
Malam berganti pagi, dua insan yang ada didalam kamar itu masih betah dengan tidurnya, hingga saat Alice hendak menggerakkan tubuhnya, Ia merasa ada sesuatu yang berat sedang menghimpit tubuhnya itu.
Saat ia membuka mata, Ia melihat tangan kekar Edward lah yang sedang menghimpit tubuhnya, Ia memandangi wajah tampan yang tengah tertidur pulas dengan sangat puas, sesekali ia mengecutkan senyumnya dan sedikit mengeratkan pelukannya.
"Apa dia benar-benar akan ku miliki seutuhnya?" terbesit di hatinya sedikit canggung sambil menatap wajah lelaki itu.
"Apa kau sudah puas dengan terus melihat wajahku?" tanya Edward yang masih menutup matanya.
"Mmmm, sejak kapan kakak bangun?" kagetnya sambil mengalihkan pandangan.
"Sejak kau terus memandangiku dan memelukku," jawabnya sambil tersenyum. Sontak wajah wanita itu langsung memerah karena malu.
"Ayo bangun," kata Alice sambil duduk.
Edward yang masih sangat betah untuk tidur langsung menarik lagi tubuh Alice sehingga Alice tertidur kembali dan hampir mengenai wajah Edward, dengan cepat ia langsung menahan wajahnya menggunakan tangan yang ia letakkan di pipi Edward. Namun, Ia begitu kaget saat menyentuh wajah itu, karena ia merasa tubuh Edward panas sekali seperti api yang sedang membara.
"Aa, tubuhmu sangat panas, apa kakak sakit?" kagetnya dan terus memegang wajah Edward.
"Tidak, hanya sedikit panas nanti juga akan sembuh," jawabnya lirih sambil membuka mata dan menatap wajah Alice.
"Tunggulah disini, Aku akan mengompresmu," katanya sambil beranjak turun dari ranjang.
"Tidak usah, Kau jangan kemana-mana tetaplah disini!" perintahnya sambil menatap penuh harap dari Alice.
"No!" jawabnya menolak lalu pergi keluar kamar.
"Aisssh, kenapa dia begitu keras kepala," katanya sambil tersenyum lalu memicingkan matanya kembali, karena ia merasa badannya begitu lemah, Edward pun tertidur kembali.
Tak lama kemudian, Alice kembali kekamar dengan membawa mangkok yang berisi air dingin dan handuk kecil.
"Bagaimana bisa dia mengatakan tidak sakit, panasnya begitu tinggi. Aissh," gumamnya sambil memegang wajah Edward.
Alice pun mulai membasahi handuk kecil yang ia bawa tadi dengan air dingin, kemudian ia meletakkannya di kening Edward.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan?" tanyanya karena ia merasa sesuatu yang dingin berada di keningnya.
"Hanya mengompresmu," jawabnya sambil terus mengompres Edward.
"Sudah ku katakan tidak usah, ini akan sembuh dengan sendirinya," jawabnya lirih dan masih menutup matanya.
"Bagaimana bisa kau katakan sembuh dengan sendirinya, tubuhmu panas seperti bara begini. Aisshh, jika tidak bisa terkena hujan, jangan pakai acara hujan-hujanan segala!" ocehnya terus sedikit kesal.
"Aishhh…" pasrahnya sambil tersenyum.
"Kakak, tidak usah kekantor hari ini, Aku tidak mau terjadi sesuatu denganmu!" perintahnya.
"Mmmm, baiklah nya nyonya Edward Brahmana," jawabnya sambil tersenyum dan menatap dalam wajah Alice.
"Blusssh…" lagi-lagi Edward membuat wajahnya memerah karena tersipu malu.
"Oh oh oh, kenapa wajahmu memerah begitu?" tanya Edward menggoda.
"Mmmm, benarkah?" tanyanya pura-pura tidak tau sambil memegang pipinya.
