
"AYO KITA PULANG!!" Alice menarik tangan Edward untuk pergi meninggalkan hotel tersebut.
Sedangkan Luna yang masih di dalam kamar hotel hanya bisa terdiam dengan penuh rasa kesal atas apa yang dilakukan Alice padanya. Rian langsung berlari menyusul Alice yang sudah pergi membawa Edward menjauh dari hotel.
"Apa kalian akan pulang bersama?" tanyanya setelah tiba di dekat dua insan yang kini hanya saling diam.
"Tidak, Aku akan pulang denganmu!" ucap Alice penuh penekanan sambil terus menatap sinis Edward.
"Tidak usah dengarkan, Kau pulang saja duluan, dan terimakasih kau sudah mambawanya kemari," kata Edward membuka suara yang sedari tadi hanya terdiam sambil memegang tangan Alice.
"Mmm,baiklah…"
"Aku tidak mau satu mobil dengan orang ini!" ucap Alice sedikit kesal.
"Aish, sudahlah lebih baik kau pulang dengan suamimu dan kalian harus selesaikan masalah ini secepatnya."
Rian langsung pergi meninggalkan mereka berdua. Kini mereka hanya berdua yang hanya ditemani dengan ke heningan malam yang sudah cukup larut juga.
"Ayo kita pulang," Edward mencoba untuk memecahkan suasana yang cukup mencekam ini.
"Pulanglah… Aku akan pulang sendiri," jawab Alice yang masih dengan perasaan kecewanya.
"Aish, oke oke, Aku salah dan aku sadar itu, tapi mari kita selesaikan masalah ini dirumah. Hari sudah semakin larut dan aku takkan membiarkanmu pulang sendirian selarut ini!"
Alice yang sejujurnya juga takut untuk pulang sendirian, apalagi hari yang sudah semakin larut akan sangat sulit rasanya untuk mencari transportasi umum. Serta jalanan yang sunyi dan gelap yang hanya di temani oleh cahaya bulan yang tak seberapa itu tidak menutup kemungkinan jika ia tidak takut.
"Aku mohon, masuklah…" pinta Edward yang sudah membuka pintu mobil untuk Alice. Alice pun dengan terpaksa masuk kedalam mobil dan merekapun pulang kerumah.
Suasana yang masih sama, Alice yang setibanya dirumah tanpa mengeluarkan kata apapun ia langsung masuk kedalam rumah dan masuk kekamarnya dan langsung menguncinya, Edward yang mencoba untuk menjelaskan semuanya pada Alice hanya mampu berdiri didepan pintu kamar Alice sambil terus menggedor-gedornya.
"Alice, plis buka dulu sayang… Aku bisa jelaskan semuanya."
"Tidak usah!! Aku hanya ingin sendiri dulu!" teriaknya dari dalam kamar.
"Aku mohon bukalah dulu."
__ADS_1
"Apalagi??" katanya langsung membuka pintu kamarnya. Dengan cepat Edward langsung masuk dan mengunci kamar itu.
"Ah, kenapa kakak menguncinya?"
"Bukankah kau tadi juga menguncinya?" katanya sambil berjalan ke arah Alice sehingga membuat Alice sedikit takut dan berjalan mundur.
"A-pa yang kakak lakukan?"
"Tidak ada, Aku hanya ingin menjelaskan semuanya pada istriku!"
"Y-aa sudah jelaskanlah, jangan membuatku takut!" katanya semakin takut dan tubuh Alice sudah berada di ujung tembok, karena merasa tak bisa kemana-mana lagi, Alice pun menutup matanya sambil melipatkan kedua tangannya kedadanya.
Edward yang melihat Alice seperti itu, hanya bisa tersenyum dan langsung mencium pucuk kepala Alice dan memeluknya. Alice yang merasa di cium dan dipeluk langsung membuka mata dan ia sudah berada di dalam pelukan Edward.
"Maafkan aku…" lirihnya sambil memeluk Alice.
"Kenapa kau bisa bersamanya?"
"Saat aku menuju pulang kerumah, tiba-tiba ada dua orang menjegatku dijalan lalu mereka menghajarku, itu sangat sakit!" katanya sedikit manja.
