DELET

DELET
Ungkapan Cinta.


__ADS_3

Setelah mereka selesai mantap-mantap di bioskop, dan juga tubuh mereka dibanjiri dengan keringat meskipun didalam ruangan tersebut ber Ac, nggak akan guna buat mereka yang sudah mantap-mantap sampai 10 ronde, Merekapun memutuskan untuk pulang.


"Ahhkk," teriak Alice kesakitan saat ia hendak berdiri.


"K-au kenapa?" tanya Edward kaget.


"Sakit…" lirihnya.


"M-aafkan aku, sini aku akan menggendongmu," katanya sambil menggendong tubuh Alice.


Edwardpun menggendong Alice dari dalam bioskop hingga keparkiran mobil, sepanjang jalan mereka terus dilihatin oleh pengunjung lain, sedangkan orang yang sedang dilihat malah tidak perduli.


"Sudah ku katakan, jangan nonton itu, tapi kau ngeyel juga!" kata Edward sambil menduduki Alice ke dalam mobil.


"Aishh, kenapa kau terus menyalahkanku, ini juga ulahmu!" katanya protes.


"Sebagai lelaki normal mana bisa aku menahannya, Aisshh," jawabnya lalu menutup pintu mobil Alice dan berlari kecil ke pintu mobil sebelahnya.


Edwardpun melajukan mobilnya, keadaan begitu hening, tak ada satupun kata yang terlontar dari mulut dua insan itu, yang ada hanya ada rasa malu, canggung yang bercampur aduk di perasaan masing-masing. Terutama bagi Alice, ini merupakan sangat pertama baginya untuk melakukan hal yang seperti itu.


Setibanya di rumah, Edward langsung menggendong Alice dan membawanya kekamar Alice.


"K-au mau kemana?" tanyanya ketika melihat Edward keluar kamar.


"Ya mau ke kamarku, apa kau ingin aku terus disini? Atau apa kau ingin kita melakukannya lagi?" godanya sambil tersenyum psikopat.


"Aaaa, b-ukan gitu, Aku mau mandi tolong gendong aku kekamar mandi," pintanya sediki malu-malu.


"Mmm, bagaimana kalau kita mandi bersama," katanya lagi menggoda.

__ADS_1


"T-idak mau! yang ada kau akan semakin membuatku tak bisa berjalan!!" protes Alice.


"Mmm, baiklah," jawabnya pasrah.


Edward memopong tubuh Alice kekamar mandi, setelah itu ia langsung keluar untuk menuju kekamarnya.


Setelah mereka selesai membersihkan diri masing-masing, Edward pun turun dan langsung menuju kamar Alice.


"Tok… Tok." Ketuknya.


"Apa kau sudah selesai?" tanyanya yang masih berdiri di depan pintu kamar.


"Sudah, masuklah," jawab Alice dari dalam.


Ia langsung membuka pintu kamar dan menemukan Alice yang tengah berbaring di kasur, Ia sedikit merintih karena masih merasakan sedikit sakit.


"Mmm, lumayan," jawab Alice.


"Sini, biar aku lihat!" katanya sambil duduk ditepi ranjang.


"Aaa, T-tidak usah!" tolak Alice sedikit malu.


"Kenapa? tidak apa-apa, ayo sini aku lihat!" tawarnya lagi.


"Tidak usah!!" tolak Alice.


"Oke oke baiklah, terserah kau saja," pasrahnya. Lalu Edwardpun ikut berbaring di samping Alice dan memeluknya.


"Maafkan aku," lirihnya sedikit menyesal.

__ADS_1


"Maaf kenapa?" tanya Alice kebingungan.


"Karena tadi, seharusnya aku tidak melakukannya padamu," jawabnya lalu memeluk Alice.


"Tidak masalah," jawab Alice, kemudian ia mengelus pelan lengan Edward.


"Seharusnya aku tidak membuatmu merasakan sakit lagi," katanya lagi semakin bersalah.


"Heii, tidak apa-apa. Lagian sudah kewajiban ku sebagai istri melayanimu lahir dan bathin bukan! Kenapa kakak malah merasa bersalah begitu, toh aku juga menikmatinya hahaha," jelasnya sambil terus menatap Edward.


"Sakit ini tidak seberapa, nanti juga bakalan sehat lagi," jelasnya lagi.


Edward pun mendudukkan tubuh Alice, kini posisi mereka tengah duduk berhadapan di atas ranjang yang tak seberapa.


"Aku melakukan ini karena aku…" katanya terputus.


"Karena apa?" tanya Alice penasaran.


"Huftt… Mungkin, pada awal kita menikah aku memang tidak memiliki perasaan padamu bahkan aku memperlakukanmu sangat kasar," jelasnya sedikit menunduk menyesali perbuatannya.


"Bahkan, Aku begitu bodoh, Aku rela menjadi budak cinta wanita lain dibandingkan dengan istriku sendiri. Hingga pada akhirnya, Wanita yang awalnya aku benci, kini dialah wanita yang kucintai. Aku mencintaimu, Alice. Aku berani menyentumu seperti tadi karena aku benar-benar takut akan kehilanganmu, Aku mohon berilah aku kesempatan untuk menjadi suami yang baik untukmu. Aku mencintaimu," jelasnya panjang lebar.


"Masa lalu biarlah tetap menjadi masa lalu, Kita jadikan kejadian sebelumnya sebagai pelajaran untuk kedepannya. Aku juga mencintaimu, Aku benar-benar mencintaimu," jawab Alice, lalu ia langsung memeluk Edward begitu erat.


Tuhan maha membolak balikkan hati manusia, Kita hanya bisa berencana sedangkan, tuhanlah yang menentukan segalanya. Tak ada siapapun yang mengetahui begaimana alur kedepannya setiap kehidupan. Meskipun seribu kali lipat kita disakiti dengan takdir yang telah ditentukan, Kita akan tetap terus berjalan di atas takdir itu hingga terhenti pada titik terakhir, yaitu kebahagiaan.


Sekiranya begitulah yang kini terjadi dengan dua insan itu, yang pada awalnya mereka menikah hanya karena paksaan, kini perasaan itu benar-benar hadir di hati mereka, sebab, cinta itu ada karena kebiasaan.


Kini, Mereka sedang dimabuk asmara, namun, apakah mungkin kebahagiaan saat ini akan terus bertahan selamanya? Apakah Luna benar-benar melepaskan Edward untuk Alice?

__ADS_1


__ADS_2