. Jatnera adalah anak yang pintar bahkan dia lebih pintar dariku. Kalau begitu aku akan menunggunya dia pasti akan pulang. Benar pasti tidak lama lagi dia pasti akan sampai. Kalau begitu aku akan menunggunya disini. Aku membaringkan tubuhku dan menghapus air mata di wajahku. Sebuah apel tergeletak di lantai sampingku. Jatnera pasti meninggalkannya dan tidak sempat membawanya.


Jatnera tidak juga datang padahal sudah tiga hari. Apa dia benar-benar tersesat? Atau dia di tangkap kawanan penjahat lainnya? Sudah tiga hari seharusnya dia sudah sampai di sini.


Tidak. Aku memang bodoh. Jatnera pasti tidak akan kembali ke gubuk ini lagi karena takut kawanan penjahat itu mencarinya kesini. Kenapa aku selalu terlambat dalam berpikir? Aku benar-benar bodoh.


Namun aku benar-benar khawatir pada Jatnera. Apakah kami akan bertemu lagi? Jika tidak ada dia aku harus bagaimana sekarang? Aku kembali teringat wanita di lubang harta.

__ADS_1


Dia wanita yang tangguh dan kemampuannya luar biasa. Aku benar-benar ingin sepertinya. Apa jika aku minta dia mau mengajariku? Baiklah, aku akan memohon padanya untuk mengajariku. Tidak ada gunanya juga aku terus menunggu dan berdiam diri di gubuk ini. Kemarin kata wanita itu dia akan berada di lubang harta selama dua minggu lagi itu berarti sekarangpun dia masih berada disana.


Aku bangkit berdiri dan berjalan keluar gubuk.


Yang paling aku takutkan adalah hidup sendiri di tempat menyeramkan ini namun hal itu sekarang menimpaku. Isbell meninggalkan aku dan sekarang aku harus menelan kenyataan pahit berpisah dengan Jatnera.


Aku tidak tahu lagi harus bagaimana sekarang. Akan tetapi perkataan anak laki-laki itu membuatku percaya akan masa depan yang lebih baik lagi. Aku tidak tahu bagaimana caranya untuk mendapatkan hidup lebih baik di negeri pembuangan ini, namun setiap kali aku membayangkan anak itu aku kembali yakin pada ucapannya. Aku akan bertahan hidup bagaimanapun caranya, aku pasti akan mengembalikan kalung anak laki-laki itu suatu saat nanti.


Matahari sudah mulai ke arah barat dan sedikit demi sedikit tak terlihat ketika aku sampai di lubang harta. Aku bersembunyi di balik batu besar karena saat ini di lubang harta sedang di kunjungi oleh seorang pria setengah baya bersama wanita yang aku yakin adalah istrinya.


Sekitar lima belas menit aku menunggu sampai pasangan itu meninggalkan lubang harta. Setelah itu aku keluar dari tempat persembunyianku. Memperhatikan sekeliling untuk mencari sosok wanita kemarin. Aku yakin sekali saat ini dia sedang bersembunyi di semak-semak seperti kemarin. Aku harus membuatnya keluar dari tempat persembunyiannya dan memintanya untuk mengajariku cara berkelahi.


“Aku tahu kau disana, aku mohon keluarlah.” Seruku dengan pandangan mengelilingi sekitar untuk menemukan wanita itu. “Tolong ajari aku caranya berkelahi. Aku mohon.” Usahaku percuma wanita itu tidak muncul juga. “Aku mohon padamu, aku harus bertahan hidup di tempat ini karena aku harus menemukan saudariku yang pergi entah kemana. Aku mohon keluarlah.” Aku berlutut dan menangis namun wanita itu tetap tidak memperlihatkan wujudnya. “Aku akan diam disini sampai kau keluar dan mengajariku cara berkelahi.”


Aku terus berlutut sampai matahari benar-benar tenggelam. Kakiku sampai kram hingga tidak bisa digerakan. Aku tidak peduli jika ada kawanan penjahat yang datang ke lubang harta atau orang-orang yang ingin mengambil beberapa barang di tempat itu. Itu bahkan lebih bagus jika ada kawanan penjahat yang datang wanita itu pasti akan keluar untuk membersihkan mereka seperti kemarin yang dia lakukan.


Bagaimanapun caranya aku harus membuat wanita itu mau mengajariku semua kemampuannya karena jika aku tidak sepertinya tidak lama lagi aku akan mati di tempat ini. Sampai kapanpun aku akan tetap berlutut sampai wanita itu keluar dari persembunyiannya.

__ADS_1


...@cacing_al.aska...


__ADS_2