
"Nggak kerasa dua hari lagi kau akan menjadi istri orang," kata Maya.
"Iya nih… Bakalan susah dong kalau di ajak keluar, sedangkan sekarang aja kalau di ajak keluar mesti buat alasan yang rasional dulu baru diizinkan," gumam Alisa sedih.
"Hei hei hei kenapa malah jadi sedih gini sihhh?" bingung Alice melihat tingkah dua sahabatnya.
Semenjak pertemuan malam itu Alice tidak dizinkan oleh pak Sumoto untuk bersekolah terlebih dahulu, karena Alice sedang di pingit Jadi, hampir setiap hari dua sahabatnya ini datang kerumah untuk menghibur Alice.
"Apa kau benar-benar ingin melakukannya Alice?" tanya Alisa.
"Mmmm… " jawabnya tersenyum getir.
"Meskipun nantinya aku akan menjadi istri orang… Aku harap kalian tidak akan menjauh dariku karena suami ku nanti," ucapnya lagi.
"Hei… Tentu saja tidak. Siapa kali dia… Sampe kami harus menjauhi mu, bahkan sekalipun kau pergi keujung dunia dibawaknya kami akan ada untukmu…" jawab Alisa langsung memeluk sahabatnya itu kemudian diikuti oleh Maya yang memeluk mereka berdua.
"Terimakasih…" haru Alice sampai-sampai ia menitikkan air mata.
"Hei gadisss cantikk… jangan nangis okeh. Kami tau ini bukanlah keinginanmu, tapi kami juga tau kau pasti bisa melewatinya." Suport Maya. Alice tak mampu berkata-kata lagi dan ia hanya bisa mengangguk dan menangis.
Tengah asik haru-haruan… Tiba-tiba bu Sumoto mendatangi mereka ke kamar Alice untuk memberitahu bahwa hari ini Alice ada jadwal fitting baju pernikahan di salah satu butik terkenal milik keluarga Brahmana.
"Apa kalian mau menemaniku?" tanya Alice.
"Tentu saja kami mau… Ayo kita berangkat sekarang keburu sore ntar, " ajak Alisa bersemangat.
"Alice yang fitting baju malah kau yang bersemangat…" ucap Maya.
"Isss biarinnn…" jawab Alisa tidak perduli.
Merekapun pergi ke Kota untuk kebutik yang disuruh ibu. Saat diperjalanan Alice bertemu dengan Rian yang kebetulan baru sampai dari Singapur dan langsung menuju ke rumah pak Bram.
"Heii nona…" sapa ramah Rian.
"Hei kak…" sapa balik Alice.
"Siapa lelaki itu?" tanya Alisa berbisik.
"Temanku…" jawab Alice.
"Mau kemana?… Buru-buru amat nampaknya." tanya Rian.
"Ahh itu mau kekota… Kami duluan ya kak takut ntar telat sampai disana," jelas Alice sambil pamit.
"Perlu aku antar?" basa Rian.
"Ahh tidak usah… Kami pakai mobil temanku saja," jawab Alice.
"Ohh yaudah kalau begitu aku duluan ya…" pamit Rian.
Merekapun pergi menggunakan mobil maya.
"Wahhhh… Temanmu ganteng juga Alice… Kapan-kapan kenalin aku dong sama tu cogan…" kata Alisa yang duduk dibelakang.
"Iya iya besok ku kenalin…" jawab Alice.
"Yeaayy… Kau memang terbaik… " senang Alisa.
"Kau ini dasar mata jelalatan… Nggak bisa lihat cogan sedikit aja," ketus Maya.
"Ehh eh eh si Joness kok ngegasss… " jawab Alisa.
Merekapun tiba di butik…
__ADS_1
"Benarkan ini butiknya? tanya Maya.
"Dari Map bener sih… Ayo kita turun dulu buat mastiin…" ajak Alice.
Merekapun masuk kedalam butik dan langsung disambut oleh beberapa staf. Tak membutuhkan waktu yang lama, Alice sudah selesai melakukan fitting baju.
"Aduhhh ribet ya jadi calon manten nih hahaha… Kesekolah nggak boleh tapi fitting baju boleh." Komentar Alice.
