
"Auuuu… Kenapa perih banget ni tangan rasanya." Rintih Alice sembari duduk di atas kasur.
"Lupa kalau tadi aku sempat terluka. Cihh… Bahkan sekalipun aku mati disini, toh si dakjal nggakkan perduli." Gumamnya sambil mengobati tangannya yang terluka.
"Kenapa kau memfitnahnya?" tanya Edward sambil menahan rasa sakit bagian pinggangnya.
"Aku tidak menyukainya!! Aku mau kau memecatnya saat ini juga." Jawab Luna memprotes.
"Dan, apa maksud dia tadi itu? Siapa dia sebenarnya? Apa dia benar-benar hanya sekedar pembantu dirumah ini?" tanya Luna.
"Huffft… Sebenarnya dia itu istriku…" jawab lesu Edward.
"APAAAA!!!" kaget Luna.
"Hahaha, katakan kalau itu hanya sebuah candaan mu saja Edward!! Katakannnnnn!!!" kaget Luna sambil menarik-narik kerah baju Edward.
"Maafkan aku tidak memberitahumu terlebih dahulu. Tapi, kau harus percaya bahwa hanya kau yang aku cintai Luna." Jawab Edward sambil memegang tanga Luna meyakinkan.
"Cinta? Apakah cintamu seperti ini? Kau menikah dengannya, tapi kau bilang cinta kepada ku? APAA MAKSUD MU EDWARD!!!" protes Luna, kemudian ia terduduk lemas di lantai dan menitikkan air mata karena merasa terkhianati oleh kekasih yang sangat ia cintai.
"Heii dengarkan penjelasanku dulu. Aku memang menikah dengannya, tetapi itu karena kami dijodohkan, dan aku hanya mencintaimu seorang Luna. Please believe me babe," jelas Edward mencoba untuk menjelaskan semuanya dengan Luna.
"Beri aku waktu untuk menerima ini semua… Aku pergi dulu, permisi…" pamit Luna dan pergi meninggalkan Edward yang hanya bisa menerima semua konsekuensi semua ini dan terduduk lemah di lantai.
Alice yang sudah selesai mandi dan mengobati lukanya dikamar mencoba untuk keluar karena merasa perutnya begitu sangat lapar.
Saat ia hendak menuju dapur, Ia menemukan Edward yang masih terduduk lemah di lantai.
"APA KAU PUTUS DENGAN KEKASIHMU?" tanya Alice menyadarkan Edward.
"JAGA SIKAPP MU!! SETELAH KAU MENGHANCURKAN MASA DEPANKU, SEKARANG KAU MENGHANCURKAN HUBUNGANKU DENGAN KEKASIHKU. APA KAU SENANG HA? APA INI YANG KAU MAU IYA?" bentak Edward kepada Alice.
"HEIIII APA KAU TIDAK SADAR DENGAN SEMUA UCAPAN MU ITU… SEHARUSNYA AKU LAH YANG MENGATAKAN ITU SEMUA, KAU SUDAH MENGHANCURKAN MASA DEPANKU, DAN KAU AKAN SELALU MENGANCAMKU DENGAN MEMPERMAINKAN KESELAMATAN ORANG TUA KU. CIH… DAN SEKARANG AKU TAKKAN PERNAH TINGGAL DIAM, SECUIL SAJA KAU MENYENTUH KEDUA ORANG TUA KU, AKAN KU PASTIKAN KAU AKAN BERAKHIR DIPEMAKAMAN!!" lawan Alice yang tak kalah menghebohkan, membuat Edward terkejut dan hanya bisa terdiam dengan semua yang dikatakan oleh Alice.
"Dia begitu berbeda dengan wanita lain… Kenapa dia begitu berani melawanku, bahkan ia berani mengancamku." Batin Edward kaget.
Edward yang tak mampu berkata apapun lagi pergi meninggalkan Alice dan menuju kekamarnya.
"AISSSHHH… SIALANNNNNN…" Marah Edward sambil menjatuhkan benda-benda yang ada dimeja kerjanya.
"Jiwa yang terluka takkan selamanya akan menikmati luka tersebut. Akan ada masanya dimana ia akan melawan dan merobohkan semua lawan yang ada didepan matanya." Alice.
__ADS_1
Karena merasa begitu sangat lapar, Alice pun memakan hidangan yang tak sempat tersentuh sekalipun oleh Edward dan Luna. Ia makan dengan posisi biasanya yaitu lesehan.
Setelah selesai makan, ia pun berniat untuk pergi mencari angin malam dan mencoba untuk menenangkan hatinya. Saat ia hendak melangkah keluar, Tiba-tiba Edward keluar dari kamarnya untuk mengambil minum dan melihat Alice yang hendak keluar.
"Mau kemana kau?" tanya Edward.
"Bukan urusan mu…" jawab Alice sambil berjalan keluar.
"Kau tak ku izinkan kemanapun!! " perintah Edward.
"Jangan berani-beraninya kau mengancamku lagi. Dan kini ayo kita mengurus hidup kita masing-masing, dan kau tenang saja aku akan tetap menjadi seorang istri pada umumnya." Jawab Alice.
Alice pun mempercepat langkahnya dan meninggalkan Edward sendirian dirumah. Tak tau harus kemana dan tak tau harus berbuat apa saat ini. Sejujurnya ia sedikit merasakan kekecewaan dan ia juga merasakan sesuatu yang sakit berasal dari hatinya.
