Desahan Cinta Satu Malam

Desahan Cinta Satu Malam
Zinad Mengetahui Kehamilan Itu


__ADS_3

Awalnya Zinad tidak paham untuk apa obat tersebut. Setelah dicari tahu, ternyata obat tersebut adalah suplemen bagi Ibu hamil. Zinad terkejut, ia tak menyangka jika Bianca sedang hamil.


"Sebenarnya ini obat apa? Biar aku cari dulu,"


"Sakit apa sebenarnya dia?"


Setelah klik~


"Ha?" Mulut Zinad menganga.


Meski tahu jika adiknya hamil, Zinad tetap tidak akan langsung menuduh. Ia akan menanyakan di waktu yang tepat dan menenangkan diri terlebih dahulu.


Di kamarnya, Zinad terus duduk termenung di batas ranjang. Masih memikirkan suplemen nutrisi ibu hamil yang ia temukan di bawah bantal dan atas nama Cherry Keith, adiknya.


"Apa yang terjadi padamu, Cher? Selama ini aku merasa sudah mengenalmu dengan baik. Kamu tidak mungkin berbuat macam-macam yang akan merugikan seperti ini,"


"Tapi ini apa? Dengan siapa dia hamil, kenapa dia tidak pernah cerita padaku? Hah, tidak mungkin dia akan cerita. Meskipun kita dekat, dia pasti merasa malu, takut dan bingung mau cerita bagaimana,"


"Lalu, aku harus tanya dengan siapa? Cherry dan gadis sialan (Lui) juga sudah tidak berteman. Bahkan, mantan pacarnya saja juga sudah di usir jauh oleh Cherry,"


Zinad terus bergeming, ia bingung akan bertanya kepada siapa. Sampai pada akhirnya, nama Frans lah yang muncul dalam ingatannya. Saat itu juga ia langsung menelpon Frans dan memintanya bertemu malam itu juga di Cafe miliknya.


Dari sisi lain, Frans juga sudah menebak jika Zinad lambat laun akan menemuinya, karena adiknya hamil. Frans tahu betul jika Cherry tidak pandai berbohong.


"Bik, tolong Cherry, ya. Saya mau ke cafe sebentar. Buatkan saja dia bubur kubis kesukaannya supaya tidak amis. Orang yang sedang tidak enak badan biasanya tidak suka dengan bau amis," pinta Zinad.


"Baik, Nona Zinad,"


Zinad segera pergi menemui Frans dan akan segera mengetahui kebenarannya disana. Hanya Frans yang saat itu pasti tahu segalanya tentang adiknya. Menyetir dengan tergesa-gesa, Zinad sampai lupa bahwa dirinya masih mengenakan pakaian santai rumah.


Sekitar 10 menitan, sampailah Zinad di cafe miliknya. Terlihat Frans juga sudah menunggunya. Segera, Zinad turun dari mobilnya dan semua orang menatapnya dengan tatapan heran.


"Kak, apa kau sudah gila?" Frans segera menghampiri dan melepas jaketnya menutupi paha Zinad yang sangat mulus itu.


"Ada apa? Kenapa kau … Astaga, apa yang aku kenakan ini? Aku sampai lupa memakai celana panjang," Zinad malah meraih tangan Frans yang saat itu hendak menutupi pahanya yang mampu di liat orang dengan leluasa, kemudian mengajaknya ke kantornya.


Sebenarnya Zinad sendiri merasa sangat malu, pipinya memerah dan hawa tubuhnya sangat panas. Bagai mana tidak, yang ia kenakan bukan seharusnya ia pakai di tempat umum.


"Ada hal penting apa yang membuatmu sampai bisa tidak memakai baju layak seperti ini?" tanya Frans.


"Diamlah! Ahh, malu sekali aku!" sentak Zinad.

__ADS_1


Beruntung saja Zinad selalu meninggalkan pakaian ganti di kantornya. Ia bisa mengganti pakaiannya dan bisa mengobrol santai dengan Frans masalah kehamilan Cherry.


"Sudah?" Frans masih saja meledeknya.


"Sekali lagi kau meledek, ku pastikan malam ini kau meminum racun, Frans!" ketus Zinad dengan menunjuk wajah Frans.


Setelah insiden baju, Zinad menanyakan tentang kehamilan yang adiknya alami tanpa sensor. Frans yang tidak terkejut awalnya tidak mau ikut campur terlalu dalam, ia ingin Cherry sendiri yang menceritakan. Namun karena Zinad terus mendesaknya, terpaksalah Frans harus menceritakan segalanya, dengan syarat Zinad tidak boleh marah dengan adiknya sebelum diceritakan olehnya secara langsung.


"Apa? Jadi, dua bulan lalu dua bajing dan an itu mengajaknya bekerja sebagai pelayan Bar?" Jelas Zinad tak terima, yang dimaksud adalah Lui dan Federica.


"Benar, tepatnya dua bulan lebih yang lalu. Selama ini Cherry juga sudah mencari siapa pria itu. Tapi dia tidak pernah mendapatkan informasinya. Sepertinya, pria yang membuatnya hamil bukan orang sembarangan, Kak," ungkap Frans.


"Tapi jika pria itu sudah membayar Cherry, itu tandanya ... meskipun adikku hamil, tetap saja pria itu tidak mau bertanggung jawab. Sebab dia sudah membeli adikku pada malam itu," Zinad jadi melemah.


