
Disuatu kampung ada satu keluarga yang bisa dikatakan sangat tidak mampu. Keluarga ini bukanlah memang dari rakyat biasa hanya saja dahulunya Mereka salah satu keluarga yang sangat terpandang di kampung tersebut.
yah… Mereka adalah keluarga dari Pak Sumoto. Dulunya beliau merupakan seorang pengusaha gandum yang sangat terkenal.
Pada suatu hari… Usaha gandum yang dijalani oleh pak Sumoto mengalami pemerosotan yang sangat jauh sehingga menyebabkan Ia harus menutup usahanya. Tak ingin terjatuh lebih dalam, Ia pun mencoba untuk meminjam dana kepada keluarga Bram.
Bram merupakan orang terkaya dikampung itu.
"Assalamu'alaikum…" sapa pak Sumoto
"Wa'alaikumussalam. Eh Pak Sumoto…Silahkan masuk Pak." Jawab Pak Bram mempersilahkan masuk.
"Gini Pak tujuan Saya kemari hendak meminjam duit ke, Bapak. Saya tidak ingin terlarut-larut atas kejadian yang Saya alami ini, Pak. Jadi Saya mencoba untuk membuka usaha kecil-kecilan," ucap pak Sumoto langsung ke tujuan awalnya.
"Bagus lah Pak jika bapak ingin berdiri kembali… Insyaallah Saya akan membantu, Bapak." Jawab Pak bram.
"Jika bapak berkenan saya ingin meminjam 100 juta, Pak." Kata pak Sumoto.
"Oohh iya iya Saya ada, pak… Saya akan pinjamkan." Jawab Pak Bram. Mendengar kemurahan hati pak Bram… Pak Sumoto pun menjadi sangat semangat.
Setelah mendapatkan pinjaman, Pak Sumoto pun mencoba membuka kembali usaha yang telah lama ia geluti yaitu gandum. Bulan pertama usaha pak Sumoto bisa dikatakan berhasil. Tapi saat memasuki bulan kedua lagi-lagi Pak Sumoto mengalami kegagalan,dan kali ini beliau benar-benar sangat jatuh jangan kan untuk mengangsur hutangnya untuk biaya hidup sehari-harinya saja ia tak mampu.
Saat ini pak Sumoto harus memikul beban yang sangat berat. Bagaimana tidak, Ia memiliki anak semata wayang yang bernama Alice kini ia tengah duduk di bangku SMA yang bisa dikatakan sekolah yang Alice tempati termasuk sekolah bergengsi dan sekarang Alice sedang memasukki kelas akhir ( kelas 3). Belum lagi pak Sumoto harus memikirkan hutangnya pada Pak Bram.
"Bu, bagaimana ini? Bapak, benar-benar bingung…" kata Pak Sumoto kacau.
"Sabar, Pak… Insyaallah akan ada jalan keuarnya Kita harus kuat," jawab buk Sumoto memberi semangat.
"Apa yang harus Bapak katakan pada pak Bram? Belum lagi biaya sekolah Alice, bu." Keluh pak Sumoto. Buk Sumoto pun tak bisa berkata-kata lagi.
"Assalamu'alaikum…" ucap Alice yang baru pulang sekolah.
"Wa'alaikumussalam…" jawab serempak Pak Sumoto dan buk Sumoto.
"Loh… Bapak sama ibu nggak buka warung?" tanya alice.
"Nggak Nak mulai sekarang bapak sama ibu nggak buka warung lagi. Usaha bapakmu sudah gulung tikar," jelas Buk Sumoto. Alice yang mendengar cerita Ibunya pun ikut sedih dengan apa yang dialami oleh Ayahnya.
"Sudah ganti baju sana habis itu Kamu makan!!" suruh buk Sumoto.
__ADS_1
" Iya, Bu… " jawab Alice sambil berlalu ke kamarnya.
Setelah berganti baju. Alice pun keluar kamar dan hendak kedapur untuk menyantap makan siang yang telah disiapkan oleh bu Sumoto. Ketika hendak kedapur Alice sedikit mendengar percakapan ayahnya dengan ntah siapa yang ada diluar. Ia mendengar soal perjodohan-perjodohan
"Perjodohan? Siapa yang akan dijodohkan?" fikirnya sambil berlalu untuk makan siang.
"Aku nggak duliiiiii…… Huhuhu yang penting Aku makannnnnnnnn…" kata Alice semangat meilihat sambal terasi kesukaannya.
"Kamu ya makan tu kalau nggak teriak bisa nggak?" kata Buk Sumoto mengagetkan.
"Hahaha… Soalnya sambelnya enak sih Bu." Jawab Alice.
Pada malamnya dimeja makan… Pak Sumoto dan bu Sumoto sudah duduk untuk makan malam sedangkan Alice baru hendak turun dari kamar ke meja makan…
"Ibu… I am comingggggggg…" panggil Alice kegirangan.
"Kamu ya… Sehari aja coba diamm adem-adem ayem gitu bisa nggak!!" saut bu Sumoto sambil menyendok nasi buat Pak Sumoto.
