DEAPECTRUM

DEAPECTRUM
039. HUKUMAN MATI


__ADS_3

Entah mengapa setelah mendengar apa yang di katakan Aquielle padaku, bukannya lega tetapi aku malah merasa semakin bersalah.


Jika saja kami tidak melarikan diri dan tertangkap, mungkin Marchi masih akan hidup saat ini. Dia masih bisa melakukan semua hal yang di sukainya hingga kematian menjemput dua sampai tiga bulan lagi. Akan tetapi karena kami, dia harus menderita di saat-saat terakhirnya.


Mendapatkan siksaan karena menjaga rahasia aku dan Cleve yang lari bersama Ian. Dia masih menutup mulutnya hingga Ibu menembak dirinya.


Jika saja waktu dapat berputar kembali, aku pasti memaksa dirinya untuk ikut melarikan diri bersama kami keluar dari Pulau Poegriye. Namun semua sudah terjadi dan hanya ada penyesalan di akhir dari setiap kesalahan yang kami perbuat.


Tiba-tiba seseorang menabrakku ketika aku berjalan sambil melamun setelah meninggalkan klinik. Aku terjatuh karena tubuhku masih terasa lemas dan tenagaku belum pulih benar.


“Kau tidak apa-apa?”


Seseorang yang menabrakku mengulurkan tangannya padaku, dan aku menyambutnya. Dia membantuku bangkit berdiri.


“Maaf, aku tidak sengaja.”


“Tidak masalah, aku baik-baik saja,” jawabku.


“Bee, sepertinya keadaanmu tidak terlalu baik ya?”


Seseorang yang menabrakku ternyata adalah murid yang ada di tingkat yang sama denganku. Dia adalah Eloise, gadis berambut keriting dengan warna merah dan wajahnya dipenuhi bintik-bintik.


Kami berdua duduk di sebuah bangku taman yang terbuat dari kayu di sebelah bangunan yang di dalamnya terdapat klinik tempat Aquielle.


Sebelumnya kami tidak pernah mengobrol namun kali ini sepertinya dia ingin mengobrol denganku dan aku senang dengan hal itu. Dengan begitu aku tidak lagi kesepian karena tidak memiliki teman mengobrol.


“Kabar tentangmu dan Cleve yang melarikan diri dari perguruan sudah jadi pembahasan di perguruan ini selama kalian tidak ada,” ujar Eloise. “Sepertinya keadaan Cleve tidak terlalu baik setelah kalian kembali.” Eloise menatap padaku. “Aku tahu Marchi dibunuh karena kalian, tapi keadaannya dari dulu tidak terlalu baik, kan? Bahkan dia sering melewatkan beberapa latihan karena merasa tidak sehat, jadi kau jangan terlalu merasa bersalah karena kematiannya.”

__ADS_1


Perasaanku semakin kesal mendengar perkataan Eloise. Bagaimana dia bisa mengatakan hal semudah itu padaku padahal jelas-jelas Marchi mati karena kami.


Aku merasa kalau apa yang di katakannya bermaksud agar aku terus menyalahkan diriku. Kenapa semua orang mencoba membuatku untuk tidak menyalahkan diri atas kematian Marchi akan tetapi pada akhirnya aku semakin menyalahkan diriku?


“Maaf, bisa kah kita tidak membicarakan hal itu?” Ucapku tanpa melihat kepada Eloise yang duduk di samping kananku.


“Aku minta maaf jika perkataanku salah,” Eloise melihat kepadaku dan aku mencoba tersenyum walau untuk saat ini hal itu adalah hal yang sulit aku lakukan. “Bee, ceritakan padaku apa yang terjadi di luar sana? Kau tinggal di luar selama tiga bulan pasti banyak hal yang kau lihat, kan?”


“Itu benar,” jawabku. “Keadaan di luar sana sudah sangat berubah sekarang. Di sana benar-benar berbeda dengan Deapectrum dulu ketika kita belum ke tempat ini. Tidak perlu takut lagi berjalan di jalanan, bahkan di sana sudah tidak ada kawanan penjahat.” Ceritaku sambil mengingat ketika Ian mengajak kawanan penjahat untuk bekerja sama dengannya, dan hal itu membuatku tersenyum karena apa yang di lakukan Ian membuatku merasa terpukau. “Jika ada kesempatan aku ingin melarikan diri lagi ke luar sana.”


“Jangan berkata seperti itu. Kau tidak ingin di hukum karena perkataanmu barusan, kan?” Seru Eloise.


Tiba-tiba beberapa orang berlari dengan tergesah-gesah ke arah gedung asrama kami. Beberapa orang berteriak memanggil orang-orang untuk melihat sesuatu yang terjadi di luar gedung asrama.


