
Keesokan paginya…
" Selamat pagi buk, pak…" sapa Alice yang baru saja turun dari kamarnya dan berjalan mendekati bu Sumoto di dapur.
"Pagi nak… Suamimu mana?" tanya pak Sumoto yang sudah duduk di meja makan. Belum sempat Alice menjawab tiba-tiba Edward turun dan merangkul bahu Alice sehingga membuatnya terkejut.
"Pagi pak…" sapanya sambil merangkul Alice dan fake smile.
"Lepaskan tanganmu dari bahuku…" kata Alice berbisik dan melototi Edward. Dengan cepat Edward pun menurunkan tangannya dan berlalu ke meja makan, sedangkan Alice langsung berlari kearah buk Sumoto untuk membantunya menyiapkan serapan.
"Wahh pengantin baru masih pagi udah romantisan aja…" goda pak Sumoto. Edward hanya tersenyum dan duduk disamping Pak Sumoto.
"Wajahmu terlihat pucat… Apa kau baik-baik saja nak?" tanya pak sumoto. Belum sempat Edward menjawab buk Sumoto datang langsung memotong obrolan mereka.
"Ahh bapak macam tidak pernah jadi pengantin baru saja… Jelas Edward pucat, soalnya tadi malam mereka pasti bekerja sangat kerass," kata bu Sumoto sambil tersenyum-senyum. Edward dan Alice terdiam dan hanya memberikan senyum kaku.
"jelaslah aku terlihat pucat, toh karena tidurku tidak nyenyak tadi malam… Aduh punggungku masih sedikit sakit karna tidur dilantai… Gegara gadis sialan itu…" batin Edward sambil memandang Alice dengan tatapan tajam.
Setelah makanan sudah diletakkan semua di meja makan, Buk Sumoto pun menyuruh Alice untuk mengambilkan sarapan untuk Edward terlebih dahulu dan dengan terpaksa ia mengikuti apa yang disuruh ibunya.
"Pak… Buk… Aku akan membawa Alice pindah hari ini," kata Edward sambil menyuapi nasi kemulutnya.
"Ha? Yang benar saja hari ini… Ahhh tidak tidakk, aku tidak setuju…" komentar Alice tidak setuju.
"Alice… Kau ini bagaimana, Dia ini suamimu jadi jangan pernah mengatakan seperti itu, kau harus baik padanya dan satu lagi kau harus nurut apa kata suamimu." Ceramah Buk Sumoto. Alice hanya terdiam dan melanjutkan makannya.
"Mmm… Apa itu tidak terlalu cepat?" tanya pak Sumoto.
"Tidak pak… Soalnya masih banyak kerjaan yang harus aku urus." Jawab Edward.
"Mmm… Baiklah, jam berapa kalian akan pindah ke kota?" tanya pak Sumoto lagi.
"Setelah sarapan ini pak, kami akan kerumah papa dulu mau pamitan dan itu langsung kerumah kami dan siangnya aku ada meeting dengan klain dari luar negeri pak," jelas Edward. Pak Sumoto hanya mengangguk dan melanjutkan makannya.
Selesai sarapan, Alice pun kekamarnya untuk memberes-bereskan pakaian yang akan ia bawak ke kota.
"Huffttt… Banyak juga ternyata pakaianku…" keluh Alice setelah selesai membereskan pakaiannya, iapun membaringkan badannya dan menghubungi dua sahabatnya untuk berpamitan.
📩📩"Hai guyss…" pesan Alice dalam grup.
📩📩 " Hai pengantin baru… Gimana? Lancarkah tadi malam? hehe." Balas Maya.
📩📩 "Apaan sihh…" jawab Alice.
📩📩 "Aku cuma mau pamit sama kalian, pagi ini dia akan membawaku pindah kekota 😭😭😭. "Pesan Alice.
📩📩 "Whattt???? trus sekolahmu bagaimana?" balas Alisia.
📩📩"Aku akan bersekolah disana… Kalian harus sering-sering mengunjungiku disana oke… Ntar aku kirimkan alamat rumahnya setelah aku sampai disana…" balas Alice.
📩📩 " Siap bossqu…" balas Maya dan Alisia.
