DEAPECTRUM

DEAPECTRUM
023. PERKATAAN SI BISU


__ADS_3

Ketika jam pelajaran usai sekitar pukul tiga sore aku berjalan menuju ruangan Ibu dengan langkah yang lambat. Aku benar-benar tidak ingin ke tempat itu di tambah aku tidak tahu apa yang akan dia lakukan padaku.


Apa pedang adalah senjata terlarang di perguruang ini karena itu dia akan memberikan hukuman padaku yang sudah berani bermain pedang? Tetapi jika begitu seharusnya Wendy tidak meletakan pedang itu di meja bersama senjata lainnya dan juga Gumi tidak akan menyuruhku untuk menguasai ilmu pedang.


“Maaf, aku datang.” ucapku sambil mengetuk pintu ruangan Ibu.


“Masuklah.” seru Ibu.


Aku segera membuka pintu dan berjalan ke dalam ruangan. Ibu sedang duduk di meja kerjanya. Dia terus menatapku seperti akan menerkamku. Aku sungguh-sungguh tidak nyaman dengan tatapannya.


“Kau tahu kan kalau pelajaran di kelas hanya mengajarkan teknik-teknik dasar dan standar untuk semua bidang?” Tanya Ibu padaku yang masih berdiri dan tidak di persilahkan duduk ke kursi. “Karena itu setiap murid harus berlatih di luar jam pelajaran untuk bidang senjata yang dia pilih. Dan karena pedang adalah bidang senjata yang kau pilih kau harus datang ke sini setiap hari.”


“Ma—maksudnya, aku akan berlatih pedang dengan Ibu?” tanyaku menatapnya karena merasa terkejut dengan perkataannya.


“Gumi bilang padamu kalau di perguruan ini tidak ada yang benar-benar menguasai pedang kan? Karena itu aku sendiri yang akan mengajarimu,” ujar Ibu. “Dan sekarang ayo keluar, ikuti aku.”


Ibu membawaku ke sebuah tempat di luar perguruan dengan dua pedang. Aku tidak tahu pasti apa yang akan dia lakukan namun aku menebak kalau dia akan mulai mengajariku ilmu pedang.


Aku tidak tahu apakah dia bersungguh-sungguh mengajariku ilmu pedang karena aku tidak yakin kalau dia bisa atau menguasai ilmu pedang, Gumi tidak pernah bilang padaku kalau Ibu menguasai ilmu pedang.


“Ambil pedang itu!” Seru Ibu setelah melempar satu pedang padaku. Aku segera mengambilnya. “Beraksi dengan pedang jika tidak ada lawan tidak seru kan? Karena itu aku akan menjadi lawanmu, aku juga ingin tahu seberapa kau menguasainya. Kita akan berduel. Sekarang serang aku.”


Setelah mengeluarkan pedang dari sarungnya aku menyerang Ibu dengan kemampuanku bermain pedang namun sepertinya aku salah. Ibu dapat menghalau seranganku bahkan membuatku terpojok dengan menjulurkan pedangnya ke arahku. Dia dapat dengan mudah membuatku terjatuh ke tanah. Dia seribu kali lebih hebat dari pada Gumi.


“Ternyata hanya seperti itu kemampuanmu,” ucapnya dengan senyum sarkartis. “Aku kecewa padamu.” Ibu memasukan kembali pedangnya kedalam sarung. “Besok setelah pelajaran usai sampai jam makan malam kau akan berlatih di tempat ini bersamaku.” Sesudah berkata demikian Ibu meninggalkan aku berjalan kembali ke perguruan.


Aku mengambil sarung pedang yang tergeletak di tanah dan memasukan pedang ke dalamnya. Aku merasa tidak semangat karena akan mulai berlatih bersama Ibu besok. Aku juga tidak menyangka kalau Ibu memiliki kemampuan dalam bermain pedang.


Kenapa Gumi tidak memberitahuku, apa dia juga tidak tahu hal itu?

__ADS_1


“Apa kau akan membunuh seperti yang lainnya?”


Tiba-tiba terdengar suara. Aku mencari sumber suara dan melihat Ian berdiri di jarak sepuluh meter di belakangku. Aku terkejut mendengarnya berbicara. Dia tidak bisu.


“Ian...” Aku berjalan menuju ke arahnya. Dia menatapku dengan pedang yang aku bawa. “Jadi kau bisa bicara?” Ya ampun, aku merasa bodoh mendengarkan perkataan Gumi yang bilang kalau Ian bisu.


“Aku bisa bicara tapi aku di larang berbicara dengan kalian,” jawab Ian. Ian melihat ke arah dapur yang berada di jarak lima puluh meter jauh di sana. “Ikut denganku.”


Kami berdua berjalan menuju ke arah sungai yang jauh dari perguruan maupun dapur. Tampaknya Ian tidak ingin kalau orang-orang di dapur melihat dirinya bersama denganku.


Aku dan Ian duduk di pinggir sungai. Angin sore bertiup membuat aku merasa sejuk dan menghapus ingatanku sejenak tentang latihan bersama Ibu.