"Aah aah, sekarang kau yang membuatku sakit!"
"Aaa, m-aafkan aku!" katanya sambil menutup mulutnya.
Edward yang merasa suasana kini sudah mulai membaik daripada tadi, Ia langsung tersenyum dan memeluk Alice kembali.
"Bukan tubuhku yang sakit, tapi hatiku yang sakit saat melihatmu seperti ini. Aishh, sungguh maafkanlah aku."
"Setelah aku di hajar oleh mereka, Mereka membawaku ke hotel itu dan ternyata dua orang itu adalah suruhan wanita itu. Disaat aku hendak pergi, wanita itu memberiku minuman yang ternyata sudah ia berikan obat perangsang padaku!"
"Aapaaa!!! Kenapa kau hanya berdiam saja? Dan kenapa ponsel mu tidak bisa dihubungi saat itu?"
"Dengar lah dulu. Aku mencoba untuk terus menahannya, dan masalah ponselku aku lupa mengisi daya dan ponselku saat itu lowbet dan mati. Dan setelah itu aku sudah tidak sadar lagi!"
"Apa yang kalian lakukan setelah itu?"
__ADS_1
"Mmm, a-nu…"
"Jawablah!"
"Kami melakukannya. Tapi aku berani bersumpah, saat itu aku mengira dia adalah kau, dan setelah aku sadar ternyata itu hanya ilusi ku saja, Aku benar-benar tidak mengira bahwa itu adalah dia!" jelasnya secara jujur sehingga membuat hati Alice sakit.
"Menjauhlah dariku!!" katanya mendorong tubuh Edward sedikit keras.
"Aku benar-benar tidak menginginkan itu terjadi, Alice. Percayalah."
"Stop!! Jangan katakan apapun lagi, Aku sangat muak mendengarkannya. Hiks hiks."
"Maafkan aku, sungguh maafkan aku," katanya penuh penyesalan sambil memeluk Alice.
"Jangan sentuh aku!! Istri mana yang akan santai saja saat mendengar penjelasan yang begitu menyakiti hatinya yang bahkan itu terlontar dari mulut suaminya sendiri! Apa yang harus aku lakukan? Membunuhmu atau membunuh diriku sendiri? katakanlah katakan! hiks hiks."
Suasana yang kini sudah semakin panas, Edward terus memeluk Alice dengan kuat, sedangkan Alice yang terus berusaha untuk melepaskan pelukan Edward namun usahanya terkalahkan dengan kekuatan Edward yang lebih besar daripadanya.
"Maafkanlah aku, jika ada kata yang lebih tinggi dari kata maaf, maka kata itulah yang akan aku ucapkan padamu," katanya yang semakin penuh penyesalan.
Serta Edward menitikkan air matanya, Alice yang melihat Edward yang begitu merasakan penyesalan yang amat sangat dalam, sehingga membuat hatinya menyerah untuk marah pada suaminya itu.
"Berjanjilah bahwa kau takkan terjebak lagi olehnya," jawab Alice yang kini sudah melemah mendengar ucapan Edward yang penuh penyesalan.
"Yaa… Takkan kubiarkan itu terjadi!"
"Terimakasih kau sudah percaya padaku, I love you so much."
"I love You too." jawabnya sambil membalas pelukan Edward.
Meskipun Edward yang sudah berkata jujurnya padanya, ntah kenapa Alice masih memiliki perasaan yang tidak enak, ada saja yang menganggu fikirannya dan hatinya.
"Bagaimana jika wanita itu datang dan memintamu bertanggung jawab?" tanyanya tiba-tiba.
"Tidak mungkin terjadi, percayalah." jawab Edward sambil menatap dan memegang pipi Alice sembari tersenyum.
__ADS_1
Seketika perasaan yang tidak enak, kini berubah dengan perasaan yang sangat gugup di hati Alice, karena Edward terus menatap wajahnya dan perlahan ia mendekatkan wajahnya pada Alice, semakin lama wajah mereka semakin mendekat dan akhirnya, Edward mencium bibir Alice yang kini sudah menjadi candunya itu.