
"Thanks ya kak udah nemani jalan-jalan pagi ku…" kata Alice.
"Anturannya aku dong yang bilang makasih. kalau nggak ada lau yang menemaniku mungkin aku akan tersesat di kampung ini trus aku diculik sama cewek-cewek dikampung ini secara aku kan ganteng," canda Rian.
"Hahahahaha kegeeran ihhhhh…" tawa Alice.
"Udah jam 10, Balik yuk kak… Aku takut ibu nanti nyariin aku karna pulangnya kelamaan," ajak Alice.
"Mmm okehh… Biar ku antar ya." Basa Rian.
"Okeh setujuuuu…" jawab Alice tersenyum.
Merekapun berjalan pulang, karena Rian sudah berjanji akan mengantarkan Alice, jadi sia pergi ke rumah Alice terlebih dahulu. Selama di perjalanan mereka terus bersenda gurau dan tertawa bersama-sama.
Setibanya mereka di rumah Alice, Rian langsung Pamit dan pulang.
"WOIIIII… HAHAHA.." teriak Rian yang masuk kedalam kamar Edward tanpa pamit.
"AISHHHH… Udah masuk nggak permisi malah pake acara ribut lamu… Dasar!!" jawab Edward yang lagi membaca buku di meja kerjanya.
"Iye iye. Maaf dah kalau begitu, Btw ane lagi senang bangett cuiii… Pagi-pagi udah ditemani ama cewek cantik beut dah," kata Rian sambil baring ke atas kasur.
"Sejak kapan kampung ini ada cewek cantik," ketus Edward dingin.
"Makanya sekali-kali loe keluar dah dari kandangg nihhh. Lirik tu cewek-cewek kampumg sini, Pasti Lu bakalan kepincut dah," ucap Rian.
"Ogah dahh.… Lagian saya sudah punya Aluna…" jawab Edward.
"Aelah dasar batu es loe… Sama sepupu ndiri masih pake saya lamu saya kamu." Ketus Rian.
Tengah asik mengobrol. Tiba-tiba pak Bram masuk kekamar Edward…
"Tok tok tok…" Pak Bram mengetuk pintu.
"Buka aja…" jawab Edward yang masih dengan posisi awalnya.
Pak Bram pun membuka pintu dan masuk kedalamnya.
"Mmm… Ada apa pa?" tanya Edward.
"Tidak… Papa kesini cuma mau jumpa dengan Rian," jawab pak Bram.
"Kenapa paman mencari ku?" tanya Rian yang merasa dicari.
"tidak… Paman hanya ingin mengatakan ntar malam kau juga harus ikut ke acara pertemuan keluarga ini dengan keluarga pak Sumoto ya," jelas Pak Bram.
"Paaa…" leluh Edward.
"Edward…" ucap Pak Bram. Rian yang merasa aneh dengan ekspresi Edward…
"Emang ada acara apa paman?" tanya Rian.
"Paman akan menjodohkan Edward dengan anak pak Sumoto," jawab pak Bram.
"Whatt? Seriusann pamann?" kaget Rian. Pak Bram hanya tersenyum lalu mengangguk.
"Okelah kalau begitu paman tinggal dulu. Ingat lau harus juga bersiap-siap nanti malam!!" kata pak Bram seraya meninggalkan kamar.
"GILA LU BROOOOO, NGAKUNYA PACARAN TU SAMA MODEL SEKSI ALUNA… EHH TAUNYA MAU NIKAH AMA NI ORANG KAMPUNG WAHHHH…" kata Rian terkejut.
"AISHHH… Sudah lah aku muak mendengarkannya," ucap Edward yang langsung berdiri hendak pergi.
"Eh mau kemana loe??" tanya Rian.
"Nggak perlu tauuu!!" jawab Edward dingin lalu keluar kamar.
"INGAT… CALON MANTEN JANGAN PULANG LAMBAT!!" teriak Rian dari dalam kamar.
Setibanya dirumah…
"Pak, Alice boleh ikut latihan karate ya sore ini. Nggak akan lama kok." Pinta Alice sambil duduk dikursi ruang keluarga.
"Tidak bisa Alice. Apa kamu lupa malam ini kita akan ngadakan pertemuan dengan keluarga pak Bram. Lagian kamukan juga udah sabuk hitam kenapa masih juga ikut latihan karate segala," jawab pak Sumoto.
