
"Nak, kamu punya Ayah. Papi kamu adalah orang yang baik, perhatian dan juga sangat tampan. Jadi ... Jika nanti ada waktu untuk kamu bertemu dengannya, kamu bisa memeluknya sepuas hatimu, hm?" Cherry mulai mengarang.
"Mi, tapi aku ing—"
Melihat wajah lelah di wajah Ibunya membuat Ryujin kembali ceria lagi. Ia tak ingin menambah beban pikiran Ibunya. "Aku baik-baik saja! Hanya teringat saja sejenak. Mami, semangat kerja!"
Senyum si kecil membuat Cherry tidak bisa menahan air matanya lagi. Ia membuang muka untuk menghapus air matanya. Sungguh tak tega baginya jika harus terus berbohong seperti itu.
'Maafkan Mami, Sayang. Mami tidak bermaksud untuk membohongi dirimu. Tapi memang ini adalah jalan satu-satunya untuk kebaikan kita semua,' batin Cherry.
Ryujin berangkat ke sekolah diantar oleh Cherry dan Zinad. Setelah itu, Zinad akan mengantar Cherry ke kantornya.
"Terima kasih karena Mami dan Bibi sudah mengantarku sampai ke sekolah. Aku akan belajar dengan giat supaya kalian berdua bangga padaku," Ryujin melambaikan tangannya.
"Mami tidak pernah memaksa untuk menjadi pintar, Nak. Jadilah anak yang selalu bisa dibanggakan, jaga emosi dan selalu tebar kebaikan, hm?" tutur Cherry.
"Siap, Mami!" Ryujin tersenyum lebar sampai memperlihatkan giginya.
Ryujin lari menuju sekolahnya. Keduanya mengantarnya sampai di depan gerbang persis.
Sementara itu, masih kesal dengan ucapan sang adik, usai mengantar Cherry, Zinad pun menegurnya. "Hais, jangan pernah memberikan harapan lebih pada Ryujin. Kamu saja bahkan belum tahu siapa ayah kandungnya, kenapa juga memberi harapan begitu? Jika faktanya Ryujin jelek, miskin dan gendut, bagaimana?" celetuknya.
"Bisa diam, tidak? Yang penting jawab saja dulu. Kakak mana tahu karena tidak berada di posisiku. Sudah ah! Aku juga sudah terlambat, sampai jumpa lagi!" ucap Cherry mencium pipi kanan kiri kakaknya.
"Hm, semangat bekerja!"
Begitu Cherry turun dari mobil, Zinad memacu mobil mewahnya dan segera meninggalkan tempat. Menuju toko bunga, tempat ia selalu mencurahkan rindunya pada Sonam—kekasihnya.
Kebetulan juga sekertaris Sarah dan asisten Melvin melihatnya turun dari mobil mewah tersebut. Sebenarnya asisten Melvin sudah mengetahui latar belakang dari Cherry, jadi ia tidak merasa terkejut sedikitpun.
"Asisten Melvin, apa Anda tidak curiga dengan latar belakangnya karyawan baru itu?" celetuk sekretaris Sarah.
"Siapa? Siapa yang kamu maksud itu?" tanya asisten Melvin.
"Ck, tentu saja Cherry, siapa lagi karyawan baru di perusahaan kita?" cetus sekretaris Sarah. "Apakah dia memiliki sugar daddy atau bagaimana, ya? Mengapa selalu mobil mewah itu yang mengantarnya ke kantor, kecuali memang dia berangkat bersama Anda dan Tuan Yasha?" imbuhnya penasaran.
"Sekretaris Sarah, sebaiknya jangan membicarakan hal ini lagi. Bukankah itu termasuk mencampuri urusan lain?" sahut asisten Melvin.
"Ck, dasar!" Sekretaris Sarah menjadi kesal sendiri.
Di sisi lain sekretaris Sarah memang penasaran sekali dengan latar belakangnya Cherry. Adapun Cherry memang selalu berangkat dan diantar oleh Zinad menggunakan mobil mewahnya.
'Aku curiga saja dengan wanita itu. Pasti dia bukan wanita sembarangan. Bisa-bisanya dia dekat dengan Tuan Yasha dan juga asisten Melvin,' batin sekretaris cantik itu.
***
__ADS_1
Di sekolah, acara ulang tahun Daniel telah dimulai. Ini di mana Tuan Yasha bertemu dengan putrinya untuk yang kedua kalinya. Saat itu, Ryujin mengenakan kalung berliontin milik Tuan Yasha.
"Paman, terima kasih karena Paman telah memberikan acara ulang tahun yang bagus ini," ucap Daniel.
