
Aku sempat terkejut dan bingung bagaimana caraku menagkapnya karena pedang datang dari arah yang berbeda tidak seperti saat aku latihan dengan batang kayu. Batang kayu tadi malam ku lempar ke atas dan aku menangkapnya dari arah itu tidak seperti sekarang. Aku memilih untuk mengindari pedang itu karena kalau aku gagal menangkapnya pedang itu pasti akan membelahku jadi dua.
“Apa-apaan ini? Kau ingin membunuhku?” seruku marah.
“Kenapa? Ada yang salah?”
“Semalam aku berlatih menangkap dari atas bukan dari arah seperti tadi.” jawabku.
“Kalau begitu sekarang kau akan berlatih menangkap pedang yang aku lemparkan dan usahakan tangkap dengan salah satu tanganmu karena aku akan melempar kedua pedang ini tanpa jeda waktu.”
“Baik aku akan coba.” ucapku.
“Ingat kalau tidak yakin lebih baik biarkan saja pedang itu dan jangan menangkapnya. Kau bisa terbunuh.”
Tanpa waktu yang lama aku berhasil menangkap satu pedang dengan tangan kananku namun tidak berhasil dengan tangan kiri. Gumi memakluminya dan berkata kalau aku pasti akan bisa menangkap dua pedang secara bersamaan suatu saat nanti. Dia juga memujiku karena dapat cepat belajar menangkap pedang.
Selama lima hari Gumi mengajariku cara menggunakan pedang. Dan beberapa kali aku dan dia beradu pedang. Kecepatan Gumi berkurang ketika menggunakan pedang. Aku tahu dia tidak terlalu mahir menggunakan pedang seperti yang dia katakan padaku. Di hari kelima aku berhasil mengalahkannya dalam duel pedang. Dia terjatuh dan aku menjulurkan pedangku ke lehernya. Dia tersenyum karena aku berhasil mengalahkannya. Aku benar-benar senang dengan hal itu. Tidak ku sangka aku berhasil menggunakan pedang yang ukurannya tidak jauh beda dari tubuhku dalam waktu sesingkat ini.
Malampun tiba aku beristirahat dan berbaring ketika pesawat datang. Gumi memperhatikan lubang harta ketika pesawat membuang benda-benda ke lubang harta. Tidak lama kemudian teman-temannya datang seperti biasanya mengambil senjata-senjata api itu. Akan tetapi tiba-tiba aku mendengar banyak langkah kaki mendekat. Aku menoleh ke arah Gumi yang terlihat serius memperhatikan ke arah lubang harta. Aku mengintip dan melihat lebih dari dua puluh pria bertubuh raksasa datang dengan berbagai senjata tajam. Gumi menyuruhku tetap diam dengan isyarat tangannya setelah itu keluar bergabung bersama teman-temannya.
Pria-pria itu menggertak menyuruh mereka menyerahkan senjata-senjata itu. Nem yang membawa sebuah senapan mencoba menembaki mereka namun dua pria berhasil merampas senapan itu sebelum berhasil melakukannya. Kawanan penjahat itu mengepung lima wanita yang tetap terlihat santai. Aku tahu ini bukan keadaan yang baik tetapi kenapa mereka tetap saja tidak merasa takut? Pria itu berjumlah dua puluh tiga orang sedangkan mereka hanya berlima.
“Ingat jangan menggunakan senjata-senjata api itu. Kalian mengerti?” seru Nem. Pasti yang di maksud senjata api itu adalah senjata-senjata api yang baru saja di buang pesawat ke lubang harta.
__ADS_1
Perkelahianpun di mulai. Gumi bersama keempat rekannya mencoba mengalahkan kawanan penjahat itu. Namun mereka kalah jumlah. Gumi dan lainnya berhasil menjatuhkan tujuh orang namun keadaan belum membaik. Mereka masih harus mengalahkan enam belas pria bertubuh raksasa lainnya yang masih terlihat belum kelelahan. Melihat perkelahian itu membuatku merasa takut. Aku gemetar dan keringat dingin keluar dari seluruh pori-pori di tubuhku. Aku harus membantu mereka akan tetapi bagaimana caranya? Bagaimana kalau aku terbunuh? Aku tidak boleh mati sekarang.
Tidak. Aku yang sekarang sudah berbeda dengan aku dulu yang tidak bisa apa-apa. Aku bisa memakai pedang. Dengan cepat aku mengambil pedang yang letaknya tidak jauh dari tempatku. Aku menutup mata dan mengambil napas setelah itu keluar dengan sebuah pedang. Menghunuskan pedang ke seorang pria yang sedang berkelahi dengan Gumi.
