
Selama sisa waktu dua minggu, Gumi menyuruhku untuk tetap berlatih gerakan-gerakan berkelahi, mengasa kecepatan dan konsentrasiku. Dia juga menyuruhku untuk tetap berlatih pedang.
Menggunakan dua pedang sekaligus dengan kedua tangan namun masih terlalu sulit dan aku lebih memilih untuk menggunakan satu pedang untuk saat ini. Aku juga masih tetap berlatih melempar belati dengan cepat dan tepat sasaran.
Sebenarnya aku sangat ingin berlatih menembak namun kami tidak memiliki senjata api. Gumi bilang di perguruan nanti aku akan belajar cara menembak dengan benar karena di sana memiliki banyak persediaan senjata api untuk di gunakan belajar. Mungkin itu adalah salah satu alasan kenapa mereka mengambil senjata-senjata api dari lubang harta.
Setiap hari aku dan Gumi berduel dengan tangan kosong maupun dengan pedang. Dengan tangan kosong aku tidak mampu sekalipun mengalahkan Gumi namun jika dengan pedang beberapa kali aku berhasil membuatnya terjatuh dan mengakui kekalahan. Selama hampir sebulan aku sudah belajar berbagai macam dan aku sangat senang.
Gumi memujiku kalau aku mampu cepat belajar akan tetapi dia juga berkata kalau semua anak-anak di tempat ini memiliki jiwa bertahan hidup sehingga hampir semua anak di negeri pembuangan ini bisa belajar dengan sangat cepat, berbeda dengan anak-anak di negeri bebas. Karena hal itu pula Perguruan Gyeld Enn Chourius hanya menerima anak-anak perempuan dari Deapectrum.
“Gumi, setelah lulus apa yang akan kau kerjakan?” Tanyaku ketika malam terakhir kami karena besok Gumi akan membawaku ke Pulau Poegriye. “Kau dengar aku kan Gumi?” Aku menoleh ke sebelah kananku dimana Gumi berbaring. “Kenapa kau tidak meninggalkan Deapectrum?”
“Perguruan akan memberiku suatu tugas yang harus aku kerjakan.” Jawab Gumi. “Bee...” Tiba-tiba Gumi bangun dari posisi tidurnya. “Ada yang harus kau ketahui. Dengarkan aku.” Gumi tidak menatapku dan hanya menundukan kepala. “Setelah kau masuk ke sana selamanya kau akan terikat. Banyak peraturan-peraturan yang harus kau patuhi. Kau tidak akan bisa memutus hubungan dan meninggalkan perguruan.”
“Apa maksudmu?”
“Pikirkan sekali lagi apa kau benar-benar ingin pergi ke Pulau Poegriye.”
“Sudah aku bilang, aku akan ke sana apapun yang terjadi.”
“Baiklah. Semoga kau tidak menyesal.” Ucap Gumi menatapku.
Pagi-pagi sekali aku dan Gumi meninggalkan gubuk untuk pergi menuju Pulau Poegriye. Berjalan ke arah utara yang suhunya lebih rendah. Di penuhi hutan dan kabut sehingga penglihatan tidak dapat melihat jauh kesana.
“Apa masih jauh?” Tanyaku merasa lelah karena sudah hampir tiga jam kami berjalan. “Aku lelah, bisakah kita istirahat dulu?”
“Tidak! Kita harus terus berjalan. Sebentar lagi kita akan sampai di sungai.” Gumi menoleh padaku yang berjalan di belakangnya. “Jika kau berdiam diri di sini maka kau akan mati membeku karena itu kita harus terus bergerak. Kau mengertikan?”
__ADS_1
Aku hanya diam dan terus berusaha berjalan karena aku benar-benar merasa lelah dan kedinginan karena aku hanya memakai kaos tipis tanpa pelindung lainnya.
“Ini adalah lembah Sraet yang berarti air mata karena di tempat ini kau tidak akan bisa menangis walau kau berusaha keras mengeluarkan air matamu. Sepertinya suhu yang dingin membuat kau sulit mengeluarkan air mata.” Seru Gumi. “Ngomong-ngomong katakan padaku bagaimana rupa Jatnera? Jika tidak di Pulau Poegriye aku akan tinggal di gubukmu, siapa tahu adikmu akan datang mencarimu.”
“Matanya besar seperti seekor kucing. Dia anak yang cantik bahkan masih terlihat cantik walau menangis. Bola matanya berwarna hitam, sangat hitam seperti arang.” Ujarku sambil mengingat kembali bagaimana rupa Jatnera. “Beritahu aku jika kau menemukannya.”
“Baiklah.” senyum Gumi sambil mengusap kepalaku. “Kita sudah sampai.”
Aku mengangkat kepalaku untuk melihat ke depan karena dari tadi aku hanya menunduk memperhatikan langkahku. Sungai terbentang di depan kami dan tidak terlalu jauh terlihat pulau besar dengan bangunan megah terdapat di dalamnya.
Di depan kami tersedia sebuah perahu dengan seorang pria setengah baya bersama seorang anak laki-laki berambut cokelat terang. Mereka menyuruh kami untuk naik ke perahu. Aku hanya mengikuti Gumi yang melangkah naik ke perahu dayung berukuran kecil.
