Desahan Cinta Satu Malam

Desahan Cinta Satu Malam
Peka


__ADS_3

Sang asisten langsung memutar tubuhnya. Ketika ia hendak melangkah, tak sengaja tangannya menyenggol vas bunga, beruntung saja vas mahal itu tidak terjatuh.


TAR!!!


Tuan Yasha dan Cherry tersadar dari pandangan indah mereka. Segera menjauhkan diri masing-masing. "Tuan, Anda hanya memakai handuk?" tanya Cherry, gugup.


"Kamu tidak menyiapkan pakaian dalamku, jadi aku datang kemari mau bertanya," sahut Tuan Yasha dengan aura dingin, dia masih berusaha tetap stay cool supaya tidak terlihat gugup juga.


Tersangka utama sedang berusaha untuk kabur. Perlahan cas bunganya ia pungut dengan hati-hati.


"Um, itu … aku memang sengaja tidak menyiapkannya. Um, karena—"


"Jangan di bahas! Aku akan mengambilnya sendiri!" Tuan Yasha menyela ucapan Cherry dan pergi begitu saja.


Pria angkuh itu berbalik arah, berjalan meninggalkan dapur, dengan mata mautnya mengarah ke asistennya yang masih berusaha memungut pecahan vas bunga tersebut. Kemudian memberinya perintah untuk segera membantunya menyiapkan berkas-berkas pekerjaannya. "Ikut aku!" tegasnya.


"Tapi, Tuan—" asisten Melvin belum pernah se-panik itu.


"Besok tak perlu datang lagi," ancam Tuan Yasha.


"Baik, Tuan," jawab Asisten Melvin dengan wajah lesu. Dia sudah tahu, jika Tuan-nya pasti akan marah padanya.


**


*


Di kamar Tuan Yasha mengingatkan asistennya untuk masuk dengan permisi. Sebab sudah ada Cherry yang akan di rumah sebelum dirinya. Saat itulah asisten Melvin merasa tersingkir dengan adanya Cherry, tapi ia juga merasa senang.


'Tapi aku senang dengan adanya Nona Keith, Tuan tidak lagi marah-marah dan lebih bisa bicara dengan teratur. Tidak semaunya sendiri juga padaku, huft!' pria ini bernapas lega, meski mengatakan itu dalam hatinya.


Mendengar lenguhan asistennya, Tuan Yasha pun menatap asisten Melvin dengan sinis. Tatapan begitu mengerikan POV dari asisten Melvin.


"A-Ada apa, Tuan?" tanya asisten Melvin gugup lagi.


"Kenapa kau melenguh?" tanya Tuan Yasha balik.


"Oh, tidak. Saya hanya sedikit lega saja, Tuan. Akhirnya, ada yang bisa memilihkan baju yang pas untuk Anda," jawab sang asisten sedikit takut, ia takut salah bicara.


"Kau sudah tua, carilah pasangan hidup. Mengapa pula harus mengabdi terus padaku, hah? Apa kau tidak bosan dan tidak lelah di tuduh sebagai gay karena terus mengekor padaku?" Tak biasanya Tuan Yasha bicara santai seperti itu.


"Hm, Tuan. Usia kita hanya selisih sedikit saja. Saya tidak menikah ... Anda sudah tahu alasannya, bukan? Mengapa di ungkit lagi?" jelas asisten Melvin terlihat merajuk.


"Oh, kau merajuk? Pulanglah dan jangan berangkat bekerja lagi!" ancam Tuan Yasha.

__ADS_1


Memang keduanya selalu terlihat perdebatan di luar pekerjaan. Hanya saja topik kali itu berbeda dengan sebelumnya. Jika sebelumnya berdebat masalah bagaimana menghadapi wanita-wanita yang terus berlari ke pelukan Tuan Yasha, maka saat itu yang ia bahas hanya pernikahan dan lelucon sedikit ala sepasang Tuan dan asistennya yang usianya sudah tak lagi muda.


