
Tak pernah menduga jika Tuan Yasha bisa menghabiskan waktu bersama dengan darah dagingnya sendiri. Hanya pada keponakannya saja Tuan Yasha bisa ramah pada anak kecil, membuatnya semakin yakin jika Ryujin adalah Putri kandungnya sendiri.
***
Di luar kota, Cherry, asisten Melvin dan juga sekertaris Sarah juga sudah selesai menghadiri rapatnya. Mereka bersiap hendak pulang. Sebelum masuk ke mobil, Cherry menerima telepon dari Zinad.
"Iya, Kak?"
'Aku pulang besok. Ada beberapa pengiriman kopi yang bermasalah, jadi harus aku urus malam ini juga di pelabuhan. Segera pulang, Ryu akan sendirian di rumah sampai kamu pulang nanti,' ucap Zinad langsung menutup teleponnya.
"Heh, kenapa langsung di tutup, sih? Kebiasaan deh!" gumam Cherry masuk ke mobil.
Mendapat pesan dari kakaknya, Cherry jadi teringat tentang waktu lalu ketika Ryujin berusia 3 tahun. Gadis kecil itu pernah dibawa kembali oleh Cherry di usianya yang ke-3 tahun. Tuan Lucas dan nyonya Fazura mengetahui jika putrinya tidak bisa mengurus cucunya dengan baik. Selalu ditinggal dengan urusan kampus dan membuat cucunya tidak terurus. Itu sebabnya kedua orang tua Cherry mengambil kembali cucunya.
'Yang dikatakan Kakak ada benarnya. Jika aku tidak mengurus putriku dengan baik, bisa saja Mama dan Papa mengambil hak asuh Ryu kembali,' batin Cherry mulai gelisah.
Segera mereka kembali ke kota. Zinad memang jarang sekali pulang. Sekalinya pulang, paling hanya 2-3 hari saja di rumah. Ia lebih banyak menghabiskan waktu bersama dengan kekasihnya dan pekerjaannya.
"Nona, cuacanya sedang hujan deras. Lebih baik saya akan mengantar Anda sampai ke rumah saja," ujar asisten Melvin sebagai sopir hari itu.
Cherry merasa tertekan dengan tawaran asisten Melvin. 'Um, bagaimana ini? Jika aku tidak mengiyakan, maka Ryujin akan lebih lama lagi di rumah sendirian. Mana hujan disertai petir pula. Bagaimana jika di sana juga hujan?' gumamnya dalam hati.
"Nona, Nona Keith," panggil asisten Melvin, begitu mengetahui Cherry ngelamun.
"Hai! Kamu di panggil juga dari tadi, mikirin apa, sih!" sahut sekertaris Sarah kesal sendiri.
Demi sang putri, Cherry pun mengiyakan tawaran asisten Melvin untuk mengantar sampai ke rumahnya. Sebenarnya identitas yang dimiliki oleh Cherry hanya diketahui beberapa orang tertentu saja. Sebab memang Tuan Lucas belum mengumumkan bahwa Putri keduanya telah kembali.
Meski belum diumumkan secara resmi, tetap saja yang tercatat dalam akta Cherry adalah anak kandung dari Tuan dan Nyonya Lucas yang telah di ubah menjadi nama Cherry yang sekarang.
'Aman kali, ya. Hanya asisten Melvin dan sekertaris Sarah saja yang tahu. Aku rasa ... Orang seperti sekretaris Sarah ini tidak mungkin menunjukkan ke publik jika sudah mengetahui identitas asliku,' batin Cherry.
Sementara Cherry sedang perang batin karena sebentar lagi identitasnya akan diketahui, sekretaris Sarah juga sedang perang batin karena ia sangat penasaran dengan mimik wajah Cherry.
'Kenapa dia jadi gugup ketika asisten Melvin ingin mengantarnya sampai ke rumah? Memangnya kenapa? Hmm, mencurigakan!' batin sekretaris Sarah.
- -**--
Sesampainya di rumah yang besar dengan cat berwarna putih dengan lampu hias berwarna keemasan di depan teras,mereka berhenti dan memarkirkan mobilnya. Rumah mewah itu mampu membuat sekretaris Sarah tercengang.
"Asisten Melvin, sekertaris Sarah, kalian mau mampir dulu, kah? Mari, kita bisa menikmati teh bersama setelah menikmati perjalanan yang cukup panjang," ajak Cherry sebelum keluar.
"Terima kasih, Nona Keith. Tapi kita sudah seharusnya pulang. Tuan pasti menunggu hasil kerja kita," tolak asisten Melvin dengan lembut.
