DEAPECTRUM

DEAPECTRUM
032. MERASAKAN KEBERADAANNYA


__ADS_3

Kehadiran Ian membuatku sangat terkejut, apalagi dia datang dengan langsung mengambil kalung yang sangat berharga dari genggamanku. Kalung milik anak laki-laki yang sangat ingin aku temui saat ini.


Ian melihat kalung tersebut dengan mengernyitkan dahinya. Entah apa yang dipikirkannya.


“L? Kenapa liontinnya huruf L? Namamu bukan di awali dari huruf ini, kan?” Tanya Ian menatapku yang melihatnya. “Ini bukan milikmu? Kau mencurinya ya? Ya ampun kau benar-benar seorang pencuri.”


“Apa maksudmu?” Aku menatap Ian dengan wajah heran.


“Iya aku minta maaf, kau bukan seorang pencuri.”


“Bukan itu! Kau bilang liontin ini adalah inisial nama pemiliknya?” Tanyaku dengan tatapan serius.


Ian mengangguk menjawabnya.


“Jadi maksudmu orang yang memiliki kalung ini pasti memiliki nama yang di awali dengan huruf L?” Tanyaku lagi yang akhirnya baru terpikirkan akan sesuatu.


Sekali lagi Ian menjawab pertanyaanku dengan sebuah anggukan dengan pandangan mata yang terheran-heran padaku.


Kalau begitu anak laki-laki itu memiliki nama yang di awali huruf L. Kenapa aku tidak pernah terpikirkan tentang hal itu?


“Ada apa, Bee?” Akhirnya Ian bertanya padaku.


“Dimana Cleve?” Tanyaku yang malah balik bertanya.


“Dia masih ingin berjalan-jalan di luar, tampaknya dia senang berada disini," jawab Ian. “Bee, aku ingin bertanya sesuatu padamu,” ucap Ian sambil menarik pandangannya dari tatapanku. “Aku ingin tahu siapa orang yang ingin kau temui saat kau bilang ingin meninggalkan Pulau Poegriye? Siapa yang kau sebut dengan anak itu?”


Mendengar pertanyaan Ian, aku tidak langsung menjawabnya, melainkan mengambil kembali kalung yang ada di tangan Ian.


“Kau benar, aku memang seorang pencuri,” ucapku mengarahkan pandanganku ke luar jendela. “Aku mencuri kalung ini dari seorang anak laki-laki.”


“Jadi kau ingin mengembalikan kalung itu pada anak laki-laki yang sudah kau curi itu?” Tanya Ian dengan tatapan skeptis padaku. “Kau tidak perlu sebaik itu hingga mengembalikannya, Bee.”


“Tidak, aku harus mengembalikannya!” seruku masih memandang keluar jendela. “Aku mencuri dari anak itu padahal dia sudah menyelamatkan nyawaku. Orang seperti apa yang membalas susu dengan air tuba? Aku tidak ingin dia membenciku karena mencuri darinya.”

__ADS_1


“Kau tidak tahu kan dia ada dimana?” Ian terlihat tidak setuju dengan ucapanku. “Yang benar saja, bahkan kau sendiri tidak yakin apa akan bertemu dengannya lagi atau tidak. Jadi untuk apa mengembalikannya?”


“Kami akan bertemu lagi—”


“Maksudmu kau dan anak itu sudah berjanji untuk bertemu lagi?”


“Bukan begitu,” ucapku menatap Ian yang dari tadi terus memandangku. “Anak itu yakin kalau kami akan bertemu lagi dan bahkan dia berkata kalau dia akan merubah tempat ini menjadi lebih baik.”


“Jadi kau juga berpikir kalau anak itu yang sudah merubah Deapectrum menjadi seperti sekarang ini?” Ian memancarkan sebuah ketidakpercayaan dari matanya. “Ini seperti lelucon, memangnya apa yang bisa dilakukan anak seperti kita ini? Aku benar-benar tidak bisa percaya dengan yang kau katakan, Bee.”


“Anak itu berbeda dari kita, Ian!” Seruku dengan nada sedikit keras. “Semua orang mendengarkan kata-katanya dan bahkan dia dapat memastikan keselamatanku.”


Aku menarik napasku setelah berkata seperti itu lalu kembali memandang keluar jendela.


“Dia bukan anak yang berasal dari Deapectrum seperti kita ini. Anak laki-laki itu datang dari negara bebas. Beritahu aku, untuk apa anak negara bebas datang ke negeri pembuangan ini?”


Aku menoleh pada Ian yang sejak awal menatapku sehingga kami berdua saling tatap untuk beberapa saat karena Ian tidak menjawab pertanyaanku.


