
"Terserah apa yang ingin kamu katakan, Max. Aku sudah tidak peduli lagi padamu," tegas Cherry.
"Semua yang kamu lakukan padaku, apakah kamu ingat itu? Sungguh kamu lelaki yang tidak memiliki akal sehat!" sulutnya.
Tidak terima dengan segala tuduhan Cherry, keluarlah kata-kata mutiara Max dengan segala fitnah yang ditujukan untuk mantan kekasihnya itu. Bahkan Max juga mengarang cerita, dimana dirinya sudah pernah tidur bersama dengan Cherry.
"Apa kamu ingat, ketika malam itu? Hmm, aku saja masih teringat jelas bagaimana aroma tubuhmu, Cherry," ungkap Max.
Max ini memang sangat pintar mencari celah. Pada saat itu para tetangga mendengar ucapan Max yang sengaja dikeraskan.
"Apa?"
"Cher, apa yang dikatakan dia ini benar? Kamu dan dia pernah tidur bersama?"
"Cher, kenapa kamu diam saja?
"Kamu dulunya adalah gadis yang baik, kenapa jadi seperti ini?"
Argumen-argumen dari beberapa tetangga yang hendak membeli sayur timbul secara alami. Cherry malas menanggapinya, dia lebih memilih diam.
Kini tiba giliran Frans yang membantu Cherry bicara sementara Cherry kembali ke meja makan. Lalu keluarlah Frans dan mengejutkan para tetangga di depan rumah Cherry.
Frans juga tidak melupakan sopan santun yang ia pelajari selama hidupnya. Ia meminta minta maaf kepada tetangga Cherry karena sudah mengganggu aktivitas pagi mereka.
"Maaf sebelumnya jika saya mengganggu ketenangan pagi hari ibu-ibu di sini," ucapnya dengan santai. "Saya hanya menjemput teman saya saja—Cherry," imbuhnya.
Semua orang di sana kembali berbisik. Tak banyak yang tahu jika Cherry rupanya seorang mahasiswi. Max menjadi kesal mendengarnya, ia tetap menuduh Cherry yang telah selingkuh dengan Frans.
"Sekarang aku jadi tahu apa yang membuatmu meninggalkan aku, Cher," kata Max.
"Memang kami wanita murahan. Pria ini kaya raya, 'kan? Matre kamu!" tuduhnya.
__ADS_1
Segala hal buruk dituduhkan Max pada Cherry. Umpatan demi umpatan buruk itu membuat Cherry muak saja. Beruntung ada Ibu RT yang baru datang dan menengahi perkara.
Bu RT disana sangat baik pada Cherry. Beliau ini adalah mantan murid lama dari neneknya. Menjaga sekali Cherry sesuai dengan pesan neneknya sebelum tiada.
Masalah pagi itu Max tak bisa berdebat lagi. la pergi begitu saja dengan mengancam Cherry akan menyebarkan aibnya lain kali. Sementara Cherry sendiri memang dituntut keras oleh keadaan.
Saat itu, menjadi sebatang kara bukanlah pilihannya. la harus kerja keras untuk hidupnya sejak kecil. Namun tak disangka saja, Max yang ia kenal sejak duduk di bangku sekolah menengah pertama malah menjadikannya budak dan selalu bekerja atas kemauannya.
"Siapa tadi itu?" tanya Frans.
"Mantan pacar," jawab Cherry, lirih.
"Em, sepertinya dia baru saja membuang berlian. Apa kau sudah lama menjalin hubungan dengan pria seperti itu?" tanya Frans lagi.
Cherry mengangkat bahunya. Keduanya memiliki nasib yang sama, yakni memiliki kekasih yang tidak baik dan ujung-ujungnya putus juga.
Keduanya membuat sumpah persahabatan setelah masalah pagi itu selesai. Sejak saat itu juga, sering kali Frans mengantar jemput kemana Cherry pergi. Benar-benar seperti sepasang kekasih, namun tidak mesra. Hanya dekat dan saling membutuhkan, melengkapi satu sama lain.
"Huft, lihatlah mereka. Apakah mereka menjalin hubungan?" gumam Lui.