Anak laki-laki bermata hijau yang duduk di depanku terus menatapku sehingga aku merasa tidak enak. Aku berusaha duduk tanpa memedulikan tatapannya. Gumi terlihat begitu senang ketika melihat bangunan yang dia sebut adalah rumahnya. Aku tahu kalau bangunan itu adalah perguruan Gyeld Enn Chourius.
“Apa kau gugup?” Gumi yang duduk di sampingku bertanya tanpa melihat ke arahku. “Pasti kau gugup. Aku juga gugup ketika aku datang pertama kali ke sini.” Ujar Gumi. “Ngomong-ngomong benda apa saja yang kau bawa?”
“Baiklah.” Gumi mengambil botol tersebut dan memasukannya ke dalam tas miliknya. “Tidak ada lagi kan barang berharga lainnya?”
Aku mengangguk menjawabnya. Sebenarnya aku berbohong karena aku masih membawa kalung milik anak laki-laki yang aku curi. Aku tidak bisa meninggalkannya ataupun menitipkannya pada Gumi. Aku akan membawanya tanpa sekalipun mengeluarkan benda itu dan tidak akan memperlihatkannya pada siapapun.
Selama tiga puluh menit kami mengarungi sungai. Ketika sampai aku dan Gumi segera turun dari perahu namun aku masih dapat merasakan kalau anak laki-laki di perahu masih memperhatikan aku.
Aku tidak tahu apa maksudnya dan kenapa dari tadi dia terus menatapku. Aku dan Gumi melanjutkan berjalan kaki menuju bangunan-bangunan megah dengan berbagai macam warna yang tidak jauh lagi.
“Anak laki-laki itu tidak bisa bicara.” Seru Gumi.
Pernyataannya membuatku terkejut dan lagi aku juga terkejut kenapa Gumi berkata hal itu padaku.
__ADS_1
“Anak itu selalu menatap semua anak perempuan yang di bawa ke Pulau Poegriye. Aku tidak pernah mendengarnya mengeluarkan suara, aku yakin sekali kalau dia bisu.”
“Apa itu ayahnya?” Tanyaku.
“Ya. Keluarganya turun temurun menjadi budak. Ayah dan ibunya adalah budak di sini. Tapi dua tahun yang lalu ibunya meninggal.” Jawab Gumi. “Ayahnya bernama Ekman dan anak itu bernama Ian. Dia anak yang tampan tapi dia adalah budak jadi jangan jatuh cinta padanya. Kau mengerti kan Bee?” Setelah berkata seperti itu Gumi tertawa senang.
Aku diam dan tidak ingin menanggapi ocehan Gumi. Sejujurnya aku sangat membenci sifat Gumi yang selalu tertawa tidak pada waktunya tapi ya itulah sifatnya. Aku merasa kasihan pada anak itu. Sepertinya usia kami tidak jauh berbeda.
Setelah berjalan sekitar sepuluh menit kami sampai di pintu gerbang perguruan Gyeld Enn Chourius. Kami memasuki pekarangan yang luasnya sekitar satu kilometer. Terdapat sekitar sepuluh bangunan besar yang bentuk dan warnanya macam-macam.
Di tengah-tengah bangunan berdirilah patung seukuran raksasa berbentuk ular hitam dengan satu mata. Aku merasa ngeri ketika melewati patung tersebut. Aku merasa kalau patung itu bisa hidup mungkin kami akan mati di injak. Patung ular mata satu itu pasti adalah lambang dari perguruan ini.
Gambar seperti patung itu juga yang di ukir di bawah leher belakang Gumi sebagai tanda kelulusan.
Gumi berjalan ke arah bangunan yang berada di sebelah kiri. Tak ada satupun orang yang terlihat, suasana sangat sunyi dan hanya deru angin yang terdengar. Hal ini membuatku sedikit merinding.
Masuk ke dalam bangunan membuatku kagum karena di dalam bangunan ini terlihat begitu megah. Banyak sekali lukisan-lukisan yang terpasang di dinding yang berwarna putih. Mataku mengelilingi seluruh sudutnya melihat beberapa patung yang terlihat begitu artistik.
“Gumi...” Tiba-tiba muncul seorang wanita dari tangga. Wanita itu segera turun mendekati kami. “Ternyata benar itu kau. Tidak ku sangka kau pulang cepat.” Seru wanita berkacamata yang rambutnya sudah hampir di tutupi uban. Wanita itu langsung memeluk Gumi. “Ada apa? Apa kau sudah mendapatkan tugas pertamamu? Dan siapa anak ini?”
“Tidak bu Bianca, aku ke sini karena mengantar anak ini.” Jawab Gumi dengan senyum di wajahnya. “Dia akan mengikuti ujian masuk. Bee, dia adalah penanggung jawab di sini.”
“Halo bu.” Sapaku berusaha tersenyum namun wajahku kaku untuk melakukannya.
“Benarkah? Dari mana kau menemukannya?” Bu Bianca memperhatikan aku dari atas sampai ujung kaki. “Sebaiknya kau bertemu dengan ibu, kau tahu kan peraturan disini?” Setelah berkata demikian Bu Bianca berjalan dan meminta kami mengikutinya.
...@cacing_al.aska...
__ADS_1