Bagaimana tidak, baru saja bisa berkumpul dengan adiknya yang telah lama hilang, saat itu malah diuji dengan sebuah kehamilan dan yang pasti akan membuat hubungannya terganggu. Apalagi Cherry sendiri tidak mau bercerita kepadanya.


Setelah mendengar penjelasan dari Frans, Zinad pulang dengan wajahnya yang lesu. Antara kasihan dan ingin marah kepada adiknya itu. Ia marah karena adiknya tidak mau bercerita, lalu Zinad sedih karena ternyata dibalik hamilnya adiknya ada campur tangan Lui dan Federica.


Malam berlalu dengan sedikit lambat bagi Zinad. Ia tak dapat tidur karena adiknya yang hamil di luar nikah. Sampai-sampai tugas kuliahnya ada yang belum dikerjakan.


"Ahhh, pusing sekali aku!" keluhnya.


***


"Kak, tugas?" tanya Cherry, seolah tidak terjadi apapun.


"Iya," jawab Zinad mengangguk.


Zinad masih belum sempat memakan roti yang ada di depannya. Cherry pun berinisiatif menyuapi kakaknya dengan tulus. Saat menatap roti yang di depannya, Zinad juga menatap mata adiknya itu. Rasa tak tega dengan apa yang terjadi pada sang adik, Zinad pun menggigit roti yang disodorkan.


"Susu ini ... juga milikmu, 'kan?" tanya Cherry.


"Oh, bukan. Itu milikmu, punyaku yang ini. Ayo minumlah dan segera suapi aku lagi," jawab Zinad dengan senyuman.


Dengan telaten, Cherry menyuapi kakaknya. Sementara dirinya masih belum meminum susunya karena terlihat warna dari susu itu berbeda dari biasanya.


"Ada apa? Kenapa susunya hanya dipandang terus? Kamu harus minum susu. Kau tatap saja juga susu itu tak akan berubah jadi sirup, Cher!" masih sempat-sempatnya Zinad bercanda di tengah tugas yang melanda.


Namun tetap saja sepasang mata Cherry masih menatap susu itu dengan seksama karena warnanya pun berbeda. Tapi karena kakaknya yang membuatkan, Cherry meminumnya tanpa ragu. Akan tetapi, ia muntah kembali. Zinad segera menyusulnya ke dapur dan memijat tengkuk Cherry.


"Kamu hamil, ya?" tanya Zinad tiba-tiba. Ia sudah tak tahan lagi.

__ADS_1


Seketika Cherry terdiam, dalam hatinya ia bertanya-tanya dari mana kakaknya sampai mengetahuinya.


"Masih tidak mau mengatakan pada kakakmu ini, Cher?" tanyanya lagi, kali itu nadanya ketus sekali.


"Jangan bertanya kakak tahu darimana. Gerak-gerik kamu ini sudah sangat jelas menunjukkan kalau kamu sedang hamil, Cherry Keith!" Zinad geregetan sekali.


Belum sempat menjawab, Cherry kembali mual, dengan sigap Zinad memijat tengkuk adiknya kembali. Mengambilnya air hangat dan menuntunnya ke meja makan. Ia juga mengatakan jika susu yang ia buatkan untuk Cherry adalah susu untuk ibu hamil.


Tanpa bicara, Cherry menangis, langsung memeluk sang kakak. Ia terus menangis, menangis dan menangis. Tetapi bibirnya masih bungkam, luka hati Zinad menjadi semakin besar karena melihat adiknya menderita.


Tapi Zinad berusaha untuk tetap tegar. Dia juga ingin sekali tetap terolah tegas supaya Cherry mau jujur padanya. "Cher, aku ini Kakakmu. Kamu bisa mengatakan apa yang kamu alami padaku," katanya.


"Apakah selama ini kamu tidak pernah mempercayaiku?"


"Aku akan selalu ada untuk menjadi garda terdepan untukmu,"


"Cher, bicaralah!"


Isak tangis yang terdengar saat itu. Cherry masih belum mampu mengatakan kenyataan pahitnya yang sedang menimpanya.


"Jika kamu sudah siap, kapanpun kamu bisa bercerita. Ayo, sekarang sarapan dan paksakan kamu harus makan, hm?"


Tak ingin memaksa, Zinad meminta Cherry untuk kembali mengisi perutnya. Betapa ia sangat menyayangi adiknya. Ia tak bisa marah pada sang adik, meskipun adik kesayangannya itu tak ingin berbagi duka dengannya.


Pagi itu, mereka sarapan seperti biasa. Hanya saja, sangat senyap dan tidak ada selatan katapun yang keluar dari mulut mereka. Sampai pada akhirnya, Frans datang menjemput Cherry ke kampus.


"Kamu mau ke universitas?" tanya Zinad, menaikkan satu alisnya.


Cherry mengangguk.


"Dengan keadaan seperti itu? Bagaimana jika kamu kelelahan?" lanjut Zinad.


"Kakak tenang saja. Ada Frans yang selalu menjagaku. Lagipula ... hari ini hanya sebentar kuliahku. Jadi tidak akan terlalu melelahkan," jelas Cherry dengan senyuman.


Zinad tak bisa berkata-kata lagi, ia hanya menatap Cherry dengan tatapan yang begitu dalam.


"Kak, semuanya akan baik-baik saja. Nanti, aku akan ceritakan semuanya. Kakak bisa siapkan banyak-banyak pertanyaan untukku. Siang nanti, kita bertemu di toko bunga Bos Sonam, ya?" ujar Cherry dengan lembut, menggenggam tangan kakaknya.


"... sampai bertemu nanti," pamitnya.


***

__ADS_1


__ADS_2