
Keesokan harinya, Cherry dan Zinad mengantar Ryujin untuk mendaftar ke sekolah taman kanak-kanak terdekat. Ketika di sekolah tersebut, tak sengaja saja Cherry berpapasan dengan Tuan Yasha yang saat itu sedang mengantar keponakannya mendaftarkan sekolah juga.
Namun, keduanya sama-sama tidak melihat, jadi hanya berpapasan saja.
Tiba-tiba saja Ryujin menoleh ke arah mobil Tuan Yasha, di mana pria itu memang baru saja masuk ke mobilnya. Langkah Ryujin terhenti dan terus mengamati mobil milik Ayahnya itu.
"Ada apa?" tanya Cherry. "Apa ada yang membuat pemandangan terganggu, Ryu?
"Mami, aku merasa jantungku berdetak sangat kencang. Apakah aku sedang tidak sehat, sakit?" gadis kecil itu sangat lucu sekali.
"Berdetak dengan kencang? Coba Mami periksa," Cherry menyentuh dada putrinya itu.
Setelah mobil itu berlalu, detak jantung yang sebelumnya kencang menjadi normal kembali. Meski belum mengerti tentang perasaannya, Ryujin menjadi gelisah setelah mobil Ayahnya pergi.
"Nak, ada apa? Apa kamu sakit sungguhan? Kenapa raut wajahmu jadi seperti ini?" lanjut Cherry bertanya, dia panik melihat putrinya bersikap seperti itu.
"Mungkin dia masih lelah karena perjalanan kemarin, Cher. Apakah kita akan mendaftarkannya besok saja? Menunggu Ryujin pulih kembali atau begini saja ... kau bawa keponakanku ini pulang dan aku yang masuk untuk mendaftar," Zinad sampai memberikan usulannya.
"Aku baik-baik saja, Mi, Bibi. Ayo, kita masuk!" Ryujin kembali ceria seperti sebelumnya.
Di sisi lain, Tuan Yasha juga merasakan hal yang sama dengan apa yang dirasakan oleh Ryujin. Di mana jantungnya terus berdebar dan merasa gelisah tak berkesudahan. Bahkan sampai ia berkeringat karena hal itu. Sebenarnya dia juga baru saja kembali dari luar negri selama lima tahun itu.
"Paman, ada apa?" tanya Daniel, keponakan Tuan Yasha.
"Tidak, Paman hanya kepanasan saja," jawab Tuan Yasha sedikit dingin.
"Kakak, apakah perubahan cuaca membuatmu berkeringat? Apakah kamu baik-baik saja?" tanya Laura, adik Tuan Yasha.
Tuan Yasha hanya menggelengkan kepala. Sejak pulang dari luar negeri, ia memang selalu merasa tidak tenang. Apalagi, sebelumnya ia sempat bertemu lagi dengan Cherry di hotel. Ia memang masih memiliki seseorang yang ada di hatinya, meski orang itu tidak ada disisinya. Hanya saja ... bayangan Cherry itu selalu ada dalam ingatannya.
Tuan Yasha sangat yakin jika Cherry datang untuk mencarinya suatu saat nanti. Sebab, liontin miliknya ada padanya. Tuan Yasha menyadari itu ketika ia bertemu kembali dengan Cherry di restoran.
'Bagaimana jika gadis itu mencariku dan memintaku pertanggung jawaban? Tapi aku sudah membayarnya. Mengapa aku terus merasa bersalah. Apakah karena waktu itu dia masih virgin?' batin Tuan Yasha.
__ADS_1
Tuan Yasha tiba-tiba bergumam sendiri.
"Tapi ini lain dengan yang lain. Biasanya, setelah aku melakukan hubungan ranjang dengan wanita lain, pasti sudah begitu saja. Mengapa dengan gadis ini rasanya lain?"
"Apakah karena dia masih di bawah umur waktu itu? Apa karena memang dia masih virgin? Tapi, ada beberapa gadis lain yang memang masih virgin datang kepadaku,"
"Lantas, mengapa wajahnya dan desahannya selalu mengganggu pikiranku?"
"Sampai lima tahun ini, setiap aku melakukan hubungan ranjang, pasti belum sampai masuk, sudah teringat dengannya. Sihir apa yang dia berikan padaku?"
Tuan Yasha juga terus bergelut dengan hatinya karena tidak bisa ia katakan dengan keras. Pasalnya, dahulu setelah kekasihnya meninggal, Tuan Yasha ini menjadi sedikit gila wanita meski hatinya masih ada wanita itu. Hanya saja, setelah melakukan hubungan ranjang dengan Cherry 6 tahun lalu, Tuan Yasha jadi tidak bergairah lagi dengan wanita.
