Desahan Cinta Satu Malam

Desahan Cinta Satu Malam
Drama Lahiran Lui


__ADS_3

"Sayang, Bibik sudah pergi. Mau di kamar atau di sini?" tanya Zinad.


Tanpa mengatakan apapun, Sonam langsung menyergap bibir Zinad. Benar-benar diterkam sampai wajahnya terbenam habis di tutupi oleh wajah Sonam. Ciuman panas itu membuat keduanya semakin bergairah. Api permainan cinta mereka semakin panas membara seolah membakar tubuhnya. Zinad sampai kelojotan tak tahan dengan permainan tangan Sonam yang telah lihai disetiap jamah jemarinya.


"Shh, ah … pelan sedikit, Sayang—" suara Zinad sudah mulai bergetar.


"Tahan, kita baru pemanasan. Mengapa kamu sudah begitu terbang sejauh ini, Sayang?" bahkan suara Sonam juga ikut gemetar.


Sentuhan demi sentuhan membuat Zinad semakin tak tahan. Tangannya terus mencengkram bahkan sampai menjambak rambut Sonam. "Ayo, kita ke kamar," bisik Sonam menggendong Zinad ke kamarnya.


Diturunkan Zinad setelah menutupi pintu. Mereka berdiri sambil bercumbu mesra dengan masing-masing saling menanggalkan pakaian mereka. Ciuman yang tadinya hanya di bibir semakin turun sampai ke bibir bawah.


Sungguh permainan yang menggairahkan. Semakin lama, semakin keras ******* keduanya. Memang sering kali keduanya melakukan adegan ranjang itu. Tidak di kantor, tidak di kamar Zinad, bahkan juga sering kali di rumah Sonam ketika seisi rumah sedang keluar.


**


*


*


Sementara itu, Lui dan Frans masih saja bertengkar sampai di rumah. Frans benar-benar muak dengan Lui dan ingin mengakhiri kebersamaan mereka.


"Cukup!" bentak Frans.


"Bisakah kau diam sebentar? Aku sungguh muak sifatmu yang seperti ini, Lui!" imbuhnya.


"Aku menerimamu kembali karena anak yang tidak bersalah ini. Aku juga tidak mau karena diriku, kamu dan anak ini jadi terlantar. Seperti yang kamu katakan, jika akulah ayahnya!"


"Oke, aku akui jika dia benar anakku, aku akan


bertanggung jawab. Tapi, Lui ... tolong mengerti keadaan diriku ini. Kita sudah tak bisa seperti dulu lagi, paham?" tukas Frans.


Lui menangis, baru saat itu Lui menangis terluka hatinya. Selama ia hidup, selalunya dirinya yang membuat pria menangis. Akan tetapi, tangisan Lui kali itu bukanlah suatu rekayasa. Mungkin, naluri seorang ibu memang seperti itu.


"Maaf," ucap Lui, masuk ke kamarnya. Mendengar kata maaf dan melihat Lui berlari ke kamar tanpa berdebat lagi membuat Frans heran. Tak seperti biasanya Lui menerima kekalahan dan meminta maaf.

__ADS_1


"Ada apa dengannya?"


"Apakah itu karena anaknya? Atau aku tak sengaja menyakiti hatinya?" Frans bergumam.


Frans hanya menganggap itu sebuah kebetulan saja. Ia pun kembali ke kamarnya dan mencoba menghubungi Cherry. Rupanya, nomor milik Frans telah di blokir oleh Cherry.


"Bi, kamu memblokir nomorku?"


"Kenapa? Apa salahku?" Frans mencoba menanyakan Cherry kepada Sonam, tetap saja Sonam tidak membalas pesannya karena memang sedang sibuk bercinta dengan Lui.


"Astaga, bahkan dia juga tidak mengangkat telepon dariku?"


"Selama ini, aku fokus dengan kehidupanku sendiri. Sampai kabar Cherry saja aku tidak


tahu,"


"Apa yang terjadi padanya? Aku sangat mencemaskannya," Frans menjadi tidak tenang. Ia terus berusaha mencari keberadaan Cherry dengan melacak keberadaan Cherry melalui ponsel. Namun sayang, lokasi terakhir yang Frans dapatkannya di rumah milik Tuan Lucas.


"Cherry, kamu kemana?"


tertidur hingga malam hari. Disaat dirinya terbangun, ia terkejut karena waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam.


