
Alice terus berjalan tanpa ia sadar sedari tadi seseorang telah mengikutinya, terus memantaunya dari kejauhan.
Tiba-tiba hujan turun begitu deras dan Alice terus berjalan hingga pada akhirnya ia menyerah dan terduduk di hamparan aspal jalanan yang sudah di basahi oleh guyuran air hujan.
"Apa yang sudah terjadi padanya?" fikir lelaki itu dengan terus mengikuti Alice.
"Apa yang sudah terjadi? Apa dia menangis?" bingungnya, saat ia hendak mendekat ke arah Alice.
Tiba-tiba…
"Aliceee!!!" teriak Edward memangil Alice sambil membawa payungnya berjalan kesana kemari mencari Alice.
"Alice, Kau dimana??" panggilnya lagi dan lagi.
Meskipun hujan turun begitu deras, Edward tak pantang menyerah untuk mencari Alice, sedangkan lelaki yang sedari tadi mengetahui dimana Alice hanya bisa terdiam dengan kebingungan sambil menatap ke arah Edward yang sedang mencari-cari keadaan sang istri.
"Apa yang harus aku lakukan saat ini? tak bisa di pungkiri, Aku tak ingin ia mengetahui dimana Alice, namun terlalu berdosa rasanya jika aku harus memisahkan mereka," batinnya.
Edward terus berjalan tanpa menghiraukan hujan yang kian deras, sedangkan Alice terus terduduk dan menangis tanpa menghiraukan ribuan air hujan yang menghantam tubuhnya. Lelaki itu semakin bingung, disisi lain ia tak ingin Edward yang menjumpai Alice, namun disisi lain, Ia tak mungkin melakukan hal jahat kepada sepasang suami istri ini, apalagi ia merupakan sepupu Edward sendiri, ya… Lelaki itu adalah Rian.
Rian yang tak sengaja melihat Alice berjalan tanpa tujuan langsung mengikutinya hingga pada titik disinilah ia harus melihat sebuah moment yang mungkin akan menyakiti hatinya. Meskipun ia tahu Alice sudah mencintai Edward, tak bisa di pungkiri rasa yang sejak awal ia miliki ini masih tetap tersimpan rapi di hatinya.
"Aisshhh, kenapa susah sekali menjadi orang yang egois!" kesalnya kepada dirinya sendiri.
Dengan penuh rasa canggung, Ia berjalan ke arah Edward dengan keadaan yang sudah basah kuyup.
"Apa yang sedang kau lakukan disini?" tanyanya pada Edward yang sedang duduk dengan frustasi.
"Rian, apa yang kau lakukan disini?" tanya Edward kaget.
"Kenapa kau malah bertanya balik kepadaku," katanya sedikit kesal.
"Aku sedang mencari Alice, Aku tak tau harus kemana lagi mencarinya," jelasnya frustasi.
"Apa yang terjadi pada kalian? kenapa Alice bisa kabur dari rumahmu?" tanya nya mulai penasaran.
__ADS_1
Tanpa malu, Edward pun menjelaskan semuanya pada Rian atas apa yang sudah terjadi di antara mereka.
"Aishhh, Kau terlalu bodoh, Edward," katanya kesal setelah mendengar penjelasan Edward.
"Apa kau tidak sadar selama ini dia rela menghabiskan waktunya hanya untukmu, rela di perlakukan kasar oleh mu, hanya karna ia mencintai mu, namun nyatanya kau hanya bisa menyakiti, menyakiti dan terus menyakitinya. Jika kau tidak benar-benar mencintainya, ceraikanlah dia!" kata Rian marah.
"Apa kau bilang? Cerai? itu tidak mungkin, Rian."
"Kenapa tidak mungkin? Apa kau belum puas menyakitinya? Atau kau ingin terus menyiksanya, Edward? Aisshh, apa aku boleh egois seperti mu, Edward? lepaskanlah dia, dan biarkan aku untuk memilikinya, akan ku jamin dia akan bahagia denganku!!"
"Apa?"
"Kenapa? yaa… Dia wanita yang pernah ku katakan padamu, dia wanita yang ku cintai, dia wanita yang ku inginkan. Kita mungkin saudara, tapi jika masalah hati dan cinta, apa sesama saudara tidak boleh mencintai orang yang sama? Selama ini aku diam bukan karna aku sudah merelakanmya padamu, tapi karena ku sadar bahwa ia sudah menjadi istri dari sepupuku yang tak sadar diri seperti mu!!!"
"Awalnya, Aku memang berniat untuk menyakiti dan menyiksanya, namun niat itu hanya sekedar niat. Disaat aku berlaku kasar padanya, hatiku terasa tercabik-cabik. Dan benar saja, Aku telah mencintainya, tak bisa ku pungkiri aku juga masih mencintai Luna. Aku tau cinta ini mungkin tidak seberapa padanya, tapi saat ini aku sudah mengakhiri hubungan ku dengan Luna dan aku benar-benar ingin memilikinya seutunya," jelasnya sambil mata berkaca-kaca.