Selama lima tahun, ia tersiksa seperti itu dan akhirnya tidak keluar apapun sampai lima tahun lamanya. Kental putih gurihnya tetap tidak ingin keluar meski menggunakan tangan maupun benda lainnya.
***
Takdir memang membuat mereka berjodoh. Keduanya bertemu kembali di perusahaan yang memang dipimpin oleh Tuan Yasha. Cherry melamar pekerjaan disana dan ingin melamar menjadi pihak departemen.
"Tuan, ini semua berkas data pelamar yang akan wawancara hari ini," Asisten Melvin memberikan berkas-berkas tersebut.
"Sekertaris Hari, Tuan," jawab Asisten Melvin.
Tuan Yasha hanya mengangguk-angguk saja dengan sejuta pemikiran. Sampai berhenti tepat di berkas milik wanita yang sempat mengganggu pikirannya. Tuan Yasha terus memeriksa dan membaca tentang data diri Cherry.
"Ini siapa?" tanya Tuan Yasha.
Asisten Melvin mengambil berkas tersebut dan menyampaikan bahwa Cherry adalah salah satu pelamar yang akan di wawancara hari itu.
"Iya saya tahu. Maksudnya, dia melamar di bagian mana?" tanya Tuan Yasha kembali.
"Departemen ini, Tuan," jawab Asisten Melvin.
"Panggil dia untuk menemuiku secara langsung nanti jika sudah datang. Aku yang akan mewancarai dia. Bawa berkas yang lain kepada sekretaris," perintah Tuan Yasha.
__ADS_1
"Baik, Tuan,"
Dengan sedikit heran, Asisten Melvin tetap keluar membawa semua berkas itu pada yang bertanggung jawab. Sementara Tuan Yasha masih terus mengamati identitas Cherry.
"Dia anaknya Tuan Lucas? Bukankah putrinya hanya satu? Mengapa ada putri lain yang lahir di tahun setelahnya?" gumam Tuan Yasha.
"Dan ini ... dia tidak memiliki status janda, tapi sudah memiliki anak berusia lima tahun? Apakah dia sudah gila dengan menulis ini? Ini aib dia, bukan?"
Tuan Yasha masih belum sadar kejanggalan itu. Sampai setengah jam berlalu, Ia baru ingat tentang kata lima tahun. Di mana memang tepat sebelum lima tahun lalu, ia pernah tidur dengan Cherry.
"Tunggu!"
"Jika Cherry Keith ini belum pernah menikah ... maka anak ini adalah—"
"Aku harus selidiki ini. Aku tidak ingin jika anak itu benar anakku, dia memang tidak ingin mengenalkan aku padanya!"
Tuan Yasha sampai lupa, jika Cherry akan tidak mengenalinya karena malam itu Ia melakukan hubungan ranjang dengannya, mengenakan kain penutup mata. Segera Tuan Yasha memanggil Asistennya dan memintanya untuk menyelidiki siapa Cherry dan anaknya itu.
"Aku tidak ingin informasi yang kurang detail. Jangan katakan padaku, jika informasinya belum lengkap. Atau kamu akan aku kirim ke kutub Utara, paham?" tegas Tuan Yasha.
"I-iya, saya paham, Tuan," dengan sedikit gugup, Asisten Melvin pun segera melaksanakan tugasnya.
Di tempat lain, setelah selesai dengan pekerjaan toko bunganya Sonam, Sea segera bersiap untuk pergi wawancara. Cherry memang tidak bosan bekerja di toko bunga, meski gajinya tidak sebanyak uang jajan dari Tuan Lucas.
Namun, semua itu ia lakukan demi dirinya sendiri dan juga Ryujin. Tak ingin merepotkan kedua orang tuanya, Cherry ingin menjadi single parent yang baik untuk putrinya.
"Bos! Aku sudah selesai, hari ini aku akan pulang lebih awal karena ada wawancara," Cherry meminta izin.
"Pergilah! Semoga hasilnya bagus dan kamu diterima di perusahaan itu, ya," ucap Sonam.
"Bos, jika aku gagal bagaimana? Aku masih boleh bekerja di sini, 'kan?" tanya Cherry menjadi murung tiba-tiba.
"Hey, apa yang kamu katakan ini. Tidak baik jika belum melakukan apapun sudah berpikiran buruk. Daripada kamu berpikiran buruk, lebih baik kamu memikirkan bagaimana caranya bisa lolos wawancara itu," tutur Sonam lembut.
__ADS_1
"Harus semangat dan ingat ... untuk siapa kamu datang wawancara ke perusahaan itu. Ryujin sudah ada di sini bersamamu. Kamu harus semangat untuk dia, hm?"
Sonam sama seperti Zinad yang selalu mendukung apapun yang Cherry lakukan. Benar-benar seperti kakak laki-laki yang diidamkan bagi setiap adik perempuan. Begitulah cara Sonam momong Cherry sejak lama.