
"Makananmu sudah siap, cepatlah turun dan sarapan." Teriak Alice yang sedang sibuk menanta makanan ke atas meja.
Edward yang mendengar teriakan dari luar langsung keluar kamar dan menuju meja makan.
"Kenapa dia terlihat berbeda hari ini." Batin Alice yang tertegun melihat Edward.
"Kenapa kau melihatku begitu? Apa aku ganteng?" tanyanya kepedean.
"Yang ada kayak ondel-ondel." Bohong Alice.
"Aissh, sialan… " kesalnya.
"Cepatlah makan sarapanmu sebelum tu makanan dingin." Kata Alice sambil berjalan kedapur.
Edward pun duduk dan memakan sarapannya, tak lama…
"Tin tong… " bel rumah berbunyi.
Alice yang berada di dapur dengan langkah cepat ia membuka pintu, dan ternyata yang datang adalah keluarga pak bram dan keluarga pak sumoto.
"Ibu, Bapak, Papa, Mama," katanya kaget lalu menyalami orang tuanya dan mertuanya.
"Hai sayang," jawab bu Sumoto lalu memeluk anaknya dengan erat karna ia begitu rindu dengan buah hatinya itu.
"Alice kangen ibu," katanya sambil terharu.
"Katanya mama nggak bisa naik mobil jauh-jauh." Protes Alice pada nyonya Bram.
"Demi jumpa dengan menantu kesayangan mama, apapun akan mama lakukan," katanya lalu memeluk Alice.
"Dimana Edward?" tanya pak Bram sambil duduk disofa.
"Kak Edward lagi sarapan pa," kata Alice.
Alice pun pergi ke belakang untuk memanggil Edward. Alice memberitahu bahwa diluar sana sudah ada orang tuanya dan orang tua Edward, Edward pun menyudahi sarapannya dan menjumpai para orang tua mereka dan menyalaminya.
"Kenapa tidak dikabari dulu?" tanya Edward sambil ikut duduk.
"Kalau di beritahu bukan kejutan lagi, ya kan jeng," kata nyonya Bram sambil mencolek bu Sumoto, dan bu Sumoto pun ngangguk dan tersenyum.
"Apa kau mau berangkat kerja?" tanya pak Sumoto.
"Tadinya begitu pak, cuma karena bapak dan ibu datang lebih baik aku tidak bekerja saja," kata Edward lalu pak Bram dan pak Sumoto mengangguk.
"Apa kalian hanya tinggal berdua saja di rumah segede ini?" tanya bu Sumoto sambil memandang sekeliling rumah.
__ADS_1
"Iya bu." Jawab Alice yang baru datang dari dapur sambil membawakan air.
"Rumah segede ini, kamu yang handle semua?" tanya nyonya Bram.
"Mmm…" jawab Alice mengangguk.
"Yakkkk, beraninya kau menyuruh menantuku membersihkan rumah sebesar ini sendirian, apa kau merasa kurang dengan pendapatan perusahaanmu itu hingga kau tega menyiksa istrimu begini?" marah nyonya Bram sambil memukul Edward.
"Ahhh, bukan begitu ma, akulah yang meminta kak Edward agar tidak menyewa ART," jawab Alice sambil melindungi kepala Edward dengan tangannya dari pukulan mertuanya itu.
"Mmm… Baiklah, apa dia bersikap kasar denganmu, Alice? Jawab yang jujur." tanya nyonya Bram.
"Aishhh… Kalau dia menceritakan semuanya, bisa-bisa bukan hanya mama saja yang menghajarku, tetapi mereka berempat," batin Edward sedikit cemas. Alice yang melihat wajah Edward yang sedikir gugup.
"Ahhh tidak kok malah kak Edward begitu baik denganku, ya kan kak," katanya sambil merangkul manja tangan Edward sambil tersenyum dan mengedipkan matanya.
"Tentu saja iya dong sayang," katanya tak kalah dengan Alice dan membelai pelan wajah Alice.
"Wahhh… Ibu tidak menyangka kalau kalian akan secepat ini saling mencintai," kata bu Sumoto sambil tersenyum.
Setelah sibuk berbincang-bincang, Alice serta ibu dan mertuanya langsung kedapur untuk memasak,sedangkan para lelaki masih tetap duduk di sofa dan mengobrol dengan ditemani tiga gelas kopi.