"Bagaimana dengan pekerjaan sekertaris Sarah? Aku merasa dia tidak kondusif bagi para karyawan lain, terutama karyawan wanita," Tuan Yasha membuka map coklat yang berisikan hasil revisi kinerja sekretaris Sarah.


"Entah, Tuan. Tapi memang saya pun juga merasa demikian. Saya akan pelajari lebih lanjut dan juga selidiki kinerja sekretaris Sarah," sahut asisten Melvin.


"Oke, kita sudahi pembahasan ini. Kita ke meja makan, sarapan kita sudah siap sepertinya," Tuan Yasha menutup semua berkas yang ada di atas mejanya.


Mendengar ajakan sarapan, semakin membuat asisten Melvin menjadi aneh. Tapi ia tak bisa menolak dan protes lagi karena pagi itu, dia sudah mengacaukan pagi indahnya Tuan Yasha.


-_-_-


Sarapan pagi itu membuat Tuan Yasha sedikit bersemangat. Ia makan dengan lahap dan pembawaannya terasa lebih tenang. Di kursi lain pun asistennya juga begitu. Asisten Melvin sarapan dengan memakan semua yang dibawa oleh Cherry.


"Masakan Nona enak sekali. Bahkan rasanya tidak kalah dengan masakan restoran berbintang," puji asisten Melvin.


"Tuan Melvin bisa saja. Sudah terbiasa saja saya memasak. Lagipula ... ini semua juga masakan kesukaan anak saya," ucap Cherry malu-malu kucing.


"Benarkah? Kenapa sama seperti Tuan? Tuan juga menyukai masakan seperti ini. Sudah lama sekali, Tuan tidak makan masakan rumahan," celetuk asisten Melvin menambah porsi makannya.


Di sisi lain, Tuan Yasha sedikit kesal karena Cherry dapat bicara formal dan jauh lebih tenang bersama dengan asisten pribadinya dibandingkan dengan dirinya. Bahkan senyum manis pun tersemat di bibirnya.


'Apakah itu sebuah penghinaan? Dia sangat ramah pada asistenku. Tapi denganku? Belum sehari bekerja bersamaku saja, dia sudak kurang ajar bahasanya,' batin Tuan Yasha mulai meradang.


'Dia bilang putrinya juga menyukai makanan seperti ini? Aku yakin, putrinya itu memang putri kandungku!' imbuhnya dalam hati.


Selesai sarapan, mereka bersiap untuk berangkat ke kantor. Saat di mobil, Cherry mendapat telpon dari guru putrinya di sekolah untuk meminta izin membawa anak-anak ke taman di tepi sungai Kota itu.


"Baiklah, tapi tolong sekali perhatikan anak saya ya, Mis. Soalnya dia adalah hidup saya. Jika terjadi apa-apa padanya, saya tidak tahu harus bagaimana. Bisa tolong berikan ponselnya pada Ryu, saya ingin bicara padanya sebentar saja," ucap Cherry.


Tak sengaja tangan Cherry menyentuh tombol loudspeaker. Wanita ini menjadi panik karena takut menganggu konsentrasi supir, apalagi adanya Tuan Yasha, ia semakin takut menganggu pria angkuh itu.


'Aduh, kenapa segala kepencet loudspeaker?' batinnya.


Ketika Cherry hendak menonaktifkan loudspeaker ponselnya, Tuan Yahsa mencegahnya dan mengedipkan mata. Pertanda jika dirinya tidak terganggu.


'Eh? Dia mengizinkan aku?'


Cherry merasa terharu.


'Mami! Apa Mami mengizinkanku? Ah, Mami, mengapa Mamiku ini sangat baik padaku? Tadi, Bibi Zinad tidak mengizinkanku ikut. Dia sangat cerewet sekali, aku tidak menyukai Bibi Zinad untuk sementara ini. Maka aku meminta Mis Juan untuk menghubungimu, Mami. Mami, semangat berkerja! Aku mencintaimu!'


"Iya, Sayang. Kamu hati-hati, ya. Hanya kamu yang tidak didampingi orang tua, loh! Jangan nakal! Selamat bersenang-senang," sahut Cherry dengan raut wajah gembira.

