
Di rumah, betapa bagaimana Zinad karena telah menjadi seorang Bibi dari keponakan yang lucu. Di mana keponakan itu yang sudah sangat ia harapkan kelahirannya.
Zinad sangat bahagia dan segera memberitahu Nyonya Fazura yang saat itu sedang memasak di dapur. Beberapa hari lalu ia baru kembali dari bisnisnya di luar negeri. "Mama!" teriaknya .
"Mama, kabar gembira, Mama!" seru Zinad bersemangat.
"Mama!"
Zinad terlihat seperti anak kecil yang baru saja menerima hadiah. "Ada apa?" tanya Nyonya Fazura jadi terkejut.
"Cherry, Ma, Cherry!"
"Ha? Ada apa dengan Cherry? Apa terjadi sesuatu padanya?" Nyonya Fazura yang tidak langsung mendapat kabar bahagia dari Zinad malah jadi salah paham.
Nyonya Fazura menjadi panik dan segera mematikan kompornya. Meletakkan spatula dan juga melepaskan celemek yang melekat di tubuhnya.
"Zinad, ada apa? Tolong, kamu rileks dulu. Tenang ..." Kelebutan Nyonya Fazura malah membuat putrinya tertawa terpikal-pingkal.
Tawa Zinad pembuat Nyonya Fazura semakin takut. Ia pun kembali menanyai sang putri. "Zinad, ada apa? Kenapa kamu seperti ini?" tanyanya lagi.
"Ck, Mama ... Cherry sudah melahirkan. Anaknya berjenis kelamin perempuan! Ayo, segera kita jemput dia!" ungkap Zinad, akhirnya mengatakan kebenarannya.
"Kamu serius? Cherry sudah melahirkan?" tanya Nyonya Fazura seolah tidak percaya.
"Benar, Ma. Mama sudah menjadi seorang nenek sekarang. Lalu aku, aku menjadi Bibi dari keponakan yang lucu," celetuk Zinad.
"Lihatlah, lihat wajah princess kita, Ma—"
Zinad memberikan potret bayi mungil itu pada ibunya. Betapa senangnya mereka melihat peri kecil yang baru saja lahir itu. Segera Nyonya Fazura meminta putri pertamanya untuk mengabari Tuan Lucas yang sedang ada di kantornya.
"Ayo, segera kamu hubungi Papamu. Katakan kabar bahagia ini padanya supaya dia segera pulang," pinta Nyonya Fazura.
"Siap, Ma!" seru Zinad, mengangkat tangannya seperti tentara yang sedang hormat.
Dengan senang hati, Zinad menghubungi pihak kantor langsung untuk meminta Tuan Lucas supaya pulang dengan alasan kepentingan yang mendesak. Tuan Lucas memang menerima telpon dari Cherry, hanya saja … Beliau tidak tahu jika Cherry akan memberikan kabar baik kepadanya.
***
Dibalik dari hidup mewah keluarganya di kita, Cherry ... demi menyambung hidup di pelosok desa, ia juga bekerja serabutan. Sebelum dirinya di percaya oleh warga desa untuk mengelola usaha. Semuanya dilakukannya sendiri tanpa ada yang membantunya.
Meski Tuan Lucas selalu mengirim dirinya uang, tetap saja Cherry tidak pernah menggunakan uang tersebut sepeserpun. Ia merasa mampu mencukupi kebutuhannya sendiri dengan bekerja serabutan.
Tetapi, siapa sangka jika gadis yang baru saja menjadi ibu ini rupanya memiliki masa lalu yang sedikit buruk. Di usianya yang masih belia, dia bekerja menemani pria kaya dan juga pria yang sudah memiliki istri atau bisa disebut mainan orang kaya. Hanya saja, Cherry berbeda dengan Lui, jika Lui selalu bermain ranjang, Cherry lebih memilih menemani ngobrol dan meminta pelanggannya.
Itu sebabnya, pelanggan Cherry jauh lebih banyak daripada pelanggan Lui. Hingga pada akhirnya memang mahkota berharganya jatuh ke tangan Tuan Yasha.
***
__ADS_1
Setelah melewati pedesaan, persawahan dan juga lahan kosong, barulah Zinad dan kedua orang tuanya sampai di mana Cherry tinggal. Memang sangat jauh dari Kota kecil yang ada di sana.
"Mengapa Cherry memilih tempat tinggal di sini, sih? Kasihan sekali dia, pasti tidak nyaman juga tinggal di tempat seperti ini," Nyonya Fazura sangat mengkhawatirkan keadaan putrinya.
