DEAPECTRUM

DEAPECTRUM
038. PERUBAHAN CLEVE


__ADS_3

Semua kenangan di dalam hidupku tiba-tiba bermunculan. Ketika aku berlari mencari Isbell dan melihat anak laki-laki itu di dalam mobil, ketika menemukan Isbell yang sekarat, ketika aku menggali tanah untuk menemukan peti yang di kubur Isbell, ketika aku kembali dan menemukan Isbell sudah meninggal, ketika aku dan Jatnera menguburnya, ketika aku dan Jatnera mencoba bertahan hidup, ketika aku ke lubang harta mengambil obat untuk Jatnera dan bertemu seorang pria yang akan mati karena di tembak kawanan penjahat, lalu pria itu memberiku sebungkus roti, ketika aku dikejar oleh budak dan anak laki-laki itu menolongku.


Ketika kata-kata anak laki-laki itu membuatku percaya akan pertemuan kami selanjutnya, dan hingga semua terjadi sampai saat ini. Ketika kami melarikan diri, ketika kami bertiga tertawa bahagia, ketika aku dan Cleve kembali tertangkap dan ketika kematian Marchi mengakhiri segalanya. Semua pasti akan berakhir sampai di sini.


Saat ini aku berada di dalam sebuah lorong yang tidak asing bagiku, karpet berwarna merah dan pintu-pintu yang terbuat dari kayu bercat emas sudah cukup ku kenal.


Aku mendengar langkah kaki dan suara beberapa orang berteriak memanggil namaku, membuatku menjadi takut. Tiba-tiba salah satu pintu terbuka dan muncul seorang anak laki-laki yang tersenyum padaku. Itu adalah anak laki-laki yang sudah lama ingin aku temui. Namun sebuah cahaya yang menyilaukan datang mendekat dan membuat mataku silau.


Aku membuka mata dan melihat ke langit-langit ruangan tempatku berada sekarang. Aku mencoba mengingat apa yang terjadi padaku namun kepalaku terasa begitu sakit. Aku mencoba bangun namun tenagaku tidak ada.


Tangan kiriku terpasang selang infus yang membuat aku tidak dapat menggerakannya secara leluasa. Aku menoleh ke sebelah kiri dan melihat Cleve berbaring dengan tatapan kosong di sebuah ranjang seperti ranjang tempatku berada sekarang.


Aku baru sadar kalau kami berdua berada di klinik dan tadi aku baru saja bermimpi. Hal yang aku ingat terakhir kali adalah ketika aku merasa tidak kuat lagi menahan lapar dan haus di ruang gelap lalu jatuh pingsan.


“Cleve, kau baik-baik saja?” Tanyaku pada Cleve yang berbaring di ranjang yang berjarak tiga meter dari ranjangku. Cleve tidak menjawab dan hanya terus menatap langit-langit. “Cleve, apa yang terjadi? Kau baik-baik saja, kan?”


“Kau sudah sadar, Bee?” Tiba-tiba Gumi datang dan menghampiriku.


Mata kanan Gumi dibalut dengan perban.


“Gu—Gumi... apa yang terjadi dengan matamu?” Tanyaku melihat keadaan Gumi.


“Aku kehilangan mata kananku karena tugas terakhir,” jawab Gumi. “Dari lima orang yang bertugas kami kehilangan tiga orang dan Nem salah satunya.”


“Ma—maksudmu Nem...” Aku mencoba bangun dari posisi berbaringku.


“Dia mati,” sambung Gumi menatapku hanya dengan mata kirinya.

__ADS_1


Mendengarnya aku langsung menoleh pada Cleve yang belum juga bergeming dari tatapannya ke langit-langit.


“Sejak sadar dua hari yang lalu dia terus seperti itu bahkan ketika aku memberitahunya tentang kematian Nem,” ujar Gumi memberitahukan kondisi Cleve saat ini.


“Cleve pasti terguncang. Dia kehilangan semua orang-orang yang berharga bagi dirinya,” ucapku masih menatap Cleve.


Tiba-tiba Gumi memukul kepalaku. “Kenapa kalian kabur? Kenapa kalian kabur kalau akhirnya kalian tertangkap?” Teriak Gumi dengan kesal. “Kalian benar-benar bodoh, seharusnya kalian jangan sampai tertangkap kalau sudah kabur.”


“Berapa lama kami dikurung?” Aku menoleh menatap Gumi.


“Sepuluh hari dan kau tidak sadar selama empat hari. Kalian masih beruntung.”


