Desahan Cinta Satu Malam

Desahan Cinta Satu Malam
Bertemu Cinta Satu Malamnya


__ADS_3

Usai mengantar orang tuanya ke Bandara, ketiganya pergi ke suatu tempat di mana Sonam—bosnya Cherry sudah menunggu mereka. Cherry sendiri tidak tahu ada hubungan apa diantara kakaknya dengan Bos-nya itu. Namun, kerap sekali Cherry dan Frans selalu melihat keduanya bersama.


"Uwu, ada acara apa ini? Kenapa Kak Sonam juga ada disini?" tanya Frans, menggoda Zinad.


Sonam memerah pipinya. "Kenapa? Memangnya kenapa jika saya ada disini? Apakah saya tidak boleh ada disini?" sahutnya.


"Ya, boleh saja, sih. Tapi, berasa gimana gitu. Hmm, roman romannya ada yang sedang berbunga-bunga, nih!" seru Frans, menggoda dua insan yang sedang saling berdiri berhadapan itu. 


Lirikan mata Frans begitu jelas. "Ganggu tidak ini kita ada di sini?" pria ini juga menyentil lengan Cherry. 


Cherry tahu jika kakaknya menyimpan rasa pada bosnya itu. Terlihat jelas bagaimana Zinad menjadi salah tingkah ketika Frans menggodanya.


"Sudahlah, sebaiknya segera katakan. Kita mau kemana?" tanya Cherry, dia tak ingin menambah kakaknya menjadi semakin malu.


Sonam dan Zinad memiliki ide untuk berlibur ke pantai. Keduanya juga belum pernah berlibur ke lantai sejak lama. Tidak ingin Cherry dan Frans menggodanya terus, Zinad pun meminta keduanya untuk ikut serta dalam liburan tersebut. 


Mendengar ajakan itu, membuat Cherry dan Frans saling menatap. Keduanya masih remaja dan tentu saja akan menyanggupi dengan mudah ajakan Sonam dan Zinad. 


"Kalian mau meresmikan hubungan kalian, ya?" kali itu, giliran Cherry yang menggoda kakaknya.


"Ih, mana ada!" tepis Zinad, dengan pipinya yang merona. "Kamu ini ngomong apa, Cher!" 


"Sejak kapan kalian mulai berhubungan?" timpal Frans dengan menunjuk Zinad yang sudah seperti udang rebus.


Tidak ada jawaban sama sekali. Frans dan Cherry semakin menatap keduanya dengan tatapan menggoda. Pada akhirnya, keduanya pun tidak bisa menghindari keusilan Cherry dan Frans. 


"Sekitar satu bulan ini," jawab Sonam dengan wajahnya yang datar. Pria ini sedang mempertahankan wibawanya. 


"Loh, kok, satu bulan? Kita kan baru resmi tiga minggu ini, Kak Sonam!" sahut Zinad, malah keceplosan.


"Oh, tiga minggu—" Cherry dan Frans menggoda lagi sampai mereka berkata bersamaan.


Tak ingin membuat dua insan yang sedang berkencan itu kecewa, dengan membolos kuliah, Cherry dan Frans pun ikut serta dalam liburan tersebut. Segera mereka berangkat dan tidak peduli waktu.


Mereka pun berangkat ke pantai. Menginap di hotel yang lumayan mahal dan juga fasilitas yang mewah. Di sana, Cherry memilih kamarnya sendiri, ia tak ingin tidur dengan orang lain termasuk kakaknya. Sudah menjadi kebiasaan jika dirinya selalu tidur sendirian.

__ADS_1


***


Selama menjadi putri kedua dari keluarga kaya, sifat Cherry juga berubah pesat. Sebelumnya, ia selalu menjadi pendiam dan hanya fokus bekerja, bekerja dan terus bekerja. Namun setelah menjadi putri kedua, perlahan Cherry menonjolkan sikap konyolnya dan terus banyak bicara.


Sifat itu adalah sifat asli Cherry sejak kecil. Ceria, banyak bicara dan periang. Gadis ini menjadi sedikit serius di saat neneknya telah tiada. Lalu dipaksa dewasa oleh keadaan dan harus bekerja di usia dini agar bisa mencukupi kebutuhannya.


"Kamu yakin tidak mau tidur denganku, Cher?" tanya Zinad, menawarkan diri.


Cherry menggeleng. "Tidak, ah! Aku sedang ingin tidur sendirian. Kebetulan juga aku akan mengerjakan tugas kuliah. Bukankah hari ini aku sudah bolos demi Kakak?" jawabnya. 


"Baiklah! Hmm, karena kamu mau kamar sendiri—maka Kakakmu akan memenuhinya," ucap Zinad, menyentil hidung adiknya. 


"Sekarang pergi istirahat, sore nanti kita semua ketemu di restoran samping hotel ini, bagaimana?" imbuh Zinad sembari memberikan kunci kamar hotel kepada adiknya.


Kedua remaja ini hanya setuju-setuju saja. Padahal mereka juga diajak juga karena Zinad tidak mau merasa malu kepergok memiliki hubungan dengan bos adiknya. 


"Kalian akan aku belikan pakaian nanti. Kalian berdua tidak membawa baju ganti, 'kan?" tanya Zinad sebelum pergi. 


