DELET

DELET
Bersikap Manis.


__ADS_3

"Ayo kita pulang, Alice," ajak Edward setelah melepaskan ciumannya.


"Mmm…" jawabnya sambil mengangguk.


Mereka pulang dengan keadaan yang sudah basah kuyup, genggaman yang tak pernah dirasakan Alice, kini ia merasakan genggaman itu begitu hangat, bahkan dinginnya angin malam, dinginnya air hujan kalah hanya karena genggeman tulus yang dilakukan Edward.


"Kenapa kau terlihat canggung seperti itu?" tanya Edward yang memperhatikan ekspresi Alice.


"Mmm… Sejujurnya aku malu, bisakah kita tidak usah berpegangan tangan seperti ini?" tanyanya sambil menyengir karena ia begitu malu.


"Hihihi, ada apa denganmu? Kau terlihat buruk jika memasang ekspresi seperti itu," katanya sambil tertawa kecil.


"Hmm, apa kau tadi tertawa?" kaget Alice yang tak menyangka melihat moment langkah itu.


"Hmmm ntahlah," jawab Edward tersenyum.


Mereka terus berjalan di atas aspal yang semakin basah karena rintikan hujan, Mereka terus berjalan melawan dinginnya cuaca saat ini. Canggung, gugup, malu, begitulah sekira-kiranya perasaan Alice saat ini, Ia masih tak menyangka untuk kedua kalinya Edward menciumnya dan untuk pertama kalinya juga Edward menggenggam tangannya begitu lembut.


"Ada apa denganku? Kenapa aku jadi terlihat wanita lemah begini, baru saja dia memperlakukan ku seperti ini tapi aku malah merasa sudah berasa di langit ketujuh saja," batinnya terus mengoceh sambil menatap wajah tampan yang sudah di basahi oleh ribuan air hujan.


Setibanya mereka dirumah…


"Apa kau masih bisa nahan dingin sebentar?" tanya Edward ketika mereka tiba di halaman rumah.


"Mmm, ada apa?" ngangguknya sambil kebingungan.


"Oke, sebentar, kau berdirilah disini dulu," perintahnya.


"Kakak, mau kemana?" tanyanya semakin penasaran.


"Sudah, kau nurut aja dulu, ohh iya, tutup matamu," katanya sambil menyuruh Alice tutup mata.


"Mmm, baiklah… Awas aja kalau ngerjain aku, siap-siap ku karate!" katanya memperingati sambil menutup mata.


Edward pun langsung berlari ke arah mobilnya dan mengambil bunga yang sudah ia beli khusus buat Alice.


"Sekarang kau boleh membuka mata," katanya sambil memegang bunga ditangannya.


"Aaa? Bunganya sangat indah," takjum Alice sekalipun tidak menyangka bahwa Edward membelikannya bunga.


"Bagaimana? Apa kau menyukainya?" tanya Edward.


"Sangatt menyukainya…" teriaknya sambil memeluk Edward dan tanpa sadar ia mencium pipi Edward.


"Aakhh, maaf aku terlalu frontal," katanya kaget sambil memegang bibirnya.


"Hahaha, kenapa kau malah meminta maaf? heii aku ini suami mu sangat wajar jika kau menciumku, bahkan lebih dari itu sangat wajar sekali," katanya lagi sambil tersenyum aneh.

__ADS_1


"M-maksud mu apa?" kagetnya mendengar pernyataan Edward.


"Seharusnya kau sudah tau apa maksudku, hahaha…"


Alice yang melihat Edward seperti itu, langsung berlari masuk kedalam rumahnya dengan perasaan yang begitu malu.


"Apa maksudnya itu? Aishh, kenapa wajahku menjadi panas begini," katanya malu sambil terus berjalan.


Edward menyusulnya dan berjalan ke arah kamar Alice, Alice yang semakin ketakutan karena Edward terus mengikutinya.


"M-mau apa kau?" tanya nya ketakutan sambil berjalan mundur.


"Kenapa kau ketakutan? bukannya kita sudah melakukan hal ini tadi?" Edwardmencoba menggoda Alice.


Edward terus berjalan mendekati Alice, Alice yang semakin takut terus berjalan mundur hingga ia mentok tepat di depan pintu kamarnya, sehingga ia benar-benar tak bisa kabur kemanapun lagi. Sedangkan Edward semakin tersenyum lebar disaat Alice yang sudah tidak bisa lari kemana pun lagi, Ia terus mendekat dan meletakkan kedua tangannya di depan pintu kamar Alice, Alice pun terkunci di dalam dekapannya.


"Apa dia benar-benar ingin melakukannya malam ini? Aisshh, lebih baik tadi aku mengatakan tidak saja padanya! tuhann… Lindungilah aku," batinnya yang semakin gelisah.


