
Cleve di panggil ke ruangan Ibu ketika jam makan siang. Aku tidak tahu apa yang akan di katakan Ibu pada Cleve. Aku bersama Marchi makan siang di aula seperti biasanya. Marchi terlihat pucat karena saat ini dia merasa kurang sehat seperti biasanya. Marchi memiliki kondisi tubuh yang kurang bagus. Tiap hari dia merasa kalau kepala atau perutnya sakit, hal itu yang membuatnya jarang mengikuti pelajaran dan harus beristirahat di klinik.
“Bagaimana kondisimu, Marchi? Wajahmu tampak pucat sebaiknya setelah jam makan siang kau beristirahat saja dan tidak perlu mengikuti latihan menembak.” seruku memandang Marchi yang duduk di hadapanku.
“Aku tidak apa-apa. Aku sudah terlalu banyak ijin.” Ucap Marchi.
“Lihat wajahmu, kau tampak seperti mayat.” ujar Tiffany yang tiba-tiba menghampiri meja kami. Kata-katanya di tujukan untuk Marchi. “Hai lebah dimana sahabatmu? Tidak biasanya kalian tidak bersama.” Tiffany berbicara padaku. Rasanya saat ini aku ingin sekali mengambil pedangku dan menebas kepalanya agar mulutnya tidak bisa berbicara lagi.
“Apa-apaan ini, kau mencariku bukan karena merindukan aku kan?” tiba-tiba Cleve berdiri di belakang Tiffany. “Cepat pergi atau rahasiamu bersama Mornage ku bongkar.” bisik Cleve. Aku mencari sosok Mornage yang sedang memperhatikan kami di mejanya yang berjarak lima meja dari tempat kami. Tanpa kata Tiffany meninggalkan kami dan menuju meja dimana teman-temannya berada dengan tatapan yang kesal pada Cleve. “Setiap melihat wajahnya ingin sekali aku mengeluarkan isi kepalanya.” ucap Cleve sambil duduk di sebelah kiri Marchi.
“Cleve, apa yang di katakan Ibu padamu?” tanyaku.
“Aku mendapatkan rekomendasi untuk mengikuti ujian akhir.” jawab Cleve. “Tapi aku tidak yakin apa akan menerimanya.”
“Ada apa? Itu hal yang bagus, kau harus menerimanya dengan begitu kau akan lebih cepat lulus.”
“Ya itu benar. Kau harus menerimanya, Cleve.” ujar Marchi menambahkan kata-kataku.
“Tidak ada yang tahu ujian akhir itu seperti apa, dan lagi aku ingin lulus bersama kalian.” jawab Cleve.
Tiba-tiba aku merasakan sakit di tenggorokan. Aku mengambil sapu tangan di atas meja karena merasa akan batuk. Darah berlumuran di sapu tangan ketika aku batuk, hal ini sudah sering terjadi padaku.
“Kau baik-baik saja, Bee?” tanya Cleve cemas, aku mengangguk menjawabnya.
__ADS_1
Selesai jam pelajaran aku berniat ke klinik untuk mencari tahu kenapa dengan diriku. Sudah beberapa kali aku merasakan panas di kerongkongan dan batuk dengan mengeluarkan darah. Aku tidak pernah membicarakan hal ini pada Cleve karena aku tidak ingin membuatnya khawatir padaku.
“Ada beberapa murid juga mengalami hal ini.” ucap salah seorang tim medis bernama Aquielle yang selalu aku temui ketika merasakan sakit.
Aquielle adalah salah satu tim medis yang baru lulus tiga tahun yang lalu. Usianya baru dua puluh lima tahun dan aku sudah menganggapnya seperti temanku.
“Tenang saja Bee, kau baik-baik saja jika kau terus banyak minum air putih.”
“Apa ini ada hubungannya dengan racun yang biasa kami minum tiap bulan?” tanyaku dan Aquielle mengangguk menjawabnya. “Apa tidak apa-apa?”
“Sudah aku bilang minum saja banyak air putih. Racun itu sedikit mengendap di kerongkonganmu karena itu dengan air putih kau bisa mengeluarkannya. Selama kau meminum racun itu di latihan, kau akan mengalami batuk berdarah. Racun itu akan benar-benar hilang jika kau tidak meminumnya lagi. Kau mengertikan?” Aquielle yang duduk di hadapanku menatapku dengan tatapan mengharapkan jawaban tetapi aku diam saja. “Satu lagi, jangan terlalu banyak bicara dan usahakan agar tidak berteriak. Jika kau tidak meminum racun itu lagi, kau akan sembuh sekitar tiga sampai lima tahun dengan meminum air putih.” tambah Aquielle masih menatapku yang hanya menundukan kepala. “Kau harus lulus agar tidak meminum racun itu lagi. Selama kau masih menjadi murid disini kau tidak akan sembuh.”
