
'Aku tidak menyangka jika aku yang selalu menemani Cherry ke dokter kandungan, malah aku lebih dulu yang menggendong bayiku,' batin Frans.
Frans merasa sangat berdosa karena telah berburuk sangka dan hampir kehilangan putranya. Ketidak percayaannya pada Lui memang tidak ada salahnya. Bagaimanapun juga Lui bersalah padanya.
Setelah Lui lebih baik kondisinya, barulah Frans menemuinya. Langkahnya memang masih berat melangkah untuk Lui, hanya saja dia tidak bisa jika mengabaikan wanita yang telah berjuang dan berkorban nyawa demi keturunannya.
"Frans?" sebut Lui lirih.
"Lihat bayi kita, dia tampan sekali, bukan?" Bibir pucat Lui masih berusaha tersenyum. "Sekarang kita sudah menjadi orang tua, bagaimana denganmu, apa kamu senang?" lanjutnya.
Frans duduk di sebelah Lui. Senyum yang semula terpaksa, kini bisa ia lepaskan dengan ikhlas. Tangannya mulai ia angkat, kemudian mengusap kepala Lui dan sesekali menepuk-nepuk lembut.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Frans.
Lui membalas dengan senyuman lagi, "aku baik-baik saja. Tapi masih lemas sekali, rasanya aku sangat lelah," jawabnya.
Rasa sakit yang pernah dikhianati itu tidak pernah mau hilang dari ingatan dan hati Frans. Namun karena kehadiran bayi kecilnya membuatnya sulit untuk menolak Lui.
'Apa ini—waktunya untuk aku menerima Lui kembali?' gumam Frans dalam hati.
Tapi tiba-tiba saja Lui kembali tidak sadarkan diri. Segera Frans memanggil dokter dan dokter langsung memeriksanya.
Setelah satu jam berlalu, Lui masih belum bangun dari tidurnya. Frans juga telah mendapatkan informasi dari dokter juga jika Lui tengah mengalami serangan mental sejak awal kehamilan. Melalui catatan buku kehamilannya, sudah sangat jelas memang Lui tertekan.
Selama periksa, Frans juga tidak pernah mengantar Lui karena masih ada kekesalan dalam hatinya. Maka dari itu, Frans tidak pernah tau apa yang terjadi kepadanya.
"Kamu kenapa, Lui? Ku lihat, kamu bahagia saja tinggal bersamaku, mengapa sekarang hasil pemeriksaan menjadi stres berlebihan?" gumam Frans dalam hati, dengan memandangi tubuh Lui yang masih terbaring di ranjang rumah sakit.
Frans mulai iba melihatnya. Sampai pada akhirnya, Lui kembali terbangun dari tidurnya. "Ini …," belum juga menyebut tempat yang ia lihat, Lui langsung terbangun dan menyentuh perutnya.
"Astaga, ini rumah sakit? Aku kenapa? Perutku … di mana anakku? Kenapa perutku sudah kempes? Ah, sakit sekali,"
"Frans? Kamu di sini juga? Kamu lihat di mana anakku? Apakah anakku sudah lahir, aw …" kembali Lui merintih.
Bekas operasi saecarnya masih basah, tentu saja jika dipakai untuk banyak gerak akan menimbulkan rasa sakit yang luar biasa. Frans hanya diam dan terus mengamati tingkah wanita yang telah melahirkan putra itu masih genjolatan mencari anaknya.
'Apakah aku salah menilainya? Kenapa aku merasa iba?' gumam Frans dalam hati. "Lui, seperti apa kamu yang sebenarnya ini?" gumamnya lirih.
__ADS_1
"Frans! Kenapa kamu hanya diam saja? Cepat katakan padaku, di mana anakku?" Lui mulai menangis bingung mencari anaknya dan menahan rasa sakit pasca operasinya.
"Padahal kamu sudah tahu jika kamu sudah melahirkan," lirih Frans.
Frans memenangkan Lui dan mengatakan bahwa anaknya baik-baik saja. Lui mungkin gagal menjadi sahabat dan wanita yang baik bagi Cherry dan semua orang. Namun, Lui tak ingin menjadi ibu yang buruk bagi anaknya sendiri.
Selama operasi, memang Lui sama sekali tidak sadarkan diri. Mungkin sebagian Ibu memang akan melahirkan secara operasi caesar tidak tertidur, tapi sebelumnya … Lui memang sudah pingsan terlebih dahulu.
"Di mana anakku?" tanya Lui lagi.
"Dia aman, kamu tenang saja. Selamat, anakmu laki-laki. Berat badannya normal dan tidak ada kurang apapun dalam diri anakmu," jawab dan terang Frans.
"Aku ingin bertemu dengannya!" Lui sampai tidak memperdulikan kondisinya sendiri.
"Jangan dulu, Lui, kondisimu sedang tidak baik-baik saja. Istirahat dulu, nanti perawat akan membawa anakmu ke mari," tutur Frans dengan lembut.
Tetap saja Lui bandel sekali. Ia memaksa untuk bisa bertemu dengan anaknya. Keras kepalanya Lui membuat Frans jadi kesal, sampai pada akhirnya Frans harus membentaknya.
"LUI!" sentaknya.
"HENTIKAN!"
"Lui, maafkan aku. Bukan maksudku membentakmu. Tapi tolong, tolong tenang dulu. Kondisimu sedang buruk, anakmu baik-baik saja. Kenapa kamu harus keras kepala?" tutur Frans dengan suaranya yang lembut.
