
Apa? Kenapa dia datang kemari?" bisik Sonam.
Zinad menggeleng. Sebelum memakai baju, Sonam
mencium bibir Zinad terlebih dahulu. Bukan hanya itu, bahkan lidahnya juga dimainkan di dalam mulut Zinad. Tangannya juga sangat nakal mendaki bukit milik Zinad.
"Sudahlah, segera pakai bajumu. Kamu ke kamar mandi sana. Aku akan membuka pintu untuknya," bisik Sonam.
"Iya,"
Segera Sonam memakai pakaiannya dan merapikan diri. Sonam juga merapikan kantornya yang berantakan karena dahsyatnya permainan mereka.
"Bos, apa kamu di dalam?" teriak Cherry.
"Iya, sebentar!" sahut Sonam.
Tak lama kemudian, pintu pun terbuka. Sonam memang menyembunyikan kejadian yang tak senonoh itu dari Cherry. Ia berlagak memakai handsfree, seolah baru saja mendengar jika Cherry datang.
"Maaf, aku tidak dapat mendengarmu," ucap Sonam, menunjukkan handsfreenya.
"Tidak masalah, Bos. Apa aku mengganggu?" tanya Cherry.
"Ti-tidak! Hanya saja, aku terkejut karena kau datang di jam segini. Apa kau bolos kuliah lagi?" gugupnya Sonam itu sangat jelas.
Meski Cherry sudah tahu apa yang baru saja mereka lakukan. Cherry tetap tidak menunjukkan apapun yang dilihatnya. Ia memilih untuk tidak ikut campur urusan kakaknya yang di mana kakaknya juga tidak pernah ikut campur masalahnya.
"Aku lagi malas kuliah, jadi datang ke sini untuk bekerja lebih awal saja. Em, soal gaji—tenang saja, masih sama kok Bos seperti biasa. Aku lakuin ini karena memang sedang butuh pikiran yang tenang," alasan Cherry.
"Oh, begitu. Ya sudah, sana bekerja dulu tidak apa-apa. Aku akan buatkan minuman untukmu," kata Sonam masih dengan sedikit gugup.
"Apa Lakakku ada disini? Mobilnya terparkir di sana," tunjuk Cherry.
Bahkan, Sonam juga seolah melihat mobil Zinad yang terparkir di depan. Belum juga dijawab, Zinad sudah keluar dari kamar mandi dengan alasan diare.
__ADS_1
"Kak Sonam, makanan tadi pedes banget. Sepertinya aku diare deh!"
"Kak Zinad? Kamu di sini ... sudah lama?" tanya Cherry.
Dan dengan santainya, Zinad masih saja pura-pura polos. "Eh, Cher. Kamu di sini? Apa tidak ke kampus? Bukankah aku bilang ada tugas?" Tanyanya.
Cherry menggeleng. Seorang Cherry sampai tak menyangka jika kakaknya yang seperti malaikat itu mampu melakukan hal begitu dan dengan santainya menutupi adegan ranjangnya dengan wajah polosnya.
**
Akhirnya, Cherry menceritakan kehamilannya kepada mereka berdua. Zinad yang sudah tahu, berpura-pura terkejut dan bersimpati kepada adik satu-satunya itu.
"Kamu hamil sudah berapa bulan?" tanya Sonam.
"Dokter bilang, mau tiga bulan, Bos. Kemarin aku sempat ingin menggugurkan kandungan ini, Kak, Bos. Tapi ketika mendengar suara detak jantung janin ini dan juga melihatnya bergerak, membuatku tidak tega untuk melenyapkannya," ungkap Cherry.
"Jadi, aku memutuskan untuk melahirkannya," lanjut Cherry. "Hanya saja, aku tidak tahu bagaimana cara menghadapi Mami dan Papi sekarang," Cherry kembali murung.
Zinad menggenggam erat tangan adiknya. Menguatkan sangat adik untuk tetap semangat menjalani hidupnya.
"Cher, apa kamu yakin ingin melahirkan anak ini tanpa seorang Ayah?" tanyanya.
"Aku sudah terbiasa untuk hidup sendirian, Kak. Jika aku membunuhnya, apakah aku tidak terlihat jahat bagi dia? Ini tidak adil baginya, anak ini tidak bersalah," jawab Cherry.mengelus-elus perutnya.
Meskipun aku belum tahu siapa Ayah kandungnya, aku akan tetap melahirkan dia dan.menyayangi dia dengan sepenuh hati. Aku akan cari pekerjaan paruh waktu lagi, supaya bisa membiayai hidupnya kelak," imbuh Cherry meneteskan air matanya.
