
Di sekolah.
Pertama kali sekolah bagi Ryujin di sekolah internasional. Tentu saja Cherry menginginkan yang terbaik untuk putri semata wayangnya. Di sekolah, Ryujin bertemu dengan sepupunya—keponakannya sang ayah kandung—adik dari Tuan Yasha.
Gadis kecil itu juga bertemu dengan Zoey—putrinya Frans dan Lui. Mereka rupanya satu angkatan.
Setelah diantar Zinad, Ryujin memang sudah berani masuk sendiri ke kelasnya. Ryujin adalah anak pemberani, sehingga membuat Zinad tidak repot lagi harus menunggu.
"Yakin, ditinggal?" tanya Zinad, meyakinkan Ryujin kembali.
Ryujin hanya mengangkat jempol tangannya. Setelah drama perpisahan bibi dan keponakan ini, barulah Ryujin masuk ke kelas.
"Hai, kamu siapa? Namaku, Daniel Clifton. Panggil saja aku Daniel," sepupu Ryujin itu memperkenalkan dirinya.
"Namaku Zoey, aku baru tinggal di Kota ini selama satu bulan," Zoey pun tak kalah ingin berkenalan denganmu Ryujin.
Sementara Ryujin hanya diam saja. Ia masih kepikiran dengan apa yang dikatakan oleh Zinad untuk pilih-pilih dalam berteman. Namun Ryujin sendiri bisa berpikir dengan sendirinya. Dua teman yang berkenalan dengannya adalah anak laki-laki dan perempuan. Jadi memang Ryujin ingin sekali berteman dengan keduanya.
"Kamu, kok, diam saja? Kenapa? Kamu tidak mau bicara denganku?" tanya Daniel.
"Em, aku mau bicara dan berteman dengan kalian. Tapi, Bibiku bilang, kalau aku tidak boleh sembarangan berteman," jawab Ryujin polos.
"Kenapa demikian?" tanya Zoey.
"Dulu Mamik⁸u selalu baik pada orang lain. Tapi dia malah dijahatin sama temannya sendiri. Aku tidak ingin teman seperti itu," ujar Ryujin.
"Aku janji, aku akan baik padamu. Kita akan jadi teman yang baik," Danel sampai mengangkat jari kelingkingnya.
"Aku juga!" seru Zoey tidak mau kalah.
Setelah di pikir-pikir, akhirnya Ryujin mau berteman dengan Daniel yang sebenarnya adalah sepupunya dan juga Zoey yang sebenarnya adalah teman Ibunya yang telah menyakiti hati Ibunya. Anak-anak ini masuk ke kelas dan duduk bertiga.
Anak taman kanak-kanak itu sangat lucu terlihat ketika bergandengan bersama menuju kelasnya.
***
Sementara itu, Tuan Yasha meminta Cherry untuk mengambilkan berkas yang ada pada Sekretaris Sarah di ruangannya. Namun dengan ragu, Cherry menjawab 'baiklah' saja.
__ADS_1
"Kenapa jawabnya seperti itu? Apa kau tidak rela dimintai tolong oleh Tuanmu, ini?" tanya Tuan Yasha menyeritkan alisnya.
"Ah, bukan seperti itu, Tuan. Hanya saja ... sepertinya Sekertaris Sarah tidak menyukai saya," jawab Cherry lirih.
"Dia tidak pernah menyukai karyawan wanita. Lantas, mengapa? Aku Bosnya, kenapa kau malah lebih takut padanya, hah?" Tuan Yasha mulai menaikkan nada suaranya.
"Baik,"
Dengan lemas, Cherry menuju meja Sekretaris Sarah dan meminta apa yang diperlukan oleh Tuan Yasha saat itu juga. "Ada apa?" tanya Sekertaris Sarah dengan ketus.
"Tuan … Tuan ingin saya mengambilkan beberapa dokumen yang—em …," Cherry mulai gugup.
Bruk!
Beberapa dokumen itu di banting di depan Cherry. "Ini, berikan kepada Tuan Yasha. Jangan sampai beliau menunggu lama. Beliau sangat benci dengan kinerja karyawan yang lambat, paham!" tegas Sekretaris Sarah.
Cherry mengangguk, segera membawa berkas tersebut dan membawanya masuk ke ruangan Tuannya. Selain tidak melakukan perintah Tuan Yasha, Cherry hanya duduk termenung menemani kerja Tuan Yasha di ruangannya. Itu membuatnya sangat jenuh dan mulai mengantuk.
**
Jam istirahat telah tiba. Tuan Yasha menghentikan pekerjaannya dan hendak meminta Cherry untuk membawakannya makan siang. "Cher, makan siangnya ka—" belum juga mengatakan dengan jelas apa yang ia mau, Tuan Yasha terpesona ketika melihat Cherry sedang tidur.
Tuan Yasha mengambil spidol dan mulai mencoret wajah ibu satu anak itu dengan menggambarnya kumis kucing dan menuliskan kata bodoh di kening Cherry. Masih dengan menahan tawa, pria kaya raya itu langsung tersenyum jahat dengan puas melihat hasil lukisannya.
