
Matahari yang sedari tadi menyinari bumi kini ia benar-benar menghilang, dan bulanpun menggantikan posisi sang pemberi cahaya yang begitu luas. Keluarga itu tengah sibuk beradu sendok dan garpu di piring masing-masing.
Setelah selesai makan malam, tak seperti biasanya, malam ini ntah kenapa dua nyonya itu memaksa Alice dan Edward untuk tidur duluan.
"T-tapi bu, Alice harus membereskan meja makan dulu," kata Alice sambil memegang piring kotor.
"Tidak usah, biar ibu saja yang bereskan," ucap bu Sumoto sembari mangambil piring yang ada di tangan Alice.
"Sudahlah, kalian istirahat saja kalian pasti lelah." Nyonya Bram mendorong pelan tubuh Alice dan Edward agar mereka menjauh dari dapur.
Dengan terpaksa, Mereka berduapun pergi ke kamar, setelah mereka berada di kamar ternyata dua nyonya kepo itu membuntuti mereka dan menguping di depan pintu kamar.
"Apa yang kalian lakukan disana?" tanya pak Bram yang keheranan melihat mereka yang sibuk didepan pintu kamar Edward.
"Husttt," kata Nyonya Bram sambil meletakkan jarinya ke bibir.
"Kita ikut juga dong," kata kedua lelaki paruh baya itu sambil berjalan mendekati dua nyonya itu.
****
Sedangkan didalam kamar, keadaan benar-benar canggung, Mereka sama-sama bingung mau berbuat apa. Saling duduk di setiap ujung ranjang tanpa ada mengeluarkan sekata patahpun.
"A-aku mau mandi," kata Alice membuka suara.
"Aaahh, baiklah," jawab Edward.
Alice pun pergi kekamar mandi dengan perasaan begitu canggung begitupun dengan Edward.
"Huftt, kenapa aku jadi canggung begini," kata Edward sambil mengelus-elus dadanya yang bidang itu.
"Kenapa kamar ini menjadi panas begini sih." komentarnya lagi.
Sedangkan manusia yang dikamar mandi…
"Tenanglah jantung, tidak akan terjadi apa-apa. Kenapa aku malah jadi canggung jika bersama kak Edward begini," katanya sambil berdiri di dekat pintu kamar mandi.
"Hufttt… Tarikkkk, lepasss, tarikkkkkk, lepass… " katanya sambil mengambil dan mengeluarkan nafasnya.
Setelah selesai mandi, saat hendak menggapai bajunya, ternyata ia lupa membawa bajunya kekamar mandi. Dengan terpaksa ia pun keluar kamar mandi hanya menggunakan handuk.
"Huftt, ayo Alice kau pasti bisa," kata sambil meyakinkan dirinya dan membuka pintu kamar mandi.
Saat ia hendak berjalan ke arah lemari, tiba-tiba kakinya terpeleset dan mengenai ujung lemari sehingga ia hampir terjatuh, untungnya saat itu Edward sedang berdiri tepat didepan lemari dan dengan sigap ia menggapai tubuh Alice yang hendak akan terjatuh.
"Akhhh… " teriaknya sambil menutup mata.
__ADS_1
"Hei, dia teriak? Apa mereka tidak pernah melakukannya?" kata orang yang tengah menguping dari luar.
Kini, keadaan mereka benar-benar dekat sekali, bahkan hanya beberada senti saja, disaat Alice membuka mata ia langsung disuguhkan dengan wajah tampan Edward. Mereka saling menatap satu sama lain, malu, canggung, dan betah dengan situasi saat ini secara bersamaan.
Edward terus menatap wajah Alice dan pelan-pelan ia semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Alice, Alice yang tak bisa berbuat apa-apa saat ini hanya bisa pasrah dan menutup matanya. Semakin lama ia semakin mendekatkan wajahnya dengan Alice, Menyatukan hidung mancungnya ke hidung mancung Alice, dan hingga pada titik terakhir, menyatukan bibirnya dengan bibir Alice.
Dengan lembut ia mencium bibir manis Alice, semakin lama ia semakin mencium dengan sangat dalam. Alice yang sudah terbawa suasana mulai menggulungkan tangannya ke leher Edward dan Edward pun mendirikan tubuh Alice dengan kedua tangannya hingga mereka menjadi sejajar.
Dengan masih dengan balutan handuk, Alice masih menikmati keadaan yang belum pernah ia rasakan sama sekali. Sama-sama saling menikmati satu sama lain, hingga tanpa sadar handuk yang tengah terbalut di tubuh Alice perlahan mulai terbuka dan ia tersadar lalu mendorong tubuh kekar Edward.
"A-apa yang kau lakukan dengan bibirku?" katanya sambil melilit handuk ke tubuhnya dan memegang bibirnya.