"Um, kapanpun kalian mau mampir, kabari saja, ya. Saya pulang dulu, terima kasih asisten Melvin karena sudah mengantar. Selamat berjumpa lagi besok di kantor," pamit Cherry.
Bahkan sampai Cherry masuk ke gerbang dengan disambut security yang baru bertugas pun pandangan sekertaris Sarah masih belum lepas. Ia tidak menyangka jika wanita yang ia tidak sukai malah ternyata tinggal di rumah semewah itu.
__ADS_1
'Itu serius rumahnya, Cherry? Ahhh ... Jangan-jangan dia anak seorang pelayan?' gumam sekertaris Sarah dalam hati. 'Aku sangat yakin sekali kalau dia anak seorang pelayan. Tidak mungkin jika dia adalah pemilik rumah itu,' lanjutnya.
Sifat iri dan dengki memang melekat dalam diri sekertaris Sarah. Ia menganggap Cherry sebagai saingan cintanya. Hal itu semakin membuat wanita lulusan manajemen dari universitas luar negeri ini meradang.
**
Sesampainya di rumah, Cherry langsung melihat isi kulkas. Ia merasa haus karena selama perjalanan, asisten Melvin sama sekali tidak mampir hanya untuk minum sebentar.
"Hm, rupanya Ryu makan dengan baik. Tumben makanannya semua habis? Ah, itu sudah bagus. Besok, aku akan tambahi porsinya," gumamnya.
Setelah itu, ia pergi ke kamarnya dan bersih-bersih diri. Ia juga merapikan tempat tidurnya. Selesai dengan dirinya sendirinya, ia hendak melihat putrinya sedang melakukan apa.
Terkejutnya ketika Cherry melihat putrinya sedang bersama Tuan Yasha—Bos-nya sendiri. Mereka tengah terlelap dalam tidurnya. 'Astaga, Tuan Yasha? Dia ... Kenapa dia ada di sini?' batinnya.
'Ryu? Dia juga kenapa sampai tidur di pangkuan Tuan Yasha?'
Perlahan langkah kaki Cherry masuk ke kamar dan mulai merapikan kamar gadis ciliknya yang berantakan karena mainannya. Masih dengan hati-hati, ia tidak ingin mengganggu keduanya tidur.
Seperti pasangan ibu, ayah dan anak. Ketika malam hari, sang ayah sibuk menemani putri kesayangannya tidur, lalu si ibu sibuk membereskan mainan yang berserak.
'Syukurlah ... Selesai juga! Huft, pasti mereka bermain dengan seru. Buktinya mereka lelah dan aku selesai beberes saja, mereka masih tertidur,' gumamnya dalam hati.
Merasa penasaran dengan pria kekar yang tengah memeluk putrinya, Cherry berusaha melihat pria itu dari jarak dekat. Ia mendekati Tuan Yasha dan menatapnya dengan jelas wajah Tuannya itu. Aroma tubuh dari pria itu rupanya masih mengingatkan akan sesuatu yang pernah dirasakan sebelumnya.
"Aroma ini …,"
Tuan Yasha membuka matanya begitu mendengar suara Cherry. Sekali membuka mata, yang ia lihat adalah wanita yang sudah mengenakan pakaian tidur.
Kebalikan, kini malah suar Tuan Yasha yang membuat Cherry terkejut. Hampir saja Cherry berteriak, beruntung Tuan Yasha langsung sigap menutup mulut wanita yang telah melahirkan putrinya.
"Stt, Ryujin sudah tidur," bisik Tuan Yasha.
Masih dengan mulut tertutup, Cherry pun mengangguk paham. Ia janji akan tenang dengan syarat Tuan Yasha harus melepaskan tangannya dari mulutnya.
Perlahan Tuan Yasha merebahkan tubuh Ryujin ke ranjang. Setelah turun dari ranjang, Cherry menarik tangan Tuan Yasha dan membawanya keluar. Namun, saat Cherry menggenggam tangan Tuan Yasha, lagi-lagi Ia mengingat dan merasakan sesuatu.
'Kenapa? Kenapa setiap aku melihat Tuan Yasha secara dekat dan menyentuh langsung kulitnya seperti ini … aku mengingat kejadian malam itu?' batin Cherry.
Tapi Cherry tak berpikiran positif. Dia tidak ingin mengotori pikirannya dengan hal negatif seperti itu. Baginya jika tuduhannya tidak benar, malah jadinya akan menjadi fitnah—tuduhan yang tidak benar dan pasti merugikan.
