DELET

DELET
Kedatangan Dua Sahabat Yang Dirindukan.


__ADS_3

Setelah kepergian Edward dari cafe itu, Luna terus mengupat dan ia masih tetap berada di tempat ia duduk, Seseorang yang sedari tadi memantaunya dengan Edward pergi menghampirinya dengan emosi yang sudah bergejolak. Ya… Dia adalah Rian, Rian yang tidak sengaja melihat Edward dan Luna beradu argumen, sehingga membuatnya juga ikut emosi karena ancaman yang diberikan oleh Luna kepada Edward.


"Plak!!" Rian memukul meja begitu keras sehingga membuat Luna terkejut.


"Beraninya ka…" ucapnya terputus karena kaget melihat Rian yang sudah sekian tahun lamanya mereka tidak berjumpa.


Dulunya, sebelum Luna bersama Edward, Mereka adalah sepasang kekasih yang saling mencintai, namun hubungan mereka hanya bertahan beberapa bulan saja karena Rian yang saat itu harus memutuskan hubunganya dengan Luna karena Luna berselingkuh dibelakangnya, Luna yang tak terima, membalas dendam dengan cara mendekati sepupunya sendiri yaitu Edward, sayangnya hingga saat ini Edward tidak pernah mengetahui akan cerita itu.


"Kenapa? Kau kaget melihatku bisa disini?" katanya sambil duduk di depan Luna.


"A-pa yang kau lakukan disini? kenapa kau bisa disini, b-bukannya kau di Amrik?"


"Hahaha, tentu saja aku bisa disini, kenapa wajahmu pucat begini?"


"B-agaimana kabarmu?"


"Sudahlah, Aku tak ingin berbasa basi dengan mu lagi, Luna."


"Apa maksudmu?"


"Setelah kau menyakiti ku, kini kau ingin menghancurkan rumah tangga sepupuku? Hahaha, dasar wanita murahan!!!"


"Jaga omonganmu, Rian!"


"Kenapa? kenyataannya kau emang begitu!"


"KU PERINGATKAN PADAMU, LUNA. JANGAN SEKALI-KALINYA KAU MENGGANGGU KEHIDUPAN MEREKA LAGI, TERUTAMA WANITA ITU!! JIKA TIDAK, KAU AKAN TAU AKIBATNYA!!"


"AISHH, WANITA ITU WANITA ITU LAGI MEMBUAT KU MUAK SAJA!!! APA KAU MENYUKAINYA? HAHAHAH, DASAR MUNAFIKK!!"


"JAGA UCAPANMU!! MEMANG AKU MENYUKAINYA, TAPI AKU TAK MURAHAN SEPERTIMU!! BAHKAN DRAJATKU LEBIH TINGGI DARI WANITA MURAHAN SEPERTIMU!!"


Rian pun pergi meninggalkan Luna sendirian, lagi-lagi ia begitu emosi dan bahkan ia semakin membenci Alice karena dua pria yang pernah tergila-gila olehnya kini berpaling dan menyukai wanita yang sama.


"LIHAT SAJA KAU, ALICE!! AKAN KU BUAT KAU SENGSARAAAA!!" teriaknya emosi lalu pergi begitu saja meninggalkan cafe.


🌻🌻🌻🌻


"Apa kau sudah menanyakan pada Alice alamat rumahnya?" tanya Alisa yang baru masuk kedalam mobil Maya.


"Sudah," jawabnya, lalu Maya memakai kaca mata hitamnya dan langsung melajukan mobilnya.


"Berapa lama kita sampai kekota?" tanya Alisa sambil menghidupkan music.


"Katanya sekitar 3 jam," jawab Maya yang terus menyetir mobil.


Setelah itu, keadaan senyap kembali yang hanya terdengar suara music yang cukup keras dan suara mesin mobil.


🍃🍃🍃


Sedangkan dua insan yang berada dirumah masih sibuk dengan aktifitasnya masing-masing. Edward yang tengah bersiap-siap untuk berangkat ke kantor, sedangkan Alice masih beradu spatula di dapur.


