Desahan Cinta Satu Malam

Desahan Cinta Satu Malam
Menjalankan Sesuai Kontrak Kerja


__ADS_3

"Yeay!"


"Kupikir, aku akan pulang terlambat di hari pertama kerja. Ternyata Tuan Yasha begitu baik padaku!"


Dengan riang gembira, Cherry meninggalkan perusahaan sambil berjalan seperti anak kecil yang sedang dimintai tolong beli garam dan akan ada yang kembalian. Dari jauh di atas gedung sana, Tuan Yasha terus mengamati wanita yang telah melahirkan putrinya sampai ia tak terlihat lagi.


"Sekarang kamu boleh masuk!" perintah Tuan Yasha, mengetahui jika asisten pribadinya yang sudah ada di samping pintu.


Asisten Melvin rupanya mengirim informasi detail dari data Cherry. Namun Tuan Yahsa malah tidak memerlukan lagi, karena dirinya sudah tahu yang sebenarnya dari mulut Cherry sendiri.


"Aku tidak percaya, kamu malah mengatakannya sendiri padaku, Nona Keith," gumamnya lirih.


"Tuan, lalu … harus saya apakah berkas ini? Apakah harus saya bakar?" tanya Asisten Melvin, sedikit kecewa karena usahanya sia-sia.


"Jangan! Lebih baik kamu taruh saja di kamar pribadiku. Ada brankas di sana, kamu bisa letakkan di dalamnya. Kode pin nya masih sama," perintah Tuan Yasha begitu serius.


"Baik, Tuan!"


Di seberang jalan, rupanya Cherry sudah dijemput oleh kakak perempuannya—Zinad dan sang kekasih—Sonam. Hubungan keduanya masih awet sampai saat itu. Mereka mau keluar berkencan layaknya sepasang kekasih. Tapi sebelum itu, mereka menyempatkan diri untuk menjemput Cherry supaya pulang tidak terlambat. Sebab, sang malaikat kecilnya sudah menunggunya di rumah.


"Cher! Woy, di sini!" teriak Zinad, melambaikan tangannya.


Mendengar namanya dipanggil, Cherry langsung mencari sumber suara yang telah memanggil dirinya. Masih kebingungan siapa yang memanggilnya karena saat itu memang keadaan luar sedang ramai.


"Di sini!" teriak Zinad lagi. Tidak lupa melambaikan tangannya.


"Eh? Kak Zinad?" gumam Cherry begitu mengetahui siapa yang memanggilnya. Segera ia berlari ke arah kakaknya.


Nafas terengah-engah, sampailah Cherry pada sang kakak. "Kakak jemput aku?" tanyanya.


Tidak lupa Cherry juga melambaikan tangan pada mantan Bosnya—Sonam.


"Tentu saja. Hmm, aku akan mengantarmu pulang terlebih dahulu. Aku mau pergi dengan Kak Sonam soalnya," ujar Zinad.


"Ya kalau mau pergi, pergi saja, Kak! Untuk apa malah repot-repot menjemputku?" tanya Cherry santai.


Plak!


Akhirnya Cherry mendapat satu pukulan kecil dari kakaknya. "Ya, takutnya kamu pulang terlambat dan malah membuat putrimu itu menunggu sendirian di rumah," ujarnya. "Lantas, bagaimana cara kita menenangkan dia ketika dia merajuk nanti?" tagarnya.


"Um, baiklah. Ayo kita pulang!"


Cherry memang sedikit menyebalkan malam itu. Bahkan karena saking lelahnya, sampai membuat kakaknya kesal karena kelemotannya.


Dari kejauhan, Tuan Yasha masih mengamati wanitanya sampai masuk ke mobil. Ia tergesa-gesa turun dari lantai paling atas gedung perusahaannya hanya karena ingin melihat Cherry pulang.


"Tuan, apakah kita harus melakukan tes DNA tentang anak Nona Keith?" Tanya Asisten Melvin. "Bagaimana? Apakah anda mau melakukannya? Sebab—" belum sempat melanjutkan, Tuan Yasha sudah memerintah asistennya lagi.

