
Dua minggu berlalu. Tes DNA itu rupanya dilakukan sungguhan oleh Cherry. Mengingat segalanya kebaikan yang ayahnya Zinad lakukan, membuat Cherry tidak enak sampai harus menolak.
Sekitar dua minggu itu, hasil tes tersebut telah keluar. Belum diketahui pasti apa hasilnya, Cherry tidak ingin berharap lebih tinggi lagi.
"Kenapa raut wajah Kakak buruk seperti itu?" tanya Cherry. "Hmm, aku tahu hasilnya. Pasti kita memang bukan saudara, 'kan?" duganya.
"Sudahlah, kita pulang saja!"
Akan tetapi, kedua orang tua Zinad juga saling berpandangan. Dari tatapan ketiganya, tatapan dari ibu Zinad lah yang terasa seperti tidak suka padanya.
"Ada apa?" tanya Cherry.
Tuan Lucas—nama ayah dari Zinad, menyentuh bahu Cherry dengan lembut. "Kami ... kami sangat menyayangkan dengan hasil tes ini," katanya.
"Kenapa? Ada apa? Memang hasilnya bagaimana, Paman?" tanya Cherry jadi ikut deg-degan.
Nyonya Fazura juga menghampirinya. Cherry semakin bingung tatapan nyonya Fazura yang sedikit menakutkan, padahal kelihatannya cantik nan anggun.
"Bibi, ada apa?" tanya Cherry memberanikan diri meski diiringi senam jantung.
"Bibi? Kenapa kamu memanggilku dengan panggilan Bibi? Lalu, kenapa juga kamu memanggil suamiku dengan panggilan paman? Dimana sopan santunmu, Cherry!" tegur Nyonya Fazura.
Cherry semakin bingung oleh kata-kata Nyonya Fazura.
"Kami adalah orang tuamu. Jadi kamu memanggil kami dengan panggilan yang seharusnya," celetuk Nyonya Fazura.
"Maksudnya?" Cherry sudah bingung semakin dibuat bingung. Ia terlihat plonga plongo bergantian menatap kedua orang tua Zinad dan juga Zinad sendiri.
Nyonya fazura menjelaskan bahwa Cherry memang Putri kandungnya yang 18 tahun hilang karena kecerobohannya.
"Hah?" Cherry tercengang. "Bagaimana mungkin itu bisa terjadi? Lalu, nenekku, orang tuaku dulu? Mereka siapa?" tanyanya.
"Kita akan menceritakan padamu sambil pulang. Ayo, kita harus merayakan kembalinya kamu ke keluarga ini," Tuan Lucas merangkul putrinya yang sempat hilang 18 tahun itu.
__ADS_1
Di perjalan pulang, Zinad dan kedua orang tuanya menceritakan apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu. Tidak ada kata benci dalam hati Cherry karena memang tidak mengetahui faktanya. Nenek dan keluarganya yang telah merawatnya telah memberikan banyak kasih, maka dari itu dia tidak pernah merasa jika dirinya adalah anak pungut.
Gadis ini begitu terharu, ternyata meski dirinya anak yang hilang selama itu, selama itu juga keluarga kandungnya juga berupaya mencarinya.
***
Dua bulan berlalu.
Selama 2 bulan itu cari benar-benar menikmati sebagai Putri kedua dari Tuan Lucas dan juga Nyonya Fazura. Cherry benar-benar bersyukur atas itu.
Teman karib barunya, yakni Frans juga diberitahu oleh Cherry tentang kebenaran itu. Selama dua bulan juga mereka selalu bermain bersama dan kadang menghabiskan waktu weekend berdua.
Meski sudah menjadi putri dari orang tua yang kaya raya, tetap saja Cherry tidak berhenti dalam bekerja paruh waktunya. Baginya, itu sudah menjadi kegiatannya setelah selesai kuliah.
"Sayang, akhir-akhir ini kamu bekerja lembur di restoran cabang kakakmu. Seharusnya kamu fokus kuliah, Nak. Untuk apa.kamu bekerja keras lagi? Apakah uang saku yang Papa berikan padamu masih kurang?" tanya Tuan Lucas ketika bersantai dengan Cherry.
