
Di kamarnya, Ryujin masih bingung mengapa Ibunya tidur dengan seorang pria.
"Kamar tamu ada, kenapa Mami dan Paman Yasha tidur di kamar yang sama? Bahkan mereka tidak memakai pakaian,"
"Mami aneh sekali. Mami dan Paman tidak menikah, kenapa dia tidur bersama seperti Kakek dan nenek, ya?"
Semakin dipikir malah membuat gadis kecil itu pusing. Ia tidak seharusnya memikirkan masalah orang dewasa karena bagaimanapun juga belum bisa berpikir sampai ke arah sana.
***
Di meja makan, mereka sarapan masih saling diam dan hanya membuang muka dengan menatap piringnya masing-masing.
'Huh, tidak asyik sama sekali. Mami dan Paman malah jadi diam seperti ini. Apa mereka marahan karena aku mengetahui mereka tidur bersama?' batin Ryujin lagi.
Huft!
Lenguhan Ryujin membuat Cherry dan Tuan Yasha mengangkat kepalanya, lalu menatap ke arahnya.
"Ada apa?" tanya Ryujin lirih. "Tatapan Mami sama Paman tujuannya sama, 'kan? Ada apa?" imbuh gadis kecil itu.
"Kenapa kamu melenguh?" tanya Cherry.
Ryujin langsung menunduk.
"Apa ada masalah? Tidak sopan melenguh didepan makanan seperti ini. Apa kamu tidak mengerti itu? Kakek dan nenek pasti juga sudah memberitahu hal ini, 'kan?" tegur Cherry.
Teguran itu membuat Tuan Yasha terkejut. "Kenapa kamu memarahinya? Jika kamu marah padaku, tidak perlu kamu lampiaskan padanya, dia belum mengerti apapun!" lawannya.
Tidak ingin membuat Ibunya semakin kesal, Ryujin kembali ke kamarnya untuk mengganti pakaian seragam. Sebelumnya ia hanya memastikan saja apa sarapan yang dibuatkan untuknya. Malah melihat Ibunya dan juga pria yang disebut 'Paman' sedang tidak baik-baik saja.
Tuan Yasha yang keceplosan bahwa dirinya lah pria enam tahun lalu itu membuat Cherry kecewa dan kesal sebenarnya. Masih sangat jelas teringat bagaimana sulitnya dirinya berjuang karena adanya Ryujin sejak dalam kandungan.
"Kamu juga diam!" tunjuk Cherry.
Mata Cherry memutar, dia masih dalam emosi ketika menunjuk Tuannya.
Sadar jika wanita di depannya sedang merajuk, Tuan Yasha pun luluh dan bicara dengan nada halus.
"Liontin itu—milikku. Ibuku yang membuatkannya khusus untukku sebelum beliau meninggal," ungkap Tuan Yasha.
"Saya tahu," sahut Cherry. "Hmm, jika Tuan pria enam tahun lalu, pasti liontin itu, ya, milikmu," katanya.
"Maafkan aku karena itu. Sebenarnya aku awalnya ragu. Tapi sekarang aku akan berusaha menerima Ryujin dengan sepenuh hatiku," lanjut Tuan Yasha.
"Tidak perlu repot-repot. Tahu siapa ayah kandungnya saja—saya sudah senang. Hidupmu ya hidupmu, hidup saya, ya seperti ini. Jadi selain bukan demi Ryujin, kita hanya rekan kerja saja!" tegas Cherry.
Meski sudah terbongkar siapa Tuan Yasha ini, tidak kemungkinan Cherry mau menerima pria itu dengan mudah. Begitu juga dengan Tuan Yasha yang belum bisa menerima wanita manapun yang akan menggantikan mantan kekasih dihatinya.
"Aku tidak bisa memberikan keluarga padamu. Tapi aku berjanji, aku akan menyayangi Ryujin dan membiayai sekolahnya," ujar Tuan Yasha. "Itu juga tanggung jawabku," imbuhnya.
"Tidak perlu! Saya bisa mengatasi itu sendiri. Sebaiknya simpan saja uang anda, Tuan. Berhentilah membicarakan ini, Ryujin sudah mau keluar," Cherry masih tak ingin putrinya mengetahui bahwa pria yang telah bermain dengannya sepanjang hari itu adalah ayah kandungnya.
Ryujin keluar dengan raut wajah yang berbeda dari sebelumnya. Senyum manis indah itu terlukis di bibirnya.
"Selamat pagi, Mami. Selamat pagi, Paman? Maaf tentang yang tadi, ya ...." sapa Ryujin kembali.
Meski Ryujin tahu jika orang tuanya tidur bersama, ia tidak mau ikut campur masalah orang dewasa. Berpura-pura damai dengan keadaan, itu sudah cukup baginya.
"Pagi, Sayang. Ayo, cepat makan dan Mami akan mengantarmu ke sekolah," Cherry terlihat begitu waspada pada Tuan Yasha.
__ADS_1
"Apakah Bibi sudah pulang? Mengapa dia tidak sarapan bersama kita?" tanya Ryujin.