"Alice, itu kamar siapa?" tanya bu Sumoto yang tiba-tiba melihat kamar Alice sedikit terbuka.
"Ahhh itu bekas kamar pembantu kak Edward dulu bu, tadi aku membuka kamar itu mau bersih-bersih." Jawabnya bohong.
******
Sedangkan diruang tamu…
"Apa kau sudah melakukannya dengan Alice?" tanya pak Bram tiba-tiba. Edward yang sedang menyeduh kopinya langsung kaget dan ia hampir keselek.
"Lakukan apa pa?" tanya bingung.
"Udah nggak perlu malu sama bapak dan papamu ini, apa kau sudah melakukan yang sewajarnya suami istri lakukan?" lanjut pak Sumoto sambil tersenyum.
"Tentu saja belum," batinnya.
"Mmm… " bingungnya mau jawab apa.
"Hei para lelaki masakannya sudah siap ni, ayo kita makan." Ajak nyonya Bram.
"Selamat… " batinnya legah.
Mereka semua pun menuju meja makan dan makan bersama, meskipun satu jam yang lalu Edward sudah makan, mau tidak mau ia pun harus ikut makan juga.
__ADS_1
Alice yang kini sudah terbiasa makan dengan lesehan, ia sedikit canggung untuk duduk di meja makan.
"duduklah… Apa kau mau melihatku disiksa lagi sama mama kayak tadi." bisik Edward,kemudian ia berlalu dan duduk di meja makan.
Dengan ragu Alice pun duduk dan ikut makan bersama dengan mereka.
"Kita akan nginap disini dan akan kembali lagi besok pagi," kata nyonya Bram.
Alice dan Edward begitu terkejut, mereka tak bisa melakukan apapun selain mengangguk.
Setelah selesai makan, Alice membersihkan meja makan yang dibantu oleh bu Sumoto, sedangkan yang lainnya sudah berada di ruang tamu kembali. Setelah selesai membersihkan semuanya, mereka pun ikut bergabung dengan yang lain.
"Ayo jeng kita ke kamar," ajak nyonya Bram, mereka pun pergi ke kamar tamu.
"Lah, jika kalian berdua, bagaimana dengan nasib kami berdua?" protes pak Bram.
"Bisa gunakan kamar yang satu lagi… " jawab nyonya Bram lalu menutup pintu kamarnya.
"Kalau begitu, bapak dan papa istirahat lah, " kata Alice. Merekapun menyetujuinya dan pergi ke kamar satu lagi untuk beristirahat.
Dan kini, tinggallah mereka berdua, suasana kini hening kembali dan merasa saling merasa canggung. Alice yang merasa begitu canggung langsung berdiri dan hendak pergi ke kamarnya.
"Mau kemana kau?" tanya Edward.
"Ya kekamarlah," jawabnya sambil melihat Edward.
"Mmm… Ambillah beberapa bajumu dan bawa ke kamarku, aku tidak mau mereka mengetahui kalau kita pisah ranjang," kata Edward.
"Mmm, baiklah." Jawab Alice menyetujuinya.
Alice pun mengambil beberapa bajunya dan keluar kamar hendak pergi ke kamar Edward, sayangnya keburu bu Sumoto menjumpainya yang sedang mengunci pintu kamarnya.
"Apa yang kau lakukan Alice?" tanya bu Sumoto lalu mendekati Alice.
"Apa yang harus aku lakukan." Kagetnya mendengar suara ibunya.
"Dan, kenapa kau mengambil baju mu di kamar itu?" tanya bu Sumoto setelah berdiri tepat didepan Alice.
"A-nu, Alice mengambil baju yang baru Alice setrika bu, buat di bawa ke kamar biar nggak repot-repot naik turun naik turun." Bohongnya sambil nyengir.
"Mmm, kau tidak sedang berbohongkan?" tanya bu Sumoto mengintrogasi.
"Ahah, tentu saja tidak bu," katanya sambil sedikit tertawa.
"Kalau gitu, Alice ke kamar dulu ya bu mau letakkan baju-baju ini." Pamitnya lalu berjalan cepat menaiki tangga, Ia takut jika ibunya semakin merasa aneh dan menanyakan hal-hal yang tak ia inginkan.
__ADS_1