"Kau masak apa?" tanya Edward sambil memeluk Alice dari belakang.


"Nasi goreng kesukaanmu," jawabnya sambil meletakkan nasi goreng kedalam piring, lalu membawanya dan meletakkan dimeja makan.


"Makanlah selagi masih panas," katanya, dan Edward pun memakan nasi goreng tersebut.

__ADS_1


"Hari ini temanku akan datang, apa kakak tidak keberatan jika mereka menginap semalam saja disini?" pintanya.


"Kenapa harus menginap?" tanyanya santai sambil terus makan.


"Dari kampung ke kota kan butuh banyak memakan waktu, kasihan jika mereka harus pulang balik dalam satu waktu, nggak papa ya, plisss plisss!" katanya terus memohon.


"Aishh, baiklah," jawabnya mengangguk.


"Yesssss, terimakasih suami aku." Alice kegirangan dan refleks mencium pipi Edward.


"Blussssh…" pipinya seketika memerah karena menahan malu.


Setelah selesai sarapan, Edward pun berpamitan untuk pergi kekantor.


"Aku mungkin hari ini akan pulang sedikit larut malam," katanya sambil berjalan ke halaman rumah.


"Mmm, baiklah." Jawab Alice santai karena ia sedikit bahagia sebab bisa menghabiskan waktunya dengan dua sahabatnya tanpa Edward.


"Hah? Kenapa kau terlihat bahagia begitu? kenapa tidak menanyakan kenapa aku pulang larut, apa kau tidak takut jika aku pulang larut karena sibuk pacaran diluar sana hah?" tiba-tiba Edward sedikit cemburu ntah kenapa sebabnya.


"Tidak, Aku yakin kau tidak akan macam-macam, sudah pergilah, hati-hatii, bye bye!" katanya sambil melambaikan tangannya ke Edward.


"Aishh," Edward menghela nafasnya begitu kasar dan langsung melajukan mobil sport merah kesayangannya itu dengan kecepatan normal.


🌸🌸🌸🌸


Tiga jam sudah mereka dijalanan, dan hingga tibalah mereka di rumah yang sangat mewah bernuansa klasik dengan halaman yang begitu luas dan dipenuhi dengan bunga-bunga yang berwarna warni.


"Benarkah ini rumahnya?" takjub Alisa yang terpesona dengan pemandangan halaman rumah yang begitu indah.


"Iya, ayo kita turun!" ajak Maya lalu keluar dari mobil, kemudian di ikuti dengan Alisa.


"Tok… Tok…"


"Iya, sebentar." Alice dengan cepat berlari untuk membuka pintu karena ia tau bahwa yang datang itu adalah kedua sahabatnya.


Dengan langkah cepat, Alice membuka pintu dan langsung disuguhkan dengan dua senyum yang sudah lama ia tidak melihatnya.


"Maya, Alisa. Ahhhh, Aku merindukan kalian," katanya semangat lalu berlari ke kepelukan sahabatnya itu.


"Alice, Kami juga merindukan mu, bagaimana kabarmu?"


"Aku sangat baik," jawabnya sambil melepaskan pelukan.


"Ayo, masuk dulu!" ajaknya dan merekapun masuk kedalam rumah.


"Wahhhh, gilaaaaa, gede bangettt." Alisa semakin takjub dengan bagian dalam rumah yang tak kalah memanjakan matanya.


"Apa kau sendirian?" tanya Maya yang melihat kesana kemari namun tak menemukan siapapun selain mereka bertiga.


"Iya, Kak Edward sudah kekantor, katanya dia akan pulang larut, jadi kita bisa lebih leluasa sedikit," jawabnya bahagia.


"Loh, rumah segede ini kalian tidak menyewa ART?" tanya Alisa kaget.


"Tidak," jawab Alice.


"Sudahlah, ayo kita kekamar saja, ngegibah hahaha, kangen gibah bareng kaliann, huaaaaaa," katanya semangat.

__ADS_1


"Dasar induk samang kang gibahh!" celetuk Maya.