'Haha, lihatlah. Kau sama persis dengan kucing sekarang! Dasar kucing nakal, bodoh!'
Tuan Yasha sibuk mencoret-coret wajah Cherry.
Kembali, ketika melihat bibir Cherry yang mungil berwarna merah muda, membuat pria kaya raya ini terdiam memandanginya. Jakunnya naik turun, pikirannya mulai nakal, seolah meminta ia untuk menciumnya. Hawa kotor pikirannya pun mulai muncul, perlahan ia mendekatkan wajahnya ke wajah Cherry.
Namun ketika sedikit lagi bibirnya saling menempel, Asisten Melvin datang mengetuk pintu. Membuat setan yang keluar di otak Tuan Yasha hilang dan kembali tersadar. Begitu juga dengan Cherry yang terbangun karena suara ketukan tersebut.
"Kau, apa kau tidak bisa datang nanti?" desis Tuan Yasha.
"Maaf, Tuan. Saya hanya datang membawakan makan siang untuk Tuan dan Nona Keith. Silahkan, permisi—" Asisten Melvin langsung kabupaten begitu saja.
Bagaimana tidak canggung? Jika ketika Asisten Melvin hendak masuk, ia melihat Tuannya sedang ingin mencium Yahsa.
__ADS_1
"Haduh, beruntung saja Nona Keith sudah bangun. Jika tidak, maka aku akan kehilangan pekerjaanku!" gumamnya.
Ketika keluar, Asisten Melvin bertemu dengan Sekretaris Sarah. "Asisten Melvin, apakah Tuan ada di dalam?" tanyanya.
Asisten Melvin mengangguk, ia melihat kotak makan di tangan Sekertaris Sarah dan bertanya, untuk siapa kotak makan tersebut. Dengan semangat, Sekretaris Sarah mengatakan bahwa kotak makan itu untuk Tuan Yasha.
"Tuan sedang makan siang," jawab Asisten Melvin.
"Loh, tapi biasanya beliau memintaku untuk membelikan makanan ini," jawab Sekretaris Sarah dengan percaya diri. "Aku akan tanyakan lagi!" lanjutnya dengan melangkah tanpa permisi.
Asisten Melvin langsung menghalanginya. Meminta untuk Sekretaris Sarah tidak mengganggu Tuan Yasha yang sedang makan siang bersama dengan Cherry.
"Apa? Cher ... karyawan baru itu?" tanya Sekertaris Sarah merasa tak terima.
"Nona Keith. Tuan meminta kita semua memanggilnya dengan sebutan Nona," jelas Asisten Melvin. "Tolong, Sekretaris Sarah untuk meninggalkan area ruangan Tuan. Jangan sampai Tuan terganggu, kita tahu sendiri jika Tuan sampai terganggu, maka kita tidak akan pernah lepas dari semua masalah," tutur Asisten Melvin mengusir dengan gaya.
Apa yang dikatakan Asisten Melvin memang ada benarnya. Sekretaris Sarah hanya bisa mengalahkan saat itu. Segera ia pergi dengan wajah kesalnya. Tidak tertinggal, dia terus mengumpat tentang Cherry.
Ketika Sekertaris Sarah membawa kembali kotak makannya, beberapa karyawan memandangnya penuh dengan pandangan tanda tanya besar.
"Sekretaris Sarah, apakah Tuan tidak makan siang?" tanya salah satu karyawan.
"Diamlah! Apa urusanmu! Pergi istirahat dan jangan menggangguku!" ketus Sekretaris Sarah.
Karyawan yang bertanya itu pun pergi meninggalkan Sekretaris Sarah dengan heran. Pasalnya memang Tuan Yasha belum pernah menolak makan siang yang dipesan olehnya.
"Dasar ******! Kau akan mendapatkan pelajaran dariku nanti, Cherry!"
Meninggalkan kekesalan Sekretaris Sarah kepada Cherry, di ruangan kerja Tuan Yasha, sedang dalam suasana canggung. Ia merasa bersalah telah tidur pada jam kerja.
"Kenapa diam? Apa kau tidak mau makan siang denganku?" tanya Tuan Yasha dengan wajah dinginnya.
"Um, itu ... saya hanya, hanya, mau minta maaf kalau saya telah tertidur," ucap Cherry dengan memainkan tangannya.
"Bicara yang jelas!" tegas Tuan Yasha.
"Sa-saya bersalah karena telah tidur di jam kerja. Maafkan saya, Tuan. Tolong jangan pecat saya atau potong gaji saya. Saya single parent yang memiliki satu putri dan masih sekolah," Cherry sampai memohon di kaki Tuan Yasha.
__ADS_1
Tuan Yasha memutar matanya. Ia masih tidak habis pikir dengan Cherry yang terus menerus mengatakan bahwa dirinya orang yang sangat butuh sekali dengan uang. Sedangkan Ayahnya saja adalah seorang pengusaha sukses di luar Negri.