DEAPECTRUM

DEAPECTRUM
022. UNJUK KEMAMPUAN


__ADS_3

Wendy membawa kami ke lapangan terbuka yang di sana sudah terdapat berbagai macam senjata seperti senjata api, belati, panah, rantai, tongkat dan pedang.


Melihat senjata-senjata itu membuatku bernapas lega karena tahu kali ini kami akan berlatih menggunakan senjata.


Kami duduk di atas tanah mengelilingi Wendy bersama senjata-senjata tersebut.


“Untuk kali ini aku ingin kalian memperlihatkan kemampuan kalian yang sudah kalian latih bersama mentor kalian sebelum kalian masuk ke perguruan Gyeld Enn Chourius ini,” seru Wendy yang berada di tengah-tengah di antara semua murid yang duduk mengelilinginya. “Siapa yang akan mencobanya duluan?”


Mendengar pertanyaan Wendy, Cleve dan Tiffany mengangkat tangan bersamaan.


“Tiffany, kau coba lebih dulu setelah itu Cleve," ujar Wendy.


Tiffany bangkit berdiri dan berjalan ke arah Wendy, sempat dia tunjukan senyum mengejeknya pada Cleve dan itu membuat Cleve merasa jijik.


Tiffany mengambil sebuah senjata api laras panjang.


“Untuk sekarang gunakan pistol saja, aku tidak ingin mengambil resiko kau menembak teman-temanmu karena senjata ini sangat berat,” ujar Wendy mengambil senjata laras panjang dari Tiffany dan memberikan pistol padanya. “Kau bidik sasaran yang ada di jarak tiga puluh meter itu lalu tembak, aku tidak akan menyuruhmu untuk menembak tepat sasaran, tembak saja sebisamu.”


Tiffany membidik sasaran yang terletak di jarak tiga puluh meter dari tempat kami. Dia terlihat begitu percaya diri sekali. Dan ternyata dia benar dapat menembak tepat sasaran di bagian tengah sasaran tersebut. Dia tersenyum bangga dan kami memberikan tepukan tangan padanya. Aku akui dia benar-benar memiliki kemampuan menembak yang baik.


Setelah itu Cleve bangkit berdiri dan berjalan ke tempat Wendy lalu mengambil pistol yang tadi di gunakan Tiffany. Cleve sempat menatapku dengan pandangan tegang. Mentor Cleve adalah Nem yang memiliki kemampuan menembak terbaik di perguruan ini, karena itu aku yakin Cleve akan menembak tepat sasaran.


Sebelum menembak, Cleve menutup matanya untuk beberapa detik dan setelah itu membuang napas panjang. Dia membidik ke sasaran yang sama dengan Tiffany di jarak tiga puluh meter. Namun Cleve cukup lama membidik dan tidak segera menembak.


Dia terlihat begitu berkonsentrasi dan mencoba fokus pada sesuatu. Tidak berapa lama kemudian dia merubah arah bidikannya ke atas dan dengan cepat dia menarik pelatuk pistol tersebut.

__ADS_1


Kami semua terkejut dan mencoba mencari tahu ke mana tembakan Cleve. Seketika seekor burung yang sedang terbang terjatuh ke tanah.


Wendy segera berlari menuju tempat burung yang sudah tergeletak di tanah dan setelah itu menunjukan pada kami kalau burung itu mati tertembak oleh Cleve. Tepuk tangan terdengar begitu keras.


Cleve melihat ke arahku dan aku tersenyum padanya. Aku merasa begitu terbelalak akan kemampuan Cleve. Nem pasti melatihnya sangat keras.


“Aku tidak heran kau dapat menembak burung yang terbang, Nem adalah mentormu bukan?” Seru Wendy.


“Ya. Tapi dia selalu berkata padaku agar tidak menghabiskan peluru untuk benda mati. Karena itu aku menembak burung,” ujar Cleve. “Tapi aku tidak salah kan karena tidak menembak sasaran itu?” Tanya Cleve dengan wajah yang sedikit ketakutan.


“Tentu tidak. Itu adalah kemampuan yang hebat,” jawab Wendy. “Ayo kita beri tepuk tangan sekali lagi pada Cleve.”


