
Di jalan, Cherry mengatakan kepada Frans jika kakaknya sudah mengetahui bahwa dirinya tengah hamil.
"Lalu, apa kamu mengatakan dengan siapa kamu hamil?" tanya Frans.
"Tentu saja tidak. Aku belum bisa mengatakan apapun kepada Kak Zinad. Aku takut sekali Kak Zinad akan marah padaku, Frans," jawab Cherry.
"Cher, kamu harus jujur pada Kakakmu. Saat ini, yang bisa bantu kamu, yang selalu ada untuk kamu, ya, hanya Kakakmu. Kakakmu sangat menyayangimu, loh!" sahut Frans.
Bagi Cherry, apa yang dikatakan Frans menang benar. Jika bukan karena Cherry, mungkin hidupnya entah bagaimana. Apalagi Zinad juga yang memperjuangkan dirinya supaya bisa bertemu dengan orang tua kandungnya.
Sesampainya di kampus, mereka berdua bertemu dengan Lui di parkiran. Lagi-lagi, Lui menggandeng pria lain dari yang sebelumnya.
"Sayang, nanti jemput aku jam satu, ya. Aku tunggu di tempat biasa," ucapnya kepada prianya.
"Baik, Sayang. Kamu baik-baik di kampus, ya. Aku kerja dulu, tata—" jawab pria itu.
Pria itu terlihat seperti ayah bagi Lui. Tak heran bagi Cherry melihat hal itu karena sudah terbiasa. Memang Cherry selalu bersama dengan Om-om kaya supaya bisa membiayai kuliah dan hidupnya.
"Lui, kamu ... jalan dengan Om-om?" tanya Frans.
Lui melihat Frans, kemudian menatap Cherry. Dengan bibirnya yang masih rapat tidak mengoceh, Lui mendekati Frans dan langsung memeluknya.
"Frans, tolong aku—" ucapnya manja.
"Lepaskan aku, Lui! Kamu apa-apa, sih?! Ini kampus, jangan seperti ini. Banyak sekali orang yang melihat, Lui!" Frans mencoba melepaskan pelukan Lui yang sangat erat.
"Frans, aku sungguh menyesal putus denganmu. Aku terus mencarimu selama dua bulan ini. Tapi, kamu selalu saja menghindar. Frans, aku hamil, aku hamil anakmu!" Ungkapan Lui membuat Cherry dan Frans sendiri tercengang.
Mereka saling menatap dan kembali menatap Lui. Sebelumnya, memang Frans dan Lui pernah melakukan hubungan badan dan lupa mencabut di luar.
"Aku hamil anakmu, Frans. Ini serius, bayi yang ada dalam kandunganku ini adalah anakmu. Aku terpaksa jalan dengan Om tadi supaya bisa menyambung hidupku. Membeli susu ibu hamil agar anak kita mendapatkan nutrisi," Lui terus bermanja kepada Frans dan mengatakan kehamilan itu adalah hasil bersamanya.
Tak ingin mengganggu dan tak ingin banyak bicara dengan Lui, Cherry pun pergi.
"Cher, Cherry!" teriak Frans memanggilnya.
Namun, Cherry malas menanggapi Frans jika masih ada Lui di sana. Sakit hatinya masih membekas. Tuduhan demi tuduhan dari Lui juga selalu terngiang dalam ingatannya. Membuatnya enggan untuk bersama Lui lama-lama di sangat baik.
"Apa-apa ini? Lui juga hamil dan dia hamil anaknya, Frans?" gerutu Cherry. "Jika mereka pernah melakukan itu, kenapa juga tidak berbaikan setelah mereka putus?" lanjutnya.
Cherry hanya tidak ingin menjadi bahan tuduhan bagi Lui. Seperti yang diketahui, sifat Lui memang selalu saja minus dan pasti akan menyalahkan dirinya atas perginya Frans dari hidupnya.
Di parkiran, Frans masih berdebat dengan Lui. Meski benar Frans pernah tidur dengan Lui, namun Frans berhak mempertanyakan siapa ayah yang tepat dari bayi yang dalam kandungan Lui.