Mereka pun di ajak Alice ke kamar tamu, ruangan yang begitu luas dengan kasur yang cukup luas juga, sekiranya kasur itu bisa menampung 3-4 orang buat tidur disana.


"Apa kau sudah mengatakan pada suamimu, Alice. Kalau kami bermalam disini?" tanya Maya.


"Sudah, dan dia menyetujuinya," jawab Alice sembari duduk di atas ranjang.


"Ceritakan bagaimana kehidupanmu setelah menikah dengannya?" tanya Alisa penasaran dan merebahkan tubuhnya di samping Alice.


"Yaaa, begitu," jawabnya sambil ngangkat bahu.


"Begitu gimana? Kau saja belum menceritakannya pada kami!" sambung Maya yang ikut rebahan di kasur.


"Awalnya sih setelah kami tinggal disini, Dia sangat kasar padaku, bahkan ternyata waktu kami nikah dia udah punya kekasih."


"Apaa? wahhh, minta di smackdown tu jantan!" emosi Alisa tiba-tiba.


"Heiii, berani kau smackdown suamiku, ku patahkan tulang kering mu itu!" jawab Alice kesal.


"Aishh, sempatnya kalian berantam!! truss trussss gimana?" tanya Maya yang semakin penasaran.


"Trus kami sempat kelahi segala macam lah pokoknya, lama kelamaan perlahan sifatnya berubah, kek lebih memanjain aku gituh, hahaha. Eh dan sekarang…." jelasnya terputus.


"Aku nggak suka ya kalau orang cerita tiba-tiba putus ditengah jalan gini, cukup dia aja yang suka mutusin hubungan pas lagi sayang-sayangnya, ceritamu jangan… Mau tau sakitnya gimana? akhh mantap." Alisa.


"Aish, si kampret malah baperan, hiyahiya. sejak pertama kali dia nyium aku, disaat itulah semua berubah total, kehidupan yang awalnya suram, kini sudah berwarna kembali karena cintanya," jelas Alice lagi sambil senyum sendiri.


"Awww, so sweet, seperti cerita-cerita di novel saja, dari benci menjadi cinta. Huaaaa, tuhan tolong beri aku jodoh," Alisa terus celoteh membuat dua sahabatnya ngakak melihat tingkahnya.


"Apa kalian sudah melakukan itu?" tanya Maya lagi.


"Lakukan apa?" bingung Alice.


"Yaa itu… Aakhh masa kau tidak mengerti sih!" katanya kesal. Dengan serentak Alice dan Alisa menggelengkan kepalanya.


"Adegan panass!! hahaha." katanya sedikit berteriak, sehingga membuat wajah Alice seketika memerah karena malu.


"Ha ha ha, wajahmu memerah, hahaaaha, apa jangan-jangan kau sudah melakukannya!" kata Alisa tertawa.


"Mmm," ngangguknya jujur.


"Kapan?" tanya Maya terdiam dari tawanya.


"Aku lupa," jawabnya berbohong, karena malu.


"Dimana?" tanya Alisa semakin penasaran.


"Aishh, Aku sangat malu mengatakannya, Kami melakukannya di bioskop mini!" jawabnya semakin malu.


"HAHAHAAHAHA," tawa mereka pecah seketika.


"Aish, kenapa kalian malah tertawa?? Sudahlah, Aku keluar saja!" kata Alice kesal lalu beranjak pergi.


"Heiii, Nona jangan ngambekkkk!!" teriak mereka berdua, kemudian berlari mengejar Alice.


"Aku tidak ngambek, apa kalian tidak haus? Aku sangat haus, Aku hanya ingin kedapur mengambil minum!" jawab Alice sedikit berteriak.

__ADS_1


Hari yang cukup singkat bagi mereka yang baru saja bertemu setelah sudah sekitar 8 bulanan tidak berjumpa. Hari ini mereka hanya menghabiskannya dengan terus bercerita tanpa habis, tertawa karena lelucon yang mereka buat sendiri, hingga menonton drakor kesukaan mereka.


__ADS_2