"Apapun akan Paman lakukan untukmu," sahut Tuan Yasha.
"Pasti Ryujin sangat senang sekali. Ryujin sangat suka dengan acara-acara seperti ini," celetuk Daniel.
'Ryujin? Nama itu ... seperti namanya—'
Seketika Tuan Yasha teringat ketika Cherry menyebut nama putrinya. 'Benar, itu adalah nama anaknya Cherry,'
Saat itu, Ryujin sedang ke kamar kecil. Sudah sejak pagi gadis cilik ini selalu saja keluar masuk kamar kecil karena minum terlalu banyak.
"Ahhh, akhirnya sudah lega sekali perutku. Kenapa aku terus pergi ke kamar kecil, tisu kering-ku sudah hampir habis," keluhnya.
Selesai keluar dari kamar kecil, tak sengaja Ryujin menabrak Tuan Yasha yang pada saat itu sedang menelepon asisten pribadinya.
"Aduh, maafkan saya. Saya tidak sengaja menabrak Anda Tuan," ucap Ryujin dengan tutur kata yang baik.
Mendengar suara manis Ryujin, Tuan Yasha langsung menutup teleponnya dan menoleh ke arah gadis kecil itu. Kemudian ia berjongkok dan tersenyum padanya.
"Kamu manis sekali. Kamu tidak apa-apa, 'kan? Ada yang sakit tidak?" tanya Tuan Yasha, menyentuh lengan Ryujin.
Melihat liontin itu, membuat Tuan Yasha menjadi terkejut. Wajah manis dari Ryujin memang tak terlihat asing baginya. 'Liontin itu ... milikku? Dia ... Ryujin? Putriku dengan Cherry Keith?' katanya dalam hati.
"Tuan, kalau sudah tidak ada masalah lagi, bisakah saya pergi. Sahabat saya Daniel, masih belum menerima hadiah sari saya," ucap Ryujin.
"Kamu bicara begini dengan menggunakan bahasa Inggris, apa semua teman kamu mengerti?" tanya Tuan Yasha.
Cherry langsung menutup mulutnya. "Maafkan aku, aku pikir Tuan orang dari luar negeri. Wajah anda seperti bukan orang sini," celetuknya.
"Mami dan Bibi hanya memberiku izin bermain bersama Daniel dan Zoey saja. Mereka tidak mengizinkan aku bermain dengan anak perempuan lain selain dengan Zoey. Maaf Tuan, aku jadi tidak formal," jelas Ryujin lucu sekali.
'Ryujin ... nama yang bagus. Tapi dia sudah seperti orang dewasa. Apakah karena keadaan yang memaksanya? Atau memang didikan dari keluarga Tuan Lucas yang ... Ah, cukup. Mereka membesarkan dengan baik saja sudah bersyukur,'
Tuan Yasha berdiri kembali. Kemudian meminta waktu pada gadis kecilnya supaya bisa ngobrol lagi lain kali. Tentu saja Ryujin yang baik mengiyakan karena mengetahui bahwa Tuan Yasha bukanlah orang lain, melainkan Paman dari sahabatnya—Daniel. Sebelum mereka berpisah, Tuan Yasha mengambil rambut yang ada di bahu Ryujin untuk ia lakukan tes DNA.
Setelah selesai acara, tiba dimana mereka berdua bertemu kembali.
"Sepertinya Bibiku belum menjemputku, Paman!" seru Ryujin ketika Tuan Yasha mendekatinya.
"Apa Paman bisa mengantarmu pulang? Tantangan apa Paman tidak tega jika meninggalkanmu sendirian di sini. Kamu lihat, sekolah sudah sepi semua orang sudah pulang," usul Tuan Yasha.
Setelah berpikir sejenak, Ryujin mengajak Tuan Yasha ke rumahnya sebelum Zinad pulang. Kebetulan juga pelayanan rumah sedang cuti. Jadi Ryujin benar-benar sendirian di rumah.
__ADS_1
"Ini, orang rumah pada kemana?" tanya Tuan Yasha.
"Bibiku dan Mami-ku kerja, pelayanan rumah cuti, dan sepertinya hanya ada Tukang kebun saja," jawab Ryujin. "Paman lapar tidak? Biasanya Mami menyisakan makanan untukku buat makan siang,"
Tanpa menunggu jawaban dari Tuan Yasha, Ryujin ke dapur duluan. Tidak lama setelah itu, disusullah oleh Tuan Yasha. Benar saja, ternyata memang Cherry sudah menyiapkan makan siang untuk putri kecilnya yang cerdas itu. "Hanya ada satu porsi. Bagaimana kalau kita kongsi?" usulnya.
