Desahan Cinta Satu Malam

Desahan Cinta Satu Malam
Takdir Indah?


__ADS_3

'Apa? Kenapa lagi dia? Apakah semua orang kaya seperti itu, jika marah harus menggebrak meja atau menaikkan alisnya? Dia hampir sama dengan wanita yang tadi! Menakutkan!' gumam Cherry dalam hati.


Selama tinggal di desa, Cherry yang dahulu jarang sekali mode konyol, karena Pia, dirinya menjadi Cherry yang lebih fresh dan selalu ceria. Ia sudah berdamai dengan keadaan dan mulai kembali perjalanan hidup Cherry setelah menjadi ibu satu anak.


Bruak!


Kembali Tuan Yasha menggebrak meja dan berkas milik Cherry digerakkan ke meja dengan keras sampai membuat wanita manis itu terkejut.


"Lalu, siapa yang menuliskan itu? Apakah aku ini terlihat seperti tukang mencampuri urusan orang lain?" bentak Tuan Yasha, merasa tidak terima karena Cherry mempertanyakan darimana dia tahu jika Cherry telah mengetahui tentang anaknya.


Perlahan, Cherry melirik ke data dirinya, lalu menepuk keningnya sendiri atas kebodohannya. 'Dasar bodoh!' umpatnya dalam hati.


'Mengapa juga aku tidak teliti dan untuk ... Aghhrrrr!' Cherry malah kesal sendiri.


"Maaf, Tuan. Itu saya tidak sengaja tulis karena saking semangatnya saya mau melamar pekerjaan," jelas Cherry, menundukkan kepala. "Saya minta maaf ..." ucapnya lirih.


Tuan Yasha menanyakan pertanyaan yang sama tentang anak dengan alasan bahwa dirinya memiliki seorang keponakan yang seusia anak Cherry. "Saya hanya tidak mau saja ada orang yang bekerja dengan saya tapi tidak bisa konsisten hanya karena alasannya anak, apa kamu paham!" tegasnya.


"Di sini kamu menuliskan statusmu yang menjadi single parent meski belum menikah. Lalu, anakmu nanti akan dengan siapa jika kamu bekerja di sini?" dibalik pertanyaan itu, Tuan Yasha juga ingin menggali informasi.


"Kalau itu, ada Kakak dan pelayan di rumah, Tuan," jawab Cherry sedikit takut.


'Hmph! Dia adalah putri Tuan Lucas, tidak salah juga jika di rumahnya ada seorang atau lebih dari satu pelayan. Tapi, apa tujuannya bekerja disini?' batin Tuan Yasha.


Tidak ingin berburuk sangka, Tuan Yasha kemudian beranjak dari meja yang ia duduki. Lalu meminta Cherry untuk berdiri. "Kamu, berdirilah!" perintahnya.


Cherry langsung patuh berdiri. Sepintas, Tuan Yasha mencium aroma tubuh Cherry yang memiliki aroma khas sekali, sehingga mampu meyakinkan jika Cherry memang wanita pada malam itu.


"Kamu diterima kerja. Mulai besok, kamu akan bekerja menjadi asisten pribadiku," ucap Tuan Yasha.


"Asisten pribadi? Ta-tapi Tuan, saya melamar di bagian—"


"Stt! Saya tidak mau mendengar penolakan, kecuali kamu memang tidak mau bekerja di sini," sela Tuan Yasha dengan angkuh.


Setelah dipikir-pikir, Cherry memang sangat membutuhkan pekerjaan. Tak ada penolakan lagu, ia menerima tawaran dari Tuan Yasha dengan terpaksa hati karena ia melamar sebagai office, bukan malah asisten pribadi.


"Baiklah, saya akan menerima dibagian mana saja saya bekerja. Asalkan Tuan tetap menggaji saya dengan bayaran yang sepadan," Cherry memang terkadang sulit bekerja otaknya di kala lelah.


"Besok datang sebelum jam kerja. Langsung datang ke kantorku dan segera melakukan tanda tangan kontrak, mengerti?" perintah Tuan Yasha.


"Mengerti, Tuan!" sungguh semangat sekali Cherry ini.


Wawancarai hanya sampai di situ saja. Tuan Yasha meminta Cherry untuk pulang dan datang keesokan harinya. Pria berkuasa itu dengan sengaja memberikan pekerjaan sebagai Asisten pribadinya karena supaya dia bisa selalu dekat dengan Cherry dan mampu mendapatkan informasi tentang kutukannya.