"Cher—" Zinad sampai tak tega dengan adiknya. Ia pun memeluk Cherry serta menguatkan hatinya.
"Apa kamu tidak memiliki benda atau sedikit petunjuk, seperti apa gitu? Untuk menemukan Ayah dari anak yang kamu kandung itu?" Sonam pun angkat bicara.
Cherry memiliki liontin itu. Ia tak sengaja menariknya dari leher pria itu saat mengeram kenikmatan surga dunia. Namun, Cherry masih tidak mau menunjukkan kepada siapapun sebelum anaknya lahir. Cherry pun menggeleng dan memasang wajah murung.
"Lalu, aku harus bagaimana jika Mami dan Papi bertanya, Kak?" sambung Cherry.
__ADS_1
"Tenang saja, mereka akan menjadi urusanku nanti. Kamu sehat-sehat, jaga kandungan kamu baik-baik dan jangan banyak pikiran. Jika kamu memang tidak ingin kuliah, its ok! Kamu jangan kuliah dulu. Soal pemasukan, nanti kita pikirkan bareng-bareng, ya ..," tutur Zinad.
Zinad adalah kakak idaman bagi seorang adik seperti Cherry. Zinad tetap tidak marah kepada Cherry karena kehamilannya itu. Hamilnya Cherry terjadi sebelum mereka sedekat itu, jadi Zinad tidak mau menghakimi sendiri. Hanya perlu mendukung dan selalu melindungi. Itu adalah keinginan Zinad.
***
Sudah sebulan lamanya, Cherry hanya duduk di rumah dan tidur di kamarnya. Sejak kejadian di parkiran itu, Frans juga tidak pernah main lagi ke rumah. Cherry mulai bosan sendiri di rumah.
"Aku harus cari cara supaya aku tidak bosan. Tapi bagaimana caranya?" gumamnya.
Saat ia membuka kotak perhiasan miliknya. Barulah mengingat akan liontin yang didapatkan dari leher pria malam itu, Tuan Yasha.
"Sebenarnya, siapa ayahmu ini, Nak? Identitasnya dirahasiakan dari klub. Apakah dia orang jahat, atau baik, Ibu tidak tahu,"
"Tapi, jika dirasa ... Pria ini bukan orang biasa. Suaranya, tubuhnya, aku masih ingat jelas bagaimana rasanya. Hanya saja, aku tidak melihat bagaimana wajahnya karena mataku tertutup,"
Cherry memandangi liontin itu terus menerus dan menemukan inisial YS dalam liontin itu.
"Ukiran inisial ini memang sengaja di ukir untuk nama pemilik. YS, siapa dia? Lalu, siapa Aletta? Pria itu juga memanggil namanya, bukan?"
Cherry semakin penasaran dengan Ayah dari anak yang dikandung. Ia berniat untuk mencarinya, setelah anaknya lahir nanti. Lalu, apa yang terjadi satu bulan lalu kepada Frans dan Lui. Sepulang dari kampus, mereka berdebat lagi dan lagi. Frans bersikeras tidak mengakui bahwa anak yang ada di dalam kandungan Lui bukanlah darah dagingnya.
"Kamu ini gimana, sih? Kamu tidak mau bertanggung jawab atas anak ini, tapi kamu tidak mau aku menggugurkannya. Mau kamu apa?" kesal Lui.
"Anak ini tidak bersalah, kenapa kamu mau dia pergi? Apa kamu tega?" sulut Frans.
"Perlu kamu ketahui, Frans. Aku sudah hamil 3 bulan lebih malah. Lalu yang menanggung biaya hidup sampai 6 bulan kedepan dan biaya lahiran itu siapa? Kalau kamu tidak ingin menanggungnya, ya jangan minta aku untuk mempertahankan dia, dong!" jelas Lui.
"Aku juga ingin hidup biasa, aku butuh kerja, butuh duit juga. jika ada anak ini, bagaimana aku akan kerja, mikir!" tukas Lui.
Apa yang dikatakan Lui memang ada benarnya. Frans tidak bisa menyamakan Lui dengan Cherry. Cherry saat ini memiliki rumah, memiliki keluarga yang akan melindunginya sampa dia lahiran. Tapi Lui?
Lui bekerja sebagai simpanan om tajir dan laki-laki lainnya yang membelinya dalam semalam. Jika dirinya hamil, bukan hanya tidak ada yang mau. Bahkan, untuk mencari pekerjaan saja, pasti akan susah. Maka dari itu, Frans memutuskan untuk menanggung hidup Lui sampai Lui melahirkan dan melakukan tes DNA.
__ADS_1