Setelah selesai fitting baju, merekapun langsung pulang kerumah Alice, karena sebelum pergi tadi mereka sudah di peringati oleh pak Sumoto untuk langsung balik setelah fitting selesai.
"HEII BROOO… " sapa Rian yang baru tiba dari Singapur.
"Mmmm… " jawab Edward dingin.
"Yaelah udah jadi calon mantenpun kagak berubah-ubah beut dah sifat loe… Coba kek kalau sepupu tu datang di lihat trus kasih senyuman yang bersahabat setidaknya," komentar Rian.
Dengan terpaksa, Edward melirik Rian dan tersenyum padanya. Ya bisa dikatakan cuma 5 detik doang, habis itu ia kembali dingin seperti biasanya.
"Nahh gitukan baguss… huaaaa… Tidur dulu ahh capek bener badan weee… " kata Rian sambil berbaring di atas kasur, tak lama kemudian ia sudah sampai di alam mimpi.
📩 "Trenggg… " satu pesan masuk di Hp Edward.
📩📩 "Heii sayang… Kenapa tak menghubungi ku. Apa kau baik-baik saja?" pesan Luna.
📩📩 "Maaf sayang beberapa hari ini aku sibuk bangett, Jadi nggak ada waktu buat hubungi kamu," balas Edward berbohong.
📩📩"Aku merindukanmu… 😘😘" balas Luna.
"Apa yang harus aku katakan pada Luna?… Ahh… Lebih baik ku diamkan saja," batin Edward.
📩📩 " Sayang aku tinggal dulu ya soalnya mau meeting sama klain dulu." Balas Edward pamit.
📩📩 "Mmm Baiklah… I love you baby…" balas Luna.
"Lihat saja… Aku takkan biarkan kau bahagia setelah ini gadisss sialan… Keluarga mu sudah merusak kebahagiaan ku dengan kekasihkan dan bersiaplah kau akan ku buat berasa dineraka!!" batin Edward kesal.
Dua hari kemudian…
Hari yang tak pernah di tunggu-tunggu oleh Alice dan Edward pun hadir. Antara siap dan tidak siap mereka saling menyiapkan diri masing-masing untuk menyambut hari ini.
"Kuatlah Alice… Kau harus terlihat bahagia hari ini…" semangatnya. Alice yang sudah di dandan begitu cantik serta ditemani oleh kedua sahabatnya itu terlihat getir.
"Apa kau gugup?" tanya Maya yang sadar dengan ekpresi wajah Alice.
"Mmm sedikit…" jawabnya sambil tersenyum kaku.
"Sebentar lagi kau akan melepas masa gadis mu… Kau harus bersiapp." Jawab Maya sambil tersenyum aneh.
"Bersiap untuk apa?" bingung Alice.
"Siap-siap untuk diterkam… Haha." Canda Maya untuk menghangatkan hati Alice, sayangnya Alice malah semakin kebingungan.
"Alice kan bisa karate ya tinggal di karate aja susah amat… Ya kan Alice." Bilang Alisa yang tidak paham maksud Maya. Alice hanya mengangguk dan tersenyum.
"Ahh syudahlah… Ternyata kalian hanya pintar di pelajaran saja," marah Maya. Alice dan Alisa yang melihat Maya ngambek begitu lucu mereka tertawa terbahak-bahak.
Tak lama kemudian…
"Tok tok tok…" Seseorang mengetuk dan kemudian membuka pintu.
"Mempelai lelakinya sudah datang… Alisia dan Maya bimbing Alice keluar ya sekarang…" perintah Bu Sumoto.
Dengan perasaan yang nano-nano, Alice pun mulai berjalan keluar yang dibimbing oleh kedua sahabatnya.
__ADS_1
"Jangan sampai tumbang kau ya Alice karena detak jantungmu berhenti mendadak…" bisik Alisa.
"Hahaha sialan kau…"jawab Alice.
Mereka pun turun kebawah dengan sangat perlahan dan sudah banyak yang menanti untuk melihat mempelai wanita kecuali Edward yang hanya duduk di dekat pak penghulu tanpa ada menoleh sedikitpun ke arah Alice.
"Sialan… Noleh sedikit napa?" batin Alice yang melihat Edward.