Cherry dan Frans saling menatap. "Asha! Baju baru? Yeay! Kami mau, Kak!" seru keduanya sumringah sekali ingin ditraktir baju baru. 


Ketika sedang asik berjalan, tak sengaja ia menabrak seorang pria tinggi dari lawan arah.


Bruk!


Beruntung Cherry tidak terjatuh di lantai. Orang yang baru saja Cherry tabrak itu langsung menangkap tubuh mungilnya dan menatapnya dengan tatapan dingin.


Pria itu adalah Tuan Yasha Vederick berusia 35 tahun. Pengusaha yang berkuasa karena memiliki latar belakang yang hebat. Pria ini memiliki perawakan tinggi dengan sifat angkuh, dingin dan sedikit sombong. Akan tetapi, ketika sudah mencintai wanita, cintanya akan benar-benar tulus.


Tuan Yasha adalah pria yang tidur dengan Cherry malam itu. Tepatnya dua bulan lalu, Tuan Yasha ini sedang mabuk berat karena diberi obat nakal oleh seseorang. 'Wanita ini—' gumamnya dalam hati.


"Nona, mau sampai kapan Anda dalam pelukan Tuan kami?" ucap pria yang ada di sisi Yasha.


Pria itu adalah Asisten Yasha. Namanya Jonathan Thomas, sering dipanggil dengan sebutan Asisten Jo, berusia 40 tahun dan masih melajang. Asisten Jo tidak mau menikah karena ceritanya ada trauma akan hubungan pernikahan.


"Oh, maafkan saya … dan terima kasih sudah menolong saja. Jika tidak … saya pasti akan ja—" belum juga Cherry mengucapkan kata terima kasih, Yasha sudah pergi begitu saja.

__ADS_1


"… tuh," sambung Cherry.


Cherry mengabaikan begitu saja. Ia tidak tahu jika Tuan Yasha adalah pria yang sama dengan pria yang telah menidurinya dua bulan lalu. Namun, ada hal yang membuatnya merasa tidak asing dengan Tuan Yasha. Yakni, suaranya.


'Suara itu, laku tangannya … bau parfumnya, kenapa sangat mirip dengan pria yang telah memperkosaku dua bulan lalu?' gumam Cherry dalam hati. 


Cherry menoleh ke arah Tuan Yasha. "Bahkan, parfumnya saja masih bisa tercium meski orangnya sudah masuk ke lift," imbuhnya lirih.


"Ah, aku tidak boleh berprasangka buruk. Ini semua pasti karena aku lelah, jadi berhalusinasi!"


Cherry akhirnya menemukan kamar yang dituju. Segera ia masuk dan merebahkan tubuhnya. Pemandangan dari kamar bintang lima memang sangat indah. Kamar yang begitu mewah itu baru pertama kalinya ia rasakan.


"Begini senangnya jadi orang kaya, ya? Menginap di hotel saja ... hotel yang sangat mewah. Bepergian tidak repot membawa baju dan peralatan lainnya, karena nanti bisa membeli. Hahaha, beruntung sekali diriku,"


"Aku juga beruntung memiliki keluarga angkat seperti Ibu, Ayah dan Nenek. Meski mengetahui aku bukanlah putri mereka, tapi mereka masih memberiku kasih sayang yang tulus,"


"Begitu juga dengan Kakak dan kedua orang tuaku yang sekarang. Mereka juga mau menerimaku apa adanya meski mereka tau kalau aku telah lama hilang. Mereka masih mau mencariku dan memperjuangkan hakku,"


"Oh, Tuhan. Engkau sungguh baik kepadaku. Lantas, setelah ini … Kau mau memberiku apa lagi?" harapnya dengan mata yang mulai terpejam.


Cherry tiba-tiba terlelap dengan mudah. Ia langsung pergi ke alam mimpi. Harapan mimpi indahnya tidak terwujud. Ia bermimpi kembali tentang mimpi yang selalu ia impikan. Di tempat club' malam dan di kamar yang sama ketika dirinya menjadi seorang pelayan.


'Ahhh, bagus. Ayo, pertahankan gerakan seperti itu ….'


Ingatan itu semakin tajam. Jika sebelumnya hanya samar-samar saja, mimpi yang saat itu ia alami berubah menjadi semakin jelas. Cherry melihat dua orang sedang bersetubuh. Sungguh adegan panas yang nyata di matanya.


"Mimpi ini sangat jelas dari sebelumnya. Kenapa baru sekarang? Apakah aku bisa melihat siapa pria itu?" gumamnya.


'Wajahmu begitu lembut, apa kamu—'


Namun, keberuntungan yang satu itu tidak berpihak padanya. Cherry sama sekali tidak bisa melihat wajah pria itu dengan jelas. Berkali-kali ia mengusap matanya, tetap saja pandangannya buram.


"Aku tidak bisa melihatnya," 


Berpikir bahwa dirinya bisa melihat siapa pria itu, malah yang terdengar hanya suara ******* saja. Terdengar jelas di telinganya ketika pria itu mendesah dan menyebut nama seorang perempuan. 'Arletta'

__ADS_1


__ADS_2