“Kami para budak di larang berbicara pada kalian,” ucap Ian memulai pembicaraan. “Kau akan menjadi seorang pembunuh juga kan?” Ian menatapku dengan tajam. Aku bingung harus menjawabnya bagaimana. “Benar begitu kan?”


“Ian, aku ingin tetap hidup karena itu aku berada di tempat ini. Aku ingin lulus dan pergi dari Deapectrum, aku ingin kehidupan yang lebih baik nantinya.” jawabku.


“Apa maksudmu?” Tanyaku tidak mengerti perkataannya.


“Apa kau tidak menghitung berapa banyak jumlah wanita yang lulus di perguruan itu? Bukannya semua yang lulus masih ada di bangunan itu?”


Aku terdiam dan mencoba memikirkan perkataan Ian. Semua wanita yang lulus memang masih tinggal di perguruan. Beberapa jadi pengajar, petugas klinik dan yang bertugas menjalankan tugas untuk membunuh seperti Gumi dan Nem.


Jika di hitung semua termasuk Ibu dan Bu Bianca memang tidak lebih dari tiga puluh orang. Sedangkan perguruan ini ada sejak lima puluh tahun yang lalu. Lalu kemana lulusan yang lainnya? Padahal Gumi bilang jika lulus sekalipun tidak akan bisa lepas dari perguruan.


“Ian, apa kau tahu setiap tahun ada berapa murid yang lulus?” Tanyaku.


“Apa menurutmu mereka akan memberitahumu jika kau bertanya hal itu?” Ian balik bertanya. “Terlalu banyak rahasia di tempat itu. Sebelum kau lulus kau tidak akan tahu semua rahasia itu.”


“Benarkah?” Ucapku dengan otak yang masih berputar-putar memikirkan perkataan Ian. “Kalau begitu aku akan berjuang untuk lulus.”

__ADS_1


“Ya setelah lulus kau akan menjadi pembunuh seperti mereka. Kau tidak akan bisa keluar atau terlepas dari genggaman mereka sebelum kau mati,” timpal Ian dengan nada yang terdengar tidak menyenangkan. “Sebenarnya kau tidak beda denganku, akupun akan terus membusuk di tempat ini.”


“Bodoh! Jangan berkata seperti itu!”


“Memang benar kan? Aku akan terus menjadi budak. Kau tahu ada berapa budak di sini? Bahkan jumlahnya lebih banyak dari pada lulusan perguruan itu. Karena setiap anak yang lahir sudah terlahir sebagai budak, seperti aku. Dan kau akan menjadi seorang pembunuh. Pembunuh tetap saja pembunuh.”


“Aku tidak akan menemuimu lagi, Ian,” ucapku sambil beranjak berdiri, setelah itu berlari menuju pintu gerbang perguruan Gyeld Enn Chourius.


Aku tidak akan menemui Ian setelah mendengar perkataannya yang menyakitkan hatiku.


Sebenarnya aku tidak ingin menjadi seorang pembunuh karena membunuh adalah perbuatan yang dilarang. Isbell selalu mengingatkan aku dan Jatnera untuk tidak melakukan hal-hal yang di larang oleh Tuhan dan membunuh adalah salah satu perbuatan yang dilarang oleh Tuhan.


Sejujurnya aku tidak mengerti kenapa Isbell selalu menceritakan sosok Tuhan yang tidak pernah aku temui kepada kami berdua. Bahkan aku tidak yakin kalau sosok mengesankan itu ada. Namun membunuh seseorang adalah hal yang memang terdengar sangat tidak manusiawi akan tetapi jika hal itu yang dapat membuatku tetap bertahan hidup aku akan menerimanya. Aku rela menjadi seorang pembunuh kelak agar aku dapat hidup lebih lama.


“Dari mana saja kau?” Tanya Cleve yang sedang berbaring di ranjangku ketika aku datang. “Oh iya, apa benar kalau Ibu yang akan melatihmu bermain pedang?” Cleve bangkit duduk menatapku yang duduk di sisi ranjang. “Kau tahu apa julukan Ibu?”


“Apa maksudmu?” Aku menatap Cleve.


“Wendy bilang kalau dulu ibu adalah seorang pendekar pedang, ya itulah julukannya,” ujar Cleve. “Dia sangat mahir bahkan satu-satunya di perguruan ini yang sangat mengerti dan menguasai ilmu pedang. Jika kau di latih dengannya pasti kau bisa jadi penerusnya.”


“Oh seperti itu,” ucapku dengan tidak semangat. Aku merebahkan tubuhku ke sisi ranjang.


Aku merasa tidak terlalu semangat setelah mendengar perkataan Ian.


“Ada apa? Kenapa kelihatannya kau tidak bersemangat?”


“Aku lelah, biarkan aku beristirahat sebentar sebelum jam makan malam.” Aku menutup mataku mencoba mencari ketenangan dari pikiran yang membebaniku.


...@cacing_al.aska...

__ADS_1


__ADS_2