"Suami mu ganteng banget Alice…" kata Alisa.
Karena merasa tak pandang, ia pun menoleh kesuatu pandangan yang membuatnya sedikit kaget.
"Kak Rian? ternyata benar dia ponakan pak Bram… Sadar Alice kau harus membuang perasaan ini jauh-jauh mulai sekarang," batin Alice sambil memandang Rian dan Rian juga memandangnya dengan ekpresi yang tak bisa dijabarkan.
"Jadi Alice wanitanya? Perasaan apa ini? Kenapa rasanya hatiku sesak sekali ?" batin Rian.
Setelah ia turun dari tangga, Alice langsung dibimbing untuk duduk disamping Edward.
"Baik… Karena mempelai wanitanya sudah datang… Acara kita segerakan saja, kepada ayah mempelai perempuan silahkan untuk sebagai walinya…" suruh Pak penghulu.
"Edward Brahmana… Saya nikahkan engkau dengan anak kandung saja Alicea Putri Sutomo binti Sutomo dengan mas kawin Emas seberat 30 karat serta seperangkat alat sholat tunaii…" ucap Pak Sumoto.
"Saya terima nikahnya anak bapak Alicea Putri Sutomo binti Sutomo dengan mas kawin tersebut tunaii… " jawab Edward.
"Sah?" tanya pak KUA.
"Sah… "jawab seluruh orang yang ada disana.
"Sekarang… Aku benar-benar telah menjadi istri dari orang yang bahkan tak pernah terfikirkan olehku sedikitpun… Tuhan… Berilah aku kekuatan mu… " batin Alice. Ia begitu merasakan hancur, tak tau harus berbuat apa dan kini dia benar-benar telah menjadi Nyonya Edward Brahmana.
"Wahhhh… Kamu cantik bangettt sayanggg…" puji Nyonya Bram.
"Mmmm…" senyum Alice.
Tak lama kemudian, Rian datang mendekat untuk memberikan selamat kepada sepupunya, ya… Walaupun sebenarnya hatinya begitu sakit melihat gadis pujaan hatinya kini telah menjadi milik orang lain tak lain sepupunya sendiri.
"HEII BROOO… SELAMAT YAA… ADUH NGGAK NYANGKA WANITANYA YANG GUA KENALL… HAHAHA." Ucap Rian pura-pura tegar.
"Selamat ya Alice… wahh sepertinya kini kita akan sering berjumpaa," kata Rian sambil memberi selamat kepada Alice dan ia hanya tersenyum dan mengangguk saja.
"Kenapa tidak dia saja yang menjadi suamiku… Kenapa rasanya hatiku begitu sakit ketika melihat dia seperti itu… " batin Alice sedikit kecewa.
"Heiii gadisss cantikk… Selamattt… Jika dia macam-macam padamu… Ingat… Jurusan andalanmu." Ucap Maya dan Alice hanya tersenyum dan mengangguk.
"Heii Edward… lihat kesini dulu, foto dulu… Senyum…" suruh Nyonya Bram. Dengan terpaksa Edward langsung memasang fake smile dan memandang kekamera.
"Tolong jagalah putri ku satu-satunya… Jangan buat dia kecewa…" pinta pak Sumoto kepada Edward.
" Baik pak…" jawab Edward.
"Putri ibu sekarang sudah menjadi seorang istri… Kini kau harus ikut perintah suami mu, jangan bandel lagi, kau harus bisa menjadi istri yang hebat…" kata buk Sumoto lalu memeluk putrinya.
Setelah semuanya pergi meninggalkan mereka dan mereka hanya berdua saja.
"Kenapa jadi aneh gini ketika berdua saja sama dia…" natin Alice.
"Jangann senang dulu kau gadis… Ini bukanlah suatu kebahagiaan untukmu tapi kau telah masuk kedalam perangkap yang lebih berbahaya… Persiapkanlah dirimu untuk menderita!!" ancam Edward sambil berbisik. Alice begitu kaget dan tak mengerti maksud dari ucapannya itu.
"Apa maksudnya?… Huftt… Sabarlah Alice… Kau harus kuat." Fikirnya sambil melirik tajam Edward dan berlalu begitu saja tanpa ada mengeluarkan sepatah katapun.
__ADS_1