DELET

DELET
Kembalinya Luna Membuat Cemburu.


__ADS_3

Tiga bulan setelah kejadian malam itu mereka semakin lengket bak pasangan yang benar-benar saling jatuh cinta. Setiap hari Alice selalu mendatangi Edward ke kantornya hanya sekedar untuk mengantarkan makan siang, dan setiap hari pula mereka banyak menghabiskan waktu bersama.


Bak sejoli yang sedang saling jatuh cinta, Mereka terus memadu kasih dengan berlebel halal, membuat mereka sampai lupa bahwa masih ada satu wanita yang masih ada di hatinya Edward.


"Aku lapar," kata Edward yang sedang berbaring di paha Alice.


"Kakak mau makan apa?" tanya Alice tersenyum sambil ngelus kepala Edward.


"Apapun yang kau buat aku akan memakannya," jawabnya sambil tersenyum.


"Mmm, baiklah kalau begitu."


Alice beranjak kedapur untuk memasak makanan buat Edward, sedangkan Edward masih berbaring dan memainkan hpnya.


📩📩 "Sayang, Aku akan tiba di indonesia jam 5 sore ini, apa kau tidak lupakan?" Luna.


"Luna? Astaga aku hampir lupa kalau hari ini dia akan kembali, aishhh." Batinnya.


Perasaannya begitu aneh, disisi lain dia bahagia karena wanita yang selalu di hatinya sebentar lagi akan kembali, tetapi disisi lain ia takut akan membuat Alice merasa terkhianati. Tak bisa di pungkiri ia sangat mencintai Luna tapi ia juga takut akan kehilangan Alice.


📩📩 "Kenapa kau hanya membaca pesanku? Apa kau tidak senang aku kembali?" Luna.


📩📩 "Ahh bukan sayang, Aku sangat senang kau akan kembali, aku akan menjemputmu di bandara." Edward.


📩📩 "Baiklah aku akan menunggumu, aku kangen kau sayang." Luna.


📩📩 "Aku juga sangat merindukanmu sayang." Edward.


Karena asik berkirim pesan dengan Luna membuatnya tak sadar bahwa sedari tadi Alice memanggilnya.


"Lagi ngapain sih kak, Aku panggilin dari tadi nggak nyaut-nyaut," kata Alice kesal sambil berdiri didepan Edward.


"Ahhh t-tidak, sekretaris Hans menghubungi ku," jawab Edward berbohong sambil menyembunyikan hpnya.


"Ohhhh, yaudah itu makanannya udah jadi," kata Alice.


"Mmmm, yasudah ayo kita makan bareng." Ajak Edward sambil menarik tangan Alice.


"Sepertinya ini enak," kata Edward melihat makanan yang ada dimeja makan.


"Tentu saja enak, Aku membuatnya spesial buat suamiku," jawab Alice tersenyum.


Mendengar akan hal itu, lagi-lagi membuatnya merasa gundah karena teringat akan pesan dari Luna tadi, haruskah ia berhenti untuk mencintai Luna dan menetap di Alice? atau haruskah ia tetap terus menyembunyikan ini dari Alice? sejak tiga bulan kebelakang ia dan Luna memang sangat jarang berkontak dan Edward mengatakan pada Alice bahwa hubungannya dengan Luna saat itu juga sudah berakhir. Namun, bagaimana mungkin ia bisa mengatakan sesungguhnya tentang perasaannya yang belum sepenuhnya mencintai Alice.


"Heii kenapa menung?" tanya Alice mengagetkan Edward.


"Aaa tidak ada, aku sangat lapar bisakah kau mengambilkan makanan itu buat ku?" pinta Edward.


Alice pun mengambilkan nasi buat Edward dengan perasaan yang begitu aneh, bagaimana pun insting seorang istri itu lebih tajam meskipun suami sudah berusaha keras untuk menutupi darinya.

__ADS_1


"Apa yang dia fikirkan? Apa ini ada sangkut pautnya dengan wanita itu?" batinnya sambil menatap Edward.


Selesai makan tanpa mengucapkan satu katapun Edward langsung berlalu meninggalkan Alice yang sedang membersihkan meja makan.


"Tidak seperti biasanya dia begini, ahh sudahlah lebih baik aku tidak usah berfikiran yang aneh-aneh," katanya sambil melanjutkan aktivitasnya.


Tak lama kemudian…


"Aku pergi dulu mungkin aku pulang agak larut, jadi kau tidak usah menungguku," katanya sambil berjalan keluar.


"Mau kemana?" tanya Alice sedikit ragu karena meskipun Edward sudah memperilakukannya bak seorang wanita, namun Edward masih sangat tidak suka jika Alice ikut campur tentang urusannya.


"Ke kantor…" jawabnya dingin dan berbohong.


Edwardpun keluar rumah dan langung melajukan mobilnya, sedangkan Alice yang masih berdiri di depan pintu rumah sambil menatapi kepergian sang suami dengan perasaan gundah.