"Aku ketiduran? Jam berapa ini? Kenapa Lui tidak membangunkanku?" gumamnya.


"Apa? Jam tujuh malam? Sial! Lui ini memang selalu membuatku dalam masalah!"


Frans bergegas mandi dan ke dapur untuk makan. Ternyata, semua makanan yang sebelumnya Lui masak masih utuh. Dapur juga masih tertata rapi, cemilan di kulkas juga belum berkurang.


"Apa ini? Kenapa semuanya masih utuh? Bahkan susu buat Lui juga belum kebuka, bukankah yang sebelumnya sudah habis?" Frans mulai merasa cemas.


Segera Frans ke kamar Lui dan mendapati Lui tergeletak di pantai. "Lui!" teriaknya.


"Lui! Lui! Lui bangun, Lui!" berulang kali Frans membangunkan Lui, tetap saja Lui tidak


bangun.

__ADS_1


Entah dari kapan Lui tergeletak di sana, Frans tidak tahu. Tapi, Frans tetap menduga jika Lui melewatkan makan siangnya. Segera Frans mengeluarkan mobilnya dan membawa Lui ke rumah sakit.


"Lui bangun, Lui! Kita sudah hampir tiba di rumah sakit, kamu harus bangun, Lui!"


Berulang kali Frans terus membangunkan Lui, tetap saja Lui enggan untuk membuka mata. Tubuhnya memang masih hangat, tapi nadinya melemah, membuat Frans semakin cemas saja.


Sesampainya di rumah sakit, Lui segera di tangani oleh dokter. Frans panik setengah mati, antara mencemaskan anak yang ada dalam kandungan Lui, dan mencemaskan Lui karena ia pingsan di rumahnya.


"Ini sudah waktu ke setengah jam, kenapa dokter belum keluar?" Frans terus mondar-mandir di depan IGD berharap Lui dan bayinya tidak dalam masalah.


Tak selang berapa lama, Dokter pun keluar meminta Frans untuk menyetujui operasi.


"Operasi? Operasi apa? Apa yang terjadi dengannya dokter?" tanya Frans semakin panik.


"Ini darurat, jika memang menginginkan nyawa keduanya, maka kami harus melakukan operasi. Bayinya memang masih kurang 2 minggu usianya untuk lahir, tapi fisik ibunya yang tidak memungkinkan. Jika terlambat, maka keduanya tidak bisa terselamatkan," tutur Dokter.


Frans tersentak, ia tak menyangka jika hal serius itu menimpa Lui. "Baik, Dokter. Lakukan saja apa yang terbaik bagi keduanya. Saya akan menurut saja,"


Lemas, begitulah tubuh Frans kalau. Mendengar kondisi Lui. Setelah mengisi formulir, Frans diminta untuk ikut masuk melihat proses operasi caesar yang dilakukan. Awalnya Frans menolak, tapi demi menebus kesalahannya, akhirnya Frans mau menemani Lui di dalam.


Saat itu Lui memang terpejam matanya. Namun, di saat Frans menggenggam tangannya, tangan Lui membalas genggaman tangan Frans dengan sangat kuat. Frans sempat terkejut. Ia bahkan melihat air mata yang mengalir dari matanya, naluri hati Frans langsung mengelap air mata itu.


Operasi memang berlangsung lama, namun di detik terakhir, lahirlah seorang anak laki-laki


dengan tangisan yang keras.


Oe... Oe...


Tangisan itu membuat hati Frans merasa tersentuh. Seperti ada sengatan listrik yang mengalir kala melihat bayi laki-laki itu. Frans menyentuh pipi bayi itu, dan seketika bayi itu meraih tangan Frans.


"Tuan, selamat. Bayi Anda berjenis kelamin laki-laki. Mari ikut dengan saya, supaya bayi.bisa merasakan detak jantung Anda juga." ujar perawat.


Diletakkannya bayi laki-laki itu di dada Frans. Bayi itu sempat terus menangis, namun saat merasakan hangat dekapan Frans, bayi itu menjadi lebih tenang lagi. Frans merasakan ada sesuatu dengan bayi tersebut. Namun, tetap saja Frans meminta Dokter untuk melakukan tes DNA padanya dan bayi tersebut.


Awalnya, Dokter kerasan heran. Setelah mendengar penjelasan Frans, barulah Dokter menyetujui tes DNA itu tanpa sepengetahuan Lui yang saat itu masih tertidur."

__ADS_1


__ADS_2