DELET

DELET
Jalan-jalan Berujung Uji Kesabaran.


__ADS_3

Selesai mandi Edward turun untuk menyusul Alice yang sedari tadi yang masih berkecimpung di dapur, Ia terus memandang wanita yang kini sangat berharga di dalam hidupnya, Alice yang masih sibuk dengan alat masaknya itu tidak menyadari bahwa Edward sudah berada di belakangnya.


Tiba-tiba, Edward yang sedari tadi memandang saja kini ia mulai melangkah berjalan untuk mendekati Alice dan langsung memeluknya dari belakang.


"Mmm," kagetnya sambil mendongakkan kepalanya sedikit.


"Kenapa kau sangat lama memasak?" tanya Edward manja.


"Tidak, Kakaklah yang mandinya kecepatan," jawabnya dengan masih melakukan aktifitasnya.


"Duduklah, sebentar lagi makanannya akan siap," kata Alice.


Layaknya seperti anak kecil yang menuruti perintah ibunya, Edward berjalan ke meja makan dan kemudian di susul dengan Alice yang membawa beberapa makanan yang baru saja ia masak.


"Makanlah, Kakak harus makan banyak agar cepat sembuh," katanya.


"Mmm," jawabnya mengangguk.


"Sini, aku cek dulu panasnya udah beneran udah turun apa belum," kata Alice sambil mendekat ke Edward.


"Tidak usah, Aku beneran sudah sembuh," jawabnya tersenyum.


"Udah sini dulu," Alice memaksa Edward.


Dengan terpaksa Edward pun mendekati wajahnya, dan Alice langsung menempelkan tangannya ke kening Edward.


"Okehh, panasnya udah turun, sekarang makanlah dengan banyak, habis itu minum obat sekali lagi!" perintahnya selayak seorang ibu yang memerintah anaknya untuk makan dan minum obat.


"Baiklah, Kau sudah seperti Mama saja, cerewet banget," gumamnya sambil memajukan mulutnya.


"Aishhh, apa kau lupa, Kau nikah dengan siapa?" katanya menyombong.


"Ahhh, iya aku ingat, Aku menikah dengan seorang preman, hahaha.…" jawabnya sambil tertawa.


"APA!!!" kagetnya Alice.


"Sudah sudah sudah, kapan makannya aku jika kau membawaku tawuran, bersiap-siaplah, ayo kita pergi jalan-jalan, Aku sangat bosan jika dirumah mulu," kata Edward sambil mulai mengambil makananya.


"Mau kemana?" tanya Alice.


"Sudah, bersiaplah dulu nanti kau juga bakalan tau!" perintahnya.


Alice langsung kegirangan dan berlari kekamarnya untuk bersiap-siap, sedangkan Edward langsung menikmati makananya sambil tersenyum lucu melihat tingkah Alice yang seperti anak kecil yang akan di ajak pergi jalan-jalan.


Selesai Alice bersiap-siap serta Edward juga sudah selesai dengan makannya, kini mereka pun pergi meninggalkan rumah. Edward dengan begitu manisnya membukakan pintu mobilnya untuk Alice, Ia pun langsung melajukan mobil sportnya dengan kecepatan maksimal.


"Emang kita mau kemana sih, kak?" tanyanya yang masih penasaran.


"Kau mau kemana?" tanyanya balik.


"Terserah," jawab Alice.


"Mmm, bagaimana kalau kita pergi ke toko baju?" ajak Edward.


"Ngapain kesana, toh bajuku udah banyak, baju kakak juga, nggak usah," tolaknya.


"Trus, kemana?" tanyanya lagi.

__ADS_1


"Terserah," jawabannya masih sama.


"Aishh, kalau gitu kita ketaman aja," tawarnya lagi.


"Mmm, nggak ah bosan ketaman mulu," jawabnya lagi sambil geleng-geleng.


"Aishhh, kesabaranku benar-benar sedang diuji," fikirnya sedikit kesal, namun dengan terpaksa Edward tersenyum kecut.


"Jadi kamu maunya kemana?" tanyanya sambil tersenyum.


"Terserah!!" jawab Alice kesal.


"Ngga ada tempat yang namanya terserah!" jawab Edward sedikit kesal.


"Loh, kenapa kakak jadi marah gitu," nyolot Alice.


"Mmm, bukan begitu, baiklah… Jadi kita mau kemana?" ngalahnya dan terpaksa menahan emosi sambil terus menyetir.


"TERSERAHHHHHH!!" jawab Alice emosi.


"AAAAAAKHHH," teriaknya putus asa.


"Aah aah ahh emosi, emosi!!! kalau begitu, kita pulang aja!!" kata Alice marah.


"Kenapa malah dia yang jadi marah," gumamnya dengan nada berbisik.


"Aishh, dasar betina," kesalnya.


"Apa? Coba ulang perkataan, kakak!" kata Alice yang sedikit mendengar ucapan Edward.


"Ahhh, tidakk, Aku cuma bilang, gimana kalau kita ke Mall aja?" tanyanya mengalihkan pembicaraan.


