
"apa wajahku banyak coretan spidol? kenapa dia menatapku bingung " batin Aldi
"Hhhmm aku baru ingat kalau aku tampan dan Maco, pantas saja dia terpesonaaaaa. liat saja nanti!!! kamu akan mengejar ku nona" sambil bergaya yang di buat sekeren mungkin.
*Andin POV*
setelah skripsi itu aku Tarok di atas meja segera buk lora membuka lembaran demi lembaran di Skripsi itu yang aku lihat saja.
ku perhatikan wajah febby yang sudah pucat pasi karena menunggu keputusan buk lora sambil meremas tangannya.
"kok gua jadi cemas gitu ndin, rasanya tangan gua dingin. lho enggak cemas apa?" bisik Febby yang begit pelan
"sama" ucapku singkat karena takut terdengar oleh buk lora.
masih aku perhatikan buk lora membaca Skripsi itu dengan teliti dan melihat lihat jika ada tulisan kata yang salah ketik, aku mulai merasakan cemas takut takut nanti ada yang salah.
"semoga enggak ada kesalahan dan lansung di ACC, aamiin!! " batinku
aku rasakan kantongan tas yang aku sandang bergetar, pertanda ponselku ada yang menghubungi namun tidak aku hiraukan dan mengabaikannya saja karena tidak mungkin aku angkat di seperti ini.
tak sengaja aku melihat ke arah mas Aldi yang duduk di kursi tamu ruangan ini begitu fokus memainkan ponselnya dengan memiringkan ponsel itu, menyapu nyapu layarnya menggunakan jari.
"hhhhmmm, anak game kayaknya" batinku
"Aldi, kecilkan volume ponsel kamu. mama tidak fokus periksa skripsi" ucap buk lora sambil menatap tajam mas aldi
"mama?? apa maksud buk lora memanggill dirinya mama, dia anaknya buk lora? OMG rasa enggak percaya banget"
sontak aku kaget dan heran! rasa rasa tidak percaya karena pertanyaan yang aku pikir kan tadi 'sedang apa dia di ruangan ini'!! akhirnya terjawab. tapi pertanyaan lain masuk kepikiranku yang membuat aku seakan kebingungan. mengapa aku tidak mengetahui sama sekali kalau dia anak buk lora?, kenapa aku tidak pernah melihatnya?, dimana dia selama ini?. begitulah pertanyaan yang terlintas dibenak ku.
aku perhatikan wajahnya sampai ke kaki untuk memastikan kemiripan dua orang ini. yeah benar saja ada kemiripan di antara mereka yang tidak aku sadari dari tadi.
__ADS_1
"apa yang dia lakukan, kenapa dia bertingkah aneh seperti itu. sok keren banget deh. yeah walaupun emang keren Maco ganteng" batinku sambil memasang wajah datar agar tidak terlihat jika aku mengaguminya.
disisi lain terlihat Febby yang penasaran dengan pendengaran nya yang tidak dia percayai.
"mama? mama? mama?" batin febby
febby mulai ingin membisikan sesuatu pada ku agar hatinya lega akan penasaranya.
"ndinnn??? aku enggakK....." bisik Febby terhenti karena buk lora yang berdehem menandakan untuk diam.
"waduhhhhhh, kenak deh gua karena ni anak yang bikin penasaran " batin Febby sambil melirik sinis kearah aldi yang tanpa disadari aldi
"maaf buk" ucap Febby
2 jam sudah aku dan Febby di ruangan ini menunggu buk lora memeriksa skripsi namun belum juga selesai karena buk lora sangat teliti bahkan tidak ada wajah bosan yang muncul di wajah yang sudah berumur menampakan beberapa keriput disitu. Sementara aku dan Febby sudah mulai bosan yang disertai kantuk.
"ghowaaahhhh" Febby menguap secara perlahan dengan mata merah berairnya karena sudah tidak bisa menahannya.
"maaf buk" ucap kami serempak
"baiklah, ibuk sudah selesai periksa masing masing skripsi kalian. ibuk puas karena kalian tidak melakukan kesalahan, kalian hanya sekali merevisi dan hasilnya bagus. beda dengan teman taman kalian yang sering kali merevisi tapi tidak paham sama sekali. ibuk senang sama kalian karena kalian selalu bisa memahami apa yang ibuk minta dan suruh. Namun kalian jangan berbangga dulu, ini belum akhir dari kesuksesan kalian. ini baru pembuka untuk menuju kesuksesan kalian. ibu harap semoga kalian selalu bisa menerapkan ilmu pengetahuan dan praktik yang kalian dapat di kampus ini.
ibuk ACC sekarang, segeralah hubungi pembimbing 2 agar kalian tidak berlama lama mengurus ini. jangan membuang buang waktu" ucap buk lora panjang lebar yang membuat aku dan Febby tersentuh tanpa sadar matapun berkaca kaca pada buk lora karena ini pertama kalinya beliau menasehati panjang lebar. sebelumnya buk lora orang yang dingin, mahasiswa lain sering mengatakan beliau killer.
"tunggu sebentar, ibuk coba menghubungi pembimbing 2" sambung buk lora yang segera meraih ponsel di atas meja.
Tuttttttttttt!!!!
Tutttttttt!!!
Tutttt!!
__ADS_1
"Hallo, assalamualaikum buk lora?" ucap sambungan dari telpon buk lora.
"Waalaikumusallam pak, apa pak pandu sedang sibuk?"
"Tidak buk, ada yang bisa saya bantu?"
"begini pak, saya sudah memberikan ACC pada Andini Okta Viandra dan Febby Hanindia Hanem. sudah saya periksa secara detail dan teliti. sekarang tunggu ACC dari bapak saja"
"saya percaya sama buk lora, jika ibuk sudah memberikan ACC saya pasti ACC juga. Mereka memang pintar buk, suruh lah mereka ke ruangan saya"
"baiklah pak, terimakasih" buk lora memutuskan sambungan telpon dan lansung berbicara pada kami "Sekarang pergilah keruangan pak pandu, skripsi kalian akan di ACC" ucap buk lora sambil memeggangi pundak Andin.
"Terimakasih buk, selama ini ibuk selalu membantu kami sampai saat sekarang" ucapku sambil tersenyum dan menyalami tangan buk lora, begitu juga dengan Febby yang ikut menyalami.
mereka pun berlalu meninggalkan buk lora dan Aldi di ruangan itu setelah mengucapkan permisi..
sampai didepan ruangan pak pandu lansung Andin mengetok pintunya yang di sahuti oleh pak pandu dari dalam.
"Masuk" ucap pak pandu
"assalamualaikum, selamat siang bapak" ucap kami serempak
"wa'alaikumussalam, duduk. mana skripsi nya?"
"ini pak" kami serahkan skripsi itu pada pandu.
pak pandu adalah dosen yang menurut mereka begitu dingin cuek dan killer pastinya. beliau selalu memainkan nilai jika mahasiswa itu bermasalah dengannya. namun sekarang tidak di sangka, menyambut mereka di ruangan ini dengan senyum yang terukir di bibirnya. Sontak Andin dan Febby kaget karena lansung di ACC pak pandu.
"Ini sudah saya ACC, saya tidak perlu lihat lagi karena saya percaya sama buk lora, selamat. kalian segera sidang"
"Terimakasih bapak" ucap Andin
__ADS_1
"Terimakasih bapak, maaf pak pas sidang nanti kami bisa lansung berdua pak?" ucap Febby sambil memasang wajah memohonnya