"Dia belum pulang. Memangnya kenapa kamu menanyakan Bibi? Tumben sekali?" sahut Cherry merapikan rambut putri kesayangannya itu.
Ryujin pun menepuk keningnya sendiri. "Mami, jika Bibi belum pulang, Mami akan mengantarku pakai apa? Jalan kaki? Bukankah mobil Mami rusak?" celetuk Ryujin, baru saja ingat.
Paw!
Cherry tak bisa berkata apapun. Ia lupa jika mobilnya rusak dua hari lalu. "Ada motornya Bibik, 'kan? Mami bisa meminjamkannya," jawab Cherry mencari akal.
"Lalu, Paman bagaimana? Kemarin, kami pulang diantar bersama, tapi mobilnya dibawa oleh orang lain. Paman juga pasti tidak bisa berangkat bekerja, bukan begitu, Paman?" Ryujin tahu jika keduanya sedang tidak baik-baik saja. Dia berusaha untuk menghangatkan suasana.
"Pamanmu bisa naik ojek atau taksi. Mengapa memikirkan yang lainnya?" sahut Cherry ketus.
'Eh, apa ini? Bukankah hubungan mereka baik? Semalam mereka tidur bersama, bukan? Kenapa sekarang begini? Apa karena lenguhanku tadi, ya?' batin Cherry.
Gadis manis ini mulai bingung.
Tuan Yasha pun sudah menelpon asisten pribadinya untuk menjemputnya. Dia juga menawarkan tumpangan pada putrinya untuk pergi ke sekolah.
"Iya, di rumah Nona Cherry Keith. Jemput aku sekarang dan bawa mobil yang lain, jangan yang biasanya," pinta Tuan Yasha.
'Baik, Tuan. Saya segera kesan,'
Tuan Yasha menutup teleponnya.
"Sebentar lagi, Asisten Paman akan datang. Masalah berangkat sekolah selesai, jadi kamu harus habiskan sarapannya," tutur Tuan Yasha.
"Wah, thank you, Paman!" seru Ryujin bahagia.
Mereka bak satu keluarga, Cherry sedang menguncir dan merapikan putrinya, kemudian Tuan Yasha sedang sarapan di depannya. Wajah Ryujin yang mirip dengan Tuan Yasha menambah kesan mereka sedang bahagia bersama.
***
"Baiklah, kami tunggu saja disana,"
"Ayo, cantik. Mobilnya sudah tiba. Paman akan mengantarmu ke sekolah, hmm?" ajak Tuan Yasha.
"Yeay! Aku akan diantar oleh Paman tampan. Thank you very much, Paman. Aku mencintaimu!"
Muahh!
Ryujin kecil sampai mengecup pipi Tuan Yasha, hal itu membuat pria dewasa ini salah tingkah saja. Sementara Cherry hanya diam saja.
Begitu sampai depan, asisten Melvin yang sempat bingung mengapa Tuannya ada di rumah pelayan pribadinya menyambutnya dengan hangat. "Selamat pagi, Tuan, Nona Keith, selamat pagi,"
"Pagi," Ryujin berusaha tersenyum.
Namun Tuan Yasha hanya mengangguk.
"Tunggu!" Ryujin menghentikan langkah ketiga orang dewasa itu.
"Ada apa, Ryu?" tanya Cherry.
Ryujin menatap asisten Melvin dengan serius. Seperti orang yang ingin mengintrogasi dengan tatapan tajamnya. "Paman tidak menyapaku?" tanyanya.
"Kenapa hanya Paman dan Mami saja yang disapa? Aku juga berada nyata di sini, Paman!" Ketus gadis kecil itu.
Asisten Melvin tersenyum tipis, kemudian menatap Tuannya, seolah-olah ia sedang bertanya siapa gadis kecil yang berani memarahinya ini. Tapi Tuan Yasha mengangguk, yang artinya bahwa dia memang harus menyapa Ryujin.
__ADS_1
"Selamat pagi juga, Nona muda. Silakan masuk dan perkenalkan nama saya—Melvin, asisten pribadi dari Tuan Yasha. Anda bisa memanggil saya dengan panggilan—"
"Pamel! Paman Melvin, oke? Oke lah ... Hahaha, pagiku cerah sekali, terima kasih, Pamel," Ryujin memotong ucapan asisten Melvin, lalu masuk ke dalam mobil.
*
Di dalam mobil, suasananya menjadi hening.. Cherry yang biasanya banyak bertanya kepada Tuan Yasha pun hari itu hanya diam saja dan membuang mukanya ke arah kaca mobil. Begitu juga dengan Tuan Yasha, juga membuang muka ke kaca sebelahnya.
Sementara Ryujin, ia duduk di depan di samping asisten Melvin yang saat itu tengah menyetir. Ryujin pun semakin bingung dengan dunia dewasa. Jelas-jelas, ia melihat keduanya tidur bersama tidak memakai sehelai kain pun, tapi entah mengapa di pagi hari mereka hanya diam saja dengan tatapan tegang.
"Paman, siapa namamu tadi?" tanya Ryujin basa-basi.