__ADS_1


"Lakukan saja. Tapi sebaiknya kau berhati-hati. Cherry bukan orang sembarang, dia pasti dijaga penuh oleh Ayahnya," perintah Tuan Yasha.


"Baik, Tuan. Saya akan laksanakan!"


***


Malam t'lah tiba, Cherry sedang makan malam dengan putri kesayangannya. Mereka banyak menceritakan kisah lucu dan menyenangkan. Sampai di mana, Cherry menanyakan bagaimana sekolah Ryujin.


"Baik, semua temanku juga baik, Mi. Aku juga sudah punya dua teman, namanya Daniel dan Zoey. Mereka baik banget sama aku!" serunya. "Mi, apa Mami tahu?" imbuhnya.


Cherry menggeleng kepala.


"Aku sangat menyukai Daniel, ternyata dia baik sekali. Tadi saja dia mentraktirku makanan, celetuk gadis cilik itu.


"Wah, ternyata anak Mami ini sangat supel," sanjung Cherry. "Hm, nyatanya banyak sekali teman yang mau berteman denganmu," ucapnya sambil menyuapi putrinya.


"Mereka juga baik, makanya mereka mau berteman dengan aku, Mi. Mami, bagaimana kerja pertama Mami? Apakah Bos Mami juga baik, kan? Lalu, bagaimana dengan teman-teman Mami? Pasti mereka juga baik?"


"Lihatlah, mamiku sangat baik sekali. Pastinya mendapatkan teman dan Bos yang baik juga!"


Ryujin menjadi gadis periang. Ia sangat ruang sekali akhirnya bisa bersama dengan ibu kandungnya setalah 5 tahun berpisah.


"Em, mereka semua baik. Bos Mami juga sangat baik, bahkan … tadi Mami ketiduran saja, Mami tidak marah, loh!" Cherry pun sebelas dua belas dengan putrinya.


"Benarkah? Baik sekali," Ryujin ikut bergembira. "Eh, pasti karena Mami cantik dan baik. Makanya Bos Mami juga sangat baik deh!" celetuk gadis kecil itu dengan tatapan bangga kepada Ibunya.


"Baiklah, waktunya sekarang tidur. Coba aku lihat dulu putriku yang cantik ini," seperti biasa, setelah menggosok gigi, pasti Cherry akan memeriksanya.


"Okay, sudah sempurna. Waktunya kita tidur!"


Setelah beberapa menit, akhirnya Ryujin tidur dan giliran dirinya kembali ke kamar untuk istirahat. Ketika ia hendak memejamkan matanya, ponselnya berdering.


"Nomor siapa ini?"


"Aku tidak menyimpannya. Jangan-jangan orang iseng pula!"


"Hih, takut!"


Terlihat nomor itu kembali menelponnya. Cherry masih tidak ingin mengangkatnya, akhirnya nomor itu mengirim pesan.


"Heh, dia mengirim pesan? Kita lihat, siapa gerangan yang mengganggu malamku ini," gumamnya.


Betapa terkejutnya ketika Ryujin tahu dari siapa pesan itu. Ia juga mengabaikan telponnya sampai 15 kali.


"Astaga, dia adalah Tuan Yasha? Astaga, mati aku!"


Tak ingin semakin rumit, Cherry pun menelpon nomor tersebut kembali. Dan segera diangkat oleh pemilik nomor tersebut, yang ternyata adalah Tuan Yasha.

__ADS_1


'Kau berani mengabaikan telepon dariku? Sudah tidak ingin kerja lagi, kah?' ketus Tuan Yasha


"Haduh, maafkan saya, Tuan. Sa-saya benar-benar tidak tahu jika ini nomor Anda. Saya pikir hanya orang iseng dan orang yang menipu saja, serius!" jelas Cherry dengan hati-hati.