Darah Lui berdesir. Sudah lama dirinya tidak mendengar pria berusia 20an tahun itu bertutur kata lembut setelah mereka putus. Lui menjadi luluh, hatinya juga jauh lebih tenang.
"Apakah, kamu sudah melakukan tes DNA?" tanya Lui.
Frans tercengang. Ia tak menyangka jika Lui mengingatkan dirinya akan tes tersebut. Ia pun jujur, mengangguk dan mengakui bahwa dirinya sudah melakukan tes itu sejak kelahiran bayi berjenis kelamin laki-laki.
"Aku bukan wanita yang baik bagimu. Tapi, aku berusaha akan menjadi Ibu yang baik bagi anakku," lanjut Lui lirih.
"Jika benar anak itu bukan darah dagingmu. Maka aku akan segera angkat kaki dan membawa anak itu pergi. Selama lima bulan ini, kamu telah menopang hidupku lebih baik. Suatu saat nanti pasti aku akan menggantinya," Lui sudah pasrah hari itu.
Frans malah menjadi tidak tega. Dari mata gadis itu, memang tidak terlihat adanya bentuk sandiwara. Tangan Frans yang sebelumnya masih menggenggam tangan gadis itu pun berpindah membelai rambut panjangnya.
"Kita tunggu saja hasilnya," ucap Frans dengan senyuman.
__ADS_1
"Jika anak itu memang anakku, maka aku harus bertanggung jawab. Tapi, jika anak itu bukanlah anakku ... Aku pastikan hidupmu tidak akan buruk lagi, Lui. Aku akan carikan tempat yang nyaman untuk kalian berdua," imbuhnya dengan tatapan mata yang penuh harapan.
"Jangan repot-repot. Tapi aku tidak ingin ada orang lain yang memandangku hanya memanfaatkan situasi. Aku lebih baik memang harus mandiri," sahut Lui memalingkan wajahnya.
Frans bernapas lega. Ia berharap Lui bisa berubah jauh lebih baik lagi. Ia menanyakan mengapa Lui bisa stres di masa kehamilan. Percayalah, dia juga ingin tahu, apa yang menyebabkan wanitanya seperti itu.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu, Frans?" tanya Lui heran. "Apa aku harus membutuhkan psikiater?" lanjutnya.
Frans terkejut, Lui ternyata mengetahui kondisi mentalnya sendiri. "Kamu—tau itu?" tanya Frans bingung.
Lui pun menceritakan bagaimana kondisinya pasca ditinggal Frans tempo lalu. Ia hampir melakukan percobaan bunuh diri sebanyak lima kali dan selalu digagalkan oleh Federica—kakaknya.
Memang Lui selalu memiliki hubungan di belakang Frans ketika masih bersamanya. Semua itu hanya karena memenuhi kebutuhan yang tidak bisa ditanggung saat itu.
Setelah Frans memutuskan hubungannya, kondisi mentalnya hancur. Sampai ia menuduh Cherry yang bukan-bukan karena tak ingin Frans sampai jatuh ke pelukan sahabatnya. Ditambah lagi, Cherry juga memutuskan tali persahabatan mereka.
Lui pun mengakui itu semua salahnya. Hanya saja, mental setiap orang berbeda. Sejak kecil, Lui adalah gadis yang selalu dimanjakan oleh kakaknya. Lalu, ketika sudah remaja, kakaknya memiliki kebutuhan sendiri dan dia harus mulai mandiri secara mendadak.
Iri kepada Cherry adalah sifat Lui sejak dulu. Cherry dipandangnya memang seperti seorang putri yang selalu dikelilingi nasib baik. Dulu Cherry juga memiliki orang tua yang sangat menyayanginya, nenek yang yang selalu ada. Sampai para tetangga juga selalu baik padanya.
Soal pekerjaan sampingan, Lui juga selalu mendapatkannya lebih dulu. Sementara Lui, harus menerima penolakan karena semua orang Cherry lebih baik darinya.
Maka dari itu, Lui membalas dendam kepada mantan sahabatnya itu dengan sengaja mengajaknya bekerja di klub besar di Kota. Menyodorkan Cherry kepada Tuan Muda kaya raya yang tidak tahu siapa sebenarnya.
Rencana itu telah dibuat oleh Feredica dan Lui sendiri. Mereka telah dibayar penuh atas penjualan diri Cherry kepada Tuan kaya—Tuan Yasha.
Namun, mereka tidak pernah tahu jika Tuan kaya itu adalah Tuan Yasha, sang pengusaha Kota. Renata benar-benar menyesal melakukan itu dan akan meminta maaf pada Cherry meski terlambat.
"Kamu memang terlambat. Cherry sudah tidak ada di kota ini, Lui," ungkap Frans.
"Apa? Lalu dia kemana?" tanya Lui penasaran.
Frans mengangkat kedua bahunya. "Entah, hanya keluar hanya yang tau dia ada di mana. Kita tunggu saja sampai dia melahirkan anaknya. Aku rasa dia akan kembali lagi suatu saat nanti," jelas Frans.
"Melahirkan? Apa mak—Cherry hamil juga? Kapan dan dengan siapa?" Lui semakin terkejut.
Frans akan mengatakan pada Lui tentang kehamilan Cherry. Namun sebelumnya Frans meminta syarat pada ibu dari putranya itu untuk berubah jauh lebih baik. Dengan begitu, Frans akan mempertimbangkannya untuk menjamin masa depan.
__ADS_1
Apakah Lui menerima persyaratannya?