"Nama saya Melvin, Nona muda. Apa Nona muda sudah lupa? Bukankah tadi saya sudah mengenalkan diri?" jawab asisten Melvin.
"Pria ini, apa tidak tahu namanya basa-basi? Sangat menyebalkan!" ketus Ryujin.
'Eh? Kenapa aku malah merasa dia mirip sekali dengan Tuan? Ketusnya benar-benar sama!' batin asisten Melvin..
"Pamel, wajahku tidak mirip dengan Mamiku. Semua orang selalu begitu, tapi mereka mengatakan jika kepribadianku mirip sekali dengan Mami," celetuk Ryujin sudah berganti mood. "Kira-kira ... Apakah mungkin aku mirip dengan Papiku?" Imbuhnya.
"Oh, ya? Tapi sekilas, Nona muda sangat mirip dengan Nona Keith. Tidak mirip dengan orang lain ataupun siapapun. Hanya Nona Cherry Keith saja!" jelas asisten Melvin sangat yakin.
"Asisten Melvin, apa kau sudah bosan bekerja denganku?" timpal Tuan Yasha, merasa tidak terima asisten pribadinya mengatakan itu.
Cherry pun tidak mau kalah, ia mendukung apa yang dikatakan oleh asisten Melvin. Sehingga terjadilah perdebatan antara keduanya yang membuat putri mereka bingung.
"Kamu ini kenapa? Jelas-jelas dia tidak mirip denganmu, masih saja menghayal!" sulut Tuan Yasha.
"Apa anda bilang? Dia putri saya, jadi dia ya mirip dengan saya, lah!" Cherry tidak terima.
"Oho! Kamu sangat memaksakan diri, Nona Keith. Jelas-jelas dia putri … mu itu, tidak mirip denganmu, paham!" tegas Tuan Yasha, hampir saja keceplosan menyebut Ryujin sebagai putrinya.
'Hm, dia bahkan belum berani mengakui dirinya sebagai ayahnya di depan Ryu. Lihat bagaimana aku akan membalasmu, Tuan Yasha!' gumam Cherry dalam hati.
Tatapan mereka bak mengeluarkan laser yang mematikan. Membuat Ryujin jadi kesal mendengar perdebatan mereka berdua. "Ayolah, kalian jangan berkelahi dan bertengkar terus. Aku mirip dengan Papiku, dan sifatku mirip dengan Mamiku. Sudah puas?" ungkapnya gadis itu melipat kedua tangannya.
Tuan Yasha pun menyetujui apa yang dikatakan oleh putrinya. "Dan untuk Paman Yasha. Jika aku mirip dengan Papiku, mengapa kamu yang senang? Apakah kamu adalah Papiku? Tidak, 'kan?" lanjut Ryujin.
Perkataan Ryujin membuat Tuan Yasha tercengang. Mereka pun akhirnya diam dan duduk dengan tenang kembali. Gadis cilik itu masih bingung dengan dua orang dewasa yang di jok belakang.
"Pamel," panggil Ryujin.
"Iya Nona muda?"
"Panggil saja Ryujin. Mengapa Pamel memanggilku dengan sebutan itu? Aku putri Mamiku, bukan putri Paman Yasha," protes Ryujin.
"Ah itu tidak penting. Tapi apa kamu tahu, Pamel? Tadi pagi, aku ingin menemui Mamiku ke kamar, aku mendapati Mami dan Paman Yasha tidur bersama tidak mengenakan pakaian. Kupikir hubungan mereka baik, ternyata me—"
"RYUJIN!" sentak Cherry dan Tuan Yasha bersamaan.
Seketika, Ryujin terdiam. Untuk menarik perhatian, ia memang harus mengatakan itu. Berlanjut akting, Ryujin pun menunduk dan pura-pura menangis.
'Apa? Tuan dan Nona tidur bersama tanpa mengenakan pakaian? Apakah kejadian enam tahun lalu, bersemi lagi?' gumam asisten Melvin bertanya-tanya.
Ekspresi antara bingung dan senang itu membuat wajah asisten Melvin lucu sekali. Ia akan bahagia jika keduanya bisa bersama kembali. Ia baru mengingat, jika Tuannya semenjak kejadian enam tahun lalu tidak bisa melakukan hubungan ranjang dengan wanita lain.
Meski sangat banyak wanita di sisi Tuan Yasha, tetap saja di saja di saat hendak tancap, Tuannya mengalami kesulitan karena mengingat kejadian enam tahun lalu, meski melakukan foreplay dengan baik.
'Jika Tuan berhasil melakukan dengan Nona Cherr Keith malam tadi, kutukan itu pasti akan hilang. Hahaha, selamat Tuan. Sekarang Anda bisa menikmati tubuh wanita seksi manapun juga,' batin asisten Melvin ikut bahagia.
__ADS_1
Melihat asistennya terus tersenyum, Tuan Yasha tahu apa yang ada di dalam pikirannya itu. Membuatnya kembali berbisik, mengancamnya akan memecat dirinya jika berani-berani memikirkan hal aneh lagi. Seketika, raut gembira yang ada di wajah pria tua melajang lama ini menghilang dan berubah menjadi serius.