Tak lama ia bertukar pesan dengan sahabatnya, Edward masuk kedalam kamar dan menuju ke kamar mandi untuk bersiap-siap tanpa menghiraukan Alice yang sedang berbaring di atas kasur.
__ADS_1
"Dasarr es balokk… Lirik sedikit apa salahnya sih." Batin Alice kesal karena Edward tak menghiraukannya.
"Siapkan bajuuku," kata Edward dari dalam kamar mandi.
"Cihh… Apaannn nyuruh-nyuruh… Aisshh menyebalkannnn," kesal Alice sambil berdiri menyiapkan pakaian Edward. Tak lama, Edward selesai mandi dan keluar hanya mengenakan handuk.
"Aakkkhh… K-kenapa kau hanya menggunakan handuk!!" kaget Alice melihat Edward keluar kamar mandi hanya mengenakan handuk.
"Mana Baju ku?" tanya Edward santai berdiri tepat didepan Alice yang menutup matanya karena malu. Iapun menunjuk ke arah atas kasur dan dengan cepat ia berlari masuk kekamar mandi.
"Aisshh… Kenapa jantungku jadi cenat cenut gini?" kata Alice sambil berdiri di pintu kamar mandi.
"Mending aku mandi saja…" sambungnya lalu ia mandi. Setelah selesai mandi, ia baru tersadar kalau ia lupa membawa pakaiannya karena udah salting duluan melihat badan kekarnya Edward.
"Apa dia masih ada disana?" ucapnya. Perlahan Alice membuka pintu kamar mandi dan mengintip.
" Ahhh, dia tidak ada mending aku keluar saja," katanya sambil keluar kamar mandi.
Tiba-tiba…
"Aaahhkkk…" kaget Alice yang melihat Edward duduk di tepi ranjang sambil memainkan Hp nya. Iapun berjalan dengan malu dan cepat-cepat mengambil pakaiannya dan memasangnya di kamar mandi.
Setelah ia selesai memakai pakaian, ia pun keluar dan tak menemukan Edward di kamar. Ia pun keluar kamar dan melihat Edward yang sudah duduk mengunggunya sambil mengobrol dengan Pak Sumoto.
"Kau sudah siappp nak?" tanya Buk Sumoto yang melihat Alice turun dari kamar, dan Edward pun melihatnya.
"Pak, Buk… Aku pamit ya," pamit Alice kemudian ia memeluk ibunya dan menangis.
"Tolong jaga Alice baik-baik ya Edward…" ucap pak Sumoto.
"Baik pak…" jawab Edward.
" Kalau gitu, kami jalan dulu pak… Buk." Pamit Edward sambil merangkul Alice. Merekapun keluar rumah dan masuk kemobil untuk menuju kerumah Pak Bram terlebih dahulu untuk berpamitan.
"Assalammu'alaikum…" salam Alice masuk kedalam rumah.
"Wa'alaikumussalam… Ehh menantu mama datang…" jawab Nyonya Bram sambil berlari memeluk Alice.
"Mana papa ma?" tanya Edward berdiri disamping Alice.
"Papa udah pergi dari tadi… Ayo masuk duluu," kata Nyonya Bram. Merekapun masuk mengikuti Nyonya Bram dan duduk di ruang tamu.
"Kami tidak lama ma… Kami kesini hanya ingin berpamitan, kami akan pindah ke kota karena akan lebih dekat dengan kantorku…" jelas Edward.
"Oohh begitu… Baiklah… Nanti akan mama sampaikan pada papamu…" jawab Nyonya Bram.
"Rian kemana ma?" tanya Edward yang tak melihat Rian di setiap sudut ruangan pun.
"Degg deggg…" jantung Alice berdetak kencang setelah mendengar nama Rian.
"Rian tadi katanya pergi jalan-jalan disekitaran sini… Paling sebentar lagi pulang," kata Nyonya Bram.
__ADS_1
"Ahh… Kalau begitu kami langsung pamit saja ya ma, soalnya nanti siang aku akan ada meeting," kata Edward sambil berpamitan.
"Mmm… Baiklah… Kalian berhati-hatilah…" kata Nyonya Bram sambil memeluk Alice.
"Ingatt… Jangan kau sakiti menantu mama ini!!" ancam Nyonya Bram dan Edward hanya mengangguk lalu keluar.
