
Setelah meninggalkan Cafe, Edward pun pergi mengantarkan Luna pulang ke Apartemennya.
"Apa Kau ingin menginap disini?" tanya Luna setelah Mereka tiba di apartemennya.
"Tidak usah, Aku langsung pulang saja." Tolak Edward sembari memberikan senyuman manisnya.
"Hmmm… Baiklah, kalau begitu berhati-hatilah di jalan." Balas Luna sambil melambaikan tangan.
Setibanya Ia di halaman rumah, suasana rumah tampak begitu gelap karena sejak Alice pulang tadi Ia tak menghidupkan satu lampupun yang ada di rumah itu.
"Apa dia belum pulang?" fikir Edward yang memperhatikan setiap sudut yang gelap.
Ia pun masuk kedalam rumah dan mencoba menghidupi lampu.
"Sudah jam 1 malam, kemana dia pergi?" bingungnya karena tak menemukan Alice di rumah, padahal sebenarnya sedari tadi Alice sudah berada di rumah dan sudah tertidur pulas di kamarnya.
Edward pun pergi ke kamarnya, tak berselang Ia menuju kamar. Alice keluar dari kamarnya karena Ia merasa haus dan hendak ke dapur untuk mengambil minum.
Edward yang berada di kamar mendengar grasak-grusuk yang berasal dari luar dan merasa aneh, karena Ia berfikir di dalam rumah tidak ada siapa-siapa selain dirinya.
"Siapa diluar? Perasaan dirumah ini tidak ada siapa-siapa. Apa jangan-jangan maling?" fikirnya.
Dengan langkah lambat, Ia pun keluar kamar sambil memegang tongkat bassball miliknya dengan niatan untuk menggebukin maling tersebut.
Ia melihat Seseorang sedang membuka kulkas, tak ingin berfikir lama Ia pun menghidupkan lampu dan langsung mencoba menyerang orang yang Ia fikir maling.
"Malinggggg…" Teriaknya sambil berlari hendak memukul Alice.
"Aaaaakkkkkhhh…" Teriak Alice kaget.
"Dimana maling? Dimanaaa?" ikut Teriak Alice berlari sambil memegang botol yang berisi air dingin.
Edward yang spontan menghentikan langkahnya karena melihat Alice menggunakan pakaian yang serba putih dan kebetulan saat itu ia memakai masker.
"Aaahhhhkkk… Ha-hantuuuuu…" teriaknya ketakutan.
"Ibuuuuuuuuuu… Dimana Hantuuuuuuunyaaa…" Alice pun ikut berteriak kembali dan berlari ke arah sumber cahaya yang ada di dapur, tepatnya tempat Edward berdiri.
Disaat Ia sedang berlari, tiba-tiba kakinya tergelincir karena menginjak tumpahan air, dan…
"Brukkkk…" Ia terjatuh tepat di pelukan Edward. Dan Mereka berdua jatuh dengan posisi Edward di bawah dan Alice menindih tubuh Edward.
"Auuu… Kepalakuu," rintih Edward sambil memegang kepalanya yang sakit.
Alice yang masih berada di pelukan Edward menutup mata dan terdiam dengan masih memegang botol yang ada di tangannya.
"B-bisakah kau tidak menghimpit tubuhku… Auuuu, Aku tak bisa bernafas," kata Edward sambil mendorong tubuh Alice.
Alice yang mendengar suara Edward langsung membuka matanya dan berdiri sambil berteriak, karena Ia sudah menghimpit serta memeluk tubuh Edward.
__ADS_1
"Aakkkkh…" teriaknya. Hingga Ia tak sadar melemparkan botol yang berisi air dingin tepat kewajah Edward.
"Ahhhhh dingin dinginnn…" teriak Edward sambil mengelap wajahnya dengan tangannya.
"Ahh… Ma-maafff, Aku tidak sengaja." Mohon Alice sambil ikut mengelap wajah Edward dengan kain yang ternyata bekas nge lap cabe.
"Ahhh mataku, mataku panasss… Apa yang Kau lakukan dengan mataku?" teriaknya lagi sambil berlari di tempat karena merasa kepanasan.
"Ti-tidak ada, Aku hanya mengelapnya dengan kain ini," panik Alice sambil melihat kain yang Ia pegang.
"Akkkkhhhh… Bekass cabeee…" teriak Alice kaget.
"Apaaaa!!! Kau ingin membuat ku buta ya?" kaget Edward.
"Ahhh tidak… Aku hanya ingin membantu mu." jawab Alice.
"Aduuuhhhhh.… Matakuu perihhh… Berfikirlahhh kau harus bertanggung jawab dengan mataku," kata Edward sambil memegang matanya.
"I-iya…" Jawab Alice.