"A-anu, Aku juga tidak mengerti," kata Edward malu.
Mereka sama-sama malu, dalam hal yang seperti ini Edward bukanlah hal yang tidak biasa, namun, ntah kenapa dia begitu malu dan canggung. Dengan langkah cepat ia pun menuju kamar mandi.
"Apakah ini nyata? Dia menciumku, Aaa ciuman pertamaku," kata Alice yang masih tidak percaya.
"Apa aku tadi ikut menikmatinya? Aaa aku benar-benar gilaa," katanya lagi frustasi.
Setelah ia memakai baju, Edward pun selesai mandi, lagi-lagi mata mereka bertemu, dan keadaan canggung kembali, wajah dua insan ini sama-sama memerah karena mereka masih malu dengan kejadian tadi.
"Akhhhh, kaki ku…" teriak Alice tiba-tiba sambil memegang kakinya.
"T-tidak ada, sepertinya kakiku terluka karena tadi," katanya sedikit malu karena perlakuan Edward yang tiba-tiba manis dengannya.
"Sini, biar ku periksa," katanya sambil mengangkat kaki Alice dan melihat luka tersebut.
"Akhhh… Pelan-pelan dong, sakit tau." katanya kesakitan.
Lagi-lagi orang yang sedari tadi menguping diluar terkejut dengan teriakan Alice dari dalam.
"Auuuu, anak itu tidak bisa bermain lembut," gumam pak Bram yang ikut menguping.
Tak lama kemudian…
"Aaauuuuu, iya disitu," teriak Alice dari dalam kamar.
"Auuuu… " teriak mereka yang diluar secara bersama dengan suara begitu besar.
"Siapa disana?" tanya Edward dari dalam kamar.
Mereka yang ketahuan langsung lari terbirit-birit meninggalkan kamar Edward.
"Ahhh, aku tau siapa disana, Aishh, Mereka pasti mengira bahwa kita… " katanya sedikit kesal.
__ADS_1
Edward pun mengobati kaki Alice yang terluka dengan sangat hati-hati.
"Aduhhhh, pelan-pelan donggg!!" teriak Alice kesakitan sambil menjambak rambut Edward.
"Akkhh akkh rambutku, sakit," katanya kesakitan.
"Makanya pelan-pelan," kata Alice sambil melepaskan tangannya dari rambut Edward.
Karena mendengar Alice kesakitan begitu, dengan liciknya Edward menjahili Alice dengan cara menekankan lukanya dengan kapas begitu kuat dan menempelkan plester ke kaki Alice.
"Ahhh dasar ****** sakittt," teriak Alice sambil menjambak kuat rambut Edward.
"Akhhhh, kenapa kau menjambakku?" Edward kesakitan.
"Salah kau kenapa kau mengobati kakiku dengan kasar," protes Alice.
"Aishh, bukannya berterimakasih malah marah-marah nggak jelas," kata Edward kesal.
"Yakkk… Emang kenapa kalau aku marah-marah ha?" tantang Alice.
"Aishhh… Sini kau biar ku banting tubuhmu itu." tantang Edward kembali sambil mengacak pinggang.
"Aishhh… Aku sudah lama rasanya tidak latihan karate lagi, apa kau mau jadi uji coba ku seperti malam itu?" tantang Alice kembali sambil berdiri tepat di depan Edward.
"Oke, siapa takut… Malam itu aku tidak siap untuk melawanmu, sekarang aku sudah siap, ayo lawan… " kata Edward semakin menantang.
Alice yang merasa kesal dengan setiap jawaban Edward, langsung mengambil bantal dan hendak memukul Edward.
"Tangan kosong kalau beranii," kata Edward menantang.
"Jangan macam-macam, jangan macam-macam." Kesal Alice.
Dan ia langsung memukul Edward dengan bantal yang ia pegang.
"Auuu, beraninya kau, akan ku balas kau," kata Edward lalu mengambil bantal dan balik memukul Alice.
"Auuu, kepalaku… Beraninya kau," kata Alice kesakitan.
"Dasar nggak punya hati dengan wanita kau," kata Alice kesal.
"Wanita sepertimu ngapain dikasihani, iuuuu, yang ada seenak mu mengkarate ku," jawab Edward yang membuat Alice semakin marah.
"APAAA!!! Kesini kau, akan ku habisi kau," katanya marah lalu kembali memukul Edward.
Terjadilah perang kembali seperti kejadian malam pertama mereka, baru saja beberapa menit yang lalu mereka saling beradu bibir, baru saja beberapa menit yang lalu sama-sama jaim dan canggung, dan sekarang seperti kucing dan anjing saling membalas pukulan satu sama lain.
__ADS_1