Desahan Cinta Satu Malam

Desahan Cinta Satu Malam
Mandiri Lagi Meski Sulit


__ADS_3

Tuan Lucas paham apa yang dirasakan putrinya. Kejadian itu, pernah dialami oleh Ibu Tuan Lucas saat ingin melahirkan dirinya. Tuan Lucas duduk di ranjang milik Cherry. Beliau merenungi sebuah nasib, yang sama dialami Cherry dengan ibunya dulu.


"Ada, Pi? Kenapa Papi terlihat lemas begini?" tanya Zinad.


"Dulu, Oma-mu juga memiliki nasib yang sama dengan Cherry. Oma hamil duluan karena di perkosa oleh orang yang tak dikenal. Lalu, demi melahirkan Papi, Oma pergi ke sebuah desa terpencil," ungkap Tuan Lucas.


"Bedanya, kita semua menginginkan Cherry di sini. Tapi, dulu Oma tidak! Oma di usir. Papi tidak tahu kisah semuanya, tapi Pamanmu lah yang menceritakan semuanya kepada Papi,"


"Ini semua salah Papi. Jika Papi tidak lahir, pasti anak Papi tidak memiliki nasib yang sama." Tuan Lucas terus menyalahkan dirinya. Masih ada hal lain yang membuat Tuan Lucas menyesali kepergian Cherry. Sejak bayi, Cherry hilang dan hidup menderita. Kebersamaan mereka hanya dua bulan lamanya, kemudian Cherry harus pergi lagi karena tak ingin membuat nama keluarganya tercemar.


Selama hamil, Cherry mulai bekerja setiap harinya. Di pagi hari, Cherry harus bekerja di salah satu rumah makan kecil yang ada di pelosok desa yang ditinggali.


Kemudian di sore hari, ia akan membuat makanan ringan untuk dijual kembali ke toko-toko dan titipkan di sana. Belum lagi, Cherry juga memiliki pekerjaan sampingan. Cherry menjahit banyak baju untuk dijual ke Kota melalui salah satu tetangganya yang ia kenal di sana, namanya Pia.


"Wah, Kak Cherry memang sangat cerdas. Membuat baju sebanyak ini disaat Kakak sendiri hamil. Itu sungguh luar biasa, Kak!" puji Pia.


"Pia, kamu ini kan seusiaku. Kenapa panggil aku Kakak pula?" protes Cherry.


"Ya beda dong, Kak!" seru Pia.


"Kak Cherry kan sudah menikah, meskipun kita tuh seumuran ... tapi Mbak biasa itu sudah menikah dan tandanya itu Mbak Cherry sudah dewasa. Jadi, aku harus menghormati gitu, loh! Makanya, aku panggil Kakak Cherry dengan sebutan Kakak," jelas Pia dengan mulut comelnya itu.


Cherry memang mengatakan bahwa dirinya telah menikah di bawah tangan dengan seorang pria. Ia melakukan itu dengan terpaksa supaya bisa tinggal di desa tersebut. Cherry juga mengatakan bahwa dirinya telah ditinggalkan oleh suami bayangannya itu, karena diketahui anak yang ia kandung adalah bayi perempuan.

__ADS_1


"Gini, ya, Kak. Anak perempuan dan anak laki-laki itu kan sama saja. Kenapa juga kalau anak pertama itu perempuan? Bukankah, aku juga anak pertama perempuan? Nyatanya, orang tuaku tetap menerima kelahiranku," celetuk Pia.


"Benar. Ibu juga tidak mempermasalahkan anak pertama itu perempuan atau laki-laki. Yang terpenting, bayi itu lahirnya sehat, sempurna dan tidak penyakitan, 'kan?" sahut Ibunya Pia.


"Anak ini ... adalah anak orang kaya, Bu. Ya, tahu sendiri lah di kota. Anak pertama itu harus laki-laki agar bisa meneruskan usaha milik keluarganya. Tapi, nyatanya saya tidak dapat memberikan itu dan alhasil saya dibuang seperti ini," ujar Cherry kembali berbohong.


"Oalah, ada-ada saja, ya. Ya sudahlah, tinggallah disini, kami akan merawatmu dan anak kamu," lanjut Bu Linda, Ibunya Pia.


'Maafkan aku Bu Linda. Haduh, aku terpaksa berbohong kepada semua orang tentang statusku yang sebenarnya. Tapi aku harus bagaimana lagi, jika tidak begini, mana mungkin aku bisa bertahan sampai saat ini?' gumam Cherry dalam hati.