******


"Berapa lama lagi kita akan sampai?" tanya Luna kepada asistennya.


"Sekitar 30 menit lagi," jawab sang asisten.


"Kalau begitu aku ingin beristirahat sebentar, bangunkan aku jika sudah sampai!" perintahnya dingin.


Sedangkan Edward, saat ia sedang berada di lampu merah, tiba-tiba ia melihat sebuah toko bunga ia pun langsung menuju toko itu untuk membeli bunga untuk Luna kekasih yang selama ini ia rindukan.


"Ini tuan pesanan anda," kata pelayan sambil memberikan bunga yang sudah ia pesan.


"Oh iya, ini sekalian bungkuskan juga, kreasikanlah seunik mungkin," katanya sambil memberikan bunga yang ia pegang, sang pelayan pun langsung membungkuskan bunga satu lagi.


Setelah ia membeli bunga, Edward langsung menuju mobilnya dan ia meletakkan bunga untuk Luna berada di kursi sebelahnya, sedangkan bunga untuk Alice ia meletakkan di kursi belakang.


Setibanya di bandara, ia langsung melihat wajah seorang wanita yang selama ini ia rindukan. Dengan langkah yang begitu cepat wanita itu berjalan ke arahnya dan langsung berlari ke kepelukan Edward.


"Aku sangat merindukanmu," kata Luna sambil memeluk Edward.


"Aku juga sangat merindukanmu," jawab Edward sambil mengelus punggung Luna.


"Ini buat mu." Edward memberikan bunga yang tadi ia beli untuk Luna.


"Wahhh tak biasanya kau seperti ini, terimakasih sayang," katanya bahagia sambil memeluk bunga yang Edward bawa.


" Mmm aku tidak sengaja melihat toko bunga," kata Edward sambil tersenyum.


"Apa kau sudah makan?" tanya Edward.


"Belum," jawab Luna.


"Ayo kita pergi makan, Kau mau makan apa?" tanya nya lagi.

__ADS_1


"Mmmm, Aku ingin makan dirumahmu," jawab Luna.


"Deggg…" jantungnya tiba-tiba ingin berhenti berdetak.


Apa yang harus ia katakan pada Alice jika Luna bersikeras kerumahnya?


"Kenapa kau terdiam?" tanya Luna.


"Mmm tidak," jawabnya.


"Apa kau tidak ingin makan di restaurant saja?" tanya Edward.


"Tidak, Aku hanya mau makan dirumahmu pokoknya, atau aku akan ngambek!" katanya sedikit marah.


"Aishhh, baiklah baiklah, ayo kita kerumah ku," ajaknya pasrah.


Merekapun menuju ke rumah Edward, untungnya selama di dalam mobil Luna tidak menyadari keberadaan bunga yang sudah disiapkan Edward khusus buat Alice.


"Ayo kita turun," kata Edward saat mereka tiba di halaman rumahnya.


"Semoga Alice tidak marah," batinnya sedikit ragu.


"Itu seperti suara mobil kak Edward," kata Alice girang yang langsung berlari keluar untuk membukakan pintu.


Saat ia membuka pintu dan langsung berdiri di halaman dengan senyum yang ceriah karena ingin menyambut sang suami, namun disela senyumnya, tiba-tiba dunianya berasa di sambar petir setelah ia melihat bahwa suaminya tak pulang sendirian namun ia pulang dengan kekasihnya yang selama ini Alice mengira bahwa mereka benar-benar sudah saling mengakhiri.


"Kenapa kau melihatku begitu? Apa kau kurang senang dengan kepulanganku?" tanya Luna sambil mengandeng tangan Edward dan tersenyum licik.


"Aissssh, tidak…" jawab Alice ketus dan langsung masuk kedalam rumah.


"Apa dia marah?" batin Edward yang melihat perubahan sikap Alice.


"Heiii, Aku lapar buat kan aku makanan yang paling enak!" perintah Luna bak nyonya dan pembantu.


"Kenapa kau begitu menyusahkan orang saja," kata Alice kesal.


"Sayang, apa kau tidak mengajari wanita ini bagaimana cara bersikap sopan dengan orang?" kata Luna sambil menatap Edward.


"Buatkanlah makanan untuknya," perintah Edward kepada Alice.


Dengan terpaksa Alice pun memasak kembali untuk wanita kesayangan suaminya itu.


"Nah makananmu," katanya.


"Suapkan aku sayang, Aku rindu suapan mu!" perintah Luna, dengan maksud untuk memanas-manaskan Alice.


"Baiklah," jawabnya sambil mengambilkan makanan buat Luna.


"Segitu cinta nya kah kau dengan wanita itu? Sampai kau lupa bagaimana dengan perasaanku." Batin Alice ketika melihat Edward yang begitu manis menyuapi Luna.

__ADS_1


__ADS_2