Saat sudah berada di luar kamar Ryujin, Cherry menanyakan mengapa Tuannya itu berada di rumahnya. Bahkan pertanyaan lain seperti sudah sejak kapan Tuan Yasha datang juga ditanyakan, padahal Tuan Yasha sendiri belum menjawab.
"Saya sedang bertanya, Tuan. Kenapa malah anda diam saja seperti ini?" Cherry gelisah.
"Aku sudah tiba di sini sejak siang tadi. Tepatnya begitu Cherry keluar dari sekolah," jawab Tuan Yasha.
"Entah kenapa dia tiba-tiba mengajakku pulang. Dan dengan langkah yang sangat ringan aku bisa sampai ke sini," jelasnya lagi.
"Dia kelelahan karena bermain. Itu kenapa dia tidurnya sangat pulas sekali. Kamu tidak perlu khawatir, aku tidak melakukan hal yang buruk pada putrimu,"
__ADS_1
"Aku akan menelpon asistenku untuk menjemputku ke sini,"
Tuan Yasha mengeluarkan ponselnya. Namun di waktu itu juga, tiba-tiba suara gemuruh perut pria ini terdengar sangat jelas.
"Apa Tuan lapar?" tanya Cherry .
"Tidak!" jawab Tuan Yasha menyembunyikan pipi merahnya, doa gengsi.
"Lah itu? Suara perut, 'kan?" tanya Cherry lagi.
"Bukan!" seru Tuan Yasha masih mengelak.
Suara perut yang lapar itu masih terdengar. Membuat Cherry sampai tak tega dan harus membuatkan makan malam untuk Tuannya.
"Oh, tapi ini sudah bukan jam kerjamu," ucap Tuan Yasha. "Aku tidak mungkin memerintahkan untuk bekerja," Tuan Yasha menatap arlojinya.
"Maka ... Tuan harus mengatur jam lembur saya, bagaimana?" sempat-sempatnya Cherry melakukan negosiasi.
Celetukan Cherry membuat Tuan Yasha sedikit tersenyum. Pria yang seperti sulit sekali untuk tersenyum, kalau itu bisa tersenyum dan tersipu.
"Baiklah kalau seperti itu. Seperti kemauanmu, aku akan membantumu memasak. Kita masak bersama," sahut Tuan Yasha semangat. Ia mengantongi ponselnya lagi dan reflek menarik tangan Cherry.
"Memangnya Tuan bisa masak?" tanya Cherry meremehkan. Dia juga tidak melepaskan atau menepis tangan Tuan Yasha.
Pria dengan pendidikan tinggi dan meraih nilai terbaik ini dengan lihai memperlihatkan cara memasaknya. Benar-benar seperti koki handal yang memasak di hotel bintang lima. Cherry takjub melihat kemahirannya.
"Wah, ternyata Tuan bisa trik juga?" sorak Cherry bergembira.
"Iya. Cobalah~"
Selesai memasak, mereka juga makan bersama. Alangkah senangnya Cherry dapat merasakan makanan yang Tuannya masak. Seling makan malam, Cherry juga menceritakan tentang rapatnya yang berjalan dengan lancar.
"Syukurlah jika rapat berjalan dengan lancar. Itu yang saya harapkan," ucap Tuan Yasha, datar.
'Responnya, Ya Tuhan!' keluh Cherry.
Kemudian tiba dimana Tuan Yasha menanyakan tentang Ayah Ryujin.
"Kenapa tiba-tiba menanyakan itu?" tanya Cherry, jadi sedih.
"Ini memang masalah pribadi. Tapi aku dengar dari putrimu kalau putrimu ingin memiliki seorang Ayah," ujar Tuan Yasha.
Helaan nafas kasar terdengar dari mulut Cherry.
"Sebenarnya Ryujin tidak pernah menanyakan tentang siapa dan bagaimana ayah kandungnya. Akan tetapi, akhir-akhir ini entah mengapa dia selalu menanyakan itu. Sedangkan sampai saat ini … saya belum menemukan pria yang tidur dengan saya enam tahun yang lalu itu," jelas Cherry, murung.
"Apakah kamu membenci pria itu? Dia tidak bertanggung jawab, 'kan?" tanya Tuan Yasha lagi.
Cherry menggeleng. "Dia sudah membayar saya, Tuan. Yah, meskipun uangnya sampai saat ini belum pernah terpakai, tetap saja Ryujin harus tahu siapa Ayah kandungnya," jawabnya.
__ADS_1
Hal itu saja Cherry sendiri tidak tahu mengapa dirinya selalu berterus terang pada pria yang masih asing baginya. Tapi perasaan Cherry jika bercerita dengan Tuan Yasha itu mampu membuatnya jauh lebih tenang daripada sebelumnya.