DEAPECTRUM

DEAPECTRUM
040. HIDUP INI SANGAT SULIT DIJALANI


__ADS_3

Keesokan harinya setelah kelas usai aku menuju atap gedung asrama sendirian. Aku duduk di sisi atap gedung yang hanya setinggi dua meter. Merasakan deru angin yang mengibaskan rambutku.


Berada di tempat tinggi ini membuat perasaanku sedikit membaik. Kesesakan yang terus ada di dalam dadaku sejenak menghilang karena udara yang terus menghampiriku serta sinar matahari yang memberikan sinarnya seperti mengisi daya kekuatan di dalam tubuhku.


Setelah yang terjadi aku akan menjalani hidupku namun mulai sekarang tidak ada lagi tujuan-tujuan yang membuatku bersemangat. Aku akan menjalani semuanya seperti air mengalir yang selalu mengalir ke tempat yang lebih rendah. Tidak lagi seperti api yang semakin membara di saat angin bertiup mencoba memadamkannya.


“Hidup ini sangat sulit di jalani...” gumamku pada diriku sendiri. “Tapi bukan berarti tidak bisa dijalani kan?” Aku membuang napas mencoba membuang semua yang terjadi di hidupku dari pikiranku saat ini.


“Bee...” teriak seseorang dari bawah. Aku melongok dan melihat Gumi melambaikan tangannya. “Aku akan kesana.” Gumi tersenyum lebar.


Tidak berapa lama kemudia Gumi sampai di atap, di tempat dimana aku berada. Aku menolehnya ketika dia membuka pintu menuju atap.


“Kau lihat, ini keren kan?” Gumi menunjukan penutup mata yang terpasang di mata kanannya. Penutup mata itu berwarna hitam dan terbuat dari bahan yang terlihat mahal. “Aku jadi seperti seorang bajak laut, kan?” Gumi tersenyum lebar.


Aku semakin tidak mengerti dengan sifat Gumi. Bagaimana mungkin dia tersenyum lebar ketika dia kehilangan satu matanya?


“Hey, ada apa lagi?” Tanya Gumi menaiki sisi atap dan duduk di sampingku. “Wah, di sini benar-benar tempat yang hebat. Aku jadi bisa melihat seluruh isi Pulau Poegriye.”


“Tidak usah berlebihan. Tempat ini hanya di lantai lima bagaimana bisa kau melihat seluruh pulau dari tempat ini?” Seruku.


“Tidak masalah kan berlebihan untuk hal kecil?” Ucap Gumi setelah itu tertawa.


“Pasti sulitkan melihat hanya dengan satu matamu?” Ujarku menatapnya.


“Tidak,” jawab Gumi dengan ringan. “Setelah beberapa hari, aku sudah terbiasa. Tapi jika kau bertanya hal itu di awal aku mengalaminya pasti aku akan menjawab sangat sulit... hehe...”


“Bagaimana bisa kau tertawa setelah kau kehilangan satu matamu?”


“Kau jahat sekali, Bee,” gumam Gumi memanyunkan bibirnya. “Tapi aku masih punya satu mata ini, kan? Bahkan jika aku kehilangan kedua mataku aku masih punya kedua telingaku dan jika aku juga kehilangan kedua telingaku aku juga masih punya—”


“Lalu jika kau kehilangan semua, bagaimana?” Aku menatap Gumi dengan serius, memotong perkataannya.


“Aku akan bersyukur karena aku pernah memiliki semuanya,” jawab Gumi diakhiri dengan senyumnya yang lebar seperti ciri khasnya. “Keadaan Cleve belum juga berubah ya?”


“Aku tidak tahu kapan dia akan kembali menjadi Cleve yang dulu,” ucapku. “Bahkan dia diam saja ketika Tiffany memukulinya.”


“Lalu kau memukuli Tiffany? Benar kan?”

__ADS_1


“Ceritakan padaku apa yang terjadi sampai kau kehilangan matamu dan kenapa Nem juga bisa terbunuh? Apa tugasmu kali ini begitu sulit?”


“Sangat sulit,” jawab Gumi ringan. “Hampir lima puluh penjaga yang terlatih menjaga target kami. Karena itu Nem memberi ide untuk memasang bom di kediamannya yang seperti istana itu namun Nem dan yang lainnya tidak bisa meloloskan diri sebelum bom meledak. Lalu pecahan kaca mengenai mataku ini, sedangkan Lise—temanku yang selamat, kehilangan tangan kirinya. Benar-benar mengerikan... aku tidak akan ingin kembali ke negara itu. Lebih baik aku berada di Deapectrum selamanya.”


