DELET

DELET
Untuk Pertama Kalinya Rian Berkunjung.


__ADS_3

Matahari kian memberikan panas yang luar biasa, penghuni rumah itu masih dalam posisi di kamar masing-masing, lain halnya Alice yang harus bertengger di kamar Edward.


Canggung, malu, ragu, semuanya bercampur aduk. Edward yang sedari tadi sibuk dengan laptopnya karena pekerjaan sedangkan Alice yang sedari tadi hanya duduk termenung di tepi ranjang, bingung mau berbuat apa, jikapun keluar ia pasti akan di tanya-tanya oleh dua nyonya yang ada di luar sana.


"Kenapa kau memandang ku begitu?" tanya Edward yang masih fokus dengan laptopnya.


"Tidak ada, aku hanya bosan didalam kamar ini," kata Alice sambil melipat kedua kakinya sambil bersandar.


"Keluarlah jika kau bosan." Edward menyuruhnya keluar kamar.


"Tidak, aku terlalu takut untuk berjumpa ibu dan mama, aishhh… Kenapa rasanya ini begitu menyiksa ku," katanya frustasi.


Edward yang sedari tadi fokus dengan laptopnya, kini ia menatap Alice yang sedang menutup wajah dengan menyembunyikan di kakinya.


"Aaahhhh… Apa yang harus aku lakukan disini? Aku sangat bosan, hp ku malah dikamar ku," katanya semakin frustasi.


📞📞" Hans, tolong kau selesaikan file yang ku kirim itu," Edward menelvon sekretasi Hans, lalu ia menghentikan aktifitasnya.


"Ayo keluar… " ajaknya sambil berdiri.


"Mmmm," kaget Alice sambil memandang Edward.


"Bukankah kau bosan disini, ayo keluar," ajaknya lagi sambil berlalu keluar.


Benar saja, disaat mereka baru hendak menginjakkan kaki ketangga, dua nyonya besar sudah langsung melemparkan pertanyaan-pertanyaan yang membuat kepala Alice pusing, rasanya ingin sekali ia kabur saat itu, sayangnya ia keburu masuk kedalam kandang singa yang bahkan ia tak bisa untuk kabur lagi.


"Ayo kita makan siang bersama," kata bu Sumoto.


Alice sedikit lega, karena dua nyonya itu menyudahi pertanyaan-pertanyaan yang ntah apa. Mereka pun duduk dimeja makan untuk makan siang bersama.


"Tin tong… " Seseorang menekan bel rumah.


"Biar mama saja yang buka," kata nyonya Bram sambil berdiri dan membuka pintu.

__ADS_1


"Selamat siang, tante." Sapa Rian sambil tersenyum.


"Riann," kata nyonya Bram tersenyum bahagia.


Nyonya Bram pun membawa Rian kedalam untuk makan siang bersama dengan mereka.


"Lihatt, siapa yang datang," katanya sambil menggandeng tangan Rian.


"Kak Rian," kata Alice sambil tersenyum.


"Hai, Alice, maaf aku baru bisa mampir." Sapanya ramah.


"Ayo kita makan siang bersama," ajak pak Sumoto sambil mempersilahkan Rian duduk.


"Terimakasih paman." Ucapnya sambil duduk di samping Alice.


"Ayo dimakan," suruh bu Sumoto.


"Cihh, apanya yang lucu.." Edward merasa kesal melihat Alice tertawa.


Selesai makan siang, Alice langsung membersihkan meja makan, dan yang lain pada duduk di ruang tamu sambil bercengkrama.


"Haii broo, Gimana kabarmu?" tanya Rian yang duduk disamping Edward dan merangkul bahunya.


"Seperti yang kau lihat," jawab Edward sambil melepaskan rangkulan Rian.


"Yakkk, kau memang tidak berubah ya, sampe sekarang masih juga dingin. hahaha." kata Rian sambil tertawa.


Alice yang datang dari dapur lalu ikut duduk dengan yang lain, tepatnya Alice duduk di samping Rian. Edward yang melihat Alice hendak duduk di samping Rian dengan sigap ia langsung menyuruh Alice untuk duduk disampingnya.


"Wahhhh ada yang cemburu nih," goda Rian sambil tersenyum.


Alice hanya bisa tersenyum lalu pindah ke samping Edward dan duduk di sampingnya. Tak selesai disana, Edward pun langsung merangkul bahu Alice ntah ini hanya salah satu sandiwaranya ntahlah Alice begitu bingung dengan tingkah Edward.

__ADS_1


"Meskipun kau emang miliknya, tapi hatiku rasanya begitu sakit dan tidak iklas melihat kau dekat dengannya." Hati Rian sedikit terguncang atas apa yang barusan ia lihat.


****


Tak terasa hari pun sudah sore, Mereka semua masih duduk sambil ngobrol dan tertawa bersama di ruang tamu. Moment yang sebelumnya tak pernah terbayangkan oleh Alice, kini benar-benar nyata didepan matanya, hatinya begitu bahagia melihat orang tua dan mertuanya tertawa lepas bersama.


Meskipun perlakuan Edward yang saat ini hanya sekedar sandiwara, ia takkan menyia-nyiakan kesempatan ini untuk terus dapat berdekatan dengan Edward. Meskipun perlakuan manis Edward hanya sampai besok, Alice tak mempermasalahkannya, selagi ia bisa berdekatan seperti ini ia akan terus ikut bermain dalam kesandiwaraan ini.


Ia juga bingung kenapa belakangan ini ia terus ingin berada didekat Edward, apa mungkin ia sudah gila? atau karena benih cinta yang sudah mulai tumbuh? ntahlah hanya Alice dan hatinya saja yang tau untuk saat ini.


"Kalau begitu aku balik ke apartemen dulu ya tante, paman." Pamit Rian untuk pulang.


"Kenapa kau tidak menginap disini saja?" tanya nyonya Bram.


"Ahhh, tidak usah tan, ada yang harus aku urus juga," katanya sambil tersenyum.


Rian pun menyalami pak Bram, pak Sumoto, nyonya Bram dan bu sumoto. Lalu ia berpamitan dengan Alice dan Edward.


"Ingatlah, kau harus bersifat manis padanya," katanya berbisik dengan Edward.


"Apa maksud mu?" tanya Edward kaget.


"Ahh, tidak ada… Kau harus bersifat lembut dengannya, jangan kasar-kasar," katanya sambil mengedipkan sebelah matanya lalu tersenyum.


"Aishhhh, dasar anak itu," kesal Edward.


"Kalian ya udah gede masih juga berantem kayak anak kecil, " kata nyonya Bram tersenyum.


"Edward tu tan. Wlekkk," kata Rian sambil menjulurkan lidahnya.


"Heii kemari kau, biar kupatahkan lidahmu," kata Edward kesal.


"Lariiiiiiiiiii! " Rian langsung berlari keluar rumah. Dan semua yang ada disana tertawa karena melihat Rian lari terbirit-birit.

__ADS_1


__ADS_2