"Bukan Alice ikut latihan, tapi kan Alice yang ngajar anggota-anggota lain," alasan Alice.
__ADS_1
"Pokoknya tidak bisa!! Kamu harus bersiap-siap agar terlihat cantik saat berjumpa dengan calon suami dan mertua mu!!" kata pak Sumoto seraya meninggalkan Alice yang sedang duduk di ruang keluarga.
"Huftttt… Sabarlah Alice sabarrrr… " batin Alice. Kemudian ia berdiri dan berjalan ke kamarnya.
Edward yang keluar hendak menjumpai Aluna dengan maksud ingin mengatakan soal perjodohan ini. Ia sudah sampai disalah satu Cafe yang sudah ia janjikan kepala Aluna untuk berjumpa. Tak lama ia disana Aluna datang lalu berlari menghampur ke kepelukannya.
"Bagaimana aku harus mengatakannya?" batin Edward.
"Kamu kenapa sayang?" tanya Luna sambil duduk di sebelah Edward sambil
tersenyum.
"Mmm… Ti-tidak apa-apa. Kenapa kau begitu cantik harii inii?" jawab Edward mengalihkan sambil mencubit pelan pipi Luna.
"Hahah… Aku kan cantik selalu…" Pd Luna.
"Ohh iya, ntar malam aku akan pergi ke Australia sayang… Ada job disana selama tiga bulan kamu nggak papakan aku tinggal dulu?" kata Luna memberitahu.
"Hah? Kenapa mendadak begini?" kaget Edward.
"Nggak tau juga." Jawab Luna sambil tersenyum dan mengangkat bahunya.
"Bagimana jika nanti aku merindukanmu?" ucap Edward sambil masang wajah yang cute.
"Aduhhh… Imutttnya kekasihku, sini peluk dulu…" jawab Luna sambil merenggangkan kedua tangannya lalu dengan cepat Edward memeluk erat kekasihnya.
"Kalau kamu rindu, Kamu bisa menyusulku disana bukan." Ucap Luna sambil mengelus punggung Edward.
"Tiga bulan? ahhh… Lebih baik aku urungkan saja niatku untuk mengatakan masalah pernikahanku kepada Luna." Batin Edward.
"MMmm baiklahh…" jawab Edward sambil melepas pelukannya lalu mencium Luna.
"Cupp… " ciuman singkat mendarat di bibir Luna. Ia tersenyum dan membalas ciuman itu.
"Cupp…" balasnya.
"Kalau begitu… Aku tinggal dulu ya. Aku harus bersiap-siap," pamit Luna.
"Mm oke… Kamu hati-hati." Jawab Edward.
"Aishhh… Bagaimana aku akan mengatakan padanya?" ucap Edward putus asa. Ia pun beranjak dari tempat duduk dan pergi meninggalkan Cafe tersebut.
*Malam pertemuann…
"Bu… Semua makan sudah siap?" tanya pak Sumoto yang datang menemui bu Sumoto di dapur.
"Sudah Pakk…" jawab Bu Sumoto.
"Apa Alice juga sudah bersiap-siap?" tanya pak Sumoto lagi.
"Mmm… Sepertinya begitu… Coba deh bapak cek dikamarnya!" suruh bu Sumoto. Kemudian pak Sumoto pun pergi kekamar Alice.
"Tok tok tok…" suara ketukan pintu.
"Masuk aja…" jawab Alice yang sedang bersiap-siap didalam. Pak Sumoto pun membuka pintu.
"Wahhh… Cantikk bangett anak bapak malam ini…" kagum pak Sumoto. Alice hanya tersenyum kaku mendengarkan ucapan bapaknya.
Sedangkan dikediaman Pak Bram…
Rian berlari ke arah pak Bram yang sedang bersiap-siap…
"Paman… Maafkan aku karena aku tidak bisa ikut ke acara pertemuan malam ini." Ucap Rian.
"Lohh… Kenapa?" tanya Pak Bram kaget.
"Perusahaan papa yang di Singapur lagi mengalami kemasalahan besar paman jadi aku harus kesana untuk langsung turun tangan," ucap Rian.
"Mmm baiklah… Hati-hati lah kau nak… " jawab Pak Bram.
"Iya Paman… Sampaikan juga maafku kepada Tante dan Edward yaaa paman," kata Rian.
"Baiklah…" jawab pak Bram.
