DELET

DELET
Terluka?


__ADS_3

"Udah jam 10 nih kak, Aku balik dulu ya takutnya kak Edward nanti menunggu." Pamit Alice.


"Okay… See you tomorrow." Jawab Rian sambil melambaikan tangan.


Alice pun berjalan meninggalkan taman dan menuju jalanan yang sudah mulai sepi. Setelah Alice sudah berjalan agak jauh, Rian pun mengikuti Alice dari belakang untuk memastikan bahwa wanita itu pulang dengan selamat.


Alice yang sepanjang jalan terus termenung tak menyadari bahwa ada Rian dibelakangnya yang sedang mengikutinya.


Setibanya Ia di persimpangan jalan, Ia melihat Edward dan Luna di dalam sebuah cafe yang tak jauh dari persimpangan itu. Ia melihat mereka sedang berpelukan, tiba-tiba Ia merasakan sesak di dadanya karena melihat Edward yang bersikap sangat manis dengan Luna.


"Kenapa Aku merasakan sakit ketika melihat Mereka bersama. Bukankah Aku tadi yang mengatakan ia bebas mau ngapain aja. Tapi, rasanya dadaku begitu sesak melihat Mereka begitu." Batin Alice sambil menatap Edward dan Luna.


Rian yang melihat Alice tiba-tiba berhenti Ia pun kaget dan menatap wanita itu, kemudian mencoba untuk ikut memandang apa yang dipandang oleh Alice.


"Bukankah itu Edward? Dan wanita itu bukannya Luna? Eits tunggu dulu… Apa jangan-jangan Edward selingkuh dibelakang Alice, " katanya kaget setelah melihat Edward yang ada didalam sebuah cafe.


Dengan keberanian, Alice pun mencoba untuk berjalan kembali dan melawati cafe tersebut, disaat Ia hendak berjalan tiba-tiba ia berpapasan dengan Edward dan Luna yang saat itu juga hendak meninggalkan cafe tersebut.


"Bukankah ini istrimu sayang?" tanya Luna sambil menunjuk Alice.


"Hanya di atas kertas…" Jawab Edward santai.


"Hahahaha… Aku sangat senang mendengarkannya, apa Kau mengira bahwa setelah tau Kau adalah istri dari Pacarku dan Aku akan memutuskannya? Jangan mimpiiii, karena hanya Akulah yang Ia cintaiiii." Bangga Luna sambil merangkul bangga lengan Edward dan Edward tersenyum sambil menatap Luna.


"Sampai kapanpun hanya Kau yang Ku cintai… Dan Kau, hanya benalu dihidupku!!" kata Edward.


"Apa begini sikap seorang lelaki yang telah menikah? apakah menikah itu hanya sebuah permainan bagimu?" tanya Alice.


"Aku akan bersikap berbeda jika istriku itu adalah Luna dan bukan Kau… Bahkan wanita seperti Kau ini tak pantas untuk mendapatkan kebahagiaan," kata Edward.


" Ternyata selama ini Ia bersikap seperti itu kapada Alice. Tapi kenapa wanita itu tidak pernah mengatakannya." Batin Rian kesal.

__ADS_1


"Bahkan Wanita yang menikah demi hutang seperti Mu serta Wanita perebut macam Mu sangat-sangat pantas untuk disiksa," kata Luna sambil memasang wajah sinis.


"Dan satu lagi… Disini Kau memanglah istrinya, tetapi akulah pemenang dalam mendapatkan hatinya." Ucap bangga Luna.


"Heii pelakor…" Ucap Alice yang mulai kesal.


"BERANINYA KAUU…" Marah luna.


"Plakkk…" Ia menampar Alice begitu keras sehingga Alice terjatuh dan terduduk di aspal.


"Aisshh Sialannnnn…" Kesal Rian yang sudah mengepal tangannya dan mencoba untuk berjalan mendekati, tapi baru berjalan satu langkah Ia mengehentikannya kembali.


"JANGAN PERNAH BERANI KAU MENGATAKAN LUNA PELAKOR… JIKA KAU BERANI AKU AKAN," belum sempat Edward menyelesaikan perkataannya, Alice langsung menyambar ucapannya.


"MAU APA KAU? KAU MAU MENGANCAMKU LAGI IYA? CIH… APA KAU SUDAH LUPA DENGAN UCAPAN KU TADI, BERANI SAJA KAU MENGANCAMKU AKAN KU PASTIKAN KAU BERAKHIR DIMANA!!" teriak Alice kesal sambil menahan rasa sakit di pipinya dan menahan air mata yang hendak keluar.