"Mama, jika Cherry tidak nyaman tinggal di pelosok desa seperti ini, tidak mungkin dia sampai jarang memberi kita kabar selama ini. Bahkan dia juga sudah sampai melahirkan dengan selamat. Pasti dia merasa nyaman tinggal disini," sahut Zinad, menghibur hati ibunya.
"Kalau dia terpaksa oleh keadaan, bagaimana? Kasihan, bukan? Dia sejak kecil hidupnya tidak pernah merasakan kedamaian. Mama sangat marah dengan diri Mama sendiri," Nyonya Fazura sampai meneteskan air mata.
Begitulah seorang Ibu. Nyonya Fazura sangat menyayangi Cherry lebih dari apapun juga. Meski tak tumbuh besar dalam asuhannya, tetap saja beliau mengasihinya dengan adil.
"Mama, hari ini adalah hari yang bahagia. Jangan merusak hati bahagia dengan perasaan sedih akan masa lalu seperti ini, hm?" Zinad begitu menyayangi ibunya.
Sesampainya di rumah Cherry, semua warga yang sedang berkumpul di sana menatap dengan pandangan heran kepada keluarga Cherry yang kaya raya. Pakaian mewah yang dikenakannya, kendaraan mewah yang dikendarai, membuat semuanya melongo sampai lupa menyambutnya.
"Tuan dan Nyonya ini … siapa?" tanya Bu Linda .
"Kami ini keluarganya Cherry. Saya Ayahnya, ini Ibunya dan ini kakaknya. Kami memang tidak pernah datang ke sini karena Cherry melarang kami untuk datang," jawab Tuan Lucas.
"Lalu, di mana Ayah dari anaknya Cherry?" tanya Pia dengan polos. "Apakah dia masih keras kepala karena anaknya berjenis kelamin perempuan?" lanjut Pia.
Tuan Lucas, Nyonya Fazura dan juga Zinad saling memandang. Awalnya mereka tidak langsung paham dengan ucapan Pia. Tapi setelah melihat rona wajah Cherry, barulah mereka seolah tahu jika ada sesuatu yang Cherry rahasiakan.
"Em, iya seperti itulah. Ayah dari bayi Cherry masih keras kepala. Jadi, hanya kami sebagai keluarga kandung yang datang," jawab Nyonya Lucas dengan lembut.
"Memang bener nyebelin tuh laki! Anak perempuan dan laki-laki itu sama saja. Jadi, memangnya kenapa kalau anak pertama perempuan? Bukankah itu juga hebat?" celetuk Pia, kesal sendiri.
"Ngadi-ngadi emang tuh ayah dari keponakan kesayanganku. Harus kita kasih pelajaran!" Zinad memang pandai mencairkan suasana.
Bertemu lah mereka dengan Cherry dan bayi perempuannya. Sungguh sangat cantik nanti rupawan baby perempuan itu tersebut. Sampai dibilang tidak seperti anak kandung Cherry karena saking tidak ada miripnya.
"Pa, Ma, Kak Zinad … Kalian datang?"
Cherry sampai menangis melihat keluarganya datang untuknya. Bertapa sayangnya ia kepada keluarganya dan betapa sayangnya juga keluarganya kepadanya. Nyonya Fazura sangat senang menggendong cucu pertamanya.
Bagaikan melihat Cherry kecil yang dulu pernah hilang saat masih bayi. "Lihatlah, dia persis sepertimu saat bayi dulu," ucap Nyonya Fazura terus menciumi cucunya.
"Benar, tanda lahirnya juga sama. Semoga saja, cantiknya, attitudenya, juga keberuntungannya sama sepertimu, Nak," sahut Tuan Lucas.
"Terima kasih kamu telah memberikan kebahagiaan yang luar biasa ini. Dan terima kasih karena kamu telah berjuang sendiri tanpa harus melibatkan keluarga. Kami semua sangat merindukanmu," lanjut Taun Lucas mengecup kening putri keduanya itu.
Zinad hanya bisa menangis saja. Ia tak bisa berkata apapun melihat ketegaran adiknya. Dengan senyuman tulus dan pelukan kasih, ia menguatkan diri untuk tetap bisa mendukung sang adik.
"Kak Zinad, bagaimana kuliahnya? Jangan malas-malasan, nanti kamu tidak segera lulus, loh!" ledek Cherry.
"Cher …. kamu kok, kuat? Kakak nahan rindu selama ini tuh nggak gampang tau!"