Kutukan? Katakan apa yang dialami oleh Tuan Yasha? Kutukan apalagi memangnya? Hati Tuan Yasha pernah terluka ketika kecil melihat sebuah perselingkuhan dan sampai membenci seorang wanita. Itu sebabnya dia selalu mempermainkan perempuan maupun wanita-wanita yang naik keranjangnya.


Tapi ketika bertemu dengan Cherry, seketika semua berubah total.


***


Di perjalanan pulang, Cherry sangat senang sekali. Ia memberikan kabar bahagia itu kepada kakaknya dan juga Sonam jika dirinya diterima di perusahaan besar itu.

__ADS_1


"Kakak, aku tidak menyangka! Apa kakak tahu? Aku bisa menaklukan perusahaan besar itu!" sorak Cherry seperti anak kecil yang mendapatkan lotre.


'Baguslah, Cherry. Tetap semangat! Kami selalu mendukungmu!' sahut Ziand ikut senang.


"Hmm, apakah Ryu sudah pulang?" tanya Cherry, medisnukan putri kesayangannya.


'Sudah, dia sedang bermain dengan kakaknya, anak Kak Sonam,' jawab Zinad sedikit tersipu.


"Cie … kapan menikah?" goda Cherry. "Hmm, awas saja kalau kalian hanya main-main. Segera menikah dan beri putriku seorang adik,"


Ketika asyik bercanda, tak sengaja ada anak yang menabraknya, hingga menginjak kaki Cherry. Anak itu menangis dan meminta maaf pada Cherry karena telah menabraknya.


"Hei, kenapa kamu menangis? Kamu sudah meminta maaf dan kakak sudah memaafkanmu, loh!" seru Cherry. "Kenapa masih menangis?" imbuhnya.


"Mamaku pasti akan marah jika aku nakal, Kak. Jadi, tolong maafkan aku—" tangisan anak itu semakin keras.


Cherry merasa heran dengan ucapan dari anak perempuan tersebut. Dengans senyuman tulus, Cherry tetap memaafkan dan memberikan coklat untuk anak perempuan itu. Tak lama kemudian, datanglah Frans.


"Zoey, di mana kamu, Nak?"


"Zoey!"


"Ayah, aku di sini!" sahut Zoey.


"Zoey, kamu ke—" pertanyaan Frans terhenti kala melihat Cherry ada di hadapannya.


Cherry dengan pandangan yang tercengang ketika anak kecil itu memanggil Frans, dengan sebutan Ayah. Cherry tidak tahu apapun tentang Frans setelah ia memutuskan pergi. Hanya tahu jika Frans sudah punya anak saja.


"Frans, dia … anak kamu?" tanya Cherry.


Tak lama kemudian, datang lagi Lui yang sedang berbadan dua. Membuat Cherry semakin terkejut lagi. Sama seperti Cherry, Lui juga terkejut bisa bertemu dengan sahabat lamanya di jalan.


"Cher?"


"Lui?"


Tatapan mata pertama Cherry ada pada perut Lui yang membesar itu. Tak menyangka jika memang Lui dan Frans memutuskan kembali bersama.


"Anak ini … adalah anak kalian?" tanya Lui, penasaran.


"Iya, namanya Zoey, Zoey Viviana. Dia anak pertama kami, dan saat ini aku sedang mengandung delapan bulan," jawab Lui, menunjukkan perut buncitnya. "Apa kabar kamu, Cher? Bagaimana dengan anakmu, bukankah waktu itu kau juga hamil?" tanya Lui kembali.


Mereka pun mencari tempat untuk ngobrol sembari makan sore. Tak sama seperti dulu lagi, mereka hanya diam saja tanpa ada yang memulai berbicara.


"Kalian sudah menikah sejak kapan?" tanya Cherry memecah keheningan.


"Kami menikah setelah Zoey lahir," jawab Frans gugup.


"Selamat, maafkan aku. Aku tidak hsia hadir di pernikahan kalian. Tapi, aku akan memberikan kado untuk pernikahan kalian dan juga untuk anak-anak kalian nanti. Kita tetap bisa berteman, 'kan?" Cherry tetap menebarkan senyuman meski dalam hatinya masih sakit ketika Lui memfitnahnya sebagai orang ketiga dalam hubungannya dengan Frans.


Kini, mereka tak saling canggung lagi setelah bicara banyak. Lui mengatakan banyak hal ketika mereka tinggal di luar negri. Dengan santainya, Cherry hanya mengangguk saja tak ingin membuat temannya itu merasa tersinggung.

__ADS_1


"Lalu, di mana anakmu? Sudah sebesar apa dia?" tanya Lui, penasaran.