"Iya, kenapa juga kamu bekerja? Kakakmu saja hanya sesekali mengunjungi restoran pusat. Jadi, tolong berhenti bekerja dan fokuslah dalam belajar, ya ...." Nyonya Fazura pun juga begitu perhatian.
Menjadi bahan perhatian malah membuat Cherry sedikit canggung. "Mama, Papa, aku benar-benar berterima kasih dengan apa yang kalian berikan selama aku di sini," ucapnya.
"Apakah dengan bekerja, aku membuat malu keluarga ini?" tanya Cherry, penasaran.
"Tidak juga. Tapi, bagaimana jika kamu libur dulu kerjanya? Kamu tinggal fokus kuliah saja?" sahut sang Ibu.
Zinad yang juga ada disana saat itu membela adiknya. Bagaimanapun juga dia sangat mengerti sifat Cherry yang pekerja keras sejak kecil.
"Pa, Ma ... Keadaan Cherry dulu tidak sama denganku. Sejak kecil dia sudah terbiasa bekerja keras, jadi misal dia masih bekerja sampai saat ini ... ya, biarkan saja!" jelas Zinad.
"Sayang, tapi kan keadaannya sekarang sudah jauh berbeda. Cherry cukup fokus dengan belajarnya saja, uang jajan juga tidak pernah dikurangi dan dibedakan darimu," sahut Nyonya Fazura.
"Ma, konsepnya bukan seperti itu!" seru Zinad.
Setelah mendengar penjelasan Zinad, barulah orang tua mereka pasrah dan menyerahkan masa depan putri keduanya—Cherry, padanya. Merasa sejak kecil tidak diurus oleh mereka, maka sebagai orang tua juga mereka tidak bisa memaksakan kehendak putra-putrinya.
__ADS_1
"Baiklah, apapun itu asal kedua putri kita bahagia. Dengan seperti itu, maka kami sebagai orang tua juga akan ikut bahagia," kata Tuan Lucas menyantap sarapannya.
"Terima kasih kalian sudah mau mengerti dan memahami keinginanku, Papi, Mami. Terima kasih, " ucap Cherry tenang.
Setelah membawa pulang Cherry, kedua orang tuanya harus kembali lagi ke luar negeri tempat mereka tinggal. Memang keduanya tidak pernah sampai menetap di negara yang sama bersama Zinad.
"Yakin kalian tidak mau ikut?"
"Adikmu sudah ketemu, untuk apa kamu menetap disini, Zinad? Ayo, kita pulang ke Amsterdam lagi," ajak Tuan Lucas.
"Tidak, Pa. Aku dan Cherry akan tetap tinggal di sini. Kami juga sudah dewasa, jadi bisa menjaga diri dengan baik," jawab Zinad, menolak ajakan ayahnya.
"Iya, Pa, Ma. Lagian juga aku di sini sudah ada teman dan sudah sangat kerasan. Membutuhkan waktu lagi bagiku untuk beradaptasi di luar negeri sana, bukan?" timpal Cherry.
Kedua orang tua mereka tetapi tidak memaksa. Apapun yang menjadi keputusan kedua putrinya, selalu mereka dukung asalkan mereka selalu di jalan kebenaran.
Lalu, bagaimana dengan Lui selama dua bulan itu? Lui belum tahu kenyataan bahwa Cherry adalah anak orang kaya dan sudah kembali ke keluarganya. Selama itu juga baik Cherry maupun Frans tetap merahasiakan identitas asli Cherry.
***
Di kampus.
"Frans!" panggil Cherry.
Pria itu menoleh.
"Ya?" sahutnya.
"Hmm, hari ini aku tidak ada kelas lagi. Jika kamu ada kelas tambahan, aku akan pulang lebih dulu," kata Cherry, mendekati Frans.
Frans menyeritkan alisnya. "Lah, memangnya kenapa?" tanyanya.
"Hish, aku sudah memberitahumu semalam, 'kan? Apa kamu tidak membacanya?" cetus Cherry.
__ADS_1
"Sudah, aku su—aku buka lagi,"