"Hufftt, untung saja dia setuju kalau tidak yang ada perang dingin lagi," ucapnya legah.


****


Setibanya mereka di parkiran Mall, Edward dengan perhatian membukakan pintu mobil buat Alice.


"Ayo," katanya sambil menjulurkan tangannya pada Alice.


Alice pun menggapai tangan Edward dengan senyum begitu manis. Mereka berjalan bergandengan tangan sambil tersenyum, terkadang Alice sedikit tertawa kecil karena bahagia.


"Kenapa kau tertawa?" tanya Edward.


"Ntahlah," jawabnya sambil tersenyum.


Mereka mulai memasukki satu persatu toko yang ada disana, dari toko perhiasan, toko sepatu, tas, baju, sayangnya tak ada satupun yang mereka tenteng dari setiap toko tersebut.


"Aishh, kakiku sangat lelah karena terus berjalan," keluh Edward sambil duduk di dekat kursi yang ada di Mall.


"Apa kau tidak capek?" tanyanya sambil terus memegang kakinya.


"Tidak," jawab Alice sambil tersenyum.


"Kenapa tidak ada satupun yang mau kau beli?" tanyanya lagi sambil menarik tangan Alice sehingga Alice pun terduduk di samping Edward.


"Aku sangat tidak tertarik," jawabnya.

__ADS_1


Alice terus celengak- celenguk, hingga pada akhirnya matanya tertuju pada salah satu stand es krim yang tak jauh dari mereka duduk.


"Aku maunya itu!!" katanya sambil menunjuk stand es krim.


"Es krim?" tanya Edward bingung.


"Mmmm," jawabnya mengangguk sambil tersenyum.


"Aishh… Pergilah beli aku tunggu disini saja," kata Edward sambil memberikan kartu ATM nya pada Alice.


"Baiklah," jawabnya girang.


Dengan semangat Alice pun berlari kecil ke arah stand tersebut, karena disana sangat ramai terpaksa ia harus ikut mengantri hanya untuk mendapatkan es krim itu.


Sambil mengantri, Ia terus memantau Edward yang masih duduk sambil memainkan hp nya, sesekali ia memandang ke arah keramaian.


"Siapa yang dia perhatikan, Aku kan disini," gumamnya sedikit kesal melihat Edward.


"Apa-apaan ini, kenapa dia tak melihatku," katanya semakin kesal.


Tanpa sadar, Ia sudah berada di depan stand tersebut namun ia terus memandang lelaki yang diujung sana.


"Mbakk mau pesan berapa?" tanya penjual. Sayangnya Alice tak mendengarkannya.


"Mbakk… Mbakkk," panggil si penjual.


"Ahh, iya, Aku mesan dua ya, satu rasa vanilla dan satu lagi rasa coklat," pesannya.


Setelah selesai ia membeli es krim, Ia pun berencana akan kembali ke Edward, namun, langkahnya terhenti karena ia melihat Edward sedang berbicara dengan seseorang yang tak asing baginya.


"Kenapa disaat seperti ini, Dia harus datang," gumamnya sedikit kecewa.


Dengan keberaniannya, Ia pun melanjutkan jalannya dan mendekati dua orang yang tengah berbicara.


"Kenapa mereka begitu tegang sekali wajahnya, apa yang mereka bicarakan?" Ia sangat penasaran dan dengan semakin berani untuk mendekat.


"Apa yang kalian lakukan disini?" tanyanya berani.


Edward yang melihat Alice berdiri didepannya sangat kaget, wajahnya sedikit pucat, Ia pun sontak langsung berdiri dan memegang tangan Alice yang masih memegang es krim.


"T-tidak ada, apa kau sudah selesai membeli eskrimnya?" tanyanya.


"Semoga Alice tak mendengar apa yang Luna katakan," batinnya sedikit gelisah.


"Kenapa dia bisa disini? Kenapa wajahmu begitu pucat?" tanya Alice yang semakin penasaran.


"Aaaaah, yayayaya, Aku akan pergi dan ingatlah Edward apa yang aku katakan tadi!!" kata Luna sambil tersenyum licik dan pergi meninggalkan mereka berdua.


"Apa yang sudah kalian bicarakan?" tanya Alice.


"Tidak ada, jangan hiraukan dia," jawab Edward.


"Apa kau menyembunyikan sesuatu padaku?" tanyanya terus.


"Tidak, Alice! percayalah," jawabnya sambil meyakinkan Alice.


"Maafkan aku, Alice. Tidak mungkin jika aku mengatakannya padamu, Aku tak mau membuatmu merasa tersiksa lagi," batinnya sedikit ragu.

__ADS_1


"Mmm, baiklah, ini untukmu," katanya sambil memberikan es krim rasa vanilla untuk Edward.


Merekapun duduk dan menikmati es krim. Setelah itu, Merekapun memutuskan untuk pergi nonton ke bioskop yang ada di Mall.


__ADS_2