'Alasan saja!' bentak Tuan Yasha. 'Mulai sekarang, kamu simpan nomor ini. Jika lagi-lagi kamu mengabaikan telepon dariku, maka aku akan membatalkan kontrak itu, paham!' tegas Tuan Yasha, sampai membuat hati Cherry berdebar karena takut.


"Baik, Tuan. Mulai malam ini, saya akan save nomor anda dengan baik. Tapi, ada apa malam-malam begini, Tuan menelpon saya?" tanya Cherry, berhasil membuat Tuan Yasha mengantri.


"Saya? Bukankah sejak siang dan beberapa menit lalu, kau masih menyebut dirimu sebagai saya, ya?"


"Cih, dasar pria pendendam!" umpat Cherry lirih.


'Apa yang katakan, Cher?' tuan Yasha mulai lagi.


"Ah tidak, Tuan. Hanya heran saja, mengapa Tuan menelepon saya malam-malam seperti ini. Apakah ada hal penting?" Cherry jadi gugup dan ia mengalihkan pembicara.


Tuan Yasha meminta Cherry untuk datang lebih awal ke apartemennya untuk menyiapkan sarapan besok. Ia juga mengirimkan beberapa makanan dan bahan makanan yang tidak ia sukai. Setelah menyampaikan keinginannya, Tuan Yasha langsung menutup telponnya begitu saja.


"Dih, langsung ditutup? Waras kah dia?" kesal Cherry menatap ponselnya . "Orang kaya mah bebas? Hish, Kata-kata itu membuatku muak!" imbuhnya dengan emosi.


Setelah berkali-kali Cherry membaca apa yang tidak disukai oleh Tuan Yasha soal makanan, membuatnya teringat dengan Putri kecilnya—Ryujin yang di mana hal yang tidak disukainya, sama persis dengan yang tidak disukai oleh Tuan Yasha.


"Apa ini? Kenapa sama? Apakah ini sebuah kebetulan?" gumam Cherry, heran.


"Sampai takaran garam pun sama? Ukuran sendok yang di mau pun sama? Kebetulan macam apa ini?"


Cherry semakin bingung. Namun, karena hari sudah sangat larut, ia menjadi tidak terpikirkan apapun yang janggal. Pikirannya terlalu positif untuk memikirkan hal lainnya yang belum pasti.


***


Malam itu juga, pasangan Zinad dengan Sonam malah terjebak hujan badai di mobilnya. Kawasan yang mereka pakai untuk berhenti juga jauh dari Kota dan kawasan penduduk. Tak ingin terjadi apapun yang tidak diinginkan, Zinad pun meminta Sonam untuk memberhentikan mobilnya di sana.


"Kamu yakin mau berhenti di sini? Ini jauh dari pemukiman, loh!" Sonam menoleh ke kanan-kiri, dan merasa penglihatannya juga terhalangi oleh derasnya hujan.


"Makanya kita berhenti dulu. Jika kita lanjutkan jalan, akan bahaya, Kak," ujar Zinad, percaya diri.


"Kita maju dikit saja. Setidaknya yang tidak jauh dari pemukiman,"


Sonam menyalakan mobilnya dan mencari tempat pemberhentian yang tepat. Di dalam derasnya hujan, mereka hanya berdua di dalam mobil. Anaknya Sonam juga sudah berusia 11 tahun, jadi bisa di tinggal di rumah kala mereka sedang menghabiskan waktu berdua.


"Sayang, dingin gini AC aku matikan saja, ya," usul Sonam, suaranya mulai berbeda.


"Astaga, mana bisa napas kalau di matikan ACnya, Kak? Di turunin aja suhunya, jangan di matikan," sahut Zinad malah panik sendiri.


"Iya deh," jawab Sonam mengalah.


Zinad pun mulai mengantuk, ia mengatakan kepada Sonam akan tidur sebentar di kursi belakang kemudi. Tentu saja mantan bos Cherry ini juga merasa lelah dan tubuhnya juga mulai pegal. Ia pun menyusul kekasihnya ke belakang kemudi dan tidur di dalam satu selimut.

__ADS_1


__ADS_2