"Apa kamu tidak percaya padaku?" tanya Lui.
__ADS_1
"Bukan masalah percaya atau tidaknya, Lui. Jika memang kau hamil, aku pasti percaya. Tapi yang jelas, anak yang ada dalam kandungan kamu ini itu adalah anaknya siapa?" Frans memang sudah tak lagi percaya kepada Lui.
"Kamu lupa? Kita melakukan itu dua bulan lalu dan kamu keluarin di dalam, Frans! Kamu lupa? Kenapa kamu jahat banget, sih?" Lui mulai menyalahkan Frans.
Air mata Lui mulai bercucuran. Lui malah menuduh Frans melupakan dirinya karena sudah bersama dengan Cherry.
"Kamu boleh pacaran dengan Cherry. Itu hak kamu, tapi kenapa kamu tega melupakan malam itu, Frans?" lanjut Lui. "Apakah bagimu, aku ini hanyalah sampah?" Frans masih diam. Tapi, malah Lui semakin memanfaatkan kesempatan untuk memojokkan.
Frans di depan semua orang. Sehingga, mereka menjadi bahan tontonan orang banyak.
"Kenapa kamu bawa-bawa Cherry, sih? Dia tidak ada hubungannya dengan putusnya kita!" tegas Frans.
"Jangan pernah kaitkan dia dengan masalah kita, Lui. Aku tidak suka itu, paham!"
Lui masih saja menyalahkan kehadiran Cherry diantara hubungannya dengan Frans. Ia tetap kekeh menuduh Cherry penyebab berubahnya Frans.
"Kamu sendiri tahu kan jika Cherry tidak ada bedanya denganku? Kami sama-sama kotor, bekerja di club malam dan melayani banyak tamu di sana," jelas Lui.
"Kenapa kamu terus saja membelanya, Frans?" Frans kali itu hanya diam. Ia tidak mau jika Cherry disalahkan oleh Lui. "Baiklah jika kamu masih tidak mau mengakui anak ini. Sebaiknya, memang aku lenyapkan dia sejak awal," Lui mengancam Frans, dengan pergi dan keluar dari parkiran kampus.
Lui mengancam akan menggugurkan bayi yang dalam kandungannya. Usianya lebih tua dari kandungan Cherry. Mendengar itu, membuat Frans teringat dengan Cherry dan melarang Lui untuk melakukan hal buruk itu.
"Apa yang ingin kau lakukan, hah? Kek mau membunuh nyawa yang tidak bersalah?" desis Frans.
"Kau pikir, aku mau ini terjadi? Tidak! Jika aku bisa memilih aku, lebih baik tidak mengenalmu waktu itu. Dan jika kita tidak melakukannya malam itu, pasti tidak akan ada hal semua ini, Frans!" sentak Lui.
"Apakah masih perlu aku jelaskan? Kau lupa mencabutnya, maka aku bisa seperti ini. Aku melakukan dengan orang lain selalu menggunakan pengaman. Aku dibayar oleh mereka, jika pun aku sampai mengandung anak mereka, pasti aku gugurkan,"
"Frans, aku mengandung anakmu. Kau tidak membayar diriku waktu itu, karena kau adalah kekasihku. Jika kau memang tidak mau anak ini … Gampang! Aku akan melenyapkannya, simpel, 'kan?" tukas Lui.
Jika Frans dan Lui masih berdebat di luar, Cherry malah sedang duduk termenung sendirian di perpustakaan. Berharap jika semuanya akan terlewati dengan mudah.
"Huft, aku harus bertahan sendiri sekarang. Lui ternyata sedang hamil anaknya Frans," gumam Cherry, ia tak tahu kenapa perasaan begitu kacau.
"Bagaimana bisa Frans tidak tahu hal itu?" gumamnya.
Di saat Cherry menenangkan diri, beberapa orang datang dan membicarakan Lui serta Frans yang sedang berdebat tentang kehamilan yang tak diinginkannya.