"Baiklah!" seru Tuan Yasha.
Mereka makan siang bersama di ruang tengah. Sembari melihat-lihat beberapa foto yang terpampang di setiap sudut rumah. Melihat foto ketika Ryujin mendapatkan juara di kelas bernyanyi membuat Tuan Yasha bangga sendiri. Pria ini memang yakin sekali bahwa Ryujin adalah Putri kandungnya.
"Bagaimana? Enak kan, masakan Mami?" tanya Ryujin memecahkan lamunan Tuan Yasha.
"Iya, ini sangat lezat sekali. Bahkan lebih lezat dari masakan restoran," sanjung Tuan Yasha.
"Mamiku itu kasihan sekali, Paman!" seru Ryujin.
"Kenapa memangnya?" tanya Tuan Yasha.
"Hufft, setiap pagi harus bangun pagi-pagi sekali. Membuat sarapan, bersihkan kamarku, menyiapkan sarapan dan harus masih mengantarku ke sekolah. Mami-ku memang hebat!" celetuk Ryujin.
"Lalu, di mana Papimu?" tanya Tuan Yasha. "Paman tidak melihat satupun foto ketika kamu berfoto dengan papimu,"
Seketika, Ryuji menundukkan kepalanya. Ia tidak ingin mengungkit masalah tentang Ayah dengan siapapun. Namun Ryujin juga tidak mengerti mengapa dirinya mau menyatakan keinginannya untuk memiliki seorang Ayah.
"Mami tidak pernah mengungkit tentang Papi dan siapa Papiku itu. Setiap kali aku bertanya, pasti Mami akan sedih. Aku melihatnya sudah lelah memberiku hidup yang baik, jadi aku tidak ingin bertanya lagi meski aku juga ingin seorang Ayah," jawab Ryujin.
"Apa Mami tidak memiliki pacar?" tanya Tuan Yasha.
Ryujin menggeleng. "Setahun aku, Mami tidak memiliki pacar. Waktunya sudah habis untukku dan pekerjaannya," jawabnya dengan suaranya yang lucu.
"Jika nanti Mamimu menikah dengan orang lain dengan yang bukan Papi kandungmu, apakah kamu akan menerimanya?" Tuan Yasha semakin ingin tahu.
Ryuhin terdiam. Ia berpikir sejenak dan mulai menjawabnya. "Aku tidak memiliki keinginan yang besar pada Mami, Paman. Jika suatu saat nanti Mami menemukan laki-laki yang baik seperti Kakek, meskipun dia bukan ayah kandung aku, aku tetap akan menerimanya!" Jawabnya dengan senyuman manisnya.
"Mami pasti tahu, jika laki-laki itu mampu menerima Mami, berarti juga mampu menerimaku. Dan tugasku adalah .... menerimanya juga sebagai Papi-ku!" serunya dengan celoteh anak kecil.
"Kata Mami, Papi-ku adalah orang yang baik. Aku tidak boleh membencinya meski dia tidak pernah mencari kami. Mami bilang, setiap orang memiliki urusan masing-masing dan aku tidak boleh mengusik urusan Papi, sampai Mami tahu kapan Papi-ku akan datang," tukas Ryujin dengan melahap makanannya.
Tuan Yasha menjadi merasa malu sendiri. Sifat yang dimiliki Ryujin sama persis dengan sifat Cherry. Tak pernah berpikir buruk dan selalu tersenyum menghadapi masalah. Hal itu membuat Tuan Yasha semakin malu, jika benar Ryujin adakah putri kandungnya.
'Kamu tidak paham apa yang ingin Mamimu sampaikan, Nak. Aku janji, jika aku benar adalah Ayahmu, meski aku belum bisa mencintai Mami-mu, aku akan membuatnya bahagia. Kamu bahagia melihat Mamimu bahagia, 'kan?' gumam Tuan Yasha dalam hati.
Setelah makan siang, Tuan Yasha menemani Ryujin bermain di kamarnya. Mereka terlihat asyik sekali ketika bersama. Terlihat jelas jika mereka adalah pasangan Anak dan Ayah. Wajah mereka sangat mirip meski karakter yang dimiliki Ryujin turunan dari Cherry.
Bermain sangat lama membuat keduanya lelah. Tak terasa, Ryujin tertidur di pangkuan Tuan Yasha yang saat itu bersandar di bahu ranjang dan duduk di bawah beralaskan karpet sulfur. Akankah Cherry atau Zinad tahu hal itu?
__ADS_1