Pak Sumoto yang melihat tingkah anaknya seperti anak kecil kegirangan mendapatkan mainan hanya bisa tertawa.
Merekapun menyantap makanan yang ada. Tak lama kemudian pak Sumoto pun mengatakan sesuatu yang telah ia perbincangkan dengan pak bram tadi siang.
"Pak Bram… Siapa tu, Pak?" tanya Alice.
"Itu… Yang minjami bapak duit waktu itu," jawab pak Sumoto.
"Trus gimana pak. Pak Bram minta hutang ya, Pak?" tanya buk sumoto cemas.
" Bukan bu… Bapak yang nelvon buat nyuruh pak Bram kerumah. Bapak membahas tentang masalah hutang bu. Bapak nggak mau lari dari tanggung jawab, jadi Bapak sama pak Bram sudah memutuskan untuk menjodohkan Alice dengan anaknya pak Bram. Itu jalan satu-satunya lagi," jelas pak Sumoto.
"Hah? Menikah? OHHH tidak bisaaaa Bapak… Alice masih sekolah!! lagian…Alice nggak tau gimana bentuk rupanya anak pak Bram itu pak." Bantah Alice.
Seketika makanan yang tadi tengah disantap tidak disantap Alice. Alice yang merasa tidak terima perjodohan ini pun terdiam seribu bahasa dan berlalu ke kamarnya, ketika Alice hendak menaiki tangga.
"TERSERAH KAMU ALICE. BAPAK SAMA PAK BRAM SUDAH SEPAKAT BUAT JODOHIN KAMU DENGAN ANAKNYA, DAN INI JUGA DEMI KELUARGA KITA KAMU FIKIR ITU!!" suara Pak Sumoto membesar.
Alice yang tak pernah di bentak sekalipun sama pak Sumoto merasa kaget dan berlari sambil menangis didalam kamar.
*Dikediaman Pak Bram
__ADS_1
Saat sedang makan malam di rumah pak Bram.
" Ma… Edward mana? Kok belum turun?" tanya Pak Bram.
"Paling sebentar lagi turun pa," jawab nyonya Bram sambil mengambil piring buat pak Bram.
"Nahh kan mama benar… " kata Nyonya Bram tersenyum.
"Benar kenapa sih mam?" tanya Edward sembari duduk.
" Iniloh… Papa kamu nyariin… " jawab nyonya Bram. Edward pun melirik papa nya yang sedang menyuapi nasi kemulutnya.
" Mah… Edward… Papa tu mau ngomong dengan Kalian berdua," ucap Pak bram setelah selesai mengunyah nasi di mulutnya.
"Ngomong aja, Pa. Kami akan mendengarkannya." Jawab Edward sambil menyuapkan nasi kemulutnya.
"Tadi siang papa menjumpai Pak Sumoto," kata pak Bram. Lain halnya dengan Alice tadi yang tidak mengetahui siapa Pak bram, lain halnya dengan Edward yang sudah mengetahui Pak Sumoto.
"Ada apa beliau memanggil papa?" tanya nyonya Bram penasaran.
" Beliau kan sudah terjatuh lagi dari usahanya. Trus beliau mengatakan sudah tidak mampu untuk membayar hutang kepapa, dengan jalan satu-satunya papa dan pak Sumoto sudah sepakat untuk menikahkan Edward dengan anaknya pak Sumoto," jelas pak Bram.
Edward yang mendengar penjelasan Papanya itu langsung menghempaskan sendok ke piringnya.
" APA PA? Aku nggak salah dengar kan? anak pak Sumoto yang masih sekolah itu?" tanya Edward.
"Iya… " jawab Pak Bram.
" Tidak bisa gitu dong pa. Anturannya papa tanya ke aku dulu mau apa nggaknya, dan juga masa aku harus nikah sama bocil sih pa.. " bantah Edward.
"Paaaa aku udah dewasa… Aku bisa nyari pasangan hidup Ku sendiri!" lanjutnya.
"BISA APA? INGAT UMUR KAMU ITU UDAH 27 TAHUN EDWARD. MAU UMUR BERAPA LAGI KAMU AKAN NIKAH? NUNGGU PAPA SAMA MAMA KAMU MENINGGAL DULU BARU KAMU MENIKAH GITU?" ucap tegas pak Bram.
" Pa… Aku udah punya pacar pa… " nantah Edward lagi.
"Siapa? Si Luna itu? Gadis ****** itu yang akan kamu nikah kan iya? Sampai kapan pun papa takkan pernah restui Kamu dengan Wanita itu. Papa nggak tau menau pokoknya lusa besok kamu harus menikah dengan anaknya Pak Sumoto!!" jelas pak Bram sambil meninggalkan meja makan.
"Apa-apaan ini. Mimpi apa aku semalam emangnya… Aishhhh." Kata Edward.
__ADS_1
"Hiksss hiksss… Kenapa harus terjadi sama aku," kata Alice sambil menangis di kamar.