Selama hidup di desa terpencil itu, Cherry sangat bahagia. Hidup sederhana guyub rukun dengan tetangga. Tak lupa setiap bulannya, Tuan Lucas mengirim sejumlah uang untuk simpanan Cherry hidup di sana. Namun, Cherry tidak pernah menggunakan uang tersebut.


Jika ia menggunakan uang tersebut maka orang- orang desa akan mencurigainya.


"Papi, kenapa harus sering transfer, sih? Cherry hanya bercanda waktu itu," jawab Cherry.


'Kamu juga anak Papi. Jika kakakmu mendapat uang saku, maka kamu juga akan dapat. Sudah, ya. Papi ada pekerjaan mendesak, nanti akan Papi hubungi lagi. Jaga kesehatanmu di sana!'


Tuan Lucas menutup teleponnya. Tak terasa air mata Cherry membasahi pipinya. Bagaimana tidak, selamanya hidup Cherry belum pernah mendapatkan kasih sayang dari orang tua kandungnya. Namun, setelah mendapatkan kasih sayang dari orang tua kandungnya, Cherry malah tidak bisa berkumpul dan berbakti kepada orang tuanya.


"Papi, Mami, Kak Zinad, aku minta maaf. Aku telah mengecewakan kalian. Maafkan aku," Cherry sampai mencengkram erat dadanya. Merasakan sakit karena telah menyakiti perasaan keluarganya sendiri.


***

__ADS_1


Beberapa bulan berlalu, kandungan Cherry sudah memasuki usia 8 bulan. Ia baru saja melakukan tes dan USG di Kota yang tak jauh dari desanya. Dengan ditemani oleh Ibu Linda dan Pia, Cherry merasa aman saat melakukan pemeriksaan.


"Karena aku sudah tidak kuat berjalan lagi, bagaimana jika kita pulang naik taksi saja? Aku yang bayar," usul Cherry.


"Aduh, itu malah akan mahal sekali. Menghabiskan uang sakumu selama dua minggu, Cherry. Sudahlah, biar Ibu cari cara lain saja, ya," sahut Bu Linda menolak usulan dari Cherry.


"Tapi kalian juga kan capek ke sana-kemari bantuin aku. Aku kan jadi tidak enak, Ibu, Pia, mau ya naik taksi pulangnya," Cherry terus membujuk.


Namun, Bu Linda menolak karena tidak mau Cherry mengeluarkan uang banyak. Sebab, jika naik taksi dari Kota sampai ke desa, akan memakan ongkos banyak. Bu Linda memahami Cherry yang hidup sederhana. Bu Linda takut uang yang digunakan untuk biaya lahiran akan terkikis lama-lama jika Cherry tidak hemat.


Bu Linda berlari ke arah gerobak motor yang di kendarai oleh salah satu pemuda di desanya. Dari jauh, Cherry melihat Bu Linda sedang negosiasi dengan pemuda tersebut.


"Sebenarnya apa yang ingin ibumu lakukan, Pia?" tanya Cherry.


"Lihatlah, Ibu selalu begitu. Setelah ini, pasti akan keajaiban. Kita lihat saja nanti, Cher," jawab


Pia.


Pia sudah tak lagi memanggil Cherry dengan sebutan Kakak sesuai permintaan Cherry sendiri. Mereka semakin akrab di setiap harinya. Pia si gadis desa ini memang tidak sekolah, namun attitudenya sangat bagus dan berhati lembut.


Tak lama kemudian, Bu Linda kembali dengan naik di gerobak motor tersebut. "Cherry, ayo naik! Kita pulang naik ini saja! Aman, murah dan pastinya akan dapat menikmati pemandangan!" ajak Bu Linda.


"Aku bilang juga apa, Cherry. Ibuku ini memang ajaib. Sudahlah, sini aku bantu kamu naik. Kita harus segera pulang dan kami harus cepat istirahat!" Pia menepuk keningnya sendiri melihat tingkah konyol dari Ibunya.

__ADS_1


Karena tidak ingin membuat Bu Linda kecewa, mau tidak mau Cherry harus mau naik ke gerobak motor tersebut. Jika dirasa, Cherry sangat menikmati perjalanan karena ia terus terkena angin dan dapat melihat pemandangan di sekitar desanya. Lalu, ada hal yang sangat mengejutkan lagi, bayi yang ada di kandungannya selalu menendang-nendang ketika Cherry menikmati pemandangan indah di sekitar desanya itu.


__ADS_2