Desahan Cinta Satu Malam

Desahan Cinta Satu Malam
Menggugurkan?


__ADS_3

Keesokan harinya, Cherry sudah terbangun dan melihat Frans juga sudah mempersiapkan makanan untuknya. Sarapan yang dibuat olehnya adalah sarapan paling bagus untuk Ibu hamil. Cherry menjadi tidak enak hati dan juga malu tentunya.


"Frans, kenapa kamu begitu perhatian denganku? Bahkan kamu bangun pagi-pagi untuk masak semua ini? Untukku?" tanya Cherry lirih.


"Selamat pagi," sapa Frans dengan hangat. "Hanya makanan sederhana saja. Cocok untuk orang yang sedang ... beberapa nutrisi yang ada dalam kandungan masakan yang aku masak ini bagus juga untukmu," lanjutnya.


Cherry malah kembali merasa mual. Meski tidak mabuk parah sekalipun, tetap saja Cherry cukup tersiksa dengan kondisi itu. Sementara Frans hanya bisa tetap menyemangati sahabatnya untuk tidak mengeluh. Lalu, Cherry memberikan sebuah pernyataan yang membuat Frans terkejut. Gadis itu mengatakan jika dirinya ingin melakukan aborsi hari itu juga.


"Apa? Kenapa? Apakah kamu yakin dengan keputusan gilamu itu, Cher?" tanya Frans terkejut.


"Frans, lalu aku harus bagaimana? Bertahan dengan kandungan ini? Lalu, jika orang tuaku bertanya siapa yang telah menghamiliku, lantas aku harus mengatakan apa?" kata Cherry mulai menangis.


"Apa mungkin aku mengatakan bahwa aku tidak tahu siapakah yang membuatku hamil, ha?"


"Lalu jika mereka bertanya lagi, kapan aku melakukan itu dan dimana aku melakukannya ... Apa pantas jika kujawab bahwa sebelumnya aku telah menjadi seorang pelayan di sebuah Bar?"


"Bukanlah itu sama saja jika diriku mengatakan, kalau aku adalah seorang pelacur?"


Hati Cherry begitu sakit jika mengingat kejadian dua bulan lalu. Meski memang dirinya menerima sejumlah uang dari Tuan Yasha. Akan tetapi, Cherry juga belum pernah sama sekali memakai uang tersebut.


Fakta itu membuat Frans terdiam. Ia seolah paham dan ikut merasakan sakit hati sahabatnya. Tak lama kemudian, ia mengiyakan apa yang sudah menjadi keputusan dari sahabat perempuannya itu.


"Baiklah, jika itu sudah menjadi keputusanmu. Maka aku tidak akan mengekang dirimu. Tapi, tolong izinkan aku untuk menemanimu untuk melakukan hal itu," ujar Frans dengan nada bicara gemetar.


Tak ada penolakan, Cherry mengangguk setuju. Ia juga percaya sekali dengan sahabatnya itu. Kemudian, Frans menawarkan makanannya pada ibu hamil muda untuk segera menghabiskan.


"Makanlah dengan tenang, aku tidak akan merebutnya darimu," goda Frans.


Cherry hanya nyengir saja.


Setelah sarapan telah habis, mereka harus bersiap ke rumah sakit untuk melakukan sesuatu yang tak dilegalkan itu.


"Sudah siap?" tanya Frans.


Cherry mengangguk. "Iya, aku sudah siap," jawabnya.


Sesampainya di rumah sakit, Cherry terlihat sekali begitu gelisah. Hal itu membuat Frans memberanikan diri untuk menggenggam tangan sahabat wanitanya dengan sentuhan lembut. "Harus percaya!"


"Semuanya pasti akan baik-baik saja,"


Cherry mulai tenang, ia mengangguk dan juga membalas genggaman erat tangan teman prianya.


Setelah namanya dipanggil, Frans memiliki ide untuk ikut masuk. Ia sangat tidak setuju jika Cherry mau melakukan melakukan aborsi. Frans pun meminta dokter untuk memeriksa keadaan bayi yang ada di dalam perut terlebih dahulu.

__ADS_1


Dipikirkan memang sudah prosedur, Cherry pun mengizinkannya, dan apa yang terjadi? Ia malah menjadi luluh hatinya ketika ia mendengar suara detak jantung bayinya.


Suara berbisik alat perekam detak jantung terdengar sangat berisik. Tapi dengan itu, Cherry bisa mendengar denyut janin kecilnya yang hampir saja ia bunuh.


"Hei, ada apa?" tanya Frans lirih.


"Dokter," panggil Cherry. "Dok!"


"Iya, ada apa?"


"Aku tidak jadi menggugurkan bayi ini. Aku mau merawatnya. Maafkan aku telah menunda waktu bekerja, Anda, dokter," kata Cherry menghentikan tangan dokter.


"Frans, ayo kita pulang!" ajaknya dengan menarik tangan teman prianya.


Mendengar itu, membuat Frans jadi senang karena Cherry tidak jadi menggugurkan bayinya. Ia juga sangat yakin bahwa Cherry adalah wanita yang baik. Sedangkan Cherry sendiri malah tidak sadar dengan apa yang hendak ia lakukan.


"Kamu yakin?" tanya Frans..


Cherry mengangguk. "Aku sangat yakin," jawabnya.