“Ada apa?” Eloise bertanya pada seseorang yang berniat menuju gedung asrama.


“Sepertinya murid dari tingkat delapan berkelahi.”


Dengan panas yang membara di atas kepalaku, aku langsung menarik Tiffany yang duduk di atas tubuh Cleve yang terus dipukulinya.


Dengan segenap rasa kesalku aku meninju wajah Tiffany hingga keluar darah dari sisi bibirnya. Aku terus memukulinya tanpa henti dan tidak menghiraukan beberapa orang yang menyuruhku berhenti.


Beberapa kali Tiffany terjatuh ke tanah namun aku terus menariknya bangun dan memberikan tinjuku ke tubuhnya. Tiffany melawan dan dia memberiku dua tinjunya di wajah dan perutku. Namun aku menarik lengannya dan membanting tubuhnya setelah itu beberapa orang menahan tubuhku agar aku berhenti memukuli Tiffany.


“Ka—kau membuat gigiku...” Tiffany bangun dan mengeluarkan gigi yang patah karena terkena tinjuku dari mulutnya.


“Akan aku rontokan semua gigimu kalau kau berani menyentuh sahabatku lagi!” Teriakku dengan sangat marah bercampur kesal dengan mencoba lepas dari beberapa orang yang memegangiku.

__ADS_1


“Ada apa ini?” Geram Bu Bianca yang datang bersama Ibu dan Wendy, serta beberapa pengajar lainnya.


“Kau ikut denganku sekarang!” Seru Ibu menatapku.


Ibu membawaku ke ruangannya. Aku tahu kali ini aku akan mendapatkan hukuman namun setelah apa yang tidak aku miliki sekarang, aku tidak takut di hukum. Tidak masalah bagiku jika aku akan di hukum di ruangan gelap lagi.


Emosiku masih menutupi jalan pikiranku untuk saat ini. Aku benar-benar tersulut setelah melihat Cleve yang tidak membalas saat Tiffany memukulinya.


“Aku tahu kalau kau sangat emosi sekarang tetapi apa kau ingin mempermainkan emosiku juga?” Teriak Ibu dengan tatapan kesal padaku.


Saat ini tidak ada siapapun di dalam ruangannya ini, hanya kami berdua. Aku hanya berdiri dihadapannya.


“Aku tidak mengerti dengan jalan pikiranmu, sudah berkali-kali kau membuat masalah dan berkali-kali pula kau mendapatkan hukuman. Lalu apa sekarang? Apa kau ingin mati?” Nada suara Ibu semakin meninggi. “Berikan aku alasan untuk tidak menghukum mati dirimu.”


“Aku tidak peduli jika kau memberikan hukuman mati padaku,” jawabku dengan tatapan ke bawah lantai. “Bahkan jika aku mati sekarang, aku akan sangat bahagia.” Aku mengangkat wajahku dan menatap dingin Ibu yang hanya berdiri di jarak dua meter di hadapanku.


Tiba-tiba Ibu tersenyum. “Kau pantas mati... namun... tidak sekarang,” ujar Ibu. “Aku tidak akan menghukummu atas perbuatanmu barusan, jadi pergilah. Aku juga tidak akan melarangmu untuk tidak melakukan perbuatanmu tadi lagi.”


Perkataan Ibu membuatku kembali memutar otak untuk mencari arti dari perkataannya. Kenapa dia tidak melarangku untuk tidak melakukan hal tadi? Apa itu artinya dia membiarkan diriku membela Cleve walaupun harus berkelahi seperti tadi?


“Kau baik-baik saja Cleve?” Tanyaku pada Cleve yang sedang diobati oleh Aquielle namun Cleve tetap bungkam.


Di tempat lain Tiffany yang juga sedang diobati melihat kehadiranku dengan sinis.


“Kau jangan mengkhawatirkan aku, Ibu tidak menghukumku.”


“Jadi kau tidak di hukum?” Tanya Aquielle yang sedang mengoleskan obat di kening Cleve yang membiru.

__ADS_1


“Aku juga tidak mengerti kenapa begitu, bahkan dia juga tidak melarangku agar tidak melakukan kesalahan tadi lagi,” ujarku sambil duduk di sisi ranjang di dekat kursi yang Cleve duduki. “Aku tidak tahu itu baik atau buruk, entah kenapa aku jadi tidak mengerti arti dua kata itu.” Aku berbaring di ranjang. “Aquielle, bolehkah aku tidur sebentar di sini? Kepalaku benar-benar sakit sekarang.”


...@cacing_al.aska...


__ADS_2