Cherry dan Zinad saling berpelukan, mereka saling memadu kerinduan yang telah lama mereka pendendam. Zinad giliran menggendong bayi mungil itu dan membawanya bermain bersama Pia di luar kamar.
__ADS_1
"Uh, senangnya punya adik bayi. Lucu banget, bibirnya kecil sekali. Ah, kenapa kamu menggemaskan," ujar Zinad gemas sendiri dengan keponakannya.
Pia terus saja memandangi Zinad tanpa mengedipkan mata dan sampai memiringkan kepalanya. Meski Cherry lebih cantik dari padanya, namun Zinad sendiri juga memiliki daya tarik tersendiri.
Sadar jika dirinya diperhatikan oleh Pia, Zinad pun bertanya. "Ada apa? Kenapa kamu terus manatapku? Apakah ada yang salah dariku? Apa wajahku kotor?" tanyanya.
Pia tiba-tiba tertawa.
"Dih, kamu kenapa?" tanya Zinad bingung.
"Mbak ini kakak kandungnya Zinad?" tanya Pia.
"Ya iyalah! Emang kenapa? Tidak mirip, atau bagaimana?" ketus Zinad, sambil mengayunkan keponakannya.
"Cantik banget. Mirip sekali dengan Cherry. Tapi, Cherry bicaranya lebih lembut seperti Nyonya yang ada di sana," tunjuk Pia kepada Nyonya Fazura.
Kehangatan keluarga Tuan Lucas sangat terpancar dan membuat warga desa takjub. Mereka baru tahu jika Cherry adalah anak orang berada dan kekayaannya juga melimpah. Warga desa juga tidak menduga jika ia mampu berbuat baik kepada mereka tanpa pamrih.
**
*
Malam itu, keluarga Tuan Lucas menginap karena esok harinya, Cherry dan bayinya akan dibawa pulang ke Ibu Kota. Zinad berbincang cukup lama dengan sang adik lama sekali di kamar. sementara baby kecil Cherry masih dalam dekapan nenek kakeknya.
"Kakak tahu, Lui juga sudah melahirkan? Tapi memang seharusnya sudah melahirkan, sih," ungkap Cherry.
"Anaknya laki-laki. Dan lebih parahnya lagi, anak itu benar-benar adalah anaknya Frans. Untung saja aku belum menjodohkanmu dengan Frans. Ternyata dia pria yang tidak baik," ungkap Zinad sedikit kesal.
Mendengar ungkapan Zinad membuat Cherry terkejut saja. Ia hanya tidak menyangka bahwa Frans memang telah menjadi seorang ayah.
"Jadi beneran anaknya, Frans, Kak?" tanya Cherry.
Zinad menganggukkan kepala.
"Oh, astaga, aku tidak menyangka jika Frans adalah ayah biologis dari anak itu. Kasihan anak itu, pasti selama Lui hamil, Frans sama sekali tidak mempedulikannya," Cherry jadi murung.
"Dih! Untuk apa juga kamu mengasihani mereka?" Zinad paling malas jika sudah membahas tentang Lui dan Frans.
Zinad juga telah menemukan beberapa informasi tentang pemilik liontin itu. Ia mengatakan jika benar pemilik itu adalah orang berpengaruh di Kota. Jadi, Zinad menyampaikan maksud hati Tuan Lucas untuk membawa Cherry dan anaknya ke kota dan mengumumkan identitas asli mereka.
"Apa?!" Cherry menjadi terkejut.
"Cher, sudah cukup! Anak kamu juga membutuhkan identitas jelas? Jika dia tidak memiliki identitas ayahnya … maka dia harus memiliki identitas dari keluarga ibunya," kata Zinad dengan serius. "Makanya, sebelum kau mendapatkan identitas aslimu, anak ini belum biasa menerima identitas dari keluarga Keenan," lanjutnya.
"Pulang bersama kami, lalu bersediakah kamu untuk diumumkan bahwa dirimu adalah putri kedua dari keluarga kita. Setelah itu, keponakanku pasti akan menerima identitas sebagai cucu pertama keluarga kita, Cher," jelas Zinad sedikit cemas karena sang adik terus saja menolak.
Setelah berpikir semalaman, akhirnya Cherry mau menerima keputusan yang diusulkan oleh Tuan Lucas—Papanya. Hanya dengan cara itulah Cherry bisa dengan mudah mencari siapa Ayah kandung dari anaknya.
__ADS_1
***