"Tidak tahu kenapa aku bisa sejahat itu memikirkan ingin membunuh bayi yang belum sempat lahir," Cherry mengetuk-ngetuk kepalanya. "Aku sungguh bodoh!"


Reflek, Frans menghentikan aksi Cherry memukul kepalanya sendiri. Lalu memeluknya supaya merasa tenang.


Apa yang terjadi dengan Cherry?


Apapun itu, Frans merasa senang karena Cherry tidak melakukan hal yang bodoh. Ia pun mengantar teman wanitanya ke rumah setelah memenangkannya.


**


*


Sampai di rumah.


"Kelihatannya, Kakakmu belum pulang," ujar Frans melihat ke sekeliling rumah.


Dengan lesu, Cherry menyahut lemas, "Itu jauh lebih bagus. Aku malas mencari alasan jika Kakak menanyakan mengapa aku pulang lebih dulu tapi baru sampai sekarang,"


Melihat wajah Frans yang penuh dengan tanda tanya membuat Cherry mengerti. Gadis ini mengerti mengapa teman prianya selalu menatap dirinya dalam diam.


"Kamu tenang saja, aku tidak jadi menggugurkan janin ini karena hatiku merasa ingin menjaganya dengan baik. Maafkan aku yang sudah merepotkan dirimu," ucap Cherry.


"Hmm, sekali lagi terima kasih karena kamu sudah ada untukku sampai saat ini," lanjut Cherry dengan senyuman.

__ADS_1


Frans menyentuh bahu Cherry, "Tenang saja, kita kan sahabat, Cher. Untuk apa kata terima kasih itu?" katanya.


"Jika tidak ada lagi hal yang harus aku lakukan untukmu, sepertinya aku mau pulang. Kamu istirahat, ya—" Frans pamit.


Tak lupa ia juga meminta Cherry untuk memperhatikan kesehatannya.


Mereka saling melambaikan tangan. Hingga motor Frans sudah tidak kelihatan, barulah Cherry masuk ke dalam dan berjalan menuju kamarnya.


Di rumah sangat sepi, ia sangat bersyukur akan itu dan mencoba merebahkan diri. Namun, tetap saja ia terus melenguh tentang kehamilannya. Mencoba untuk terlelap dan bermimpi dan berharap bisa bermimpi tentang malam itu dan bisa mendapat petunjuk lagi.


Benar saja, ia terlelap dan bermimpi hal yang sama terus menerus sejak beberapa minggu terakhir.


"Uh, uh …,"


"Sakit, tolong … jangan seperti ini,"


"Kau tak ingin seperti ini, tapi mendatangiku? Maka kau akan mendapatkan, uh, apa—yang seharusnya kau dapatkan!" suara Tuan Yasha terdengar sangat jelas di telinga Cherry, tapi tidak menyambung dengan baik setiap kata yang keluar.


"Sakit—" rintih Cherry.


Jantungnya berdegup sangat kencang. Ia sampai mengigau dan tubuhnya kembali dipenuhi dengan keringat dingin. Sampai pengurus rumah membangunkannya karena tidak tega melihatnya bermimpi buruk.


"Non, Non Cherry. Non, bangun, Non!" katanya.


"Nona, Nona Cherry! Bangun!"


Setelah beberapa kali, akhirnya Cherry terbangun dengan nafas yang terengah-engah. "Non, minum dulu. Ini sudah saya ambilkan," ucap sang pengurus rumah.


Cherry jadi merasa pusing, ia kembali mual dan kali itu ia muntah. Memuntahkan semua yang masuk di perutnya pagi tadi.


"Loh, Non! Non Cherry sedang sakit, ya? Tunggu, biar saya ambilkan obat, ya. Atau Non mau saya panggilkan dokter pribadi keluarga ini?" terlihat jelas jika pengurus rumah khawatir.


"Jangan! Aku tadi sudah periksa. Lihatlah, obatku juga sudah banyak. Aku hanya ingin istirahat saja," tolak Cherry. 'Mampus! Bisa mati aku, jika nanti aku ketahuan sedang hamil,' gumamnya dalam hati.


Seharian penuh Cherry hanya di kamar saja. Sampai Zinad pulang saja, sang adik tidak menyambutnya. Merasa heran, Zinad pun menanyakan kepada pengurus rumah dimana adiknya. Kemudian, pengurus rumah mengatakan jika Zinad hanya ada di kamar terus tak mau keluar.


"Bahkan, makanan yang saya antar saja tidak di makan oleh Non Cherry, Non," ungkap pengurus rumah.


"Kenapa dia? Selama di kamar, apakah Bibi lihat apa yang terjadi padanya?" tanya Zinad.


Pengurus rumah menggeleng perlahan. Tak lama kemudian, ia mengatakan jika Zinad muntah dan tubuhnya terlihat lemas. Tentu saja sebagai kakak—Zinad khawatir mendengar keadaan adiknya. Segera ia ke kamar Cherry untuk menemuinya.


Saat itu, Cherry masih terlelap. Zinad datang dengan langkah hati-hati, takut akan membangunkan adiknya.

__ADS_1


"Tidak panas, tapi kenapa dia berkeringat sampai basah seperti ini?" gumam Zinad menyentuh dahi adiknya.


"Obat apa ini?" Ia juga menemukan obat yang disembunyikan oleh Cherry di bawah bantalnya.


__ADS_2