"Ck, rasanya sangat disayangkan jika aku memang melepas Frans. ATM berjalan ku jadi berkurang satu,"
"Tapi, bagaimana bisa Frans akrab dengan Cherry? Bukankah, mereka tidak sedekat itu waktu Frans masih menjadi pacarku?" lanjutnya.
"Aku curiga saja jika mereka sudah saling dekat semenjak Frans masih jadi pacarku. Hmm, kurang ajar memang itu wanita. Dasar tidak tahu diri!"
Lui mulai menjauhi Cherry. Dulunya yang selalu dekat, kini menjauh hanya karena sifat aslinya terbongkar. Ia selalu saja merasa iri kepada sahabatnya itu. Cherry memang sebatang kara, berbeda dengannya yang masih memiliki seorang kakak perempuan. Tapi tetap saja Lui tidak mau bersyukur.
Meski begitu, tetap saja nasib Cherry yang selalu mujur dibandingkan dengannya. "Aku tidak terima jika Cherry bahagia di atas penderitaan yang aku alami. Aku lebih unggul darinya dalam segala hal. Ck, mengapa dia yang selalu lebih beruntung?"
"Malam itu ... malam itu pasti dia sudah kehilangan kegadisannya. Itu sebabnya dia tidak mau menjadi pelayan di club malam lagi,"
__ADS_1
Meski sudah tidak lagi akrab dengan Lui seperti dulu, Cherry sendiri tetap tidak pernah memiliki dendam padanya. Ia lebih fokus dengan kuliahnya dan juga pekerjaan paruh waktunya. Bagi Cherry, pendidikan adalah hal yang paling penting.
***
Di restoran.
Cherry menghabiskan waktu sore hingga malamnya di restoran milik kakak angkatnya sambil belajar menyelesaikan tugas-tugas kuliahnya.
"Sudahlah, mending kamu jangan lagi bekerja sampai malam seperti ini. Apa kamu tidak lihat jam berapa sekarang?" tegur Zinad, menyajikan secangkir teh hangat untuk Cherry.
"Hmm, jika aku tidak bekerja, bagaimana aku akan makan?" sahut Cherry.
"Jika ini soal gaji, aku pastikan tetap akan memberi gajimu seperti biasanya," tutur Zinad. "Aku tidak ingin melihatmu bekerja keras seperti ini. Belum ada tanggungan, kenapa harus bekerja sekeras ini?"
Cherry menatap kakak angkatnya. "Aih, kenapa harus repot membuatkan aku makanan dan minuman? Aku jadi semakin tidak enak tau!" serunya.
"Hmm, sudah terlanjur. Ayo, kamu makan dan minum dulu," perintah Zinad.
Wanita berusia 27 tahun itu sangat menyayangi adik yang baru ia angkat beberapa waktu lalu. Ia selalu berharap jika Cherry memang adik kandungnya yang telah lama hilang. Dengan ide gilanya, Zinad pun mengajak Cherry untuk tes DNA secepatnya.
"Apa? Bagaimana mungkin itu?" Cherry terkejut.
"Kak, jangan membuatku semakin terbang tinggi. Bagaimana jika aku bukan adikmu yang hilang? Meski kedua orang tua yang merawatku bukanlah orang tua kandungku, tetap saja aku belum siap menerima kenyataan jika aku adalah anak buangan," ungkap Cherry sedih.
"Maka dari itu ayo kita lakukan tes DNA. Bukankah waktu itu kau pernah mendonorkan darahmu untukku? Bagaimana jika kita lakukan tes. Aku sangat berharap kamu memang adikku yang hilang, Cher," Zinad sangat berharap.
Ajakan Zinad membuat Cherry terdiam sejenak. Selain memiliki golongan darah yang sama, mereka juga memiliki sedikit kemiripan dalam tingkah laku maupun hal lain.
"Cher, please …," Zinad sampai memohon.
"I just want... Just want the truth. What's wrong with us trying?"
__ADS_1
Setelah berpikir lama, akhirnya Cherry menjawab jika dia akan mempertimbangkannya kembali. Bagaimanapun juga, ayah dari Zinad sangat baik padanya. Ia bersedia mengadopsi dirinya meski jika benar Cherry adalah adiknya Zinad yang hilang, tentu saja ayah Zinad bukanlah ayah kandung Cherry.