“Apa, apa benar begitu?” Tanyaku pada Cleve yang masih berdiri di depan pintu.


“Tampaknya mereka orang-orang penting karena rombongan mobil mereka di kawal prajurit keamanan,” jawab Cleve. “Mereka semua memakai pakaian rapi dan terlihat berbeda dengan kita. Sekitar ada sepuluh hingga lima belas mobil. Mereka benar-benar terlihat keren,” lanjut Cleve.


Tanpa berpikir panjang aku langsung berlari keluar dari kamar meninggalkan Cleve dan Ian yang tampak kebingungan melihat aku.


Sekuat tenagaku berlari keluar hotel melewati beberapa orang yang sedang berjalan santai.


Di luar hotel sudah begitu ramai karena banyak sekali orang yang yang berkerumun untuk melihat rombongan mobil yang diceritakan Cleve.


Aku yakin sekali anak laki-laki itu pasti salah satu dari orang-orang yang dilihat Cleve, dan dia pasti juga ada di salah satu mobil yang sudah berjalan menjauh sekarang.


Seperti pertama kali aku melihatnya, anak itu juga berada di dalam sebuah mobil di malam kematian Isbell. Saat itu dia melihat keberadaanku. Jadi sekarang aku berpikir untuk mengejar rombongan mobil itu untuk melihat apakah anak itu ada di sana atau tidak.


Jika dia ada di salah satu mobil dan aku dapat mengejarnya, pasti dia akan melihatku.

__ADS_1


Aku berusaha untuk mengejar mobil-mobil yang sudah berjalan. Melewati kerumunan orang dengan susah payah dan berlari sekuat tenagaku.


Akhirnya aku berhasil mengejar mobil di paling belakang dan terus berlari sambil memperhatikan orang-orang yang ada di dalam mobil-mobil itu.


Namun ketika aku hampir sampai di mobil ke empat dari belakang seorang prajurit keamanan menghadang langkahku. Aku berhenti berlari karena prajurit keamanan itu mendorongku dan berusaha agar aku tidak mengejar rombongan mobil itu lagi.


Kakiku terasa begitu gemetar dan jantungku berdegup kencang. Aku berusaha mengatur napasku yang terengah-engah setelah berlari.


Anak laki-laki itu tidak ada di ketiga mobil dari belakang, tapi aku yakin sekali kalau dia ada di dalam salah satu mobil yang lainnya.


Jika saja prajurit keamanan itu tidak menghadangku pasti aku dapat menemukan anak laki-laki tersebut. Anak itu memiliki rambut berwarna karamel dan bermata biru, sekali melihatnya aku pasti langsung bisa mengenalinya.


“Kau baik-baik saja, Bee?” Cleve datang menyusulku, Ian berdiri di belakangnya. “Sebaiknya kita kembali ke hotel di luar dingin sekali.” Cleve merangkulku dan berjalan.


Cleve memberiku segelas susu hangat ketika kami sampai di kamar hotel. Dia menyuruhku untuk segera meminumnya namun aku hanya menggenggamnya, untuk memberikan kehangatan di telapak tanganku dengan pikiran yang masih kalut.


“Jika tidak ada prajurit keamanan itu, aku yakin akan bertemu dengannya,” ucapku.


“Apa maksudmu?” Cleve berdiri di hadapanku, ia menatapku yang duduk di sisi ranjang. “Maksudmu anak laki-laki pemilik kalung itu adalah salah satu dari mereka? Dia ada di dalam mobil itu?”


“Dia tidak ada,” seru Ian yang baru saja masuk ke dalam kamar. “Aku baru saja menanyakannya ke petugas hotel apakah di antara rombongan tadi ada pria yang seumuran dengan kita, dan dia bilang tidak ada. Mereka hanya pria-pria berusia sekitar empat puluh tahun.”


“Jadi tidak ada,” ujar Cleve.


“Aku juga bertanya pada seorang prajurit keamanan tentang tujuan rombongan itu dan jawabannya adalah mereka akan meninggalkan Deapectrum. Semua itu karena sesuatu terjadi, sehingga mereka harus segera meninggalkan tempat ini.”


“Benarkah itu?” Tanyaku.


Aku merasa kalau apa yang diucapkan Ian sepenuhnya tidaklah benar. Entah perasaan apa yang membuatku yakin kalau anak laki-laki itu ada di salah satu mobil itu.


Sepertinya aku dapat merasakan keberadaannya tadi.


...@cacing_al.aska...

__ADS_1


__ADS_2