Tiga hari kemudian aku dan Cleve diperbolehkan keluar dari klinik. Cleve belum juga membuka mulutnya dan tatapannya selalu kosong.


Aquielle bilang kalau Cleve terguncang dan membuatnya menjadi enggan bicara. Aku teringat Ian, dulu dia juga seperti itu setelah menembak ibunya sendiri dan akhirnya Ian kembali berbicara saat bertemu denganku. Mungkin suatu saat Cleve juga akan kembali berbicara.


Cleve berjalan lebih dulu ke arah tempat duduk kami yang bersebelahan, tempat duduk kami berada di paling belakang.


Tiba-tiba Tiffany menjegal kaki Cleve hingga Cleve tersungkur di lantai. Aku membantu Cleve bangkit namun Cleve tidak berkata apa-apa pada Tiffany dan langsung duduk di tempatnya.


Hal itu membuatku sangat kesal. Jika Cleve yang dulu pasti dia akan langsung membuat urusan pada si pirang itu.


“Apa yang kau lakukan?” Tanyaku dengan tatapan marah pada Tiffany.


“Aku tidak melakukan apa-apa,” jawab Tiffany dengan senyum mengejeknya. “Aku tidak melakukan hal bodoh hingga membunuh temanku sendiri. Marchi mati karena kalian berdua kan? Kalian berdua dasar pembunuh!”


“Apa yang terjadi?” Seru Wendy yang baru datang. “Bee, duduk di tempatmu!”

__ADS_1


Tiffany tersenyum seperti senyuman setelah memenangkan peperangan ketika aku berjalan menuju tempat dudukku. Aku benar-benar ingin menggoreskan pedangku ke lehernya suatu saat nanti. Aku tidak bisa menerima apa yang dilakukannya pada Cleve tadi.


Aku menoleh ke arah Cleve yang duduk di sebelah kiriku. Dia hanya memandang ke depan dengan tatapan kosong. Aku menjadi merasa sedih melihat kondisinya saat ini. Cleve adalah gadis yang selalu ceria sebelumnya. Kapan dirinya kembali seperti dulu lagi?


Setelah kelas usai aku pergi ke klinik untuk bertanya sesuatu pada Aquielle mengenai kondisi Cleve yang membuatku merasa kalau kondisinya tidak baik.


Selain itu sebenarnya aku juga ingin mengobrol dengannya karena selain Cleve aku tidak punya teman untuk mengobrol di perguruan ini. Gumi sudah pergi meninggalkan perguruan dan satu-satunya yang bisa aku ajak mengobrol adalah Aquielle.


“Apa yang ingin kau tanyakan? Apa mengenai batuk darahmu?” Tanya Aquielle duduk di kursi mejanya.


“Tidak, aku ingin tahu apa ada cara agar Cleve kembali seperti dulu?”


“Sebenarnya aku juga tidak mengerti mengenai hal ini, namun dari buku yang aku baca, kau harus mengajaknya berbicara terus agar dia berbicara lagi,” jawab Aquielle.


“Aku bingung jika melihatnya hanya melamun terus dan tidak menjawab pertanyaanku,” ucapku. “Bahkan dia membiarkan Tiffany mengganggunya.”


“Dirinya pasti sangat terguncang hingga dia seperti itu,” ujar Aquielle memakai kacamatanya. “Sebenarnya apa yang terjadi ketika mereka menangkap kalian? Kenapa Cleve bisa sampai seperti itu?”


“Mereka membunuh kekasihnya di depan matanya,” jawabku. “Cleve bertemu seorang pria disana. Tapi mereka menembak kepala pria itu tepat di depan mata Cleve. Hal itu pasti yang membuat dirinya seperti sekarang ini. Bahkan setelah itu mereka juga menembak teman kami Marchi di hadapan kami sebagai hukuman hati, dan di tambah kematian mentornya, Nem.”


“Aku dapat mengerti kenapa Cleve jadi seperti itu.” ucap Aquielle. “Tapi Bee, aku ingin kau tahu sesuatu agar kau tidak menyalahkan dirimu atas kematian temanmu Marchi.”


Perkataan Aquielle membuatku sedikit tegang karena sesuatu yang di katakannya mengenai teman yang mati karena diriku.


“Sebenarnya Marchi terkena penyakit. Dia mengidap kanker otak yang membuatnya tidak akan hidup lama. Kami memperkirakan hidupnya sekitar dua sampai tiga bulan lagi. Jadi jangan salahkan dirimu atas kematiannya.”


Aku sangat terkejut mendengar pernyataan Aquielle barusan.

__ADS_1


...@cacing_al.aska...


__ADS_2