__ADS_1
Rian pun langsung pergi kebandara untuk langsung menuju ketempat tujuan. Kebetulan saat dia mendapat telvon tadi dengan cepat ia menyuruh suruhannya untuk memesan tiket pesawat kelas bisnis.
"Sudah siap?" tanya pak Bram kepada Nyonya Bram dan Edward yang sudah siap untuk berangkat.
"Pa… Mana Rian?" tanya Nyonya Bram.
"Rian pergi kesingapur Ma… Ada urusan mendadak jadi dia menitipkan pesan maaf kepada Mama dan Edward," jawab Pak Bram.
"Mmmm… Baiklah." Jawab Nyonya Bram.
"Sudah ayo… Mama sudah tidak sabar ingin berjumpa dengan calon mantu mama," ajak nyonya Bram kegirangan.
Merekapun menuju kerumah Kediamana Pak Sumoto…
"Assalammu'laikum…" ucap salam pak Bram sambil mengetuk pintu.
"Wa'alaikumussalam… Akhirnya yang ditunggu-tunggu sampai. Silahkan masuk pak." Jawab pak Sumoto sambil menjabat tangan pak Bram.
"Selamat malam jengg…" sapa nyonya Bram kepada bu Sumoto.
" Selamat malam… "jawab bu Sumoto ramah. Merekapun bercipika cipiki. Sedangkan Edward hanya berdiri dengan sifatnya yang dingin.
"kenalkan ini anak saya Edward…" kenal nyonya Bram. Edward pun dengan terpaksa memasang fake Smile dan menyalami pak Sumoto dan bu Sumoto.
"Wahh pakk ganteng banget calon mantu ibuuu," ucap bu Sumoto sambil memegang tangan Edward.
"Ohh iya.… Calon mantu saya mana nih?" tanya Nyonya Bram semangat.
"Oh iya… Alice… Alice… Turun nakk..…calon mertua mu sudah datang!!" panggil Bu Sumoto.
"Kalau begitu kita nunggu Alice turun di meja makan saja pak… " ajak Pak Sumoto.
Merekapun sudah berada di meja makan.
"Ayo Alice kau pasti bisaa…" batin Alice lalu ia membuka pintu kamar dan menuju ke meja makan.
"Wahhh… Inikah calon mantuku… Cantik bangettttttt…" ucap nyonya Bram girang sambil mendekati Alice dan memeluknya.
"Cihh… Cantik darimana coba." Batin Edward.
"Ternyata dugaanku salah… Kak Rian bukan ponakan pak Bram ini… Dia kah calon suami ku? Aishh… Kenapa wajahnya seram sekali," batin Alice sambil memandangi Edward yang juga sedang memandanginya.
"Ayo nak salim dulu sama calon mertua mu…" suruh pak sumoto. Alice pun menyalami pak Bram dan nyonya Bram.
Merekapun melanjutkan makan dan Alice duduk tepat di depan Edward. mereka saling diam dan saling bertatapan tajam.
"Kenapa dia melihat ku begitu?" fikir Alice.
"Lihat saja, Kau yang akan menanggung semua hutang-hutang keluargamu…Akan lu siksa kau…" batin Edward.
"Jadi gimana pak? kapan bisa kita segerakan saja?" tanya Pak Bram.
"Saya terserah saja pak kapan maunya." Jawab Pak Sumoto.
"Kalau begitu… Lusa saja kita adakan acaranya," kata nyonya Bram.
"Iya… Saya juga setuju itu…" ikut bu Sumoto.
"Loh… Bukannya itu terlau cepat bu?" kaget Alice.
"Tidak sayang… Lebih cepat lebih bagus bukann?" jawab Nyonya Bram.
"Mmm… Baiklah…" setuju Pak Bram dan Pak Sumoto.
Setelah selesai berunding, keluarga pak Bram pun pamit untuk pulang.
"Bersiaplah sayang… Lusa besok kau harus terlihat cantikk," ucap Nyonya Bram.
"Ba-baik Tante…" jawab Alice canggung.
"Jangan tante dong… Manggilnya Mama." Komen Nyonya Bram.
"Ahh.… Ba-baik ma…" jawab Alice semakin canggung.
" Bagussss…" jawab nyonya Bram senang.
__ADS_1
"Kalau begitu kami pamit dulu. Permisi Assalamu'alaikum." Pamit Pak Bram.
"Wa'alaikumussalam…" jawab Pak Sumoto dan Bu sumoto.