“Boleh aku bertanya?” Aku mengangkat kepalaku dan menatap Aquielle. “Ujian akhir itu seperti apa? Tiga tahun yang lalu saat kau lulus, berapa murid yang lulus bersamamu? Kenapa sepertinya hanya kau saja yang ada disini, mana yang lainnya?”
“Maaf Bee, kau tahu kan kalau kami dilarang memberitahu apapun mengenai ujian akhir.” ujar Aquielle.
“Aku tahu kau tidak akan menjawabnya. Aku ingin tahu karena Cleve di rekomendasikan mengikuti ujian akhir tahun ini.” ujarku.
“Cleve, sahabatmu?” tanya Aquielle memastikan. “Itu bagus Bee, bilang pada sahabatmu untuk menerima rekomendasi itu. Dulu aku menyesal karena tidak menerima rekomendasi itu.” seru Aquielle meyakinkan aku. “Akan lebih mudah lulus jika tidak tahu siapa saingannya.”
Apa maksud dari kata-kata Aquielle? Kenapa tampaknya dia begitu ingin agar Cleve menerima rekomendasi itu? Apa maksud dari kata-kata, akan lebih mudah lulus jika tidak tahu siapa saingannya?
Sebenarnya ujian akhir itu seperti apa dan kenapa begitu di rahasiakan? Sepertinya ujian akhir itu begitu penting hingga di larang untuk memberitahu kami para murid. Aku jadi sangat penasaran dan ingin tahu bagaimana ujian akhir itu.
__ADS_1
“Apa yang kau pikirkan gadis bodoh?” suara Gumi mengejutkan aku yang sedang berjalan menuju ruangan Ibu. “Ayo katakan padaku.”
“Gumi, Cleve mendapatkan rekomendasi dari Ibu untuk mengikuti ujian akhir tahun ini.” ujarku berhenti berjalan.
“Benarkah? Itu kabar bagus. Cleve pasti menerimanya kan?”
“Dia masih tidak tahu.” jawabku.
“Bodoh. Dia harus menerimanya agar kalian tidak perlu...” tiba-tiba Gumi menghentikan bicaranya. “Bilang pada Cleve dia harus menerima rekomendasi itu.”
“Kenapa harus?”
Gumi tampak berpikir sejenak, tampaknya dia tidak ingin salah bicara hingga membocorkan tentang rahasia ujian akhir padaku.
“Dia harus menerimanya jika ingin sepertiku, sebagai lulusan termuda di perguruan ini.” senyum bangga Gumi muncul di wajahnya.
“Baiklah aku akan bilang padanya untuk menerima rekomendasi itu.” ucapku sambil melanjutkan perjalanan. “Kau mau ke ruangan Ibu juga? Apa kau akan melakukan tugas lagi, Gumi?” aku menoleh ke arah Gumi yang berjalan di sampingku.
“Tugas kali ini aku akan meninggalkan Deapectrum.” ujar Gumi senang. “Tapi tampaknya ini bukan tugas yang mudah karena aku akan pergi dengan empat orang lainnya, salah satunya adalah Nem.” Gumi melanjutkan perkataannya. “Bee, aku akan memberimu hadiah nanti. Apa yang kau ingin kan? Pedang? Baik aku akan membelinya saat di negeri itu.”
Aku dan Gumi sampai di depan pintu ruangan Ibu. Ketika Gumi hendak mengetuk pintu, pintu lebih dulu terbuka dan keluar seorang pria tua berumur sekitar enam puluh tahun dengan rambut hampir botak dan semuanya berwarna putih.
Nem juga keluar dari ruangan Ibu namun Ibu dan Bu Bianca juga muncul dari dalam pintu karena sepertinya mereka mengantar kepergian pria tua itu. Siapa pria ini? Selama aku berada di tempat ini, baru sekali ini mendapatkan kunjungan dari luar, dan tampaknya pria tua ini adalah bukan orang yang di buang ke Deapectrum karena pakaiannya sangat rapi dan terkesan mewah karena mengenakan setelan jas.
__ADS_1
Siapa dia?
...@cacing_al.aska...