“Apa yang kau lakukan? Aku bilang tetap bersembunyi, bodoh!” seru Gumi sambil menghindar dari serangan beberapa pria. “Cepat pergi!”
Aku diam saja karena tidak ingin meladeni ocehan Gumi saat ini. Aku sibuk mengindar dari pria yang menyerangku. Tidak ada waktu untuk mendengarkan ataupun menanggapi ocehan Gumi sekarang. Aku menghindar dari pria itu sampai pedangku terjatuh. Pria itu mengambil pedangku dan mengayunkan pedangnya ke arahku. Aku menutup mata tetapi terdengar suara tembakan berkali-kali. Aku membuka mata dan pria itu sudah terjatuh ke tanah. Ternyata Nem berhasil mengambil kembali senapannya dan menembaki para penjahat dengan cepat, tanpa ampun. Aku mencoba mengatur napasku yang terengah-engah karena ketakutan.
“Kau tidak apa-apa kan?” Gumi membantuku berdiri.
“Kau masih bersama anak itu?” tanya Nem menghampiri kami. “Sebentar lagi tugasmu di sini berakhir. Kau ingin memasukan dia ke perguruan kan?”
Gumi tersenyum pada Nem. “Ketahuan ya?” ucap Gumi menggaruk-garuk kepalanya sambil tertawa.
“Tentu saja.” jawab Gumi dengan ringan. “Tidak perlu khawatir aku tidak akan merepotkanmu”
“Tentu saja harus khawatir. Kau kan baru lulus.” timpal Nem berjalan pergi menuju mobil. “Ibu itu sangat keras, kau tidak mungkin bisa membujuknya. Jangan menganggap dirimu spesial karena kau lulus lebih cepat dari kami.” teriak Nem sambil melaju dengan mobilnya meninggalkan kami.
“Aku ini memang spesial dari pada mereka.” gumam Gumi dengan wajah kesal.
***
Masa tugas Gumi berjaga di lubang harta berakhir. Aku mengajaknya untuk tinggal ke gubuk lama tempat aku tinggal dulu. Ketika tiba disana Jatnera tetap tidak ada. Berada di tempat itu membuatku kembali mengingat kehidupanku. Aku yang harus berjuang mencari makanan ketika Isbell pergi meninggalkan aku dan Jatnera. Hal itu membuatku merasa sedih dan selalu menangis ketika mengingatnya. Aku benar-benar merindukan Jatnera. Aku ingin bertemu dengannya saat ini. Andai saja dia ada aku akan mengajaknya untuk ikut ke Pulau Poegriye.
__ADS_1
Aku duduk sambil memperhatikan kalung milik anak laki-laki itu di dalam gubuk. Sedangkan Gumi ada di luar entah melakukan apa. Aku masih punya waktu dua minggu lagi sebelum mengikuti ujian masuk ke perguruan Gyeld Enn Chourius. Aku harus lulus ujian masuk itu karena tidak akan ada kesempatan kedua kalinya. Setelah lulus dari sana aku pasti akan keluar dari negeri ini untuk menemui anak laki-laki itu untuk mengembalikan kalung miliknya ini.
“Apa yang kau lakukan?” tanya Gumi yang berjalan masuk dan meletakan tempayan berisi air minum. “Kalung siapa ini?” Gumi mengambilnya dari tanganku.
“Suatu saat nanti aku ingin mengembalikan pada pemiliknya.” jawabku.
“Jadi bukan kalungmu?” Gumi menatapku. “Lebih baik kau simpan kalung ini dan jangan kau bawa ke Pulau Poegriye.”
“Kenapa?”
“Jika kau melakukan kesalahan, mereka akan mengambil benda-benda berhargamu. Itu adalah hukuman hati.” jelas Gumi. “Dan ku beritahu padamu untuk tidak berteman dengan siapapun disana, kalau kau tidak ingin menyesal.”
“Apa maksudnya?”
“Jangan anggap anak lainnya adalah temanmu sebelum kau benar-benar lulus, mengerti?”
“Aku tidak mengerti. Apa maksudnya?”
“Dengar saja kata-kataku kalau kau tidak ingin menyesal.”
“Baiklah.” jawabku. “Gumi, kenapa kalian mengambil senjata-senjata itu dari lubang harta dan kenapa banyak sekali senjata yang di buang di lubang harta?”
“Sebenarnya ini rahasia, jadi jangan kau beritahu siapapun tentang ini ya.” ujar Gumi dengan serius. “Senjata-senjata itu sengaja di bawa ke tempat ini untuk kami oleh suatu badan di negeri bebas sana. Kalau kau tanya untuk apa tidak akan ku jawab.”
__ADS_1
...@cacing_al.aska...