"Kenapa kau begitu terlihat takut? Aku hanya ingin membuka pintu kamarmu saja," katanya sambil tersenyum dan memukul pelan hidung Alice.


"Apa kau mengira bahwa aku akan berbuat yang macam-macam padamu? hahaha." Tawanya pecah.


"Aishhhh, kenapa kau malah tertawa?" bingung Alice.


"Wajahmu begitu lucu jika seperti itu," jawabnya terkekeh.


"Aakkhh, sialan," gerutunya.


"Tidak usah…" jawab Alice malu langsung masuk kekamarnya dan menutup pintu kamarnya.


"Heii kau tidak sopan dengan suamimu!!" katanya berteriak sambil tertawa.


Edward pun berjalan ke arah kamarnya dan membersihkan dirinya.


****


Setelah membersihkan diri, Edward turun dan menuju ke kamar Alice.


"Tok… Tok…" Ia mengetuk pintu kamar Alice.


"Iya…" jawab Alice sambil berjalan membuka pintu kamarnya.


Edward yang kaget melihat Alice hanya menggunakan handuk di tubuhnya dan satu lagi handuk dililitkan di kepalanya.


"Mau apa?" tanya Alice santai. Sedangkan Edward yang tertegun melihat Alice seperti itu.


"Hmmm… Mmmm," katanya gagok.

__ADS_1


"Kau kenapa?" tanyanya bingung.


"Apa kau mau tidur dikamarku?" tanyanya sedikit ragu dan gugup.


"Tidak, Aku lebih nyaman dengan kamarku," tolak Alice halus.


"Kalau begitu, izinkan aku untuk tidur dikamarmu," katanya sambil berjalan masuk.


"Aishhh, ada apa dengan dia?" katanya pelan sambil melihat Edward yang langsung berbaring di kasur Alice.


Alice pun menutup pintu kamarnya dan ia langsung mengambil bajunya dan memakai baju di kamar mandi. Setelah ia selesai memakai baju, ia langsung mengeringkan rambutnya yang basah.


"Sini aku bantu," tawar Edward yang melihat Alice sedang mengeringkan rambutnya.


"Mmm… Apa kakak bisa?" tanyanya bingung.


"Tentu saja, sini duduk lah disini," jawabnya sambil memukul pelan kasur Alice.


Alice pun menurut dan langsung duduk di atas kasurnya, Edward langsung mengambil alih, dan dengan sangat lembut ia mengeringkan rambut Alice, dengan sangat pelan ia menyentuh rambut wanita itu dan begitu teliti dalam mengeringkan rambut Alice.


Alice yang selama ini belum pernah di perlakukan seperti itu, Ia sangat merasa tersanjung dan tanpa sadar ia tersenyum-senyum sendiri. Sedangkan Edward ia masih betah dengan aktifitasnya pada rambut Alice. Saat ia menyibak rambut Alice di bagian leher, Ia begitu luas menyaksikan leher jenjang Alice yang begitu mulus dan putih, tanpa sadar ia langsung menyentuh pelan leher itu dan membuat Alice merasa geli.


"Apa yang kakak lakukan pada leherku?" tanyanya kaget.


"Mmm tidak, aku hanya mengambil rambutmu yang lengket di lehermu," jawabnya berbohong.


Setelah ia selesai mengeringkan rambut Alice, Edward langsung menyisir rambut Alice yang tak begitu panjang.


"Terimakasih kak," katanya sedikit malu-malu.


Edward hanya tersenyum dan mengangguk, sedangkan Alice yang sedari tadi hatinya terus berbunga-bunga meskipun ini hanya hal-hal kecil yang dilakukan Edward padanya, nyatanya ini begitu nikmat rasanya baginya.


Setelah beres semuanya, Ia begitu malu untuk tidur di atas ranjang yang saat ini Edward tempati, meskipun sebelumnya ia pernah seranjang dengan lelaki itu, ntah kenapa malam ini begitu terasa sangat aneh, malu, canggung, gugup semuanya bercampur menjadi satu.


"Kenapa kau hanya berdiri saja?" tanyanya sambil memandang Alice.


"Mmm, tempat tidurku hanya pas untuk satu orang saja, dimana aku harus tidur," katanya sangat malu.


Dengan sigap Edward langsung menarik tangan Alice, dan ia terjatuh tepat di pelukan Edward.



"Kita bisa berbagi tempat tidur bukan," katanya sambil memeluk tubuh Alice.


Alice semakin malu dan gugup, disisi lain ia masih sedikit takut dengan fikirannya sedari tadi yang terus teringat-ingat akan perkataan Edward tadi.


__ADS_1


"Tidurlah, Aku takkan macam-macam denganmu," perintahnya sambil menutup mata sambil mengeratkan pelukannya pada Alice.


Alice yang mendengar ucapan Edward langsung tersenyum dan memeluk balik Edward dan langsung menutup matanya.


__ADS_2