"Sebelum Kau mengantarku ke pemakaman, akan ku pastikan kau lah yang duluan berakhir disana." Ancam balik Edward sambil berbisik sehingga membuat Alice ingin menangis.


Merekapun meninggalkan Alice yang masih terduduk sambil memegang pipinya yang memerah dan mata yang sudah memerah karena menahan air mata yang hendak keluar.


Luna yang mendengar ucapan Alice, ingin menghampirinya dan melawannya sayangnya Edward langsung menahannya dan menariknya dengan paksa untuk meninggalkan tempat itu.


"Dia begitu beranii… Kenapa Aku jadi kasihan melihatnya begitu?" batin Edward sambil menatap Alice dari belakang dan mulai berjalan meninggalkan tempat itu.


"AKKKKHHH… HIKSS HIKSS. KENAPA DIA HANYA MEMBELA WANITA ITUUU… HIKSS HIKSS, KENAPA DISINI SEAKAN-AKAN AKULAH TERSANGKANYA, KENAPA? KENAPAA?" tangisnya pecah dan mengacak-acak rambutnya.


Rian yang melihat Alice menangis sambil berteriak-teriak langsung berlari dan memeluk Alice untuk menenangkannya, Alice yang merasa begitu hangat dengan pelukan dari Rian pun langsung menoleh dan kaget melihat Rian.


"Kak Rian?" kagetnya sambil menatap Rian yang masih memeluknya.


"Apa Kau tak malu menangis seperti anak kecil begini?" bisik Rian membuat Alice seketika diam.

__ADS_1


"Jika Kau ingin menangis, menangislah Aku akan menjadi temeng Mu disini, menangisslah… Menangislah," kata Rian sambil memeluk erat Alice. Alice pun menangis sejadi-jadinya.


"Kenapa hanya wanita itu yang Ia bela? Kenapa Ia tak bertanya apakah sakit tamparan ini? Bahkan ketika tanganku terkena goresan kaca ia tak memperdulikannya, Hiksss… Hiksss. Aku juga butuh perhatian… Aku juga butuh seseorang yang selalu siaga untuk membela Ku, membimbingku… KENAPA TUHAN BEGITU JAHAT PADAKU. HIKSSSS HIKSSS HIKSS." Tangisnya semakin pecah sambil memeluk erat Rian.


"Jangan katakan begitu. Sekarang Aku akan selalu ada untuk membelamu, untuk menjadi pelindungmu," ucap Rian.


"Kenapa Kau menyembunyikan semua ini?" tanya Rian yang masih memeluk Alice.


"Aku hanya tak ingin membuat semua orang merasa terbebani." Alasan bohong Alice.


"Mulai sekarang Aku akan selalu ada untuk membelamu." Kata Rian sambil melepaskan pelukannya.


"Aku tau Kau itu adalah wanita yang kuat dan Aku yakin Kau bisa melewati semua ini, percayalah suatu saat nanti Edward akan menjadi milikmu seutuhnya dan Kau hanya butuh kesabaran untuk menanti waktu itu." Jelas Rian sambil mengelap air mata Alice.


"Sudahh Kau jangan menangis lagi." Katanya sambil memopong tubuh Alice untuk berdiri.


"Ayo kita pulang.… Aku akan mengantarmu." Ajak Rian sambil memegang erat tangan Alice.


"Terimakasih ya kak sudah mengantarku pulang," kata Alice setibanya mereka tiba didepan rumah Alice.


"Apa dia akan pulang nanti?" tanya Rian.


"Mmm… Sepertinya begitu." Jawab Alice ragu.


"Apa Aku perlu menunggunya untuk memberikan pelajaran padanya?" tanya Rian lagi.


"Tidak usah… Aku bisa mengatasinya. Bukannya Kakak tadi yang mengatakan kalau Aku adalah wanita yang hebat." Kata Alice sambil tersenyum.


"Mmm baiklah… Jika ada apa-apa hubungi saja Aku." Tawar Rian dan Alice hanya tersenyum lalu mengangguk.


Kemudian, Rian pun pamit untuk pulang dan Alice masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


"Hufttt…" Ia mengeluarkan nafasnya begitu kasar sambil menatap seluruh ruangan yang gelap karena seluruh lampu dalam rumah itu di matikan.


Dengan langkah yang lemah Ia berjalan menuju kamar untuk merebahkan tubuhnya yang begitu lelah itu.


__ADS_2