Cleve kembali ke tempat duduknya semula di sampingku. Aku melihat Tiffany menatap Cleve dengan penuh kebencian namun Cleve tidak menghiraukannya.


“Kau benar-benar hebat Cleve,” seruku. “Kau tidak bilang padaku kalau kau bisa menembak burung yang terbang.”


“Kalau begitu aku ingin tahu apa kemampuan dari sahabatmu Cleve,” seru Wendy melihat ke arahku. “Bee, silahkan maju dan tunjukan apa yang sudah kau pelajari dari mentormu,” ucap Wendy dengan senyum di wajah ovalnya.


Aku terkejut dan merasa malu karena aku tidak mampu mengimbangi kemampuan menembak Tiffany bahkan Cleve. Apa yang harus aku lakukan? Kemampuan pedangku juga biasa saja karena Gumi tidak menguasai ilmu pedang dengan bagus.


“Jangan khawatir Bee, tunjukan saja caramu bermain pedang karena aku yakin tidak ada anak yang bisa melakukannya,” bisik Cleve padaku. “Cepat maju sana.” Cleve mendorongku untuk bangkit berdiri.


Aku berjalan menuju Wendy dan sempat terdiam memperhatikan meja dimana semua senjata di letakan. Aku sama sekali tidak bisa menembak karena Gumi tidak memiliki senjata api untuk mengajariku. Aku memang pernah menembak orang tapi semua itu hanyalah kebetulan kenapa tembakanku tepat sasaran.


Setelah sejenak berpikir aku mengambil sebuah pedang yang masih di dalam sarungnya. Semua anak dan Wendy memperhatikanku karena itu aku merasa tambah gugup. Mereka menungguku dengan tak ada suara.

__ADS_1


Aku mencoba menghilangkan rasa gugupku dengan membuang napas lalu setelah itu menarik pedang dari sarungnya. Beberapa anak terlihat berbisik, aku tidak ingin memikirkan apa yang di bisikan mereka.


Dengan sedikit keyakinan kalau aku akan membuat mereka terpukau dengan permainan pedangku, aku maju beberapa langkah mengambil posisi untuk memulai memainkan pedang. Tanpa pikir panjang aku langsung menggerakan pedangku dengan kelincahan yang diajarkan Gumi padaku.


Melempar pedang ke atas lalu mengambilnya kembali seperti saat latihan. Setelah merasa cukup bergerak bersama pedang, aku mengakhiri aksiku. Mereka hanya melihatku tanpa berkata apapun dan hal itu membuatku sedikit bingung.


Apakah aksiku bersama pedang tidak bagus di mata mereka?


Tiba-tiba terdengar sebuah tepukan tangan dan langkah kaki yang mendekat dari arah belakangku. Aku menoleh untuk mengetahui asal suara dan melihat Ibu berjalan ke arahku. Aku tidak tahu sejak kapan dia ada di sini.


“Kenapa kau memilih pedang?” Tanya Ibu dan membuatku semakin gugup.


Aku tidak pernah merasa nyaman ketika melihatnya. Sifatnya yang dingin membuatku tidak begitu suka berada di dekatnya.


“Kau dengar aku kan?”


“Se—sebenarnya... Gumi bilang aku harus mencari senjata apa yang benar-benar aku kuasai, dan karena di perguruan ini tidak ada yang benar-benar menguasai pedang dia menyuruhku untuk memilih senjata itu,” jawabku tidak menatap matanya karena aku pasti mati jika menatap matanya, itu yang ku rasakan. “Aku juga merasa kalau pedang adalah senjata yang cocok untukku.”


“Kalau begitu setelah pelajaran usai kau harus ke ruanganku!” Seru Ibu setelah itu berjalan pergi.


Aku tidak mengerti maksud Ibu yang menyuruhku untuk menemuinya setelah jam pelajaran usai.


Apa dia akan menghukumku lagi? Tapi aku tidak merasa membuat sebuah kesalahan, kalau begitu ada apa?


Sejujurnya aku sangat takut jika harus berurusan apapun dengannya. Dia juga bukan orang yang ramah seperti diriku, karena itu hanya ada ketegangan jika hanya ada kami berdua saja.

__ADS_1


...@cacing_al.aska...


__ADS_2