“Memangnya apa nama negara itu?”


“Fansidokia... letaknya bersebelahan dengan negeri tercinta kita ini.”


“Di negara itu puncak gunung Evertnes berada dan di sana terdapat Archie Island.” ucapku setelah itu menarik napas. “Aku ingin sekali ke tempat itu.”


“Tidak, tidak! Kau jangan ke sana! Disana sangat menyeramkan. Mereka selalu menanyakan identitasmu dan menatapmu seperti kau ini adalah makanan lezat yang siap di santap,” ujar Gumi membuatku tersenyum. “Aku lebih suka berada di Deapectrum walaupun akhir-akhir ini tempat ini tidak terlalu bebas.”


“Gumi, kenapa kau tidak pernah bercerita tentang gubukku?” Teriakku kesal saat mengingat mengenai gubukku. “Kami ke gubuk itu, namun bukan gubukku yang aku temukan melainkan sebuah restoran. Kenapa kau tidak bercerita padaku?”


“Te—tenang dulu,” seru Gumi dengan wajah bingung. “Aku benar-benar lupa menceritakannya padamu. Setiap kali aku melihatmu tiba-tiba aku tidak mengingat hal itu. Sepertinya ada seseorang yang menyihirku sehingga lupa untuk menceritakannya padamu,” ujar Gumi mencari alasan. “Kau mengerti, kan?”


“Satu hal lagi, kenapa kau menyerahkan abu milik nenekku pada mereka? Mereka menghancurkan semuanya. Padahal kau tahu kan kalau itu adalah benda yang berharga untukku?”


“Kalau itu, aku juga terkejut ketika kembali,” jawab Gumi menatapku. “Aku meninggalkan semua perlengkapanku di sini dan ketika aku kembali semua barang-barangku sudah berantakan, bahkan mereka juga mengambil anting-anting milikku. Mereka mengira itu juga milikmu,” lanjut Gumi. “Ah, betapa menderitanya aku... kalau tahu akan kehilangan anting-anting itu karenamu aku tidak akan membawamu kesini. Anting-anting itu harganya sangat mahal, kau tahu?” Gumi melirikku dengan kesal.


“Hey, ayolah... aku hanya bercanda.” Gumi merangkulku. “Aku tidak serius dengan ucapanku tadi,” ujar Gumi menatapku dengan senyumnya. “Bee, apa kau menyesal berada di tempat ini?” tiba-tiba cara bicara Gumi menjadi serius. “Pasti kau menyesal kan? Itu hal yang biasa bahkan aku dulu juga merasakannya namun aku selalu mencoba menghilangkan rasa penyesalan itu... karena itu sebisa mungkin aku selalu bersyukur untuk apa yang aku alami saat ini,” ucap Gumi.


Aku menoleh padanya yang menatap ke kejauhan. Rambut panjangnya tertiup angin dan aku dapat melihat kalau saat ini satu matanya yang tersisa memerah, entah karena terkena debu atau dia menahan air mata.


“Bee, berjanjilah padaku kalau kau akan terus berjuang hingga kau lulus ujian akhir,” lanjut Gumi masih serius menatap jauh ke depan, aku terus menatapnya. “Hey, apa yang kau lihat?” Tiba-tiba Gumi menoleh padaku. “Setelah kau lulus ujian akhir kau harus mentraktirku, kau dengar?!” Seru Gumi diakhiri senyum lebarnya.


Langkah kakiku terasa sangat berat ketika keluar kelas setelah kelas usai. Seperti biasa Cleve selalu kembali ke asrama kami setelah kelas selesai. Dia pergi begitu saja dan tidak menghiraukan keberadaanku. Tak sekalipun dia mengeluarkan suaranya setelah kami tertangkap, padahal enam bulan sudah berlalu. Aku benar-benar merindukan dirinya yang dulu.


Aku selalu mencoba memancingnya untuk berbicara namun semuanya sia-sia, Cleve selalu mengunci mulutnya bahkan tak pernah sekalipun dia melihat mataku.