__ADS_1


Ketika Ryujin memanggilnya dengan sebutan Mami, jantung Tuan Yasha berdegup kencang. Suaranya mampu membuatnya terharu dan ingin menangis. Ikatan itu nyata, hanya saja pria ini yang belum mau mengakuinya karena masih belum jelas segalanya.


"Itu anak kamu?" tanya Tuan Yasha.


"Iya, maafkan saya karena malah loudspeaker ponsel saya tak sengaja diaktifkan. Huft, saya benar-benar tidak sengaja mengusap loudspeakernya. Anak saya memang sangat bersemangat dalam menjalani segala kegiatan," jelas Cherry panjang kali lebar.


"Bukankah itu terlihat sepertimu? Anakmu manis juga cara bicaranya, dia juga pandai berbahasa Inggris. Apakah dia menjalankan les?" tanya Tuan Yasha lagi.


"Oh, tidak. Ini karena selama dia bayi hingga beberapa hari lalu, dia tinggal di luar Negeri. Jadi ... bahasa Inggris dan aksennya masih melekat sekali," jawab Cherry dengan senyuman.


Tuan Yahsa hanya menganggukkan kepala. Ia tak ingin menanyakan banyak hal lagi pada wanita yang telah melahirkan putrinya itu. Ia hanya takut saja jika Cherry akan curiga padanya. Meski benar Cherry adalah Ibu dari anaknya, tetap saja dalam hati yang paling dalam, hanya Aletta yang ia cintai.


***


Waktu berlalu dengan cepat, tak terasa sudah hampir tiga bulan Cherry bekerja di sisi Tuan Yasha. Sama seperti biasa, setiap pagi menyiapkan sarapan ke apartemennya, siang menemani makan, dan malam menyiapkan makan malam, terus pulang.


Tiba saatnya, antara anak dan ayah itu saling bertemu. Saat itu, acara ulang tahun keponakannya, Daniel. Tuan Yasha akan datang tanpa asistennya dan Cherry karena meraka harus meng-handle pekerjaannya yang ada di luar Kota bersama dengan Sekertaris Sarah.


Flashback beberapa saat.


Sebelum berangkat ke luar Kota, Cherry sudah sibuk membungkus kado untuk Daniel dan meminta Ryujin mengucapkan permintaan maafnya karena tidak bisa hadir.


"Oke, ini hadiah untuk Daniel. Lalu ini ... Ini bekal makanmu untukmu dan Zoey. Salam untuk orang tua Zoey juga, ya…," ucap Cherry sudah sibuk sejak pagi.


Ryujin hanya diam saja dan makan sarapannya dengan pelan. Membuat Zinad bertanya mengapa keponakan kesayangannya murung.


"Hei, Ryu, Sayang. Kenapa sejak tadi kamu hanya diam saja? Apakah ada yang mengganggu pikiranmu?" tanya Zinad.


Rujin menggelengkan kepala.


"Mami, di mana Ayahku? Kenapa semua orang memiliki Ayah. Mengapa aku tidak?" suara sang malaikat kecil itu sangat menyakiti seorang Ibu muda yang telah menjadi single parent selama hampir enam tahun terakhir.


Deg!


Pertanyaan yang membuat Zinad pun sulit untuk memberikan jawabannya.


"Nak, kamu memiliki paman tampan, bukan? Bukankah kamu sudah menganggapnya sebagai Ayahmu sendiri?" sahut Zinad. "Iya, paman Sonam dan Kakak (anak dari Sonam) kan sudah sangat akrab denganmu. Mengapa kamu masih menginginkan ayahmu?" sambung Zinad.


"Meski Daniel juga tidak memiliki ayah, tapi setidaknya dia memiliki paman kandung. Apakah aku memang tidak boleh memiliki ayah kandung, Bibi?" tanya Ryujin lagi.


Bagaimana tidak menangis jika sang putri menanyakan dimana keberadaan Ayah kandungnya yang selama ini belum pernah ia temui.


'Ryu~'

__ADS_1


__ADS_2