"Apa? Yang benar saja? Mereka serius membicarakan aib mereka secara terang-terangan?"
"Serius lah! Malahan, ternyata si laki-laki sudah punya kekasih sekarang. Aku tidak mengerti lagi deh, mengapa kekasihnya si laki-laki ini mau dengannya,"
"Kenapa tidak kalau sudah cinta?"
"Kau gila? Jika aku jadi kekasihnya yang sekarang, aku akan segera memutuskannya! Laki-laki yang merusak wanita itu, tidak dapat dimaafkan!"
__ADS_1
Ucapan mereka membuat Cherry sedikit tersinggung. Meski Frans menang melakukan itu dengan Lui, Frans adalah laki-laki yang sangat baik. Selama dua bulan terakhir, Frans juga memperlakukan dirinya dengan baik. Namun, karena tidak ingin seolah berita bahwa Frans memiliki kekasih lagi setelah Lui, Cherry hanya memilih diam dan segera pergi dari tempat itu. Cherry memutuskan untuk tidak kuliah hari itu.
"Aku harus kemana ini? Apakah aku harus ke pulang? Tapi, jika Bibik nanti bilang ke Mami dan Papi kalau aku tidak kuliah, bagaimana?"
"Baiklah, aku akan ke toko saja. Siapa tahu, aku bisa membuat otakku yang kalut ini menjadi fresh lagi setelah melihat bunga-bunga bermekaran!" seru Cherry bersemangat lagi.
Hal yang paling disukai Cherry adalah bekerja. Selain mendapatkan uang, Cherry juga mendapatkan kebahagiaan dalam bekerja. Dapat melupakan beban hidupnya sementara.
***
Sesampainya di toko bunga, Cherry menemukan mobil kakaknya ada di sana. "Ini, bukannya mobilnya Kak Zinad, ya? Kenapa di sini?" gumamnya.
"Oh, jangan-jangan mereka sedang kencan. Apa sebaiknya aku datang lagi nanti, ya? Takutnya aku mengganggu mereka sedang bermesraan,"
Saat Cherry membalikkan badannya, terdengar suara barang terjatuh dari dalam.
Bug!
"Eh, suara apa itu?"
Tanpa berpikir panjang lagi, Cherry segera masuk ke kantor dan melihat apa yang terjadi. Di saat langkah kakinya tergesa-gesa lari menuju kantor, ia malah mendengar suara *******.
"Uh,"
"Mmm, bisakah lebih pelan," rintih suara perempuan.
"Kenapa? Apa kau tidak menikmati jika aku mempercepatnya?"
"Tidak, aku hanya tidak kuat saja. Ini sudah yang ketiga kalinya, sayang,"
"Aku mencintaimu, ini sebabnya aku melakukannya denganmu, Zinad,"
Suara ******* itu sangat jelas terdengar di telinga Cherry. Membuatnya teringat malam itu. Cherry semakin penasaran. Meski suaranya sangat lirih, tapi itu sangat jelas jika mereka sedang melakukan hubungan badan.
"Siapa mereka?"
Cherry mengintip. Setelah melihat siapa yang sedang olahraga di siang bolong itu, Cherry terkejut.
"Hah? Kak Zinad dan Bos? Mereka melakukan itu?" Suara ******* itu semakin keras saat keduanya mencapai puncaknya bersama-sama. Tangan Cherry mulai gemetar saat melihat kejadian itu. Semacam takut, dan keluar keringat dingin membanjiri keningnya. Ia pun memberanikan diri mengetuk pintu kantor.
Tok … tok…
"Bos, apakah kamu ada di dalam? Hari ini aku bolos kuliah. Bolehkan aku bekerja? Aku juga melihat mobil Kak Zinad disana, apakah dia ada di dalam juga?"
Dengan suara yang sedikit bergetar, Cherry masih harus berpura-pura tidak melihat apa yang baru saja terjadi di depan matanya. Ia hanya sedang ingin lari dari beban hidupnya yang tengah mengandung dan masalah Frans serta Lui.
__ADS_1