"Anakku sama saja dengan anakmu ini. Ya mungkin usianya satu bulan lebih muda dari Zoey. Besok, atau kapan-kapan, kalian mainlah ke rumahku. Supaya Zoey dan Ryujin bisa bermain bersama," jawab Cherry mengusap kepala Zoey.


Frans


"Anakmu perempuan?" tanya Rey.


"Iya, dia juga baru kembali dari luar negeri. Selama bayi, dia tinggal di luar negeri dan ini pertama kalinya dia di sini," sahut Cherry dengan bangga.


Meski Lui sudah tahu jika Cherry adalah putri kedua dari keluarga ternama, ia tidak menanyakan apapun tentang keluarganya. Semua itu atas permintaan Frans, supaya Lui tak lagi ikut campur urusan Cherry.


Perbincangan mereka selesai. Mereka pun berpisah dengan saling bertukar nomor telepon. Cherry bergegas pulang dengan membawakan jajanan untuk putrinya.


***


**


*


Malam ketika makan malam bersama, Cherry tak lupa menceritakan apa yang ia alami di sore tadi.


"Apa? Kamu bertemu dengan dua bajing dan an itu?" tanya Zinad saat makan, sampai ia tersedak.


"Astaga, minumlah! Kenapa sampai tersedak begitu, sih? Cuma dengar nama Frans dan Lui saja sudah begitu," ucap Cherry memberikan air putih kepada kakaknya.


"Ya, siapa yang tidak terkejut, Cher!" sahut Cherry sedikit ngegas.


"Setelah keributan waktu itu, aku sudah tidak mendengar lagi tentang mereka. Bahkan mereka kemana saja, aku juga tidak tahu. Mereka seolah-olah hilang begitu saja. Lantas, kenapa sekarang mereka tuh muncul kembali gitu! Mana barengan pula sama kamu, juga baru kembali Ada apa sih ini?" Zinad menjadi bingung sendiri.


Zinad memperingati Cherry untuk tidak lagi dekat dengan Frans maupun Lui. Itu hanya akan membuatnya sangat kesal ketika mengingat kejadian lima tahun lalu, di mana Lui tiba-tiba datang dan marah-marah dengan menyebut dirinya sebagai wanita yang buruk di depan Frans.


"Apa? Wanita yang buruk? Lui berani menyebut kakak wanita tidak tahu diri? Why?" tanya Cherry.


"Aku juga tidak tahu. Mungkin dalam pikirannya … Frans itu ada hubungan khusus sama aku," jawab Zinad bete.


"Gila! Bagaimana bisa dia menyimpulkan itu, Kak. Memang sakit jiwa kali tuh anak waktu itu. Apa karena sedang hamil, ya?" ucap Cherry masih polos.


"Entah deh!" Zinad memutar bola matanya. Baginya, kedua orang itu tidaklah penting untuk dibahas.


Di tengah kebetean antara Cherry dan Lui, si kecil Ryujin tiba-tiba menanyakan, "Mama, apa itu ******?"


Seketika membuat Cherry dan Zinad tersadar jika masih ada princess di samping mereka. Segara mereka berdua mengalihkan pembicaraan dan mencari alasan yang tepat supaya Ryujin tidak terpengaruh dengan kata-kata kotor.


"Apa itu Lajang?


"Kata lajang terbalik itu adalah kata yang kasar. Jadi, tidak boleh diucapkan, Nak," terang Cherry dengan lembut.


"Lah, tadi dengan lantangnya Bibi cantik menyebut kata kasar itu, Mami. Kenapa Mami tidak menasihatinya," si kecil Ryujin rupanya sudah pandai protes.


Cherry seketika melirik ke arah kakaknya. Kemudian menendang kakinya sebagai keluhannya.

__ADS_1


"Nanti, Mami akan hukum Bibi cantikmu ini. Sekarang, Ryu makan dulu, ya. Habiskan semuanya dan cepat pergi tidur. Besok sudah mulai sekolah, 'kan?" Begitu lembutnya Cherry mendidik anaknya.


Sejak kecil, Ryujin memang diajari oleh Nenek dan kakeknya, yakni Tuan dan Nyonya Lucas untuk tidak mencampuri urusan orang tua. Cherry juga mengatakan jika kewajiban anak itu adalah berbakti dengan orang tua dan juga mau wujudkan impian agar orang tuanya bangga. Tidak ada kamus dalam keluarga Lucas yang mengatakan bahwa anak boleh mencampuri urusan orang tua kecuali, jika si orang tua itu meminta pertolongan.


__ADS_2