"Ma… Aku pergi dulu ya… Assalamu'alaikum…" pamit Alice.
"Mmm… Hati-hatilah nakk…" jawab Nyonya Bram.
Merekapun pergi menuju kota xxx. Selama di perjalanan tak ada satu katapun keluar dari mulut dua insan ini.
"Aishh… Bosannyaa…" batin Alice bosan.
Tiga jam perjalanan, merekapun tiba dirumah yang kini menjadi tempat tinggalnya.
"Wahhh gedenyaa…" takjub Alice melihat rumah yang begitu mewah.
"kenapa kau masih berdiri disitu… Kau angkat semua barang-barang itu!!" kata Edward.
"Ha? Aku? Apa aku tidak salah dengar ha?" kaget Alice yang mendengar ucapan Edward.
"Ahhh aku lupa memberitahumu… Kini… Semuanya kau yang akan mengerjakannya…" jawab Edward Dingin sambil berlalu dan masuk kedalam rumah.
"Apa maksudmu?" tanya Alice sambil mengejar Edward ke dalam dan menarik tangan Edward.
"KAU KIRAAA SETELAH MENIKAH KAU AKAN BAHAGIA? OHH JELAS TENTU TIDAKK… KAU HARUS MEMBAYAR SEMUA INI… KARENA KALUARGAMU SUDAH MEMBUATKU MERASA HANCUR DAN KINI AKU JUGA AKAN MENGHANCURKANMU!!" bentak Edward sontak membuat Alice kaget.
"Beraninya kau mengancamku… Ohhh aku sekarang paham kenapa kau membawaku kemari… Apa kau akan merasa bebas jika menyiksaku disini ha?" ucap Alice.
"HAHAH… BETULL… KAU SANGAT PINTARR…" jawab Edward.
"Kau takkan bisa membuatku hancurr!!!" kata Alice.
"OHHHH TENTU SAJA AKU BISA. HANYA DENGAN SATU UCAPAN SAJA AKAN KU JAMIN KAU AKAN SENGSARA!!" gertak Edward.
Alice yang mendengar Edward yang akan mencelakai orang tuanya hanya terdiam, hatinya begitu sakit dan ia hanya bisa menitikkan air mata.
"kenapa harus aku yang mangalami ini semua hikss hikss… Kuat lah Alice kuat lahh… Hiksss…" batin Alice.
"Ini kamarmu… " kata Edward sambil membuka sebuah kamar, yang lebih tepatnya seperti kamar pembantu.
"Apa kau lupa statusku disini apa?" kata Alice kaget melihat kamarnya yang bahkan sangat jauh beda dari kamarnya dulu.
"Mmm aku tau… Mungkin kau memang istriku, ISTRIII DI ATAS KERTASSS… BAHKAN BENALU SEPERTI KAU TAK PANTAS UNTUK MENDAPATKAN YANG LEBIH MEWAH DARI INI!!" kata Edward.
" YAKKK… BERANINYA KAUUU!!" teriak Alice yang mencoba untuk menampar Edward, sayangnya Edward menangkap dan menggenggam kuat tangan Alice sehingga ia merasakan kesakitan.
"JANGAN BERANI-BERANINYA KAU MENYENTUH KUU, JIKA KAU BERANI AKAN KU PASTIKAN KAU MENYESAL SEUMUR HIDUP… KAU ITU HANYA SEBUAH BENALU DIHIDUPKU. JADI KAU JANGAN PERNAH MIMPI UNTUK BISA BAHAGIA DISINI!!" kata Edward marah sambil melepas genggamannya dan berjalan ke kamarnya yang berada di lantai dua.
"Ahhh… Iya aku hampir saja lupa… Aku akan memberitahu mu tiga hal. Yang pertama, Kau disini bukanlah menjadi nyonya, tetapi kau akan menjadi babuku. yang kedua, kau takkan boleh kemanapun tanpa perizinanku. dan yang ketiga, aku takkan pernah mendaftarkan kau disekolah mana pun. Bahkan duit ku saja tidak sudi berhamburan untuk benalu seperti kauu…" jelas Edward lagi.
Alice hanya terdiam dan tak mampu melakukan perlawanan apapun.
__ADS_1