"Iya, apa jangan-jangan kau malu karena ku katakan nyonya Edward Brahmana? haaha," godanya lagi.
"Ahhh, wajahmu semakin memerah, hahaha… Kau ketahuan berbohong," Ia semakin menggoda Alice.
"Aissh, sudah sakit begini masih juga menggodaku, sudahlah aku keluar saja, istirahatlah, ingattt jangan banyak bergerak dulu!" katanya yang sudah sangat malu.
"HEII, AYO NGAKU DULU, KAU MALUKAN PADAKU? HAHAHAHA," teriaknya bahagia saat Alice berjalan keluar.
Dengan begitu malu, Alice bergegas keluar kamar dan langsung kedapur untuk membuatkan Edward sarapan, sedangkan Edward yang berada di dalam kamar langsung menghubungi sekretaris Hans untuk mengatakan bahwa hari ini ia tidak bisa ke kantor, dan memerintahkan agar sekretaris Hans lah yang mengambil alih selama ia berada di rumah.
****
"Apa kau tidur?" tanya Alice pelan sambil membawakan bubur beserta obat untuk Edward.
"Tidak… Aku hanya sedangkan menutup mata saja," jawabnya lalu membuka mata.
__ADS_1
"Makanlah bubur ini!" perintah Alice.
Mode manja nggak jelas Edward on, Ia dengan sangat manja meminta Alice untuk menyuapinya, dengan sabar Alice pun menyuapi suaminya itu, setelah selesai sarapan, Alice menyuruh Edward untuk meminum obat pereda demam dan dengan nurutnya Edward pun meminum obat tersebut, kemudian ia berbaring kembali, sedangkan Alice berlalu keluar kamar untuk menjalankan tugas hari-harinya.
"Nyuci piring sambil dengerin musik bagus juga," katanya sambil mengeluarkan Hp yang ada di sakunya dan memutarkan play list music kpop idolanya.
Setelah selesai mencuci piring, Alice langung menyapu rumah dan tak lupa juga ia selalu mengepel lantai setelah ia selesai menyapu. Setelah itu, Alice pun kembali kedapur untuk memasak.
Tengah asik memasak sambil menyanyi, tiba-tiba seseorang memeluknya dari belakang.
"Mmm…" kagetnya dan langsung membalikkan tubuhnya.
"Heii, sudah ku katakan jangan banyak bergerak dulu," katanya setelah melihat Edward lah yang mendatanginya kedapur.
"Aku sangat bosan dikamarmu," jawabnya lirih sambil terus memeluk Alice.
"Sini ku periksa kondisimu dulu," katanya sambil mendorong pelan tubuh kekar Edward, dengan nurut Edward pun berdiri tegap di depan Alice.
"Sudah tidak terlalu panas," katanya legah.
"Duduklah disana, Aku buatkan makanan untukmu dulu," katanya lagi sambil memasak kembali.
"Kalau begitu, Aku mau mandi dulu… Masaklah dengan enak," jawab Edward.
"Mm…" jawabnya mengangguk.
"Hei…" panggil Edward sambil memukul pelan pundak Alice.
"Apa lagi?" tanyanya lalu membalikkan badannya ke arah Edward.
"Cup…" dengan kilat Edward mencium pipi Alice, kemudian berjalan ke arah kamarnya.
"Kiss morning…" katanya sambil berjalan.
"Heii, beraninya kau!" teriaknya, namun Alice tak marah melainkan ia tersenyum bahagia sambil memegang pipinya.
__ADS_1
"Aishh… Kenapa dia begitu manis begini, lagi sakitpun bisa-bisanya menggodaku," gumamnya salting.
Moment yang selalu Alice bayangkan, kini ia merasakan, kehidupan yang selau ia inginkan, kini tercapai. Tapi, apakah moment-moment manis seperti ini akan bertahan lama? atau ini hanya sekedar fatamorgana dunia yang sedang mempermainkannya?