Demi Malaikat Kecil

Demi Malaikat Kecil
Bab 30 Bodoh


__ADS_3

Dimeja makan sudah ada semua penghuni rumah itu ke kecuali Andin yang masih di kamarnya.


"Dek, panggil kakak dikamarnya suruh makan malam dulu" suruh mama pada vio


"Kakak udah pulang mah? kok kita enggak tau" tanya Arya Abang Andin.


"Iya, belum lama... bagaimana kalian semua tau kalau hanya mengurung diri di kamar" jawab mama datar


"Ya udah adek duduk aja, biar Abang panggil kakak" ucap Arya meninggal kan meja makan dan menaiki tangga


Tok Tok Tok!!!!!!!!!!


"Kak, makan malam dulu yuk.. semua udah nunggu dibawah" teriak Abang Andin mengajak


Andin yang mendengar suara abang nya lansung membukakan pintu


ceglekkkkk


"Hai Abang ku" ucap Andin senyum sambil menyalami tangan Abang nya


"Pulang pulang lansung masuk kamar, apa salahnya liatin wajah jeleknya sama kita kita dulu" jawab Arya dingin


"haha Surprise bang, lagian buat apa liat Abang? buat Andin kesal karena wajah dingin Abang" tanya Andin tertawa


"Sudah, ayok turun" ajak Arya sambil menarik tangan Andin untuk turun menuju meja makan


Dimeja makan semua tampak diam, hanya suara piring yang terdengar hingga mereka selesai makan.


"Pa ma, Andin mau ngomong sesuatu, tapi Andin boleh nanya ya " ucap Andin dengan wajah serius namun gugup dan degdegan


"apa nak, bilang saja" jawab papa setelah menaruh gelas


"Hhmm, kalau andaikan Andin menikah dalam waktu dekat gimana pa ma" tanya Andin gugup

__ADS_1


"wih nikah? adik abang yang satu ini udah besar kayaknya, mau coba ngelangkahin abg ya" ucap Arya mengejek


"Papa sama mama secara pribadi ya menyetujui, itu pertanda papa sudah berhasil merawat kamu sampai sekarang. Tentu kami bangga melihat mu bahagia nak, apalagi dengan orang yang kamu cintai. papa rasa Gabriel sudah mencuci otak anak papa ini untuk meninggalkan kami dan berdua dengan mu haha, papa dan mama merestui kok kalau kamu ingin menikah dengan Gabriel!! jika dia memang serius suruh dia datang membawa orang tuanya secepat mungkin" ucap papa tertawa


"Ta tapi pa, Andin ingin menikah dengan mas Aldi" ucap Andin sambil menundukkan kepalanya,


"Siapa Aldi itu? bukankah kamu sudah lama berhubungan dengan Gabriel" tanya mama


"Mas Aldi itu yang papa mama jumpai di saat Andin wisuda" ucap Andin yang membuat papa dan mama nya saling menatap satu sama lain.


"Maksudnya kamu ingin menikah dengan duda itu" tanya papa


"Iya pa, Andin mohon restui kami" ucap Andin gugup


Plaaaakk


dengan keras papanya memukul meja karena marah tidak menyangka anaknya sebodoh itu yang mau menikahi duda


"Tidak bisa!!!!!! papa tidak setuju, percuma papa menyekolahkan kamu tinggi tinggi walau akhirnya bisa di bodohi duda beranak satu lagi" ucap papa marah dan Andin hanya terdiam lalu matanya sudah berkaca


"Iya, karena pendidikan yang papa berikan membuat Andin punya hati nurani dan tinggi peduli sosial nya" ucap Andin menangis sesenggukan


"Andin bukan anak kecil yang di atur terus menerus sama papa, Andin udah besar, tau mana yang terbaik untuk hidup Andin. seharusnya papa menghargai keputusan yang Andin buat, Andin sudah mempertimbangkan semuanya hingga harus rela melepas Gabriel dan memilih anak kecil itu" sambungnya lirih dengan air mata yang masih menetes


Papa dan mama nya bingung dengan keputusan Andin, sebagai orang tua mereka memang salah selalu mengatur. papanya pergi dari meja makan yang disusul mama.


Sementara di meja makan tersisa Arya dan viola menemani andin, mereka mengerti perasaan Andin namun tidak bisa membela didepan papa karena papanya memang keras kepala.


"Tenang dulu kak, abang tau kok gimana perasaan kakak sekarang, nanti Abang coba ngomong sama papa" ucap Arya menenangkan adik nya itu sambil mengelus pucuk rambut Andin


"Dah yuk kak, kita kemar aja" ajak viola sebagai adik bungsu


Arya masuk kekamar nya, sementara viola masuk ke kamar Andin untuk menemani kakaknya itu agar lebih tenang

__ADS_1


**********


Sementara didalam kamar lantai bawah, mama mencoba menenangkan papanya.


"Sudahlah pa, tenangkan dirimu dulu" ucap mama


"Gimana bisa tenang ma, enggak nyangka aku kalau Andin lebih memilih duda apalagi punya anak, itu bodoh namanya" ucap papa kesal


"Kita sebagai orang tua harusnya bisa mengerti dan menghargai keputusannya pa, dia bukan anak kecil lagi.. dia sudah dewasa, dia tau mana yang terbaik untuknya. papa itu seorang ayah yang selalu di banggakan olehnya, sejak dulu dia selalu menurut apa yang papa tuntut. sekarang mama mohon, percayalah dengannya pa" ucap mama tenang sambil merangkul papa


"hhuuufff, baiklah.. ayok ke kamarnya" ucap papa sambil berdiri


mereka berjalan menaiki tangga menuju kamar Andin, tanpa basa basi mereka membuka pintu tanpa disadari anak anaknya itu dan mendapati Andin sedih sedang di peluk menenangkan oleh viola, segera mereka mendekat.


Sedang curhat dan menangis di pelukan viola, tiba tiba papa berbicara


"Papa setuju nak" sontak Andin yang mendengar kan lansung menghapus air matanya, dan menatapa papa Dalam


"Iya, papa merestui kamu dengannya asal dia tidak pernah menyakiti mu! jika papa tau bersiap siaplah mengangkat barang dan pulang lagi kerumah ini" ucap papa tegas


"Makasih papa" ucapnya dengan mata berbinar


"Makasih ma" sambungnya


"Sama sama nak, papa harap keputusan kamu ini tidak salah. Kapan dia kemari untuk melamar" tanya papa


"Besok pa, seluruh keluarganya akan datang" ucap Andin terseyum


"Apa besok? kenapa cepat sekali? mama enggak ada persiapan" ucap mama kaget


"masalah makan itu catering aja ma" ucap papa


"memang Harus begitu pa, ya sudah mama harus menghubungi catering langganan mama. lebih kamu istirahat ya sayang"

__ADS_1


mereka keluar dari kamar itu, yang hanya menyisakan Andin didalamnya. karena sangat lelah seharian dia lansung tidur namun mengabari terlebih dahulu pada Aldi bahwa papanya setuju.


__ADS_2