"Duduklah dulu disini, Aku akan mencari akal." Perintah Alice sambil menuntun Edward duduk di kursi yang ada di dapur.
Alice pun berfikir bagaimana cara untuk menghilangkan perih yang ada di mata Edward. Ia pun mengambil hp nya dan mencoba untuk mencari informasi yang ada di google.
"Ahhh… Dengan pepsodent bisa mendinginkan kulit yang panas," katanya sambil membaca sekilas, Ia tak membaca kelanjutan yang seharusnya untuk kulit yang panas akibat luka bakar.
Dengan cepat Ia berlari ke kamar mandi dan mengambil pepsodent.
"Apa ini?" tanya Edward.
"Pepsodent…" Jawab Alice sambil mengoleskannya ke mata Edward.
Tak lama setelah Alice mengoleskan pepsodent ke mata Edward.
"Akh akh akh… Mataku semakin perihh… AUUUUUUU!!!!" teriakk Edward lagi.
"AAAKKKKH.… BAGAIMANA INII?" ikut Alice yang semakin panik.
"Apa Kau benar-benar ingin membuat ku buta haaaa?" kesal Edward sambil berdiri dan loncat-loncat di tempat.
"TIDAKKKKK!!!! Aku hanya membaca di google." Jelas Alice. Kemudian Ia membaca aturan yang ada di google itu lagi.
"Uweeeeee 😩😩😩…" rengeknya setelah Ia membaca kembali yang ada di Google.
"Ternyata itu buat meredakan panas dari luka bakar," katanya lagi.
"Aappaaa!!!" kaget Edward.
Edward masih loncat-loncat di tempat sambil memegang matanya dan berteriak-teriak karena merasakan kesakitan dan kepanasan. Alice yang melihat Suaminya begitu semakin panik.
__ADS_1
"Hiksss… Apa yang harus aku lakukan? " rengek Alice kebingungan.
" Telvon kan dokter pribadiku…" Perintah Edward.
" Okeh okeh okeh… Tapi, bagaimana caranya aku menghubungi dokter?" tanya Alice.
"Hp ku dikamar… Cepat telvonkan!!! " perintah Edward yang masih dengan posisi loncat-loncat.
Dengan langkah cepat Ia berlari menuju kamar Edward dan menelvon dokter.
📞📞 " Halo dok… Selamat malam."
📞📞 " Iya ada apa Edward malam-malam menelvon?"
📞📞 "Saya bukan Edward. Saya I-i-istrinya," Jawab Alice ragu.
"Degggg.…" Jantungnya tiba-tiba deg2 gan setelah mengatakan seperti itu. Begitupun dengan Edward.
📞📞 "Ooh iya ada yang bisa Saya bantu?"
📞📞 "Ini Dok… Suami saya merasakan perih di matanya setelah saya memberikan pepsodent."
📞📞 "Lohh… Kok bisa?" kaget Dokter.
Alice pun menjelaskan apa yang terjadi dengan Mereka tadi. Dokter yang mendengar penjelasan dari Alice pun tertawa.
📞📞 " Hahaha… Ada-ada saja."
📞📞 " Heiii Kau tidak usah tertawa… Beritahu saja bagaimana caranya." Teriak Edward yang sudah tak tahan lagi kepada dokter yang ternyata teman dekatnya.
Sang Dokter pun menjelaskan kepada Alice. Setelah selesai menelvon, Alice pun dengan cepat mengambil air dengan suhu biasa dan kain bersih, kemudian Ia menuntun Edward untuk duduk kembali.
Dengan teliti, Ia pun mulai mengelap mata Edward dengan kain yang sudah Ia basahkan.
"Degg…" Jantung Alice tiba-tiba tak karuan ketika melihat wajah Edward begitu dekat.
"Jika di perhatikan dengan seksama.… Ia begitu tampan." Fikirnya sambil memandang puas wajah Edward.
Edward yang merasa matanya sudah mendingan, Ia pun membuka matanya dan mata Mereka saling bertemu.
"Deggg…" Lagi-lagi jantung mereka seakan-akan ingin copot.
"Wajahnya begitu mulus." Batin Edward saat memandang wajah cantik Alice.
Merekapun saling salah tingkah dan saling membuang pandangan masing-masing.
"Biar aku saja…" Kata Edward sambil mengambil kain yang di pegang Alice dan berjalan menuju kamarnya sambil mengompres matanya.
"Hufttt… Apaa-apaan ini, kenapa jantungku berdetak kencang," katanya sambil memegang dadanya setelah berada dikamar.
__ADS_1
Sedangkan Alice yang masih terduduk.
"Tenanglah jantung…" Katanya sambil memegang dadanya dan beranjak kekamar.