Setiap kelas usai aku selalu pergi ke klinik untuk mengobrol dengan Aquielle disana. Aku butuh teman bicara dan karena Gumi jarang berada di perguruan, aku selalu menemui Aquielle walau hanya sekedar mengobrol santai hingga mempelajari tanaman-tanaman beserta fungsinya.


Jika tidak ada Aquielle aku pasti sudah gila karena tidak ada teman bicara. Karena itu pula aku jadi merindukan Ian. Jika saja dia ada, pasti aku selalu menemuinya untuk mengobrol tentang apapun seperti dulu.


“Kalau tidak salah kau nona Bee, benar?” Tiba-tiba seseorang berdiri di hadapanku ketika aku hendak pergi ke klinik.


Aku mengangkat wajahku dan melihat orang itu. Ternyata dia adalah tuan Burney.

__ADS_1


“Bisa kita bicara?” Tanyanya.


Bersama dengan tuan Burney aku duduk di kursi besi yang ada di depan ruang klinik. Tampaknya tuan Burney baru saja keluar dari klinik.


Sebenarnya aku sering melihatnya berada di perguruan ini sebelumnya, tapi aku tidak mengerti untuk apa dia berada di sini, dan apa yang di lakukannya barusan di klinik tadi?


“Aku baru saja mengantar obat-obatan,” ujar tuan Burney seperti dapat membaca pertanyaan di kepalaku. “Semua kebutuhan di perguruan ini aku yang mengurusnya. Jika sesuatu habis aku harus segera mengisinya.”


“Dari mana semua barang-barang yang kau berikan ke perguruan ini?” Tanyaku tanpa berpikir. Aku menoleh pada tuan Burney namun tampaknya dia terkejut mendengar pertanyaanku. “Maaf, jika aku salah bertanya.”


“Tidak, tidak masalah,” jawab tuan Burney mencoba tersenyum namun kumisnya yang lebat menutupi bibirnya sehingga aku tidak dapat melihat apakah itu sebuah senyuman atau seringai. “Sebenarnya perguruan ini didirikan oleh seorang pengusaha kaya yang tergabung dalam sebuah organisasi yang cukup besar, dan organisasi itu yang memasok semua kebutuhan di perguruan ini.”


“Apa nama organisasi itu?” Tanyaku lagi menoleh pada tuan Burney. Tersirat sebuah ketegangan dari raut wajahnya. “Tidak masalah kalau kau tidak memberitahuku, tuan.”


“Nona, kau bilang kalau namamu Klay-Bee?” Tanya tuan Burney dan aku mengangguk. “Nama itu di ambil dari pakaian ibumu saat melahirkanmu?”


“Ada apa, tuan?”


“Lalu di mana ibumu, sekarang?” Tanya tuan Burney lagi.


“Dia meninggal setelah melahirkan aku,” jawabku. “Sebenarnya ada apa tuan? Sepertinya kau memikirkan sesuatu?”


“Sebenarnya ada sesuatu yang aku ingin tanya kan lagi padam, tapi sebaiknya aku akan bertanya setelah kau lulus ujian akhir,” ucap tuan Burney menatapku. “Aku harus pergi sekarang. Kita akan melanjutkan pembicaraan kita setelah kau lulus.”


Tuan Burney bangkit berdiri.


“Aku harap kau lulus ujian akhirnya nona, agar kita bisa menjutkan percakapan ini.”


Setelah berkata demikian tuan Burney membungkukan tubuhnya untuk pamit, lalu pergi meninggalkan aku.


Daftar pertanyaan di kepalaku bertambah setelah mendengar perkataan tuan Burney. Sebenarnya apa yang hendak di tanyakan tuan Burney padaku? Dan kenapa dia ingin bertanya sesuatu yang tampaknya sangat rahasia itu? Apakah ada kaitannya dengan ibuku yang melahirkan aku? Apa dia tahu siapa ibuku dan mengenal keluarganya sebelum dia dibuang ke negeri ini?


“Ada apa, Bee?” Tiba-tiba Aquielle keluar dari klinik dan membuyarkan pikiranku dari pertanyaan-pertanyaan misteri yang sama sekali aku tidak pernah memikirkannya. “Kenapa kau melamun? Ayo masuk!”


Aku bangkit berdiri dan masuk ke dalam klinik dengan mencoba melupakan semua hal yang di katakan tuan Burney padaku.


...@cacing_al.aska...

__ADS_1


__ADS_2