"Aku tau aku salah, mungkin aku ini adalah lelaki ********. Tapi, apakah tidak boleh jika seorang ******** ingin mengubah segala keadaan untuk menjadi lebih baik lagi?" katanya benar-benar merasa bersalah.
Rian yang melihat sepupunya tak pernah seperti ini, ntah kenapa rasa egoisnya terkalahkan dengan keadaan Edward yang ntah bagaimana menjelaskannya. Baru kali ini ia melihat Edward begitu lemah hanya karena seorang wanita, baru kali ini ia melihat ada air mata terlihat di mata Edward. Meskipun Edward mencintai Luna, tak pernah sebelumnya ia seperti ini terhadap Luna.
"Aishhh, ingin rasanya ku ikuti keegoisan ini, tapi aku juga masih memiliki hati yang lembut," katanya pasrah.
"Berjanjilah kau, jika saat ini kau menemuinya kau takkan pernah menyakitinya lagi," kata rian sedikit menekan.
"Jika tidak, aku akan benar-benar merebutnya darimu!!" penekanan yang membuat keadaan bertambah dingin.
"Aku janji, katakanlah dimana dia?" Edward meyakinkan Rian.
"Dia ada di jalan sana, pergilah dan temuilah dia," kata Rian sambil menunjuk ke arah jalan dimana Alice berada.
"Terimakasih, Aku akan menemuinya," kata Edward sambil berlari ke arah yang di tunjuk Rian.
"Drama macam apa ini?" batinnya sungguh sakit.
Rian terus memandang ke arah Edward yang tengah berjalan setengah berlari, hatinya begitu terguncang, hatinya begitu sakit, namun nyatanya begitulah resiko disaat mencintai seseorang yang telah berpunya.
__ADS_1
Lalu, ia berjalan menuju kearah dimana Alice dan Edward berada, hatinya semakin sakit dan terluka disaat melihat dua insan yang sedang berpelukan erat di tengah derasnya air hujan.
"Apa aku harus berhenti mencintaimu? Apakah ini akhir dari kisah cintaku yang tak mungkin bisa ku gapai? Bagaimana bisa aku berhenti mencintaimu jika kau terus terlihat dimataku, bagaimana bisa aku membencimu disaat bersamaan. Hati ku sakit, Alice, sangat sakit disaat melihat mu dengannya, namun hatiku lebih sakit lagi jika melihat kau menangis dan disakiti olehnya."
Ia terus memandang dua insan itu dari kejauhan.
"Maafkan aku, Alice." Edward melepaskan pelukannya dan ia menjatuhkan payung yang sedari tadi ia pegang, dan kini tangannya mulai mengusap kepala Alice begitu lembut.
kemudian tangannya mengelap air yang berada di wajah wanita itu.
"Izinkanlah aku untuk mengubah semua keadaan lagi," pintanya sambil menatap wajah Alice sangat dalam.
"Yeah, tak bisa ku pungkiri, Aku mencintaimu kak, Edward," pengakuan Alice yang membuat Edward bahagia.
Namun, ada hati yang terhenyak mendengar pernyataan yang di lontarkan Alice.
" Apa aku boleh menciummu seperti malam itu?" pintanya.
Ya, meskipun keadaan mereka kian membaik saat kejadian malam itu, mereka masih tidur di ranjang yang berbeda, dan Edward juga tidak pernah melakukan apapun lagi kepada Alice.
"Yaa… " jawabnya sambil mengangguk.
Dengan sangat perlahan, Edward mulai mendekati wajahnya ke wajah Alice, dan Alice menutup matanya karena ia tau apa yang akan terjadi selanjutnya, semakin lama, wajah mereka benar-benar sangat dekat tanpa celah sedikitpun.
Dengan sangat lembut Edward mencium bibir manis istrinya, dan semakin lama mereka sangat menikmati keadaan yang begitu nyaman meskipun saat ini mereka sedang di guyuri oleh ribuan air hujan, Alice memeluk Edward, dan Edward semakin mempererat tubuh Alice di pelukannya.
Sedangkan Rian yang sedari tadi menontoni sebuah keadaan yang sangat membuatnya hancur. Ingin rasanya ia menghampiri mereka berdua dan mencoba untuk menentang semua ini, tapi nyatanya, Mereka adalah sepasang suami istri yang sedang di landa mabuk asmara.
Dengan perasaan yang begitu berat, dan ia tak ingin semakin tersakiti lagi dengan adegan selanjutnya, Ia pun memutuskan untuk pergi dan meninggalkan dua insan tersebut.
* Author."
Hei gaes, maaf ya jika ada kesalahan dalam ceritanya, dan juga jika gambar dan suasananya berbeda, hahah karena Author kehilangan foto yang sebenarnya ingin Author masukkan.
__ADS_1
Dahlah cuma itu bisa Author katakan, terimakasih buat kalian yang masih setia dengan cerita ini. Jika kalian menyukai cerita ini jangan lupa ya like, komen and vote ya gaes.
Kecupan manis dari Author "Mmmuuaachh 😘😘"