Ia terus berjalan tanpa tujuan malam ini, hingga sampailah ia di sebuah taman yang begitu indah jika dilihat saat malam hari, Ia pun duduk di sebuah bangku yang ada di taman, Alice terduduk dengan tatapan yang kosong dan bingung.
"Apa aku harus menyerah saja dengan semua ini? bahkan ketika hati sedang tersayat, logika tak mampu mengobatinya. Bahkan ketika jiwa sedang tergoncang, raga hanya menerimanya dengan pasrah. Bahkan bila bintang di langit jatuh, bulan hanya mampu melihatnya tanpa membantunya. Tuhannn… Sungguh sejujurnya aku tak sanggup jika harus seperti ini, aku juga ingin memiliki kehidupan yang bahagia seperti orang-orang yang sudah menikah pada umumnya." Batin Alice sambil memejamkan matanya.
Tengah asik berkecimpung dengan fikirannya membuatnya tak sadar bahwa ada seseorang yang sedari tadi duduk disampingnya sambil menatapnya.
"Apa kau tidur?" tanya Rian yang mengagetkan Alice.
"Heiii kenapa kau kaget begitu, hahaha." Bingung Rian.
"Perasaan tadi aku disini hanya sendiri, dan tiba-tiba kak Rian ada disini. Jangan-jangan Kak Rian ini hantu!!" ucap Ngawur Alice.
"Enak saja kau bilang aku hantu, aku tu dari tadi disini, hanya saja kau sepertinya sedang tidur disini. Yaudah aku duduk aja disini kali aja butuh bantuan buat di angkati kepemakaman hahaha." Jelas Rian sambil sedikit bercanda.
"Haha enak aja, kalau bisa sih sekalian kasih tau sama malaikat jamal ya buat siapin kain kafannya. hahaha." Jawab Alice sambil bercanda juga.
"Dark banget ya candaan kita hahaha." Sambung Rian.
"Anti menstream hahaha." Jawab Alice.
" Oh iya, kenapa kau disini sendirian? Mana Edward?" tanya Rian.
"Kak Edward dirumah lagi sibuk kerja. Aku hanya ingin mencari udara segar saja." Jawab bohong Alice sambil memberikan senyuman palsu.
"Wahhh sifatnya emang nggak pernah berubah, masih gila kerja juga dan malah istri secantik ini malah di anggurin, di rebut ama orang lain baru nangis-nangis, guling-guling, hahaha." Kata Rian sambil tertawa.
"Hahaha… Eh, Kak Rian kenapa bisa kesini?" tanya balik Alice.
__ADS_1
"Aku hanya ingin sedang berjalan aja, lagian taman ini tak jauh dari apartemen ku dan tak sengaja melihat mu disini," jelas Rian.
"Oohh begitu…" mengerti Alice.
"Kenapa wajahmu seperti itu? Apa kau punya masalah?" tanya Rian penasaran.
"Ahhh… Tidakkk, Emang wajahku seperti apa?" jawab bohong Alice.
"Seperti pemulung yang kalah cepat dapat botol-botol, hahahaaa." Jawab canda Rian, Alice yang mendengar jawaban Rian ikut tertawa ngakak.
"Aku tau kau pasti sedang ada masalah, dari rawut wajahmu sangat terlihat jelas." Rian.
"Ohh iya, Kita akhir-akhir ini sering berjumpa tapi aku lupa meminta kontakmu. Beri aku kontak mu biar mudah kalau mau ngajak mu jalan-jalan." Pinta Rian, Alicepun memberikan kontaknya dengan Rian, begitupun Rian juga memberikan kontaknya Pada Alice. Setelah saling bertukar nomor, keadaan begitu hening dan canggung.
"Daripada kita diam-diam gini, mending kita main sambung lagu yuk…" ajak Rian memecahkan suasana canggung. Kemudian Alice hanya tersenyum dan megangguk.
"Okeh, aku duluan ya." Kata Rian.
🎶🎶"Balonku ada lima. Rupa-rupa warnanya, merah kuning kelabu, Aku cinta padamu," nyanyi nyeleneh Rian.
🎶"Hijau mudah dan biru. Meletus balon hijau dorr…" Alice.
"Ahh ayam ayam," canda Rian.
"Jangan bercanda dulu." Komentar Alice kemudian ia melanjutkan lagi.
🎶🎶"Balonku tinggal empat. Kita cuma sahabat." Sambungnya lagi sambil tertawa dan Rian pun ikut tertawa.
"Rasanya… Anjimmmm bangettt, hahaha," kata Rian sambil tertawa.
"Hahaha, kirain bakalan menjadi ironman." Jawab Alice sambil tertawa.
Ntah kenapa jiwa yang lelah tadi, seketika sirna ketika ia berjumpa dengan sebuah raga yang mampu membuatnya berdiri kembali.
Apa mungkin kisah ini akan selalu berjalan atau akan terhenti di tengah jalan?
***Author*
Hai, selamat malam semuanya. Pertama-tama, Author ingin mengucapkan terimakasih banyak buat kalian yang masih setia menunggu cerita ini up. Dan mohon beri dukungan ya guys buat Author agar Author semakin semangat menulis ceritanya. Jangan lupa tinggalkan jejaknya :))
Maaf jika ceritanya kurang seru, karena sejujurnya Author sedikit susah membuat cerita yang romance gini, cuma Author akan terus berusaha untuk membuat ceritanya, jadi jangan bosan-bosan ya buat mampir teruss. Terimakasih**.
__ADS_1